Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 76


__ADS_3

Setelah menumpahkan semua kegelisahan dan rasa bersalahnya. Dia dan Lira mencari dimana Gracia dimakamkan. Sebenarnya Radith berencana ingin mengajak Zia dan Sean, namun Lira melarang karna tidak baik anak kecil dibawa ke pemakaman, mereka juga belum mengerti apa yang terjadi, memberi tahu mereka lebih awal bukan hal yang baik bagi Lira, dan Radith pun menurut saja apa yang bagi Lira baik untuk mereka.


"Aku gak tahu harus ngomong apa. Aku juga takut kalau aku kelepasan ngomong, aku malah jadi nyakitin kamu, aku gak bisa jujur sama dia karna ada kamu, tapi aku juga gak mau ke sana sendirian," ujar Radith yang tampak sekali kebimbangannya. Lira menghela napas dan memegang tangan lelaki itu, berusaha menenangkannya, Radith memang tidak mudah memaafkan dirinya sendiri dibanding dia memaafkan orang lain.


"Ya udah, aku tetap di sana, tapi aku nanti pakai headset dan setel lagu volume tinggi, kamu deh yang atur lagu sama volumenya, jadi aku gak akan bisa dengar kamu ngomong apa, tapi aku bisa lihat kamu, aku ada sama kamu, oke?" Tawar Lira yang membuat Radith puas, dia tahu Lira pintar, tapi dia baru nyadari Lira benar benar anak yang cerdas. Mampu memikirkan solusi yang baik dalam waktu yang singkat.


"Lagian aku juga gak minat mau marah kok, apapun yang kanu katakan, yang kamu akui, yang kamu sesali, bagi aku itu udah lewat, jadi ya aku gak bisa apa apa. Masalah aku juga banyak banget kala itu, tapi kalau aku mau marah buat balik ke masa itu, apa yang bisa aku ubah? Aku cuma bakal buang energi aku untuk hal yang gak perlu," ujar Lira santai, namun tak ditanggapi oleh Radith karna lelaki itu terlalu larut dalam pikirannya.


Sesampainya di makam, Lira membiarkan Radith berjalan duluan, dia menyiapkan headtset tanpa kabel yang dia sambungkan ke ponselnya, lalu meminta Radith memeriksa suara dan memberikannya pada Lira. Wanita itu memasang dua benda penyumpal dan mengikuti irama lagu yang Radith mainkan, Radith mengetes dengan menaikkan volume dan Lira langsung kesakitan, menandakan headset ini benar benar terhubung. Lelaki itu lalu fokus pada Nisan Gracia.


"Hai Grace, setelah sekian tahun, aku baru sempat ke sini. Ah, kamu gak kenal aku ya, aku juga gak kenal kamu. Tapi kamu tahu aku, aku orang paling berdosa di hidup kamu. Aku udah rebut semua kebahagiaan kamu, masa depan kamu, bahkan hidup kamu. Jika dihitung hukum cambuk, mungkin kulitku udah gak bersisa lagi untuk menebusnya." Radith diam dan melihat ke arah Lira. Wanita itu masih menggerakkan kepalanya sesuai melodi lagu.


"Kamu tahu? Kalau aku bisa melihat kamu saat kamu masih hidup, aku akan lakukan semuanya untuk menebus dosa aku, apapun yang kamu mau, apapun yang kamu minta. Aku tahu kamu orang baik, orang yang cerah dan sehadusnya punya masa depan yang indah. Tapi semua terlambat, ya aku tahu itu gak akan mungkin untuk sekarang. Aku minta maaf, aku benar benar minta maaf untuk semua yang udah aku lakuin."


"Aku bahkan gak semoat menunjukkan ke kamu kalau aku bisa juga jadi cowok yang penuh kasih sayang, aku gak bisa tunjukkan ke kamu bagaimana aku bersikap saat menjadi ayah bagi anak kita. Aku gak pernah kenal kamu, bahkan ketemu kamu pun dalam keadaan gak sadar. Tapi aku merasa, kalau kamu hidup, aku akan sayang sama kamu, aku cuma bisa jujur tentang hal ini ke kamu, dan aku rasa kamu berhak tahu hal ini."


"Grace, kamu yang tenang di sana, anak kamu, yang anak aku juga. Aku bakal jaga dia, aku akan sekolahkan dia seperti yang dia mau, aku akan dukung cita cita dia dan buat dia bahagia. Aku akan membuat dia merasa palig beruntung karna punya ayah kayak aku. Aku harap kamu di atas sana mau percaya sama aku ya, kamu jaga Zia dan selalu ingatkan aku kalau aku salah."


"Aku juga mau minta maaf karna sebentar lagi aku akan menghukum kakak kembar kamu. Dia bukan hanya menghancurkan keluarga aku, tapi jugs menyakiti Zia, menyiksa Zia. Aku gak akan maafkan dia, tapi aku juga gak akan ambil nyawa dia, kamu tenang aja. Aku harap kamu gak keberatan kalau dia nerima hukuman yang pantas, aku gak tahu kenapa aku laporan ke kamu, tapi aku ngerasa kamu berhak tahu hal ini."


"Cuma itu yang bisa aku sampaikan ke kamu. Mungkin setelah ini aku jarang berkunjung karna rumah aku di Bali, sedangkan kamu di Jakarta, tapi kalau aku lagi ke Jakarta, aku bakal ketemu kamu, ketemu Blenda juga. Kalian orang orang yang sudah dan akan terus mengubah hidupku menjadi lebih baik, terima kasih, tenang di sana ya, kalau kamu ketemu Blenda, titip rindu buat dia," ujar Radith yang mengelap air di matanya dan menoel lengan Lira agar Istrinya itu melepas headset di kepalanya.

__ADS_1


"Udah? Kalau udah, gantian dong kamu pakai ini, aku mau ngomong sama Dia juga," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu memakai headset yang diberikan Lira dan mulai mendengarkan lagu bahkan memejamkan matanya. Lira menghela napas setelah melihat Radith tidak mendengarnya sama sekali.


"Wow, ternyata mencari tahu yang seharusnya gak kita tahu itu sakit ya. Pertama, aku mau minta maaf karna aku nguping dan dengar semua pembicaraan kalian. Sebenarnya tadi aku tukar headset yang ada di kantong aku, jadi aku bisa dengar semua. Maaf ya, aku bakal pura pura gak dengar dan gak tahu apa apa setelah ini. Kedua, aku mau minta maaf karna kamu udah mengalami hal ini, pasti berat kan? Apalagi kamu sendirian menghadapinya."


"Kamu tahu, sebenarnya kita sama. Hanya saja aku lebih beruntung bisa bertahan sampai sekarang. Setiap kali Radith manis ke cewek lain, aku langsung merasa kalau aku benci dia dan dia cuma player yang mencoba mainin aku. Dia punya banyak orang yang berharga di hatinya, bahkan kamu yang gak pernah dia temui. Ah, mungkin itu jadi permintaan maaf ketiga aku. Maaf udah cemburu sama kamu."


"Untuk masalah Zia, aku bakal jaga dia seperti aku menjaga Sean. Aku akan pastikan dia hidup dengan baik tanpa melupakan kamu sebagai Ibu kandungnya dan tidak membenci Radith sebagai papa kandungnya. Kamu mungkin bisa bantu aku kasih saran di kemudian hari dan bantu aku untuk mendidik anak kamu," ujar Lira pelan karna dia takut Radith bisa mendengarnya.


"Aku gak khawatir soal Zia, tapi jujur, aku khawatir tentant rumah tangga aku sama Radith. Bagaimana kalau Greselyn lain datang ke hidup kami? Bagaimana kalau ternyata gak cuma aku dan kamu korban Radith? Setelah aku mendengar apa yang dia katakan ke kamu, jujur, aku merasa rasa percayaku ke dia langsung berkurang. Menurutmu aku harus gimana?" Tanya Lira yang menahan isaknya agar wajahnya tetap datar dan biasa saja.


"Apa ini yang terakhir? Apa dia akan berubah? Apa pernikahan kami akan bahagia? Aku gak tahu kenapa aku tanya ini ke kamu yang bahkan gak kenal sama Radith. Aku cuma mau curhat aja, semoga kamu gak benci sama aku ya,aku minta maaf untuk semua yang kamu alami, penderitaan kamu, aku minta maaf untuk semua. Kamu yang tenang di sana, aku bakal selalu doakan kamu."


Lira mengakhiri pesannya dan meminta Radith melepas Headset di telinganya. Lira bertindak seolah tak terjadi apapun dan mereka keluar dari pemakaman itu. Di sepanjang jalan, Lira hanya bisa diam dan tidak berbicara sama sekali, dia sedang larut dalam isi pikirannya sendiri. Berputar - putar di pertanyaan yang sama, namun dia tidak pernah tahu jawabannya, rupanya hal itu disadari oleh Radith.


"Aku cuma mikir gimana keadaan anak anak, aku mikir aja kalau ada sesuatu di rumah Alex yang membahayakan Sean, atau di Bali, Zia kan sama ornag jahat, aku takut dia kenapa napa atau Greselyn melakukan hal buruk ke Zia. Aku tiba tiba khawatir sama mereka," ujar Lira yang berhasil menemukan alasan di detik terakhir. Radith percaya dengan alasan itu dan ikut mengangguk sedih. Dia juga memikirkan nasib Zia tidak tahu bagaimana.


"Habis ini aku bakal pergi ke rumah kita yang di Bali. Kamu sama Sean ikut aja. Kita sekalian pindah ke Bali dan Sean pindah sekolah. Kita tinggal di sana aja, Jakarta sesak, aku jadi sering sesak napas kalau ada di sini," ujar Radith yang membuat Lira mengangguk meski heran juga, kenapa Radith terburu buru? Tidak ada yang tahu. Mari kita anggap dia sudah muak dan ingin semua masalah yang terjadi ini segera berakhir.


"Aku mau bikin Greselyn terkejut dan mau kirim dia ke luar negeri aja. Aku udah gak mau ada urusan sama dia. Aku udah capek banget hidup kita gak pernah damai, aku mau kita hidup tenang sama anak anak setelah ini. Semoga bisa ya, aku udah bilang ke Om Wilkinson kalau aku gak mau berurusan sama bisnis gelap lagi, aku mau hidup normal."


"Tapi Dith, kalau kamu mau hidup normal, kayaknya kamu perlu ngurangin pekerja kamu yang kayak pengawal gini deh, karna kan pendapatan juga gak sebegitu tingginya. Kamu bisa gaji mereka juga karna uang gelap itu kan? Kamu udah pikirin sampai ke sana?" Tanya Lira yang mencoba membuat Radith memikirkan semua resiko atas keputusannya, hidup damai adalah wajib, dan memikirkan masalah pegawai jauh lebih wajib lagi bagi Lira.

__ADS_1


"Kalau aku udah jadi orang biasa, aku cuma butuh masing masing dari kita satu pengawal. Mungkin pekerja aku yang lainnya akan aku alihkan ke perusahaannya om Wilkinson, nanti aku bakal bilang ke dia, kayaknya sih mau ya, yah, semoga aja mau deh," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu menelpon Alex untuk memastikan kondisi Sean karna saat dia pergi, Se«an belum pulang dari sekolahnya.


"Lex, kalau Sean udah di rumah, tolong bantu kemasin barang barang dia ya, karna bentar lagi sampai rumah, Mbak bakal pulang ke Bali, takut kalau buru buru nanti, karna hari ini take offnya. Bawa yang penting aja, kalau baju tinggal di rumah kamu aja, siapa tahu kami menginap, kan gak usah repot lagi," ujar Lira yang diam mendengar jawaban dari Alex dan menutup panggilan setelah selesai.


Sesampainya di rumah, mereka langsung bersiap dan mengajak Sean yang masih tidur siang. Sean digendong oleh Lira sementara Radith membawa barang barang mereka. Mereka take off dari Jakarta dan sampai ke Bali satu jam kemudian. Awalnya mereka ingin menginap di hotel, namun sepertinya akan lebih seru jika mengejutkan Greselyn dibanding tidur di hotel.


"Loh, kalian? Kalian kok pulang ke sini? Dith, Radith, kamu kok bawa mereka ke sini?" Tanya Greselyn heran.


"Lah? Ini kan rumah aku, mereka istri dan anak aku, kenapa aku harus kasih tahu dan minta ijin kamu buat bawa keluarga aku balik ke sini? Ah ya, aku punya hadiah buat kamu," ujar Radith mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada wanita itu. Wanita itu menunjukkan wajah pongah di depan Lira.


Begitu tahu apa isinya. Greselyn menjatuhkan kotak itu dan langsung terdiam dengan wajah yang pucat pasi. Seolah melihat seseorang bangkit dari kematiannya. Radith tersenyum melihat respon yang sesuai dengan dugaannya.


"Kenapa? Itu kan foto lama kamu saat kamu ada di rumah sakit jiwa. Kamu lupa? Terus ini foto waktu kamu melahirkan Zia, terus yang terakhir, ini foto mayat kamu yang bunuh diri di salah satu kamar RSJ itu. Gimana nih, masak kamu lupa?" Tanya Radith yang tidak membuat Greselyn bersuara.


"Ya, aku emang bukan Grace, aku mengaku ngaku jadi dia karna adikku mati, karna kalian yang punya kuasa yang buat dia mati tanpa diketahui, tapi kalian juga punya kuasa buat jadikan anak aku menjadi orang kaya, bukan hanya dia, aku juga. Dan itu yang aku incar."


"Yah, paling tidak setelah mabuk, kita sempat berhubungan, jadi ya kalau aku bisa melahirkan anak, kamu gak bisa buang aku sama sekali," ujar wanita itu yang membuat Radith tertawa. Dia berniat mengubur fakta itu, tapi Greselyn malah megingatkan hal itu padanya. Sepertinya ini memang takdir Radith harus memberi tahu wanita ini sendiri.


"Aku gak pernah ngapa ngapain sama kamu. Aku kemarin aku cuma nyari bukti, dan yah kebetulan kamu teler, jadi aku bisa nemu buku itu. Kamu memang mempermudah pekerjaanku."


"Udah gak ada alasan buat kamu tetap tinggal di sini. Aku akan kirim kamu sebuah pulau, jadi kamu bisa hidup nyaman di tempat terpencil itu."

__ADS_1


"Kalian kira kalian bisa hancurkan aku? Gak, kalian gak akan pernah bisa," ujar Greselyn dengan gigi yang saling beradu karna kesal.


__ADS_2