Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 49


__ADS_3

Di hari minggu, Radith dan Lira masuk ke dalam ruangan dan menemui temannya yang seorang psikiater. Mereka mengobrol sebentar dan teman Radith yang bernama Hafiz. Hafiz meminta Radith untuk keluar agar dia bisa mengobrol dengan Lira tanpa wanita itu terhalang dengan keberadaan Radith.


Radith tentu saja menurut dan keluar dari ruangan itu lalu memilih untuk pergi jalan jalan, dia mengirim pesan pada Lira untuk mengabari jika Lira sudah selesai. Dia tahu konsultasi ini akan memakan waktu cukup lama, jadi dia akan bosan menunggu, lebih baik dia pergi ke tempat lain yang bisa mencuci mata, untung saja tempat praktek Hafiz dekat dengan mall, jadi dia bisa main ke sana.


Sementara itu Lira tampak takut dan sedikit ragu pada Hafiz, namun dia tahu Hafiz akan profesional sehingga dia memutuskan untuk kooperatif, toh ini juga demi kesehatan mentalnya. Dia ingin tahu sebenarnya apakah ada yang salah dengan dirinya, atau itu hanya sesuatu yang kebetulan dan tidak sengaja.


"Kamu ingat atau merasa gak, sejak kapan kamu seperti ini? Apakah ini karakter kamu, atau ada suatu hal yang membuat kamu merasa marah?" Tanya Hafiz yang membuat Lira berpikir. Dia merasa dulu dirinya tidak begini, dia bahkan seorang perempuan yang tidak suka keributan, kecuali jika sangat terpaksa.


"Sepertinya dulu tidak. Tapi entah kenapa, saya tiba tiba saja merasa tidak suka, tidak nyaman jika ada seorang pria membantah saya, rasanya seperti saya sedang direndahkan, orang itu hanya menganggap remeh saya, jadi saya tidak suka dan jadi marah," ujar Lira yang diangguki oleh Hafiz. Lelaki itu meminta Lira untuk bercerita padanya.


"Kamu tenang saja, saya ounya kode etik yang tidak akan membocorkan apa yang kamu katakan, termasuk ke Radith atau siapapun, karna di sini kamu adalah klien saya, anggap saya sebagai robot atau tembok dan kamu bisa cerita apapun pada saya, saya tidak akan memoborkan ke siapa pun, saya harus tahu dimana awal masalahnya sehingga kita bisa bersama sama mencari solusinya."


Lira akhirnya mengangguk dan mengikuti apa yang Hafiz katakan. Lira menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Radith dan lelaki itu sering menekannya. Dia juga menceritakan bagaimana Radith melecehkannya dan membuatnya pergi dari Indonesia, mengalami trauma dan akhirnya menjadi seperti ini tanpa disadari.


Lelaki itu menyimak apa yang Lira katakan tanpa memotong sama sekali. Lira seperti orang yang sangat frustasi dan menyimpan banyak beban, dia bahkan sampai menangis ketika menceritakan kisahnya ini pada Hafiz, lelaki itu sangat nyaman untuk diajak berbicara, tidak memotong atau pun mengajak Lira adu nasib, tidak seperti orang lain pada umumnya.


"Saya selalu merasa saat Radith mendebat saya, dia itu sedang merendahkan saya, karna saya pernah dilecehkan sama dia, dia hanya menganggap saya perempuan hina. Jadi dia bisa memperlakukan saya seenaknya dan bahkan meminta saya untuk menuruti semua yang menjadi maunya. Saya merasa tidak masuk akal awalnya, namun ternyata benar benar terjadi seperti itu, saya selalu menyesal setelah berkelahi dengan dia."


"Saya sedikit mengerti akar permasalahan kamu. Ini bukan masalah yang sepele, kamu merasa terluka, meski kamu merasa baik di luar, tapi dalam hatimu, kamu menyimpan kesakitan yang besar. Memang akan sulit berdamai dengan diri sendiri, tapi perlahan, kamu bisa pelan pelan untuk berdamai dengan luka itu, karna bagaimanapun, hidup akan terus berjalan."


"Saya juga ingin melakukannya, tapi sekeras apapun saya berusaha, saya merasa semua ingatan itu sudah terpaku di otak saya, jadi tidak akan bisa saya lupakan. Dan setiap saya marah, saya tidak menyadarinya saat itu, tapi setelah beberapa saat, saya baru sadar jika apa yang saya lakukan tidaklah tepat."


"Luka batin memang akan sulit untuk disembuhkan, jangan berusaha melupakannya, karna dengan berusaha melupakannya, kamu justru akan terus mengingatnya. Pelan pelan, semua ada prosesnya, kita harus berdamai dengan masalah yang menimpa diri kita. Bukan untuk melupakan, tapi untuk memaafkan, dan perlahan jika kamu mengingatnya, kamu akan menganggap itu hal yang biasa, tidak menyakitkan lagi."


"Ah ya, saya ingin bertanya. Apakah kamu belakangan, atau setelah kamu berkelahi dengan Radith yang dulu, sampai kalian berpisah selama lima tahun. Apakah kamu merasa ada perubahan mood yang sedikit aneh? Contoh aneh di sini seperti kamu tiba tiba nangis, tapi langsung merasa senang waktu di sana, begitu lah."

__ADS_1


"Eum, tadinya gak ingat, tapi setelah di tanya begini jadi ingat. Saya sering tiba tiba merasa ingi menangis, jadi saya menonton atau mencari cerita sedih agar bisa menangis, jadi bukan karna saya menonton lalu saya sedih, tapi saya ingin sedih, jadi saya nonton film," ujar Lira yang sebenarnya tidak msmbuat dokter itu terkejut.


"Apa pernah kayak perubahannya lumayan cepat, contoh saja, ini kamu lagi nangis nangis, tiba tiba kamu entah kenapa rasanya ilfeel sama saya, jadi merasa jengkel begitu. Penah?" Tanya Hafiz yang kembali diangguki oleh Lira, dia tidak mau menyembunyikannya agar dia bida mendapat perawatan yang tepat.


"Semua bisa diatasi, Tapi tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Jika kamu berkenan, kita akan memulai proses terapi untuk kamu. Sebenarnya kamu ini mengidap gejala bipolar, saya hanya bisa bilang gejala / Indikasi, karna perlu pemeriksaan lanjut untuk memastikannya. Besar kemungkinan kamu untuk sembuh, jadi jangan patah semangat, semua pasti ada jalannya," ujar Hafiz yang membuat Lira makin sedih.


"Apa jika terbukti saya bipolar, saya akan mudah kambuh? Apa itu bisa disembuhkan? Saya tidak mau penyakit saya ini membuat keluarga saya menjadi susah, apalagi anak saya yang sudah mulai beranjak dewasa, saya tidak mau dia melihat mamanya seperti ini," ujar Lira yang membuat Hafiz terdiam sesaat, namun tetap mempertahankan senyumnya.


"Seperti yang saya bilang, kamu tidak perlu terlalu khawatir. Pertama, kita akan periksa ke yang lebih ahli dan berwenang untuk memutuskan apa yang kamu idap. Jika memang benar, kita akan memulai terapi rutin untuk menyembuhkannya. Jika tidak benar, kita bisa bertemu dari sekian periode hanya untuk mengobrol seperti ini, mengetahui perkembangan mood yang kamu miliki."


"Ah, kalau ini di novel atau film picisan remaja, pasti saya jadi jatuh cinta sama masnya deh, karna kita semakin dekat, terus saya selingkuh dari Radith, ramai deh nanti," ujar Lira yang langsung tertawa geli dengan candaan yang dia lontarkan sendiri.


"Haha, saya bukan tipe yang suka merebut kekasih orang, apalagi saya berusaha profesional dalam menghadapi klien. Itu akan menjaga kualitas kerja serta kredibilitas saya sebagai psikiater. Jadi jangan khawatir, apa yang ada di novel tidak akan terjadi di kehidupan klien curhat saya."


"Hahaha, iya deh yang profesional dah, ampun ampun aja udah. Tapi dok, terima kasih banyak ya karna sudah mau mendengar curhatan saya, dan memberikan solusi untuk saya. Saya merasa sedikit lega karna selama ini tidak ada orang yang bisa saya ajak untuk mengobrol seperti ini," ujar Lira dengan senyum yang tulus.


"Minggu depan, kita ketemu lagi untuk konsultasi dengan ahlinya, jadi kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nah kalau sudah begitu, kita bisa menemukan dan memakai cara yang tepat untuk berkomunikasi dan mencari solusi terbaik, saya harap apa yang saya lakukan saat ini bisa sedikit membantu anda dan meringankan beban yang anda punya."


"Baik, minggu depan saya akan kembali. Terima kasih banyak sudah mau membantu dan sudah meluangkan waktu untuk membantu saya. Belum memulai treatment saja sudah membuat saya sedikit lega. Mungkin memang yang saya butuhkan adalah teman untuk bicara," ujar Lira yang dijawab senyuman dari Hafiz.


Lira keluar dari ruangan itu dengan napas yang lega, dia mencari keberadaan Radith, namun tidak ada, akhirnya dia mencari ponselnya dan baru membaca pesan yang Radith berikan. Dia langsung mengirim pesan pada lelaki itu dan menunggu di luar, duduk di sebuah ayunan kecil sambil memainkan ponselnya.


Sementara itu Radith yang sedang mencari baju tidak melihat Lira sudah memberinya pesan, lelaki itu lupa sudah menyeting ponselnya jadi mode sunyi, sehingga pesan Lira tidak bersuara, dia sibuk mencari baju baru yang bisa dia gunakan untuk pergi bekerja, dia juga memilih baju yang bagus dipakai oleh Lira.


Setelah setengah jam melihat lihat, lelaki itu akhirnya membuka ponselnya dan langsung panik karna Lira pasti sudah menunggu lama. Lelaki itu segera meninggalkan barang yang sudah dia ambil dan segera melajukan mobilnya menuju tempat praktek Hafiz. Dia bisa melihat Lira yang menunduk di ayunan. Lelaki itu merasa bersalah karna sudah membuat Lira sedih seperti itu.

__ADS_1


Radith berjalan mendekat, dia ingin meminta maaf pada Lira, namun ternyata dia mendapati Lira yang matanya terpejam dan napasnya teratur. Ternyata Lira sedang tidur dengan posisi duduk di ayunan. Raidth tentu saja kaget dengan hal itu, bagaimana Lira bisa tidur dalam posisi tidak enak dan berbahaya seperti itu?


"Belum juga Lu kejungkal ke depan, ada ada aja tidur posisinya begini," ujar Radith pelan karna tidak mau Lira bangun. Lelaki itu membelakangi Lira dan mencoba mengambil Lira untuk dia gendong, namun ternyata sulit. Radith takut Lira malah jadi jatuh jika dia terus memaksa untuk menggendong dalam posisi ini.


Radith akhirnya terpaksa menggendong Lira seperti seorang Ibu kera menggendong anak Kera. Seperti anak kecil yang digendong Ibunya juga. Lelaki itu meletakkan Lira seperti posisi memeluk, membiarkan Lira menyender di pundaknya dan badan mereka saling menempel. Radith membawa Lira untuk pulang, padahak rencananya dia ingin makan di luar, namun itu gagal karna Lira malah tertidur, lebih baik mereka cepat sampai di rumah.


Mereka memerlukan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah karna Radith tidak mau mengebut, dia hanya berjalan pelan di sisi kiri karna dia tidak mau membuat Lira terguncang atau kaget dan malah harus bangun dari tidurnya dengan posisi tidak enak, pasti akan membuatnya pusing.


Radith menggendong Lira dengan cara yang sama, dia ingin menggendong ala bridal style, namun dia merasa terlalu berat, lebih enak untuk menggendong dengan cara seperti ini. Mereka memasuki halaman rumah Radith dan Lira menggeliat. Gerakan itu membuat Radith menegang.


Radith merasakan sekujur tubuhnya seperti disengat lebah, namun yang paling berasa adalah sesuatu di bawah sana. Dia langsung bangun karna tidak sengaja tergesek oleh Lira. Karna wanita itu masih tertidur, dia seperti memeluk Radith, mungkin bermimpi Radith adalah gulingnya dan melakukan itu.


"Aissh, kenapa harus digesek gesek sama ditempelin begini sih? Ini gue jadi gak konsen harus memikul gunung kembar sendirian begini, dia juga tidak konsen saat adik kecilnya menemukan rumah dan ingin masuk ke dalamnya, gue harus cepat sih, gak mau Lira bangun dan tahu gue lagi turn on karna dia."


Radith segera masuk ke kamar Lira dan hendak pergi, namun wanita itu menahannya, Lira seperti setengah sadar meminta Radith untuk menemaninya karna dia merasa pusing dan takut dengan hal yang sebenarnya tak ada. Radith tentu tidak bisa membantah dan memilih untuk segera menidurkan diri di kasur Lira, jika Lira tidur, dia bisa keluar dari sini.


Wanita itu tanpa sadar melepas br4 yang menenutupi itu, membuat Radith bisa menyaksikan dengan jelas attraksi dari si kembar dua. Namun Radith masih tahu diri untuk bersikap normal dan tidak ingin bernapsu karna hal itu, meski keadaan di bawah sana justru sebaliknya.


Lira yang masih tertidur hanya meracau tidak jelas. Membuat Radith merasa pasrah dan melihat ke arah lain saja, dia adalah lelaki normal yang tentu aja tidak akan menolak jika diberi rejeki dan kenikmatan ini, namun dia juga mengingat dosa dan tidak mau Lira hanya dia manfaatkan saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari melakukan ini.


"Ya Tuhan, Radith anak baik, Radith anak yang taat, Radith gak akan dengan sengaja melakukan apa yang kau larang, apalagi masalah begini. Ya Tuhan, beri Radith iman yang lebih jika harus berada di sini lebih lama lagi," lirih Radith yang memejamkan matanya karna dia ingin terus melihat ke arah sana.


Tiba tiba saja, tangan Lira ada di benda pusaka miliknya, benda yang sudah mulai berdiri itu makin berdiri setelah disentuh oleh Lira. Rasanya sesak sekali di dalam celana. Dia merasa tidak betah dan mulai merasa sakit, sehingfa dia langsung bangun dari tidurnya dan berlari ke kamarnya untuk menyelesaikan "sesuatu".


"Benar benar menguji iman. Itu dia gak sengaja kan tanggannya dia taruh di... astaga, jelas lah itu gak sengaja, orang itu juga dia lagi tutup mata, tidur, gak mungkin dia sengaja, astaga, gue malah jadi penasaran gimana ekspresi dia kalau tadi gue ladenin.

__ADS_1


"Tahan Radith, tahan sebentar lagi, belum saatnya. Kalau nanti udah sah dan dia begitu, terkam aja sampai dia kewalahan, hahaha."


__ADS_2