
Radith pergi ke sebuah kota dimana dia mendapat informasi berharga. Dia langsung mendatangi sekolah yang tertera di informasi itu. Dia mendatangi ruang kepala sekolah dan menanyakan apakah kepala sekolah itu masih ada di sini 10 tahun yang lalu, ternyata kepala sekolah itu termasuk baru, jadi bukan orang yang tepat untuk ditanyai oleh Radith.
"Kalau boleh saya tahu, apa ada guru yang lebi hdsri 10 tahun sudah mengajar di sini, terutama kelas 1 kala itu, jika ada saya ingin bertemu dengan orang itu untuk menanyakan sesuatu, apakah boleh?" Tanya Radith sopan. Kepala sekolah itu tentu mengiyakan apa yang Radith minta dan langsung melihat data guru yang ada di sana, ada satu guru yang sesuai dengan kriteria Radith.
"Dia guru agama, silakan anda temui saja di ruang guru, dan bilang saja mau ketemu pak Faid, jika nanti Pak Faid bertanya, bilang saja sudah dapat ijin dari sana. Tapi jika boleh saya bertanya, memang ada masalah apa sampai anda mau mencari informasi 10 tahun yang lalu?" Tanya kepala sekolah itu dengan penasaran karna Radith memang tak tampak seperti orang jahat.
"Saya memerlukan informasi salah satu murid di tahun itu, dan berkaitan dengan keselamatan keluarga saya. Saya tidak bisa menuduh atau menyebutkan satu nama untuk menghindari fitnah, dan saya tidak bisa memberi informasi lebih lanjut demi keamanan keluarga saya. Saya harap Ibu bisa mengerti dan memaklumi," ujar Radith sopan, dia terus menunjukkan senyum yang ramah agar meninggalkan kesan yang baik.
Kepala sekolah itu mengangguk dan tidak betanya lagi karna dia tahu itu adalah rahasia. Selagi Radith sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang jahat dan kepala sekolah itu menahan KTPnya sampai dia pulang, Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Radith juga tidak mau susah payah menjelaskannya pada kepala sekolah itu, toh dia tidak akan mengerti yang Radith cari. Semakin sedikit yang tahu, semakin baik.
Setelah bertanya pada beberapa guru, akhirnya dia bertemu dengan seorang guru bernama Faid. Wajahnya masih cukup muda, mungkin berusia 40 tahunan, Radith memperkenalkan dirinya dengan sopan pada guru itu dan meminta waktunya untuk bertanya tentang beberapa hal. Untung saja guru itu baik dan tidak sedang memiliki kelas, jadi bersedia untuk membantu Radith. Mereka pergi ke kantin agar leluasa mengobrol, kantin juga sepi jika jam segini, jadi mereka tak terlalu khawatir.
"Saya mendaoat informasi dari kepala sekolah jika anda sudah menjadi guru di sini sejak bertahun tahun yang lalu. Jika saya boleh bertanya, saya ingin bertanya apakah anda mengingat adam murid dengan wajah ini di sekolah ini? Saya ingin mengonfirmasi sesuatu, tapi saya memerlukan informasi tersebut," ujar Radith menyodorkan sebuah gambar anak SMA berseragam sekolah ini.
"Ah, ya, saya ingat. Dia adalah Gracia, anak yang pintar dan toleransinya tinggi. Walau tidak diajar oleh saya, dia suka sekali berdiskusi tentang hal global dengan saya. Dia anak yang cerdas," ujar guru itu yang langsung mengingat Grace karna prestasi anak itu. Radith memandang lagi ke arah Andre, untung saja mereka bertemu dengan ornag yang tepat, sepertinya guru ini bisa membantunya.
"Apakah Gracia satu-satunya anak dari sebuah keluarga yang bersekolah di sini, maksud saya, apakah ada kakak atau Adik Gracia yang juga bersekolah di sini?" Tanya Radith yang membuat orang itu tersentak. Sesuai dugaan, ada sesuatu yang terjadi sehingga guru itu bahkan tampak ragu menceritakannya, namun setelah berpikir Radith tak akan menyalah gunakan informasi tersebut, Pak Faid memutuskan untuk menceritakan hal yang dia tahu.
"Di semester awal, sebenarnya ada dua anak dari keluarga itu yang bersekolah di sini, Yang satu Gracia, yang satu greselyn. Keduanya sangat cantik dan berbakat. Gracia berbakat di Ilmu pengetahuan, Greselyn berbakat di seni. Tapi sifat mereka snagat bertolak belakang. Itu yang membuat saya sebenarnya merasa sedih dan gagal menjadi guru, karna saat itu saya juga wali murid mereka, itulah kenapa Gracia bisa sedikit dekat dengan saya, sebagai guru dan murid tentunya."
"Berbeda dengan Gracia, Greselyn tidak bisa disetir. Dia akan melakukan apapun yang menurut dirinya baik, baik untuknya dan baik untuk dirinya. Ya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi dia gak lama bersekolah di sini kok, cuma satu semester dan dia langsung pindah dari sekolah ini, karna kena kasus dan dia harus dipindahkan dari sekolah ini."
"Kasus? Apakah saya boleh tahu kasus apa pak? Karna saya sangat membutuhkan informasi sedetail mungkin. Saya harap bapak mengerti kalau saya tidak akan berbuat jahat, saya hanya perlu melindungi keluarga saya, dan saya butuh bukti untuk melakukan itu, jadi saya harap anda bisa membantu saja," ujar Radith memelas namun tetap berwibawa, tampak tampan dan enak dipandang.
__ADS_1
"Yah, kala itu dia memasukkan petasan di tasnya Gracia dan meledak, membuat tangan Gracia terluka parah kala itu, dan saat ditanya, dia hanya ingin bermain dengan saudari kembarnya. Karna terjadi di lingkungan sekolah, akhirnya sekolah memutuskan untuk mengeluarkan Greselyn, walau alasannya dipindahkan, tapi intinya sama, dia tidak boleh lagi sekolah di SMA ini," ujar pak Faid yang membuat Radith mengangguk kaget. Apakah anak SMA jamannya duku bermain petasan di tas teman untuk bersenang senang?
"Setelah itu Gracia sangat sedih, ada bekas luka besar di tangannya dan sepertinya bekas itu tidak bisa hilang. Karna sudah berbulan bulan, bekas luka itu tidak hilang. Tapi ya entah jika sekarang, mungkin dia sudah perawatan dan menjadi jauh lebih baik dari dulu, saya ingin melihat wajah cerianya lagi, tapi rasanya memang sudah tidak mungkin."
"Pak, Saya sangat berterima kasih karna pak Faid mau meluangkan waktu untuk bercerita masalah ini. Ini sangat membantu dalam penyelidikan saya pak, dan setelah tahu informasi ini, saya jadi gahu bagaimana menghadapinya untuk melindungi keluarga saya," ujar Radith yang diangguki oleh pak Faid.
"Kamu ini mencari Gracia atau Greselyn? Kalau dari cerita kamu harusnya Greselyn, tapi ini foto Gracia dan Monika, temannya, yang kamu csri itu Gracia atau Greselyn?" Tanya pak Faid penasaran. Radith sebenarnya malas untuk menjawab, namun karna sopan, dia mengangguk dan tetap menjawab pertanyaan itu dengan sopan.
"Iya pak, saya memang mencari Greselyn, tapi sekarang lagi di tubuh Gracia dan yah, saya masih harus mencari tahu lebih lanjut, tapi Info yang anda berikan sangat sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih banyak pak," ujar Radith yang menjabat tangan pak Faid. Pak Faid tampak khawatir setelah mendengar perkataan Radith, entah karna apa, namun ternyata pak Faid tak nyaman dan menyampaikan isi kepalanya.
"Greselyn bukan orang yang mudah, saya bisa membaca karakternya yang mudah cemburu, padahal bakatnya dalam bidang seni itu snagat baik, sedanhkan Gracia malah gak bisa bermusik. Alasan Greselyb meletakkan petasan di tas Gracia karna Gracia mendapatkan juara satu dan dia ada di peringkat 2. Bahkan dengan saudara kandungnya dia berani begitu, apalagi dengan orang lain. Semoga apapun yang kamu hadapi, kamu dan keluarga kamu selalu sehat dan selamat ya, saya berdoa untuk kalian," ujar pak Faid memegang pundak Radith.
Lelaki itu reflek mengambil tangan pak Faid dan menciumnya. Dia merasa terharu dan kuat setelah perkataan itu. Dia merasa semangat dan dorongan yang diberikan oleh pak Faid. Setidaknya dia sudah tahu siapa Gracia dan Siapa Greselyn. Dia akan segera mengungkap semuanya, meski tak mudah, dia yakin bisa mengungkapnya agar Zia, Sean dan Lira tidak terus menerus dalam bahaya.
"Lo udah simpan alamat mereka kan? Kalau ya kita langsung ke sana aja. Siapa tahu ada orang tuanya atau pengasuh, pembantu atau apapun itu untuk nambah informasi," ujar Radith yang diangguki oleh Andre. Andre segera menuju ke alamat rumah yang dia dapat. Untung saja orang orangnya bisa diandalkan sehingga mereka berhasil melacak masa lalu Grace dengan sangat baik. Tidak heran Radith memilih untuk mempertahankan dirinya dibanding mencari pengawal baru lagi.
"Kita harus jalan dari sini, karna gak ada jalannya lagi. Ayo kita jalan, saya sudah meminta beberapa pengawal untuk mengamankan jalan, agar tidak ada gangguan. Jadi sudah aman," ajak Andrw yang diangguki oleh Radith. Dia merasa tak asing dengan jalan seperti ini. Namun dia tidak bisa mengingatnya, sepertinya ingatan yang sangat acak, mungkin karna mimpi atau dulu dia pernah bertugas di tempat seperti ini? Entahlah.
"Wow, cuma ada satu rumah loh di sana. Terus tuh di sana lagi, Keren banget gak tuh? Tetangganya jauh banget, kalau mau arisan gimana ya? Naik motor?" Tanya Andre yang sangat tidak penting. Namun Radith sedang dalam perasaan yang baik, sehingga dia ingin menanggapi perkataan Andre yang absurd itu.
"Mereka kalau arisan online, tranfernya M banking. Gimana? Kalah kan emak emak di rumah Lo?" Tanya Radith lagi yang membuat Andre terkesan, sepertinya akan sangat keren jika Ibu Ibu PKK sudah melakukan itu, mereka juga tidak perlu menyiapkan uang konsumsi kan? Apakah besok akan ada hari dimana kita hanya bertatapan lewat layar untuk banyak hal?
"Sialan, Lo anggap beneran ya? Kagak lah Bro kagak munglin gitu. Gila aja arisan online. Gue cuma ngarang tadi, lagian sinyal di sini juga susah, gimana orang mau live streaming buat arisan? Gak mungkin banget," ujar Radith setelah melihat Andre yang malah membayangkan hal yang tidak tidak.
__ADS_1
"Ini sih rumahnya, tapi kok kayaknya udah kosong ya? Apa coba diketuk aja?" Tanya Andre yang disetujui oleh Radith. Mereka mengetuk pintu cukup lama, namun tidak ada yang membukakan, sepertinya memang sudah tidak ada orang di sini. Saat Radith dan Andre hendak pergi, ada seorang tua yang masuk ke halaman rumah dan tampak kaget karna kedatangan mereka. Kakek itu menatal Radith dan Andre dengan tatapan menyelidik.
"Kalian siapa? Kalian mau apa di rumah saya?" Tanya kakek tua itu yang membuat Andre dan Radith saling pandang. Lalu setelah sadar, Radith dan Andre langsung memperkenalkan diri dan mengatakan maksud kedatangan mereka ke rumah ini. Kakek itu masih tidak ramah, namun paling tidak mereka tidak diusir dan malah diminta untuk duduk di kursi yang ada di teras.
"Kakek pemilik rumah ini? Sudah berapa lama kek?" Tanya Radith memulai pembicaraan. Kakek itu mengira Radith hanya berbasa basi dan akan membeli rumah ini, namun Radith meyakinkan kakek itu, tidak ada maksud untuk melakukan hal itu, dia hanya ingin menanyakan soal Gracia dan Greselyn.
"Gracia? Greselyn? Apa hubungan kalian dengan anak anak saya? Apa mereka berhutang dan meminta anda menagih ke saya? Saya tidak punya uang! Kalian minta ke mereka saja, jangan ke rumah ini," ketus kakek tua itu yang makin membuat Radith seba salah.
"Kamu bukan penagih hutang, tapi maaf jika lancang, sepertinya hubungan kakek dan mereka tidak baik? Apa tebakan saya benar? Sekali lagi maaf jika menyinggung," ujar Radith yang bingung bagaimana bahasa yang sopan untuk menanyakan hal itu.
"Anak anak yang durhaka. Aku sudah menyekolahkan mereka, tapi mereka memilih untuk pergi ke kota, tidak pernah kembali sama sekali. Saya tidak tahu, apakah mereka masih hidup atau mati. Bahkan istriku sampai mati karna merindukan anak anak tidak tahu diuntung itu, aku sangat membenci mereka walau mereka anak anakku," ujar kakek itu dengan geram.
"Jadi mereka hanya ada di rumah ini sampai SMA dan tidak pernah kembali lagi? Tapi bukankah hubungan mereka tidak baik? Apakah mereka berkelahi dan pergi dari rumah? Atau bagaimana?" Tanya Radith yang makin lancang, membuat Andre harus memegang legannya agar lelaki itu berhenti bicara. Namun sepertinya kakek itu mengerti dan tidak masalah dengan lancangnya Radith.
"Mereka tidak pernah saling membenci, mereka tetaplah saudara kembar apapun yang dilakukan. Gracia mengalami luka berat di tangannya, namun setiap hari Greselyn selalu merawatnya, memberinya makan dan mengambil apapun yang Gracia inginkan. Tapi setelah lulus, mereka ingin kerja di kota, namun sampai “sekarang tidak ada kabarnya."
"Istriku merindukan mereka setiap hari, namun kami tidak bisa menghubungi mereka sama sekali, sampai Istriku meninggal, aku menganggap mereka sudah mati karna bahkan mereka tidak hadir dalam pemakaman ibu mereka. Apakah mereka tahu Ibunya meninggal? Saya rasa tidak," ujar kakek itu dengan yakin.
"Saya akan menemukan Gracia dan Greselyn, lalu mengajak mereka kemari untuk memohon ampun pada Bapak. Saya minta maaf untuk semua sikap lancang yang saya lakukan. Saya tidak bermaksud membuka luka lama, saya hanya membutuhkan informasi sebanyak banyaknya mengenai hal ini."
"Kalau begitu kami pamit dulu pak, sekali lagi mohon maaf untuk kelancangannya," ujar Radith sopan. Mereka segera pergi dari sana untuk pulang ke Bali agar Grace tidak curiga kemana mereka pergi.
"Clue kedua. Walau terkesan jahat dan saling menyakiti, ah bukan, salah satu menyakiti. Mereka akan tetap bersama, saling membantu dan keluar dari rumah bersama." Tulis Radith pada memonya.
__ADS_1