Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 115


__ADS_3

Teng teng teng teng teng


Bel di rumh Radith sudah berbunyi cukup keras,menandakan nantal udah datang dan mereka langsung bangun dengan perasaan yang gembira. Radith juga membuka matanya dan melihat ke arah Lira yang ternyata sudah selesai mandi dan bahkan masih mencari baju yang akan dia pakai untuk ibadah natal pagi ini. Lira juga menyiapkan baju untuk Radith sebelum nanti dia menyiapkan baju untuk anak anaknya.


“Eh, kamu udah bangun gimana tidurnya? Ayo kalau udah banun kamu buruan siap iap, takutnya hadiah yang udah kamu siapkan ketahuan sama anak anak sebelum kita ibadah, nanti malah gak kusyuk ibadahnya karna kepikiran hadiah mereka,” ujar Lira yang tentu membuat Radith mengerutkan keningnya. Bukankah bagus jika mereka tahu lebih dulu? Mereka malah tidak akan kusyuk jika masih memikirkan hadiah hadiah itu.


“Ya udah iya, aku mandi sekarang. lagain ibadahnya jam sembilan loh, ini masih jam enam dan kamu sudah siap aja. Aku kan jadi terkejut ya sama kamu, ya udah, kamu bantu anak anak dulu aja buat menyiapkan baju mereka dan memastikan mereka gak akan membuka kado yang udah aku siapkan, aku mau mandi, habis itu aku langsung nyusul deh ke kalian, dah sana,” usir Radith karna dia masih ingin beristirahat sebentar lagi.


Lira tahu tabiat suaminya. Dia langsung mengambiri Radith dan menyeret lelaki itu untuk duduk, karna jika lelaki itu masih membungkus tubuhnya dengan selimut dan kepala yang dinyamankan oleh bantal, dia tidak akan bangun dengan segera, lebih parah, dia akan kembali tidur setelah itu. Lira tidak mau mereka terlambat ke temat ibadah, apalagi dia tahu akan ada banyak orang yang hadir, mereka yang pernah ikut ibadah pun mungkin akan ikut juga kali ini. Yah, setiap agama pasti ada kan orang ynag beribadah hanya saatacara kagamaan besar saja?


“Iya iya sayang, ini aku udah bangun, udah nih, kali ini udah beneran bangun deh, gak bohong aku sayang, nih, bangun nih bangun,” ujar Radith yang membuka matanya lebar lebar. Dia membuat Lira terkekeh dan mengangguk puas, paling tidak lelaki itu sudah bangun dan mereka bisa segera bersiap. Setelah memastikan Radith bangun, dia mengambil bantal dan selimut untuk berjaga jaga, bahkan kejamnya, dia juga menyalakan pendingin ruangan dengan suhu rendah, agar Radith tidak bisa betah ada di tempat dingin, tak lupa dia menyimpan semua itu di lemari pribadinya.


“Kamu istri rasa ibu tiri banget yah ke aku. Untung aja aku sayang banget sama kamu, kalau enggak, beh, udah aku sate deh kamu sampai aku cincang cincang halus, sampai aku rebus jadi kaldu ayam, eh enggak, kado sapi yang sangat besar. Dah ya, aku mau mandi, kamu keluar dulu atau aku ajakin mandi bareng dan malah aku pastikan kita bakal telat buat datang ke tempat ibadahnya, gak mau kan?” ancam Radith yang langsung membuat Lira keluar dari kamar itu segera.


Radith ingin tidur, namun dia jadi khawatir dan membayangkan wajah marah Lira sambil membangunkannya dengan air es. Dia tidak mau Lira melakukan hal bodoh itu, jadi dia memilih untuk mandi dan menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Radith mandi dengan cepat karna kedinginan, padahal dia bisa mandi menggunakan air hangat, namun dia ingin menghilangkan rasa kantuk yang melanda, jadi dia sengaja mandi dengan air dingin, dia langsung keluar dari dalam kamar mandi dan langsung memakai baju yang sudah disiapkan oleh Lira. Radith memakainya dengan cepat dan segera keluar untuk menyambut anak anaknya. Namun sesampainya di ruang kelaurga, dia tidak melihat siapapun, malahan, dia melihat Lira sedang asyik di dapur.


“Kok kamu masih pakai daster sih? Kamu belum siap sama sekali? Kalau belum siap kenapa kamu malah marah dan minta aku buat berhenti tidur dan langsung mandi? Ih kamu mah aneh banget, masak aku sampai haru berpusing pusing riya sih?”tanya Radith yang membuat Lira terkekeh. Dia memang ingin sengaja sedikit mengerjai Radith, karna dia ingin Radith bangun lebih awal dan menjaga anak anak agar dia lebih fokus melakukan hal lain, namun ternyata anak anak maah belum bangun, meninggalkan kesan dia yang salah karna sudah membohongi Radith dan bahkan membuat Radith harus mandi dengan air dingin.


“Maaf, aku bukan sengaja kok gitu ke kamu, aku cuma gak mau kamu tidur lagi dan aku kira anak anak udah bangun, kalau kamu mau tidur lagi gak papa, aku udha selesai beberesnya, nanti anak anak aku aja yang urus, oke kan?” tanya Lira yang diangguki oleh Radith, namun dia tidak ingin kembali tidur, dia memilih untuk pergi ke kamar Zia dan Sean secara bergantian untuk tahu apa yang sedang mereka lakukan. Radith merasa kaget saat melihat Zia ternyata sudah siap dengan gaun sederhana berwarna merah khas natal.

__ADS_1


“Wow, anak papa cantik sekali, kamu sudah siap ya nak? Kamu rajin sekali udah bangun dan udah siap gini, ya udah yuk kalau udah selesai kita kelaur aja bareng sama mami juga kan ayo nak,” ujar Radith yang menggandeng Zia untuk keluar dari dalam kamar. Dia segera menunjukkan Zia dan dirinya sudah siap untuk berangkat ibadah. Lira bahkan tampak terkejut dengan kehadiran keduanya karna dia memang tidak tahu jika Zia sudah bangun dan bahkan sudah siap. Dia kira karna kamar mereka masih tertutup, berarti mereka masih tidur.


“Wah anak mami yang paling cantik udah bangun, ya udah nak, kamu sama Papa di ruang tamu dulu, nanti kalau mami suah selesai mami mau menyiapkan baby El untuk bersiap, setelah itu kita berangkat ibadah ya,” ujar Lira yang diangguki oleh Zia. Wanita itu segera pergi ke kamarnya lagi untuk memandikan dan membuat babynya bersiap pergi ke rumah Tuhan. Sementara itu Zia dan Radith hanya duduk di sofa dan keduanya terdiam.


“Kamu minta hadiah apa sama santa klaus? Jangan minta yang mahal mahal loh, nanti kamu malah gak dikabulkan sama santa klaus kalau kemahalan karna nanti santa kalusnya kan bangkrut, iya kan? Ya udah kamu kasih tahu papa sekarang, kamu minta apa ke santa klaus biar nanti papa tanya ke dia apakah kamu dapat hadiah itu atau hadiah yang lain,” ujar Radith yang tentu membuat Zia ragu, dia tahu tidak boleh memberitahukan hal itu pada siapapun.


“Zia tahu jika Zia tidak boleh memberitahukan semua itu ke orang orang, jadi Zia tidak bisa memberi tahu papa, nanti jika memang hadiah Zia tdiak di konfirmasi atau dikirimkan atau dikirimkan barang yang lain oleh santa klaus, Zia tidak masalah karna memang Zia sudah mendapat hadiah yan jauh, ya, jauh lebih berharga dari semua hadiah yang Zia minta, yaitu sebuah keluarga.”


“Zia sudah sangat beruntung dengan mendapat keluarga yang baik hati, keluarga yang yang baik yang baik dan sangat pengertian seperti kalian, jadi Zia tidak mengharapkan sesuatu yang lain, Zia hanya akan menerima apapaun yang Santa berikan, mungkin dia miskin jadi tidak bisa memberikan hadiah untuk Zia, jadi Zia tidak akan memaksanya, Zia sudah merasa beruntung mendapat hari Tuhan,itu jauh lebih baik dari semuanya,” ujar anak itu dengan tulus. Dia membuat Radith merasa super terharu dengan cara berpikir anak itu.


“Papa merasa bangga dengan kamu nak, papa harap semua yang kamu inginkan bisa dikabulkan oleh santa klaus ya nak akran papa tahu kamu anak baik dan papa yakin santa klaus tahu akan hal itu, ya udah, kalau kamu sudah siap, papa akan bangunkan Sean dan meminta Sean untuk bersiap, kita bisa sarapan dulu bersama sebelum berangkat untuk beribadah, oke sayang?” tanya Radith yang langsung diangguki oleh Zia. Gadis itu duduk manis di sofa sementara Radith masuk ke kamar Sean untuk membangunkan anak itu.


Mereka mengikuti ibadah dengan kusyuk dan lancar. Radith segera membawa mereka pulang karna di rumah mereka memiliki banyak makanan ringan khas natal yang biasa disediakan Lira saat Sean berada di australia, jadi dia tidak mau menghilangkan kebiasaan itu, Radith membeli banyak sekali makanan dan makanan ringan agar Sean tetap merasakan natal yang menyenangkan dan hangat seperti sebelumnya, bahkan jauh lebih hangat karna Zia dan Baby El serta Radith masih berada di sini


“Ayo kita pulang aja dan kita lihat di bawah pohon natal, apa yang santa klaus siapkan untuk kalian, ah atau mungkin kalian berdua tidak mendapat apa apa dari santa klaus karna dia merasa kalian tidak cukup baik atau yang kalian minta terlalu mahal, iya kan? Ya sudah ayo kita lihat dulu di rumah, papa juga penasaran dengan apa yang dia siapkan untuk kalian,” ujar Radith yang tentu saja membuat Sean dan Zia semangat.


Setelah sampai di rumah, Radith segera membaw mereka ke pohon natal utama dimana pengawalnya sudah menyiapkan banyak hadiah untuk mereka dan tentu saja di antara hadiah itu terselip hadiah dari santa klaus seperti yang mereka minta, dan tentu saja Radith tidak peduli jumlah yang sudah disiapkan oleh anak anaknya, dia hanya mau memberi yang terbaik untuk anaknya jadi dia akan melakukan segalanya yang dia bisa untuk mengabulkan permintaan anak anaknya.


“Ah, ini ada dari mami untuk Zia dan Sean, kalian buka dulu aja apa isinya,” ujar Radith yang mengambil salah satu hadiah yang ada di sana, Zia segera membuka segel dan bersama Sean dia melihat ada sepasang sweeater yang snagat cantik dan lucu untuk mereka berdua dan jauh lebih mengharukan, mereka menerima model yang kembar jadi Zia dan Sean seperti sedang memakai sweater yang serasi. Sean dan Zia langsung memakainya dan bercekikikan karna merasa puas.

__ADS_1


“Sekarang ini sudah ada hadiah dari Papa, kalian silakan buka,” ujar Radith yang membuat mereka semangat, mereka melihat Radith memberikan seatu yang sangat sama, hanya berbeda warna, milik Sean berwarna putihdengan corak hitam dan milik Zia me,iliki warna putih dengan corak merah muda. Hal itu tentu membuat mereka kembali bahagia akrna mereka memang sangat suka dengan baju atau sepatu baru, meski Zia tidak pernah meminta, namun jika dia diberi, dia tidak akan menolak.


“Ah, masih ada kado disini, apakah mami Lira yang meberikan lagi untuk Sean dan Zia?” tanya Radith berpura pura. Lira angsung mengeluarkan bakat akting yan gdia milki, dia ampak bignung dan mengglengkan kepalanya, dia segera mengambil kotak itu dan seolah membaca tutupnya, padahal dia sudah tahu tulisan yang ada di sana. Lira tampak mengeluarkan wajah yang kaget bercampur dengan senang, hal itu tentu saja emmbuat Sean dan Zia merasa penasaran.


“Ini Zia, sepertinya ini untuk kamu, coba kamu baca yang keras ya ada apa tulisan di sana agar Sean bisa mendengarnya juga, oke nak? Ayo sekarang coba baca,” ujar Lira yang diangguki oleh Zia. Gadis kecil itu menarik napasnya dan bersiap untuk membaca semua tulisan yang ada di sana.


“Dear Zia, It’s santa klaus. I’ve read your text for me and that’s make me so tearful, ya, you have a big drem dan Of course I should help you to do that, this is present for you from santa,” ujar Zia membaca tulisan yang ada di sana dan langsung menatap Lira dengan tatapan tak percaya. Dia segera membuka hadiah itu dan mendapati semua yang dia inginkan ada di kotak itu.


“Ini sangat sesuai dengan permintaan yang Zia buat. Zia ingin sekali memiliki alat gambar yang lengkap untuk bisa mengambar dengan baik dan santa klaus mengabulkan semua untuk Zia jadi Zia sangat bahagia dengan hal itu, terima kasih banyak papa, mami dan tentu saja santa kkaus yang tidak tahu ada dimana. Terima kasih banyak sudah mengabulkan permintaan Zia,” ujar Zia yang tentu membuat Lira juga merasa terharu.


“Dengan alat gambar ini mami harap Zia bisa semakin semangat ya untuk meraih cita cita dan mengembangkan apa yang Zia bisa.mami akan dukung Zia dan tentu saja papa akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua anak anak mami, jadi kalian harus jadi anak yang baik ya nak sayang,” ujar Lira yang langsung diangguki oleh Zia. Radith melihat ke arah Sean ayng tampak lesu.


“Sean kenapa tampak sedih begitu? Apa ada sesuatu yang membuat kamu sedih?” tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh anak itu. Radith tentu saja bingung kenapa Sean seperti itu. Anak itu segera menggelengkan kepalanya.


“Hadiah yang Sean minta sangat mahal dan uang yang Sean berikan tidak akan cukup.santa klaus kan tidak punya banyak uang,” lirih Sean yang membuat Radith tertawa.


“Ya dilihat dulu dong sayang apa yang sudah Santa klaus siapkan untuk kamu dan Zia, oke?” tanya Radith yang membuat Sean bersemangat, namun saat dia tahu yang dia dapat sebuah kotak, dia kembali lesu.


“Sepertinya memang keinginan Sean tidak terkabul.”

__ADS_1


__ADS_2