Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 73


__ADS_3

Radith pergi ke kamar Grace untuk memastikan kondisi wanita itu. Saat ini dia sedang tidur dengan lelap. Radith merasa ini kesempatannya untuk mencari tanda lahir di lengan dekat bahunya, dia tidak menyangka harus bertindak sejauh ini. Padahal dia bisa saja mendepak wanita ini dari rumahnya, namun itu berlawanan dengan hati nuraninya. Bagaimanapun, ada Zia yang masih membutuhkan sosok ibunya, dan dia yakin Grace akan membawanya pergi bersamanya, sehingga Radith tidak bisa menemuinya lagi.


Saat Radith menyentuh lengan wanita itu, tiba tiba saja dia bangun dan menatap ke arah Radith dengan kaget. Radith juga terkejut melihat wanita itu, otaknya langsung berputar mencari alasan paling tepat karna dia sudah menerobos masuk ke dalam kamar Grace dan bahkan menyentuhnya tanpa ijin. Ada satu alasan di otaknya, namun dia tahu, dia sendiri akan membenci alasan itu, dia mencoba mencari alasan lain.


"Ah maaf, aku membangunkanmu? Aku kira kau tidak akan terganggu dengan apa yang aku lakukan. Kau pasti sangat kaget, Maaf, lanjutkan tidurmu, aku keluar sekarang," ujar Radith yang akhirnya menemukan alasan lain, bukan alasan sebenarnya, dia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan dan segera pergi dari sana, karna jika Grace tidak cukup bodoh, dia akan curiga dan...


"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu? Aku ingat sudah mengunci pintunya. Apa kau menggunakan kunci cadangan? Apa yang kau cari? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Grace penasaran. Radith langsung memejamkan matanya mendengar pertanyaan pertanyaan itu, benar saja, Grace rupanya tak cukup bodoh untuk membiarkannya pergi dari sana.


"Ya, aku tidak bertemu denganmu beberapa waktu, dan jika kau ingat, aku sudah berencana untuk menjalin hubungan keluarga yang baik denganmu dan Zia, yah, aku sudah cukup lama tidak bertemu dengan Lira, dan mungkin eum, aku sedikit ... kesepian?" Jawab Radith dengan ragu dan sedikit bertanya pada Grace. Wanita itu tampak kaget dengan "pengakuan" Radith, sementara Radith tampak tenang saat mengatakannya (ah, dasar buaya).


Lelaki itu sendiri menyadari apa yang dia katakan bisa saja membawa petaka, namun tidak ada pilihan lain, sudah kepalang tanggung, dia harus melihat dan memastikan sendiri bekas luka itu. Mungkin sudah samar, tapi seharusnya masih terlihat. Kurang beruntung bagi Radith karna wanita itu memakai lengan panjang saat ini, jadi mau tidak mau dia harus membuat Grace membuka lengan bajunya.


"Jika kau tidak keberatan, aku bisa sedikit membantu untuk melupakan kesepian itu. Walau mungkin aku tak sebaik Lira, aku tetap wanita, apalagi sudah ada Zia, mungkin kali ini aku akan lebih bisa memuaskan," ujar Grace yang memegang tangan Radith. Lelaki itu sangat jijik karna Grace memegangnya, namun dia bahkan harus bersikap seperti lelaki gatal saat ini, dia tidak bisa membiarkan Grace curiga dengan apa yang sebenarnya dia cari.


"Ah, tapi aku tidak terbiasa dan ada bayangan Lira di kepalaku, sepertinya aku tidak dapat melakukannya. Atau mungkin aku bisa jika kita dalam kondisi tak sadar dan panas. Apa kau mau menemaniku untuk minum dan menghabiskan malam yang hangat bersama?" Tanya Radith memegang pipi Grace, wanita itu memejamkan matanya karna mengira Radith akan menciumnya, namun ternyata lelaki itu langsung melepaskan pegangan pipi itu.


"Ya, aku akan melakukannya, anggap saja sebagai balas budi sudah mau menerimaku dan Zia di rumah ini, serta niat baikmu untuk menjadikan kita satu keluarga yang utuh. Aku akan melakukannya," ujar Grace dengan cepat dan langsung turun dari kasurnya. Radith mengerutkan keningnya dan mengikuti kemana wanita itu pergi. Kenapa wanita itu semangat sekali?


"Sepertinya ini bisa membantu. Aku melihatnya ada di rak bawah saat hendak memasak, kau peminum yang baik, bisa memilih jenis anggur yang enak dan menghangatkan," ujar Grace yang sudah mengeluarkan botol anggur yang Radith simpan. Radith tidak menyangka Grace langsung sigap seperti wanita panggilan, apakah Radith menyukainya? Tentu tidak, semua yang wanita ini lakukan membuat Radith terlampau jijik.


"Aku akan mengambil es dan gelas, kau tunggu di kamarku saja, aku akan kembali," ujar Grace saat Radith hanya menatapnya sambil menyender pada tembok. Lelaki itu seperti menunggu apa yang akan Grace lakukan dan saat tahu, dia langsung setuju dan menunggu di kamarnya. Dia akan melihat keadaan dan mungkin nanti dia bisa melihat banyak bukti yang wanita ular ini sembunyikan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Grace masuk ke dalam kamar dengan dua botol anggur, dua gelas dan satu wadah es batu yang dia bawa dengan nampan. Astaga, persis seperti wanita bar. Apakah dia pernah bekerja di tempat seperti itu? Karna Grace tampak sangat profesional dalam membawa botol anggur dan segala pernak perniknya ini. Radith makin merasa tak nyaman, namun dia juga tidak bisa melakukan apa apa untuk saat ini.


"Well, aku ingin menantangmu, apakah kau yang akan mabuk, atau aku yang akan mabuk, siapapun yang jatuh lebih dulu, harus mengikuti permainan yang menang. Jika kau bisa menang, aku sepenuhnya milikmu, kau boleh lakukan apapun untuk bersenang senang malam ini, begitu pun sebaliknya. Apa kah setuju?" Tanya Radith apda Grace. Wanita itu tampak kesulitan menelan salivanya, namun juga mengangguk mendengar tawaran itu. Radith menyunggingkan senyumnya singkat dan langsung mengambol gelas.


Toleransi alkohol Radith sangat tinggi karna dia terbiasa minum anggur jika sedang suntuk. Kecuali jika dicampur dengan obat yang sengaja dimasukkan untuk membuatnya On, Radith akan tidak terkendali dan kehilangan kesadarannya dengan mudah. Dia tidak akan mengingat apapun yang dia lakukan. Yah, hal itu yang membuat Zia lahir ke dunia ini.


"Gelas pertama," ujar Radith yang melakukan tos dengan Grace. Wanita itu langsung meneguknya dengan cepat, sementara Radith minum dengan pelan, salah satu cara agar dia tidak mudah mabuk, jika dia minum dengan cepat, Alkohol itu akan dengan mudah menguasahi otaknya. Grace tertawa karna Radith tidak menghabiskan minuman itu dengan cepat, berbeda dengan dirinya yang bisa meneguk seolah sedang minum air mineral.


"Hahaha, Kau lemah sekali. Seperti pemula yang sedang belajar minum. Seharusnya kau habiskan dalam sekali tegur sehingga kau bisa menikmati rasa panas yang menjalar di tenggorokanmu," ujar Grace yang tentu tidak membuat Radith terpengaruh. Lelaki itu menghabiskan satu gelas anggur dengan santai dan tidak meraskaan efek apapun, sehingga mereka masuk ke gelas kedua.


Gelas kedua masih belum ada efek yang berarti, mereka melanjutkan ke gelas ketiga. Grace sudah terhuyung, matanya sudah sayu dan bahkan hidungnya memerah, namun dia menyatakan dirinya belum mabuk dan masih bisa minum bahkan hingga gelas ke sepuluh. Mendengar itu Radith sudah tahu jika dia mabuk. Radith yang masih sadar menuangkan satu gelas penuh untuk diteguk oleh Grace, sementara dia tidak meminum lagi.


Wanita itu sudah mabuk, jadi dia tidak ingat dengan kompetisi dan terus saja meminum anggur yang diberikan oleh Radith. Lelaki itu berhasil menaklukkan Grace dan membuat wanita itu teler sampai tidak sadarkan diri. Radith menggendongnya agar bisa tidur di kasur wanita itu. Rupanya Radith sudah sedikit mabuk, sehingga dia pun harus sedikit terhuyung saat menggendong Grace. Untungnya lebih banyak sadar dibanding tak sadar dalam dirinya.


"Cih, ternyata benar, kau bukan Gracia, kau adalah Greselyn, beraninya kau membuatku melakukan penebusan padamu, kau akan membayar mahal untuk hal ini, tapi nanti, kau memiliki giliranmu, aku tidak akan lupa padamu," ujar Radith yang merasa pusing. Dia mencari ke segala sisi kamar namun tidak menemukan apapun yang berarti. Sampai dia melihat sebuah buku asing di meja rias wanita itu. Kenapa ada buku diantara banyaknya make up? Tentu saja Radith menjadi curiga.


"apa ini?" Tanya Radith penasaran pada dirinya sendiri. Dia membuka lembar demi lembar yang ternyata hanya berisi catayan jadwal saat dia bekerja dulu. Tidak menarik, Radith langsung membuka lembar buku itu dengan cepat, mencari sesuatu yang mungkin membantu. Saat itulah sebuah foto terjatuh dari sela sela buku itu ke lantai.


Radith mengambil fotonya dan menebak, foto apa itu? Itu hanya foto sebuah gedung yang bahkan tidak ada keterangan dimana foto itu diambil. Tidak adanya keterangan itu lah yang justru membuat Radith merasa curiga. Dia mengambil ponsel di kantongnya dan memotret foto itu lalu mengembalikan ke tempat semula. Radith kembali melihat kondisi Grace yang kancingnya sudah terbuka sebagian besar, dan hanya memakai pakaian dalam serta rok pendek yang tersingkap.


"Ya, berpikirlah jika kita sudah melakukan sesuatu, itu akan membuatmu makin merasa malu. Seharusnya kau sadar, aku tidak akan pernah menyentuhmu dengan suka rela," ujar Radith pelan yang langsung berjalan sempoyongan keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Dia mengaktifkan fitur pengunci wajah agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya karna dia dalam posisi setengah sadar.

__ADS_1


Pagi harinya, Radith meminum aspirin untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Dia melihat ke arah kaca dan mengingat kejadian tadi malam. Segera setelah ingat, Radith langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari bekas bekas sentuhan wanita itu. Seolah tubuhnya penuh dengan kuman dan bakteri hanya karna sentuhan. Dia tidak pernah sejahat ini sebelumnya, namun dia memang anti pada wanita yang melakukan segala cara untuk memilikinya, tampak menjijikan baginya.


"Ah, selamat pagi, eum, maaf, aku tidak bisa mengingat apa yang sudah kita lakukan tadi malam karna aku sangat mabuk, apakah kita bersenang senang? Apakah kau puas? Karna saat aku bangun, aku sudah berpakaian lagi walau berantakan," ujar Grace yang malu malu, namun Radith harus akui, wanita ini makin menunjukkan jati dirinya. Apakah wanita itu begitu bangga berhubungan di luar status yang jelas?


"Ah ya, kau sangat mengesankan, aku menikmatinya. Mungkin harus dijadwalkan lain kali, tapi tidak dalam waktu dekat karna aku masih memiliki banyak hal untuk diselesaikan, jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan memberikan kejutan untukmu," ujar Radith dengan senyum tipisnya. Grace tampak tersipu malu dengan ucapan itu, padahal Radith melakukannya hanya untuk formalitas, sehingga wanita itu tidak curiga atas perbuatannya.


"Ah ya, aku membeli ini tadi pagi. Mungkin terlalu cepat, aku akan menunggu beberapa hari sebelum menggunakannya. Semoga saja hasilnya seperti yang kutunggu, jadi Zia bisa mempunyai teman di rumah ini," ujar Grace yang menunjukkan test pack pada Radith. Lelaki itu menaikkan alisnya, lalu menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud Grace. Dalam hatinya dia menahan agar tidak tertawa.


"Aku akan makan di luar, karna sudah ada klien yang menunggu, kau masak saja untuk Zia, aku kaan mengecek kondisinya dan langsung pergi," ujar Radith yang padahal masih memakai kaos. Grace tentu saja bingung, namun Radith juga menjelaskan jika dia bisa memakai apa saja karna di kantornya ada sebuah lemari berisi pakaian pakaian resmi.


"Mungkin aku harus main ke kantormu suatu hari nanti, karna aku juga ingin tahu dimana kau kerja. Keluarga sudah biasa kan melakukannya?" Tanya Grace percaya diri. Radith menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Grace hendak memegang tangannya, namun Radith berpura pura tak tahu dan mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau panggilan yang masuk.


"Aku pergi sekarang," ujar Radith yang langsung pergi dari sana tanpa mengatakan hal lainnya. Dia segera memasuki mobilnya dan pergi dari sana. Meninggalkan Grace yang tampak kecewa, namun hanya sebentar karna setelah itu dia memegang perutnya sambik tersenyum puas.


"Jika aku bisa mengandung anaknya, itu akan sangat baik, jadi walaupun identitasku terungkap, dia tidak bisa mengusirku, karna aku punya anak darinya. Dia akan selalu menjadi milikku, harta keluarga ini juga. Dan aku akan membuat dia menceraikan Lira lalu menikah denganku. Halo calon anak yang masih dalam perjalanan, berhasillah dan jangan kecewakan aku ya."


Sementara itu Radith di dalam mobil langsung tertawa keras, dia tidak menyangka Grace terlalu tidak sabaran dan langsung membeli alat untuk menguji kehamilan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Grace tahu Radith tak pernah melakukan itu padanya. Tidak saat dulu dan tidak saat sekarang. Namun Radith bahkan tak mau memberi tahunya tentanh itu, biarlah wanita itu akan selalu merasa dia pernah melakukan hubungan dengan Radith.


"Membeli test pack? Ingin membuktikan kehamilannya? Yah, dicoba saja, siapa tahu dia benar hamil, entah dia akan melahirkan anak kucing atau monyet, aku menantikannya," ujar Radith sambil terkekeh kejam dan menambah kecepatan mobilnya agar bisa sampai ke kantor lebih awal dari pegawai yang lain.


Meski Di kantor Radith benar ada lemari, dia masih punya malu untuk tidsk datang ke kantor dengan celana pendek dan kaos oblong seperti ini. Wibawanya akan hilang dalam sekejap jika sampai pegawai lain tahu. Jadi dia harus sampai di sana sebelum pegawainya datang.

__ADS_1


"Satu persatu terungkap, nikmati kemewahan rumah itu, sebentar lagi kau akan meninggalkannya tanpa membawa apapun," desis Radith sambil tersenyum miring.


__ADS_2