Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 40


__ADS_3

"Dith, Gue gak pernah mikir kalau rasa trauma Gue bisa hilang dengan cepat." Lira menatap langit bertabur bintang. Tubuhnya dia biarkan menyentuh dinginnya rumput di malam hari, sementara kepalanya bersandar di lengan Radith yang berotot, namun juga hangat dan sangat nyaman.


Lira bahkan tidak pernah memikirkan akan bisa melakukan semua ini dengan Radith. Lira hanyalah gadis miskin awalnya, dia bahkan terpaksa bekerja untuk Radith, tidak disangka itu adalah perjalanan yang sangat panjang. Lira bahkan tak habis pikir jika mengingatnya kembali, bagaimana bisa dia begitu bodoh dan naif hanya demi uang merelakan segalanya?


Namun jika bukan karna kebodohannya, apakah dia masih bisa berada di tempat ini? Bersama pria yang selalu bisa menghangatkan hatinya, meski pria yang sama juga sudah menghancurkan hidupnya. Entahlah, saat ini Lira hanya perlu memaafkan masa lalu, dan berani melangkah memulai hidup yang baru.


"Adik Lo apa kabar sekarang? Demi apa Gue gak pernah tahu kabar Adik Lo, Gue cuma minta orang buat awasin, urus dan penuhi semua kebutuhan dia," ujar Radith dengan jujur. Radith menghabiskan waktu bertahun tahun untuk memperbaiki psikisnya, dia bahkan tidak ingat Lira punya adik yang juga kini menjadi adik iparnya.


"Dia baik, bentar lagi dia wisuda S2, dan semua itu berkat anda pak Radith, terima kasih banyak karna Anda mau memberikan bea siswa untuk adik saya," ujar Lira dengan sopan, gadis itu ingin memainkan peran mereka saat dulu Lira masih menjadi bawahan Radith.


"Liora, saya minta kamu temani saya malam ini, tidak ada penolakan, saya membutuhkan kamu untuk malam ini," ujar Radith yang membuat Lira terdiam dan menelan ludahnya. Tidak mungkin kan Radith berani macam-macam di tempat terbuka seperti ini.


Yah, meski jika dipikir tidak akan ada orang yang datang ke sini karna mereka ada di bagian atap rumah Radith, lelaki itu sengaja menyeting tempat menjadi romantis dan indah, permintaan khusus dari Lira, Radith tentu mengabulkannya tanpa berpikir.


"Maaf pak Radith, tapi ini sudah malam, saya kedinginan berada di luar sini. Saya harus pulang, Adik saya sendiri di rumah," ujar Lira yang membuat Radith terkekeh.


"Tak apa, aku akan mengirim orang untuk memastikan Adikmu baik -baik saja, sebagai gantinya, Kau tidak boleh pergi kemanapun, Jika kau hilang dari pengamatan ekor mataku, Aku aman menghukummu."


"Eh Dith, Gue beneran kedinginan, masuk yuk, ntar masuk angin gimana?" tanya Lira yang tidak dijawB oleh Radith. Sebaliknya, Radith malah melingkarkan tangannya ke tubuh Lira,membungkus tubuh Lira dengan badannya yang lebih besar. Lira tentu saja terkejut, namun tidak dibohongi, posisi ini sangat nyaman.


"Kalau Lo kedinginan, Gue punya stock penghangat tidak terbatas di tubuh Gue. Lo gak usah khawatir, Gue akan selalu meghangatkan. Gue janji, di sisa hidup kita, hanya ada bahagia, udah cukup part merananya," ujar Radith dengan lembut.


Lira tak melawan atau berusaha melepaskan diri. Dia hanya meletakkan kepalanya di dada bidang Radith. memejamkan matanya dan merasakan kehangatan tubuh Radith, Lira bahkan bisa mendengar detak jantung yang sangat teratur itu, apakah Radith tidak berdebar? Apakah hanya Lira yang merasakannya?


"Ra," panggil Radith dengan suara uang sedikit aneh. Lira hanya berdehem, tidak beranjak dari posisi nyaman ini, bahkan jika bisa, Lira ingin ada di posisi ini selamanya. Lira ingin ada di samping Radith selamanya.


"Lo bisa geser dikit gak? Adek kecil Gue kena kaki Lo sakit banget," ujar Radith yang membuat Lira tersadar. Ah, ternyata tanpa sadar Lira menekuk kakinya untuk mencari posisi nyaman, dan posisi nyaman yang dia dapat adalah meletakkan kakinya di atas adik kecil milik Radith.


"Ah, maaf, Gue gak tahu, beneran Gue gak tahu," ujar Lira yang gugup san hendak berdiri, namun Radith menahan tubuh Lira, tidak membiarkan wanitanya pergi menjauh sedikit saja. Lira membiarkan saja Radith melakukan hal itu, toh dia juga betah dan nyaman.


"Ra," panggil Radith lagi, Lira langsung mengecek bawah, kakinya aman, berarti Lira tidak sedang menyakiti Adik kecil Radith. Lira mendongak menatap Radith, mata lelaki itu tampak sayu dengan telinga yang merah. Apakah lelaki itu kedinginan? Telinga Lira selalu merah saat kedinginan.


"Kenapa la..." belum selesai Lira bicara, Radith sudah mencium bibirnya dengan lembut. Sangat lembut, Lira tidak merasakan ada tekanan napsu di sana. meski mungkin Radith sedang 'on' lelaki itu berusaha untuk menahannya agar Lira tidak merasa disakiti.


Pelan pelan ciuman itu berpindah dari bibir ke pipi, pipi ke hidung, bahkan sampai ke kedua mata milik Lira, ya, setiap inchi wajah Lira tak luput dari ciuman itu. Radith benar-benar ingin menunjukkan jika dia mencintai setiap inchi tubuh Lira tanpa terkecuali.

__ADS_1


Radith mengamati mata Lira, merasa tidak ada penolakan di sana, Radith melanjutkan aksinya, kembali mencium bibir yang Ranum itu, namun kini tangannya mulai mencari benda empuk yang menjulang, Radith mulai memegangnya, dia bisa merasakan tubuh Lira bergetar hebat. Sepertinya Lira sensitif di area ini.


Radith tentu tidak mau membuat Lira kecewa, dia mulai memainkan area itu dengan sabar dan sangat tenang, tidak ingin membuat Lira terkejut atau takut, apalagi pengalaman pertama mereka tidak mengenakkan.


Lelaki itu mengubah gerakan tangannya dari yang berupa tangkupan besar menjadi cubitan kecil yang memabukkan, dia mulai mengintimidasi Lira dengan memberikan pelintiran kecil di area yang paling sensitif di sana, membuat Lira mengejang dan bahkan mulai mengeluarkan desahan.


Radith tak mau Lira menjadi berisik dan seseorang akan datang, jadi lelaki itu kembali menyumpal bibir Lira dengan bibirnya. Mereka sama sama menikmati permainan ini, namun semua belum cukup untuk Radith, lelaki itu tidak mau berhenti sampai di sini.


Kedua tangan Radith mulai bekerja sekarang. Lelaki itu tetap melakukan kegiatan yang sebelumnya dan tangan yang satu lagi turun untuk memberikan hal lebih pada Lira. Radith menyentuh bagian luar dimana masih ada kain pembungkus di sana. Radith bisa merasakannya...


Hangat dan basah.


Lira sungguh terbuai dengan permainan Radith, sepertinya trauma itu sudah benar benar hilang. Namun saat Radith hendak menyentuhnya lagi, tiba tiba saja tangan Lira menahan tangannya. Dengan cepat Lira melepaskan dan menjauhkan diri dari sana.


Lira duduk meringkuk, memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Maaf Dith, Gue.. Gue.. Gue gak bisa," Ujar Lira terbata-bata.


Radith salah. Wanitanya masih merasa trauma, Lira tidak merespon negatif karna Lira belum menyadari apa yang akan terjadi, namun saat Radith menyentuh bagian bawah itu, Lira langsung teringat semua dan menjadi takut.


"Seharusnya Lo lepas mahkota itu dengan senang sama orang yang Lo impikan, tapi yang Lo dapat malah pelecehan dari Gue. Emang Gue pantas mati Ra, maafin Gue," ujar Radith pelan sambil menunduk, Lira langsung mendongakkan kepalanya, dan berjalan lalu memeluk Radith dengan hangat.


"Kita berdua udah melalui banyak masa sulit Dith, Gue emang belum siap sekarang, tapi Gue gak menyesal, saat ini Gue bahagia, Gue bahagia karna orang itu Lo. Gue bahagia, berkat Lo, Gue jadi bisa punya Sean. Sean sumber kekuatan Gue selama ini, dan sekarang ada Lo, Gue gak tahu hal lebih apa yang Gue minta dari ini. Gue hanya bisa bersyukur untuk semua hal."


"Gue bakal buktiin, Kalau Gue akan menjadi anak yang baik buat Sean, Suami yang baik buat Lo. Sean bakal merasakan kebahagian yang ga pernah dia bayangkan sebelumnya. Lo alasan Gue bertahan selama ini Ra, dan sekarang kekuatan Gue udah nambah dengan lahirnya Sean."


~tok tok tok


~Pakettt


~ Asiyaap


(lho heh, salah server)


~Tok tok tok

__ADS_1


Radith membuka pintu dan nampaklah Sean yang memakai piama sambil membawa boneka yang cukul besar. Sean berkata dia kesulitan tidur dan mencari Lira, Sean kemari di antar oleh paman penjaga.


"Tidur sama Mommy sama Ayah juga, Sean belum pernah kan tidur sambil lihat bintang?" Tanya Lira yang mendadak jadi sangat keibuan, membuat senyum di bibir Radith merekah, dia tidak salah memilih Lira dalam hidupnya.


Sean memposisikan diri di tengah sambil memeluk boneka guling bentuk anjing yang cukup besar. Di sisi kanannya terdapat Lira yang mengelus kepalanya dengan lembut, dan di sisi kiri terdapat Radith yang menunjukkan bintang bintang padanya.


Sean terkekeh beberapa kali sebelum matanya menjadi berat dan perlahan terlelap. Lira dan Radith berpandangan, lalu menatap anak mereka yang sangat damai, malaikat kecil di hidup mereka.


Seolah mengikuti naluri, Lira dan Radith mendekatkan kepala mereka untuk memberi ciuman selamat malam pada Sean seperti di film keluarga cempaka yang harmonis dan romantis.


~jedukkkk


(sepertinya kita harus berhenti mengikuti adegan di film, semua tidak akan berjalan dengan lancar)


Lira dan Radith memegangi kepala mereka yang terasa sakit. Mereka hendak berteriak, namun mereka masih ingat ada Sean, tidak bisa membangunkan Sean.


Menyadari kekonyolannya dengan Radith, Lira mulai tersenyum geli dan tertawa tanpa suara. Malam ini benar benar malam yang menyegarkan untuk Lira, sekaligus sebagai langkah awal Lira untuk memutuskan hidup bersama Radith.


Lira hanya berharap, di sisa kisah cintanya ini, hanya akan ada bahagia, tawa dan canda. Dia akan menutup semua catatan luka dan duka. Menggapai tangan Radith sekali lagi, untuk berjalan beriring sampai akhir waktu nanti


~Tamat~


.


.


.


.


.


.


Eh gak ding, belom wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2