
Radith memelototkan matanya melihat ke tubuhnya sendiri dan menatap lagi ke arah Lira, lalu segera mengambil handuknya dan berlari ke kamarnya. Dia membodoh bodohkan dirinya sendiri karna melakukan hal itu. Kenapa dia tidak langsung masuk ke kamar dan malah ingin menyapa guru private Sean? Setelah ini Lira pasti membunuhnya, pasti.
Setelah sampai di kamar, lelaki itu memakaikan baju dan celana ke Sean. Radith langsung memakaikan baju pada Sean dan meminta anak itu untuk menemui gurunya sementara Lira datang ke kamar itu. Sean yang tidak mengerti santai saja keluar dan bertemu dengan gurunya, dan Radith yang menunggu Lira hanya bisa gugup dan pasrah saja.
"Maksudnya apa tadi? Sengaja banget ada tamu cewek datang malah kayak gitu? Gak sopan banget loh itu Dith, Lo tuh, astaga, males banget gue jelasinnya ah, terserah," ujar Lira yang hendak keluar dari kamar, namun Radith mencegahnya dan meminta Lira duduk kembali, dia mencoba memikirkan alasan, namun dia tidak menemukannya.
"Nah, kan, nah, kan, kamu tuh cuma mau cari cari alasan aja ini, iyakan? Ngaku kamu, nyari alasan aja kan kamu?" Tanya Lira yang membuat Radith menunduk, dia tidak bisa melawan Lira yang masih seperti singa betina, bahkan sejak dulu masih menjadi asitennya, Radith tidak berani melawan Lira jika dalam keadaan begini.
" Maaf loh, aku tadi benar benar gak sengaja, aku gak tahu kalau ada tamu, aku tadi kan niatnya gak mau Sean masuk angin jadi aku cuma pakai baju gak pakai celana, pakai handuk aja, eh malah ternyata handuknya yang copot, lagian dedeknya kan dilihatnya sama kamu bukan sama bu guru," ujar Radith memelas seperti anak kecil.
" astaga, tarik gak ucapan kamu? Atau mau aku tarik bibir kamu? Kurang ajar banget loh, walau kita udah serumah, kita belum suami istri, gak boleh kayak begitu, apalagi di depan tamu, ngaku salah gak kamu?" Desak Lira persis seperti ibu ibu yang suka merumpi di tukang sayur, padahal Lira tidak pernah pergi belanja sayur karna dia yakin akan menjadi bahan gibahnya.
" Iya aku salah, aku kan tadi juga udah bilang kalau aku salah. Maaf, gak ada maksud sama sekali, janji gak ulangin lagi, dan habis ini minta maaf ke bu Guru, oke? Jangan marah," rengek Radith yang membuat Lira bergidik geli, namun Lira meluluh juga melihat wajah itu, dia mengangguk dan tersenyum tipis tanda memaafkan Radith, namun tidak lama, karna setelah itu dia melihat lagi ke arah handuk Radith.
"Astaga belum ganti celana? Itu, itu nonjol, astagfirullah mataku, udah ah, gak tahu, pakai celana dulu kenapa sih?" Tanya Lira kesal. Radith melihat ke arah handuk yang sedikit tersibak, dia bisa melihat adik kecil di sana ingin menyapa Lira. Sebenarnya Radith ingin segera memakai celana, namun karna melihat ekspresi Lira, dia malah jadi berniat iseng.
Radith berlari kecil dan mengunci pintu lalu melempar kunci itu ke bawah kasur. Lira melotot melihat kelakuan itu. Tak sampai di sana, Radith juga mendekat dan mempepet Lira ke tembok, membuat wanita itu tidak bisa bergerak, apalagi Radith mengunci pergerakan Lira dengan kedua tangannya. Dia cukup puas melihat Lira tidak bisa menghindar lagi.
"Biasanya kalau aku mau, ada Sean, pas aku mau, kamu yang gak mau, sekarang adik kecil aku kedinginan, dia mau yang hangat, dan kebetulan banget gak ada Sean, dan pintu udah aku kunci, jadi gimana kalau nunggu Sean selesai sekolah, Adik kecil aku pulang dulu ke rumah? Boleh kan?" Tanya Radith seolah ingin menerkam Lira.
Bukannya takut, Lira malah menendang adik kecil itu dan mendorong tubuh Radith untuk menjauh, dia segera berlari ke lemari dan mengambil senjata yang disembunyikan Radith di sana, lalu menodongkan senjata itu ke arah Radith, tentu saja Radith terkejut bukan main, dia meringkih kesakitan sampai memukul lantai berkali kali.
"Sakit, sakit banget, astaga, kamu jahat banget, aduh, masa depan aku, ini adik kecil aku bisa bikin adiknya Sean loh, kamu tega banget sama pabrik Adiknya Sean, astaga, aauhh, sakit, ngilu," ujar Radith yang masih belum melihat apa yang Lira bawa. Dia meringkuk sambil memegang adik kecilnya yang kini benar benar terasa panas karna ditendang lutut oleh Lira dengan keras.
"Pistol kamu bikin aku hamil 9 bulan, pistol aku bikin kamu tidur selamanya, gimana? Minat?" Tanya Lira yang membuat Radith langsung menengok dan melotot saat Lira mengacungkan sebuah pistol ke arahnya. Radith tahu pistol itu terisi penuh dan sengaja dia sembunyikan untuk kondisi darurat seperti maling, dan tentu saja Lira tahu letaknya karna wanita itu yang menata lemari Radith.
"A.. ampun, aku kalah, ampun, aku cuma bercanda, gak serius, aku gak akan apa apain kamu kalau kamu gak mau, beneran deh, ampun, aku gak akan nakal, iya, kamu mau apa? Aku beliin, kamu mau es krim? Aku beli sepabriknya. Kamu mau saham? Aku beli se CEOnya, gimana?" Tanya Radith yang bergurau namun terasa serius karna wajahnya tegang.
"Gak, aku gak butuh itu. Calon suamiku kaya, dia aja yang kerja, ngapain aku harus mikir saham dan sebagainya? Sebagai gantinya, aku cuma minta kamu buat ambil kunci kamar yang kamu buang, aku kasih 20 detik, atau aku hancurin kamar kamu ini, oke? 20 detik aja ya, dimulai dari sekarang," ujar Lira yang membuat Radith kelabakan dan langsung berdiri mencari kunci kamar yang dia lempar ke kolong.
"Satu." Lira mulai menghitung, Radith tidak peduli dirinya yang sudah mandi harus berurusan dengan debu dan semua kotoran yang ada di kolong itu, dia hanya butuh menemukan kuncinya dan bisa selamat dari amukan Lira. Sepertinya calon istrinya sedang tidak dalam situasi baik untuk diajak bergurau, terlihat dari caranya memegang senjata, membidik tepat ke arah Radith.
"Dua." Radith mulai panik dan menggeset barang barang yang ada di sana. Dia tidak tahu kemana kuncinya terlempar dan benda itu kecil, dia tentu kesulitan mencarinya, namun segera setelah itu dia mendapat ide dan keluar dari kolong, berlari ke arah meja dan mengambil ponsel, menyalakan senter dan menyorot ke arah kolong.
"Lima belas, enam belas, tujuh belas," ujar Lira yang terus menghitung, dan akhirnya Radith menemukan kunci itu, karna terburu buru, Radith keluar dari kolong dengan cepat dan kepalanya terantuk dipan kasur yang terbuat dari kayu jati asli, coba bayangkan saja bagaimana rasa pusing dan nyut nyut an yang dialami Radith.
"Aduh itu kepala kenapa sampai kejeduk gitu sih? Astaga pasti sakit ya? Makanya dong jangan iseng, kamu jadi harus mandi lagi kan? Dibuat pelajaran yah sayang, jangan nakal," ujar Lira yang membuat Radith membeku, panggilan sayang itu membuat Radith blank, sekaligus takjub, bingung dan senang di saat bersamaan. Lelaki itu bahkan sampai membuka mulutnya saking tidak menyangka.
__ADS_1
Radith terlalu kaget, sampai dia tidak sadar handuk yang tadi sempat terlepas saat di dalam kolom dan dia pegang agar tidak lepas, kini dia malah melepaskan tangannya dan menggunakan tangan itu untuk menutup mukanya malu malu, Lira sampai meringis melihat Radith yang seepeti remaja dengan panggilan sederhana itu, namun begitu Talia melihat detail. Wajah gadis itu kembali memerah.
"RADITH HANDUKNYA!!!" Pekik Lira kencang dan langsung pergi dari kamar Radith setelah merenut kunci dari lelaki itu. Radith sendiri hanya terkekeh dan mengambil handuknya yang jatuh, melempar ke keranjang pakaian kotor dan bersiap untuk mandi lagi karna tubuhnya sudau dipenuhi oleh debu, dia akan mengundang orang untuk membersihkan kolong kasur yang menjijikkan itu.
Selesai mandi dan berpakaian, Radith segera keluar dari kamar untuk menyapa guru private Sean sekaligus meminta maaf pada guru itu. Saat Radith keluar, ibu guru menatap Radith dengan malu, mungkin teringat dua buah apel yang dia lihat tanpa sengaja. Radith pun menggaruk lehernya dengan canggung dan memilih untuk mengangguk sopan terlebih dahulu, baru setelahnya duduk di hadapan guru private itu dalam diam.
"Uncle ayah ngapain? Mau ikut Sean belajar juga?" Tanya Sean yang sedang mengerjakan angka di hadapannya. Radith meminta guru itu untuk menjauh sebentar, dan tentu sudah meminta ijin pada Sean agar anak itu mengerjakan tugasnya dahulu baru nanti ibu guru ini mengajar dirinya lagi. Radith langsung tersenyum canggung dan mendadak lupa dengan apa yang dia katakan, namun kesadarannya segera kembali dan langsung mengatupkan kedua tangannya.
"Ibu, saya minta maaf ya tadi anda melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Saya tidak tahu dan tidak sadar dengan apa yang saya lakukan. Mohon maaf jika itu membuat anda tidak nyaman, saya harap anda tidak kapok mengajar anak saya," ujar Radith dengan sopan, Wanita itu tersenyum malu, lalu menganggukkan kepalanya pelan, sesaat kemudian Radith bisa bernapas lega karna tidak akan ada masalah ke depannya.
Radith langsung cengo melihat respon itu. Dia kira orang di hadapannya akan merasa risih atau tertekan. Ternyata dia malah menyukainya. Radith bahkan sampai menampar wajahnya pelan untuk menyadarkan dirinya kalau semua ini mimpi. Namun ternyata tidak. Tangan wanita itu perlahan mendekat dan reflek Radith memundurkan langkahnya.
"Eh maaf mas, saya gak sadar tangan saya maju. Maklum mas, tangan saya punya mata sendiri gak bisa lihat body bagus langsung maju aja. Maaf ya mas. Hehe, tapi kalau masnya emang mau dan butuh, saya siap kok mas, kapan aja, ibunya Sean tahu nomor saya, jadi nanti minta aja dan jangan lupa telpon ya."
Orang itu makin keterlaluan bagi Radith, namun lelaki itu tahu semua juga salahnya menampilkan aurat di depan wanita yang salah. Dia segera permisi dan meminta guru itu kembali mengajar Sean agar fokus, meski sebenarnya itu hanya alasan yang dia buat agar bisa kabur. Radith menggeleng gelengkan kepala saat berhasil kabur ke dapur.
Dia melihat Liea yang sedang memasukkan adonan kue ke dalam loyang. Setelah Radith memintanya untuk tidak bekerja, Lira hanya sibuk dengan pekerjaan rumah dan di saat senggang dia akan membuat kue hasil eksperimen dan belajar dari online. Dia memasukkan adonan itu ke dalam kue dan tentu terkejut saat Radith langsung memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Liraa, masak aku digodain loh sama gurunya Sean. Geli banget aku, besok ganti aja dong gurunya, masak Sean dikasih orang begitu. Kan banyak guru yang lebih kompeten dan etikanya bagus, kamu masak tega calon suami kamu digodain sama dia? Aku tadi hampir ternodai loh sama dia," adu Radith pada Lira yang tentu tidak dipercayai oleh wanita itu.
"Kamu kalik yang godain dia duluan. Makanya jangan suka bertingkah loh jadi cowok, jadi digodain sama sini kan. Atau kamu suka ya digodain? Lagian dia bagus kok ngajar Seannya, Sean tambah pinter juga," ujar Lira yang terus melanjutkan aktivitas meski Radith tidak melepas pelukan itu sama sekali. Penolakan Lira membuat Radith tak puas, dia terbayang bayang ekspresi genit yang dilontarkan untuknya.
"Pokoknya ganti aja gurunya, ganti aja, aku gak mau, aku gak suka pokoknya, geli banget sama yang begitu, please ya, nanti aku cari yang lebih bagus, lebih tinggi sertifikat dan pendidikannya, ya? Ya? Emang kamu mau suami kamu jijik di rumah sendiri karna tiap hari ketemu guru itu?" Tanya Radith yang sebenarnya malas ditanggapi oleh Lira, namun Radith tidak pernah berbohong masalah sepele begini, itu artinya memang guru Sean yang bermasalah.
"Ya udah, hari ini hari terakhir dia mengajar, besok kita ganti ya guru Sean. Udah kan? Minggir lah, gue mau masak kue dulu nih, enak loh, dalamnya selai macam macam, nanti cobain ya," ujar Lira yang membuat Radith melihat juga ke arah oven yang menyala.
"Eemm oke deh nanti dicoba, tapi kan matengnya masih lama, jadi aku makan kue yang ini dulu," ujar Radith yang langsung \*\*\*\*\*\*\* bibir Lira. Posisi memeluk ini membuat tubuh Lira terkunci dan tidak bisa bergerak. Lira memukul mukul Radith dan berusaha menutup mulutnya, namun Radith tidak berhenti dan tetap menciumi wanitanya.
Setelah puas, Radith langsung berlari meninggalkan Lira yang mematung. Saat Lira sadar, dia hendak berteriak, namun Radith sudah pergi dari sana. Dia hanya bisa merasakan pipinya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Sudah beberapa kali mereka ingin melakukannya namun selalu ada gangguan, siapa sangka itu terlaksana di saat seperti ini?
"Perasaan gue yang nyicip adonan, kok bibir dia yang manis ya?" Tanya Lira pelan sambil memegang bibirnya.
Radith mengulurkan kepalanya ke arah Lira dan melihat wanita itu tersenyum malu sambil terus menyentuh bibirnya. Dia merasa geli sekaligus bahagia melihat Lira menyukainya.
"Gimana? Manis kan? Kayak gitu lah rasa cintaku ke kamu," ujar Radith yang langsung pergi lagi dari sana.
"Radith Gila!!" Pekik Lira yang tertahan karna dia tidak mau menimbulkan keributan.
__ADS_1