Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 80


__ADS_3

Radith berjalan ke arah mobilnya dan langsung melajukannya dari sana. Sean melihat wajah Radith sangat serius dan cara menyetir Radith sangat ugal ugalan. Dia bahkan tidak berani bertanya pada Radith apa yang terjadi. Dia hanya berpegangan erat pada sabuk pengaman danxmemejamkan matanya, berharap Radith akan memelankan mobil ini, namun ternyata Papanya tidak mendengar kata hatinyabsama sekali.


Tak butuh waktu lama untuk lama untuk mereka sampai di rumah, Radith hendak turun dari mobil, namun saat dia menengok, dia kaget, dia baru ingat jika tadi dia bersama dengan Sean menjemput Zia. Astaga, jadi tadi dia menyetir seperti kesetanan, ternyata ada Sean dan pasti anak itu sangat ketakutan.


"Nak, maafin papa ya, tadi papa buru buru, maaf udah buat kamu takut kayak gini. Kita turun yuk, kita ketemu sama Mama dulu, yuk," ajak Radith yang langsung diangguki oleh Sean. Mereka langsung masuk ke dalam rumah dan Sean mencari Lira setelah melepas sepatunya. Dia menemukan Lira ada di kamar Radith dan anak itu langsung memeluk Lira. Dia sangat syok dan ketakutan karna Radith, biasanya dia akan mengganti pakaian dulu, namun tidak dia lakukan.


"Sean maaf ya, papa benar benar lupa kalau di mobil tadi ada kamu, kenapa kamu gak marahin papa tadi? Kamu takut banget ya? Maaf ya," ujar Radith merasa bersalah, Lira tentu bingung apa yang terjadi di antara keduanya, yang jelas dia memang melihat Sean sangat ketakutan, anak itu bahkan tidak berani menatap ke arahnya atau ke arah Radith, hanya diam sambil memeluk Lira dengan erat. Lira menggerakkan alisnya untuk bertanya pada Radith, apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaga, ah ya, aku harus pergi, Zia diculik sama Grace, bukan, Greselyn. Aku harus menemukan dia sebelum mereka jauh, sebelum aku kehilangan jejak, makanya tadi aku nyetir buru buru, aku lupa ada Sean," ujar Radith yang membuat Lira jadi syok juga. Dia mencerna apa yang Radith katakan, namun mencoba untuk tidak panik karna dia tahu Radith akan ikut panik, dia mencoba menghela napasnya, dan Radith juga langsung pergi dari sana.


"Mami, tadi Papa menyeramkan sekali. Papa marah marah pada stir mobilnya, dia memukul stir mobil dan memaki orang orang yang lewat. Sean takut Mi, Papa kenapa begitu?" Tanya Sean yang ternyata sudah menangis. Lira mengerti Sean pasti takut, jika itu dia, dia juga akan ikut tegang, namun dia mengerti kenapa Radith seperti itu. Dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Radith.


"Papa begitu karna Papa panik, Papa takut Zia kenapa napa, Sean jangan takut lagi sama Papa ya, Sean kan tahu papa Radith orangnya baik, iya kan? Sean jangan takut lagi," ujar Lira yang diangguki oleh Sean. Dia tidak tahu apakah dia masih takut saat melihat Radith nantinya, namun karna menurut maminya baik, dia percaya itu baik.


"Memang Zia kenapa Mi? Tadi Sean pergi ke sekolah Zia, tapi setelah papa masuk dan keluar dari sana, papa jadi marah begitu, apa Zia gak baik baik aja Mi?" Tanya Sean yang membuat Lira terdiam, namun dia merasa bukan hal baik berbohong pada Sean. Dia tidak mau Sean belajar cara berbohong darinya. Dia menyusun kata kata agar Sean tidak bingung lagi.


"Gini, tadi kalau kata Papa, Zia diculik sama tante Greselyn, makanya Papa panik. Sean tahu kan tante itu bukan orang yang baik? Nah, walaupun tante Greselyn itu Mamanya Zia, Papa tetap khawatir, karna tante Greselyn membawa Zia tanpa kasih tahu Papa, jadi ini Papa juga nyari tante Greselyn, begitu nak, kita doakan biar papa bisa cepat ketemu sama Zia," ujar Lira yang membuat Sean terdiam sesaat.


"Zia akan baik baik aja kan Mi? Tante jahat itu tidak akan jahat sama Zia kan Mi? Zia kan anaknya, pasti dia sayang sama Zia kan Mi?" Tanya Sean yang membuat Lira diam. Dia juga tidak tahu apakah Zia akan baik atau tidak, karna dia sendiri tahu jika orang itu bukan ibunya dan tentu mudah baginya untuk menyakiti Zia. Dia hanya bisa berharap orang itu masih punya hati untuk kasihan pada Zia yang masih kecil.


"Semoga aja ya Nak, tapi Papa kamu gak akan biarkan Zia terluka, ini papa juga lagi nyari Zia, jsdi kita berdoa aja ya semoga semua baik baik aja, semoga Zia bisa pulang sama papa dalam keadaan baik," ujar Lira seadanya. Sean menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Lira. Meski masih kecil, dia tahu, keadaan keluarganya tak baik saat ini, dia merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Mi, kalau kita pulang ke Australia tidak boleh kah? Ayo kita pulang ke sana aja. Sean tidak masalah jika tidak punya teman di sana, asal mami, Papa dan Zia tidak ketakutan seperti ini, banyak orang jahat di negara ini, Sean takut," ujar anak itu dengan bibir yang bergetar. Lira tidak menyangka Sean juga bisa merasakan, walau kelihatannya anak itu baik baik saja, namun nyatanya tidak, anak itu juga trauma.


"Di setiao tempat pasti ada orang jahatnya, ada juga orang baiknya. Jadi dimanapun berada, kita harus bisa memilih teman yang baik, dan waspada dengan yang jahat. Uncle Alex orang Indonesia, dan dia baik kan sama Sean? Sama kayak kak Rania, Kak Rashi dan kak Ravi, mereka baik kan sama Sean?" Tanya Lira yang diangguki oleh Sean, yah, memang harus diakui orang itu sangat baik.


"Nah, jadi gak semua orang di negara ini jahat, banyak juga yang baik dan sayang sama Sean. Mami gak bsia janji tidak akan ada yang jahat sama kita, tapi mami bisa janjikan kalau mami akan berusaha buat kamu merasa aman, kamu merasa nyaman. Mami akan lakukan semuanya untuk melindungi kamu, mami bisa janjikan yang satu ini, jadi Sean jangan takut lagi ya," ujar Lira yang diangguki lagi oleh Sean.


"Tapi kalau nanti Zia sudah kembali, Sean akan tanya ke Papa untuk pindah saja ke Australia, jadi kita tidak udah tinggal di sini lagi, pasti lebih enak tinggal di sana, boleh kan mami?" Tanya Sean dengan polosnya, Lira tentu tidak memperbolehkan dan memberikan pengertian pada Sean untuk tidak melakukan hal itu, karna Radith sudah memiliki pekerjaan banyak di sini, tidak mungkin mereka pindah untuk hal sepele.


"Kalau kita pindah, kerja papa juga pindah, sekolah Sean dan Zia juga. Dan bahkan mungkin kalian gak bisa sekolah di sana nanti, jadi jangan ya. Kita di sini sampai nanti Sean sudah besar, Sean bisa pilih mau tinggal dimana. Gitu aja ya? Mau kan?" Tanya Lira yang membuat Sean terdiam, namun sesaat kemudian mengangguk setuju, Sean akan menurut apa yang dikatakan oleh Lira.


Sementara itu Radith sudah duduk di kursi belakang sambil berusaha memonitor dimana timnya sedang berpencar. Mereka tidak bisa menutup akses jalan karna akan menimbulkan kecurigaan. Apalagi mereka tidak tahu mobil apa yang dipakai oleh Greselyn saat ini. Tidak mungkin kan dia melihat satu persatu mobil yang ada di sana?


"Ah, pak, balik ke sekolah Zia pak. Saya harus ke sana," ujar Radith yang dianguki oleh supirnya. Dia sengaja memakai supir karna tahu sedang tak fokus, jika dia memaksa untuk menyetir, dia akan membahayakan banyak orang, dia tidak mau hal buruk terjadi, jadi lebih baik dia duduk di kursi belakang sambil menelpon Andre yang juga masih ada di sisi lain kota.


"Saya mau minta tolong untuk melihat cctv seputar jam Zia dijemput sama Mamanya, saya mungkin bisa melihat cctv di parkiran, paling tidak saya tahu mobil apa yang dia pakai untuk menjemput Zia, karna mobil punya dia ada di parkiran mall, jadi kamu sulit mencarinya," ujar Radith yang tentu dibolehkan oleh kepala sekolah. Jika sampai berita ini tersebar, reputasi sekolah yang akan anjlok dan dia akan dimarahi oleh pemilik yayasan.


"Ini pak, di sini, tolong diperlambat pak, sama di zoom di bagian plat nomor," ujar Radith saat sebuah mobil masuk ke cctv di area parkir. Dia meminta untuk memperbesar agar bisa melihat plat mobilnya, dia mencoba meneliti walau blur. Namun akhirnya dia mendapat nomor polisi mobil yang dipakai oleh Greselyn, sebuah petunjuk yang besar dan penting.


"Terima kasih banyak pak, bantuan bapak ini sangat berarti untuk saya, saya akan menggunakannya untuk mencari Zia. Mohon doanya agar Zia bisa ditemukan dengan selamat, terima kaish banyak pak, saya permisi dulu, mohon maaf, karna kami harus cepat," ujar Radith yang langsung pergi darisana setelah berpamitan. Dia langsung menyebarkan plat mobil yang dia dapat kepada semua tim.


"Ndre, lu blokir semua akses mobil merk ini, terus kalau ada yang plat nomornya sama atau mirip, tahan dulu dan lihat, kalau itu Greselyn, langsung amankan. Tapi alus ya, takut kalau nanti ada polisi, ngeri juga kalau kita yang ditilang," ujar Radith yang diiyakan oleh Andre. Mereka kembali ke tugas masing masing. Radith sudah memblokir akses bandara untuk Greselyn dan Zia, jadi dia tidak mungkin bisa pergi ke luar negeri.

__ADS_1


"Lo nyembunyiin Zia dimana sih setan? Gue gak akan pernah maafin Lo kalau sampai Zia kenapa napa!" Bentak Radith pada bayangan Greselyn yang muncul di hadapannya. Dia melihat ada segerombolan mobil sedang mengejar mobil lain, dia bisa tahu itu adalah mobil Andre, pasti Andre sedang mengejad Greselyn. Radith langsung menepuk nepuk pundak supir mobilnya.


"Pak, itu pak, itu Andre, dia pasti sama timnya lagi ngejar orang gila itu, kita bantu kejar mereka pak," ujar Radith yang diiyakan okeh supirnya. Mereka segera menyusul Mobil itu dengan tegang, takut menimbulkan kecurigaan atau malah takut dikejar oleh polisi, karna saat ini mereka benar benar seperti orang yang sedang balapan liar. Radith merasa cemas, dia takut jika mereka kehilangan Greselyn, dia akan kehilangan Zia selamanya.


Radith melihat lampu menunjukkan warna merah di sana, keberuntungan mereka. Namun ternyata tidak jadi, karna Greselyn melanggar lampu lalu lintas dan tetao mengegas mobilnya. Di sisi lain, sebuah mobil menabraknya dengan keras. Radith menyaksikan itu semua dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Jika ada Zia di dalam sana, pasti anak itu tak baik baik aja mengingat benturan yang sangat keras.


"Pak, itu mobil pak Andre yang menabrak," ujar supirnya yang membuat Radith makin panik. Dia langsung turun dari mobilnya dan berlari ke tempat kecelakaan itu. Dia melihat Andre yang sudah berdarah darah, dia meminta teman satu tim Andre membawa anak itu ke rumah sakit segera agar bisa ditangani. Dia melihat kedua mobil sangat hancur. Tangannya bahkan sampai gemetar saat melihatnya. Tidak menyangka akan melihat kejadian seperti ini, pada anak dan temannya.


"Pak! Awas pak, mobilnya akan meledak!" Teriak pengawalnya yang langsung menariknya menjauh daricmobil Greselyn yang sudah mengeluarkan Api dan siap untuk ledakan kebakaran. Radith meronta karna dia ingin menyelamatkan Zia. Zia harus hidup dan selamat, dia tidak bisa membiarkan anaknya mati konyol seperti itu, karna orang gila yang mengaku sebagai Ibunya.


Suara ledakan berkali kali membuat orang di sekitar sana makin panik, memanggil petugas kebakaran. Suasana makin riuh, bahkan Radith sampai terdorong dorong dan dengan bantuan pengawalnya, dia bisa menjauh dari tempat kejadian. Radith langsung terdiam dengan tatapan kosong. Dia tidak menyangka akan mengalami hal sepahit ini, dia merasa gagal sebagai orang tua.


"Zia, Zia maafkan papa, bahkan papa gak bisa kasih kamu kebahagiaan lebih dari satu tahun. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa anak itu selalu menderita seumur hidupnya?" Tanya Radith pada langit yang cerah. Dia melihat lagi ke arah mobil yang masih berusaha di padamkan. Untung saja petugas pemadam sangat gesit, jadi mobil bisa padam dengan cepat.


Radith segera berlari saat tahu api sudah padam. Meski kecil kemungkinan harapan, dia berharap anaknya masih bisa selamat setelah ledakan mobil itu. Namun sepertinya memang tak mungkin. Dia segera mendekati petugas pemadam untuk mencari informasi. Apakah di dalam mobil ini ada Zia atau tidak.


"Korban jiwa sementara ini hanya satu dan di mobil ini cuma dia satu satunya," ujar petugas pemadam itu yang membuat Radith langsung terduduk lemas. Dia tidak menyangka masih memiliki harapan Zia hidup. Ternyata di dalam mobil itu hanya ada mayar wanita, yah, mungkin itu benar Greselyn.


"Tapi, kalau cuma ada dia. Zia dimana? Zia kemana? Dia ngumpetin Zia dimana? Astaga. Lo harusnya gak mati sebelum kasih tahu anak gue di sana. Brengsek, mati aja nyusahin orang ya lu," ujar Radith yang sudah tidak bisa menahan isi hatinya lagi. Dia ingin mengamuk, namun suasana Ramai membuatnya mengurungkan niat.


"Apa anda ada hubungan dengan korban meninggalkan? Jika ya, kami harus mengajak anda untuk mengurus jenasah, dan mungkin anda melihat kecelakaan ini, jadi anda bisa jadi saksi," ujar seorang petugas yang dijawab Radith dengan gelengan kepalanya.

__ADS_1


"Saya ada jauh di belakang saat kejadian, jadi saya tidak tahu sama sekali. Dan saya juga tidak kenal dengan orang yang di dalam itu, jadi mungkin bisa orang lain saja pak yang melakukan. Maaf pak, saya harus pergi sekarang," ujar Radith yang pergi, tidak sudi dianggap punya hubungan dengan anak itu, lebih baik dia fokus mencari Zia.


"Zia, tunggu Papa ya, kamu harus baik baik aja, dan nanti Papa yang akan temukan kamu. Tunggu Papa," desis Radith penuh harap namun juga cemas di waktu bersama.


__ADS_2