
“Lho? Papa? Papa sudah pulang. Why you need a long time? Kerjaan papa banyak banget ya?” suara itu membuat Radith terenyuh. Dia sangat merindukan anaknya yang memang galak dan selalu menanyakan kabar Radith dengan detail, melihat Radith tidak ada kabar sama sekali membuatnya menjadi sangat marah, jadi wajar saja dia menanyakan hal seperti itu dengan nada menyindir.
“I need a long long time, but now everything is over, papa punya banyak sekali waktu untuk kamu. Jadi kamu mau kemana, mau main apa dan mau ngapain, papa bisa temani kamu. Oke? Sekarang kamu masuk tuh, duduk di sebelah baby El, kita jemput Zia dan kita main, kemanapun kalian mau, papa akan jadi supir kalian,” ujar Radith dengan semangat. Sean mengangguk dan masuk ke dalam mobil itu.
Mereka menuju ke sekolah Zia dan gadis kecil itu sudah ada di dekat gerbang. Zia melihat mobil Lira dan langsung berdiri, menunggu mobil itu sampai di depannya. Setelah membuka pintu, Zia juga terkejut karena melihat papanya ada di dalam sana. Tampak sekali Zia bahagia melihat Radith setelah sekian lama. Hal sederhana seperti itu saja mampu memporak porandakan hari Radith.
“Maafkan papa yang anak-anak, papa tidak ada waktu untuk kalian, papa harus bekerja sangat keras dan tidak bisa memberi kabar apapun. Kalian anak anak yang baik, kalian baik sama mami kan selama papa gak ada di rumah?” tanya Radith yang langsung disambut heboh oleh Sean dan Zia. Mereka menceritakan versi masing masing apa saja yang mereka lakukan selama Radith tidak ada.
“Sedih sekali karena kalian tetap bersenang senang tanpa papa, berarti kalian baik baik saja papa pergi bekerja untuk waktu yang lama? Tidak ada yang khawatir atau ingin papa tetap tinggal di sini?” tanya Radith memancing. Zia langsung menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke arah Sean dan mengangguk, lalu Zia dan Sean mengeluarkan sebuah kalung dari manik-manik.
“Kami tidak pernah lupa dengan papa, papa bekerja keras untuk kehidupan kami, sekolah kami yang mahal dan semua makanan enak yang boleh kami makan. Mami juga melakukan semua yang terbaik untuk kami. Jadi, kami menyiapkan hadiah ini. Ini adalah kalung cinta yang Zia dan Sean buat untuk kalian, selama kalian memakai ini, kalian akan terus saling mencintai,” ujar Sean sambil memberikan kalung itu.
“Ah, Zia minta mami membelikan benang elastis dan manik manik untuk membuat hadiah ini? Kalian manis sekali. Mami sangat bahagia dan bangga memiliki kalian, astaga, mami merassa terharu,” ujar Lira yang menerima kalung itu dan hendak memakainya, namun Zia yang paling dekat dengannya menahan tangan Lira. Hal itu tentu membuat Lira kembali bingung, apakah dia tidak boleh memakainya?
“Yang mami pegang itu punya papa dan yang papa pegang punya mami, jadi mami harus memakaikan ke papa dan papa memakaikan ke mami, barulah kalung itu akan berfungsi, kalian akan saling mencintai untuk selamanya, iya kan Sean?” tanya Zia dengan semangat. Sean mengangguk setuju, mereka memang sudah merencanakan hal ini untuk waktu yang lama, jadi mereka membawa benda itu kemanapun mereka pergi.
Lira dan Radith tertawa, namun juga merasa terharu. Lira melepaskan pengait kalung itu dan memakaikannya pada Radith. Pria itu juga melakukan hal yang sama, lalu karena terharu, Lira sedikit menitikkan air matanya. Dia tidak pernah menyangka bisa mengalami moment seromantis ini di hidupnya. Radith memeluknya dan mengecup keningnya dengan hangat, mereka berpelukan erat setelah itu, membuat Sean dan Zia langsung melakukan tos.
“Lihat? Apa kataku? Mantra di kalung kita berhasil. Kalung jimat ini bisa membuat mami dan papa saling mencintai. Baru saja mereka memakainya, mereka sudah menunjukkan cinta yang besar. Untung saja kita membuat kalung ini, hahaha,” ujar Zia yang mengajak Sean untuk tos dan Sean juga setuju, lalu menyambut tangan gadis itu. Mereka semua tertawa setelahnya.
“Oke, kita mau main kemana ini? Pak Supir Radith siap mengantar kalian kemanapun kalian mau, kemana pun kalian mau main, ayo, pak supir dan pak ATM Radith akan melayani kalian,” ujar Radith yang langsung disambut meriah oleh mereka. Radith dan keluarganya akhirnya pergi ke sebuah zona bermain yang ada di salah satu mall yang ada di sana. Mereka bermain bersama di banyak zona permainan.
“Kalian lanjut mandi bola ya, nanti kalau ada apa apa, Sean bisa telpon papa, itu ponselnya ada di kantong kamu. Kamu bisa kan? Mami sama papa mau belanja dulu, habis itu baru kalian bisa beli apapun yang kalian mau, oke?” tanya Radith yang diangguki oleh Sean dan Zia.
__ADS_1
Radith meninggalkan anak anaknya dan pergi berbelanja dengan Lira, salah satu keinginan yang ingin dia lakukan bersama istrinya sebagai keluarga biasa. Lira yang memilih semua bahan, dia yang membawa troli dan membayarnya, keluarga bahagia yang sudah lama dia idamkan.
“Eh, kamu tolong ambilin Minyak goreng dong, cari yang promo ya, tapi yang brandnya kamu kenal,” ujar Lira yang mmebuat Radith terdiam. Dia bahkan tidak tahu brand brand minyak goreng. Dia hanya bertugas untuk makan makanan yang Lira sajikan, tidak perlu tahu tentang bahan yang Lira pakai.
“Eum, sayang, Lira istriku yang tersayang. Kamu yang milih ya, nanti aku yang ambil, aku yang bayar, aku yang bawain, ya? Karena aku gak tahu nih yang betul yang gimana, daripada nanti salah, terus kamu malah harus balikin, ambil yang benar, terus nanti kamu emosi, terus nanti kamu gak mood belanja lagi, ya kan?” tanya Radith dengan was was.
“Hahaha benar juga, kamu sudah tahu ternyata. Ya udah, ayo, padahal tadi niatnya biar cepat, keburu anak anak selesai. Tapi kalau kamu udah bilang gitu, jadi ngeri kalau nanti aku malah jadi marah-marah, hahaha, ya udah, ayo,” ujar Lira yang diangguki oleh Radith mereka berputar lagi menuju tempat penjualan minyak goreng. Lira berjongkok dan melihat satu persatu harga yang ada di sana.
“Astaga, aku kira jarak harganya itu jauh, sampai 3 ribu gitu, ternyata cuma beda peraknya. Astaga sayang, ambil yang bagus aja sih, seadanya. Daripada pusing kayak gitu,” ujar Radith yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lira. Dia tidak suka Radith berbicara masalah ini, karena dia merasa dia lebih tahu dan tentu saja setiap perak berharga.
“Nih ya Dith, kalau misal nih satu barang ini beda 500 perak, kamu bayangin kita ambil ada 20 barang, itu sudah 10 ribu, udah bisa buat jajan cilok. Kan sayang uangnya, orang ini barang promo juga sah sah saja kita nikmati dan manfaatkan kok, kamu tuh dikasih promo malah minta yang gak promo, jangan sok kaya ih,” ujar Lira sewot.
“Lah emang kamu jajan cilok? Kan itu micin micin ju…. iya sayang iya, ambil aja yang menurut kamu terbaik, iya, aku cuma bertugas untuk mendorong dan membayar. Iya, maaf, dah dilanjut, itu beda seratus perak, dah, monggo nyonya Galeno yang terhormat,” ujar Radith yang membatalkan niatnya untuk protes karena mendapat tatapan tajam.
“Charlie, sini,” panggil Radith pada Charlie yang ikut dengannya untuk belanja saat Angga dan Beni menjaga anak anak mereka di area bermain dan Dewa menunggu di depan bersama dengan Baby El karena kasihan jika Baby El merasa tidak nyaman harus berkeliling dan belanja.
“Tolong kau ambilkan troli yang baru, lalu nanti tukar dengan troli ini ya, kau bisa membantu untuk Antre lebih dulu karena banyak barang yang harus dibayar, aku harus mencari beberapa barang lagi, jadi nanti ini bisa dibayar duluan,” ujar Radith yang langsung diangguki oleh Charlie dan tak butuh waktu lama, pria itu sudah membawakan troli yang baru.
“Siapa yang menjaga tuan dan nyonya kalau saya pergi untuk Antre?” tanya Charlie yang khawatir karena situasi tidak seaman itu, namun Radith memintanya untuk tidak khawatir karena mereka tidak mudah untuk menculik mereka di tempat ramai seperti ini.
Radith melanjutkan belanja, namun karena perkataan Charlie, dia jadi lebih was was dan selalu merasa diawasi padahal tidak ada siapa siapa di sini. Lelaki itu mengikuti Lira untuk mengambil beberapa barang lagi dan akhirnya Lira selesai dengan belanja bulanannya. Radith mendorong Troli dan mengikuti Lira menuju kasir.
Tiba tiba ada seseorang yang menarik lengannya, namun tetap bersembunyi di rak. Radith hendak berteriak, namun dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan, dia akhirnya berhenti dan menengok, dia sangat terkejut melihat siapa yang dia temui di sana. Dia mengerjapkan matanya untuk memastikan apakah dia hanya berhalusinasi atau memang lelaki itu yang dia lihat. Ternyata benar, dia melihat lelaki itu.
__ADS_1
“Roy? Lo ngapain ada di sini? Lo? Lo kok bisa ada di Indonesia?” tanya Radith yang langsung membuat Roy panik dan menutup mulutnya dengan cepat, dia tidak bisa membiarkan Radith membocorkan keberadaannya. Dia menengok ke kanan dan kiri, lalu menarik Radith untuk bisa bicara dengan tenang, dia menunggu Charlie lengah karena dia tidak bisa membiarkan identitasnya terbongkar.
“Gue cuma mau sebentar di Indonesia. Setelah ini gue akan pergi ke Korea untuk operasi plastik dan mengganti identitas gue jadi ini, dia orang yang sudah mati tapi belum terdaftar status kematiannya. Gue akan pakai identitas dan wajah dia setelah ini. Gue mau minta tolong ke lo kali ini,” ujar Roy yang membuat Radith mengangkat alisnya, menunggu dia selesai bicara.
“Tolong lo ngomong ke Nesya masalah ini, gue takut dia terlalu lama nunggu gue buat datang, gue takut kalau dia merasa gue pergi dari dia dan gue lebih takut lagi kalau saat gue nanti muncul dengan wajah baru, dia gak akan percaya, kalau lo yang bilang duluan, dia pasti sudah antisipasi. Lo ingat wajah ini ya, sini lo foto dulu aja, nanti kasih tahu dia.”
“Ponsel dia pasti disadap dan gue gak bisa sembarangan buat chat ke dia, dan gue gak bisa balik lagi ke Jakarta buat ketemu dia, karena di sini kan gue ceritanya yang bunuh lo, kalau gue terlalu akrab sama dia, malah bikin curiga bokapnya, apalagi kalau gue harus ke Jakarta buat nyariin dia, itu malah sangat mencurigakan.”
“Sebentar lagi dia urus kepindahan ke Bali, sampai saat itu, gue gak bisa bantu apa apa, setelah dia pindah dan tunggu beberapa waktu, gue bakal kasih tahu dia, jadi lo sabar dulu, jangan muncul tiba tiba buat keselamatan kalian juga,” ujar Radith yang diangguki oleh Roy, dia hanya butuh bantuan Radith untuk memberi tahu Lira tanpa membahayakan wanita itu.
“Gue akan turuti apa yang lo bilang, gue percaya lo bisa gue andalkan, ue titip istri gue ya, makasih buat semua bantuan yang lo kasih, gue yakin lo orang baik. Gue harus segera pergi, sekali lagi makasih,” ujar Roy dengan tulus dan langsung memakai kerudung hoodienya dan pergi dari hadapan Radith agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Hidup lo masih lebih beruntung dibanding dia Dith, lo gak harus mengubah wajah dan identitas lo untuk bertahan hidup. Kenapa sih Wilkinson aneh aneh aja kelakuannya, heran, nyusahin orang mulu,” gerutu Radith yang merasa iba pada Roy dan Nesya, padahal jika tuan WIlkinson tahu, Roy tidak seburuk yang dia pikir, namun pria itu tidak mau tahu akan hal itu.
“Radith? Kenapa berhenti di situ sih? Astaga aku cari cari kamu loh, ada hal lain yang mau kamu beli? Kok lama banget?” Radith menengok dan kaget karena Lira sudah ada di belakangnya. Untung saja Lira baru datang dan tidak melihat Roy, rahasia ini biarlah jadi miliknya dan Roy, tidak perlu melibatkan Lira karena bisa berbahaya untuk wanita itu.
“aku tadi masih ingat-ingat mau beli apa, tapi kayaknya gak ada, ya udah kita bayar aja, kalau nanti aku ingat aku bakal beli sendiri aja,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka berjalan bersama menuju kasir, menemui Charlie yang sudah mengantre, mereka harus Antre lagi di barisan belakang agar tidak menyela antrean orang lain.
Di kepala Radith langsung berisi penuh dengan Roy yang tadi datang padanya, dia memikirkan cara membantu Nesya tanpa mengabaikan keluarganya kali ini karena dia sudah berjanji untuk selalu ada untuk keluarganya. Dia tidak ingin mengecewakan Lira dan anak-anaknya untuk ke sekian kalinya.
“Ada yang kamu pikirkan ya? Apa kamu melihat atau menemukan sesuatu?” tanya Lira dengan hati hati.
“Kamu udah janji gak akan bohong sama aku,” sambungnya sebelum Radith sempat menjawab. Lelaki itu menghela napasnya, dia ingin mengelak, namun karena Lira mengatakan hal itu, dia jadi merasa harus berkata jujur pada istrinya.
__ADS_1
“Aku bakal cerita semua, tapi nanti di rumah pas kita berdua, karena masalahnya gak sederhana,” ujar Radith berbisik, Lira mengangguk paham dan mereka bertindak seolah tidak terjadi apa-apa setelah itu.