
Radith melakukan presentasi dengan sangat baik, dia berhasil memikat calon kliennya dengan ide yang dia miliki. Yah, seperti yang diharapkan dari Radith, dia tidak akan pernah mengecewakan apa yang sudah dia perjuangkan. Mereka langsung mencapai deal setelah Radith bisa meyakinkan mereka tentang keuntungan yang akan dicapai. Dia sudah sering ikut tuan Wilkinson untuk bergabung di pasar internasional, jadi hal ini tidak sulit baginya.
"Saya sangat terkesan, usia anda masih muda, namun anda bisa memiliki ide yang luar biasa. Saya harap anda bisa memberikan kami keuntungan yang lebih dari perkiraan, saya akan menantikan kabar baik dari kinerja anda," ujar klien itu yang tentu membuat Radith bangga, dia memang tidak niat dalam mengerjakan presentasi ini, namun karna dia memiliki tekad, dan ide di kepalanya, dia bisa menjelaskan dengan sangat baik dan tentu saja memuaskan bagi nereka.
"Terima kasih banyak untuk kepercayaan yang anda semua berikan. Saya akan bekerja keras dan tidak mengecewakan anda sekalian, silakan menanti dengan sabar, proyek ini akan menjadi besar dan keuntungannya akan tinggi, apalagi minat pasar internasional sedang melirik proyek seperti yang kita kerjakan. Dengan tempat yang strategis dan target pasar yang sesuai, kita bisa mendapatkan keuntungan maksimal."
Mereka mengangguk kagum dengan pembawaan Radith yang terkesan santai, namun juga serius. Mereka menunggu kejutan yang akan diberikan oleh Radith, mereka tidak akan menyesal sudah memberikan uang dan kepercayaan pada anak itu. Karna mereka tahu, Radith tidak pernah gagal dalam bisnisnya, bahkan jika Radith gagal, lelaki itu akan segera menemukan ide lain untuk menyelesaikannya dan tetap memberikan keuntungan yang sesuai dengan yang dia janjikan.
"Integritas yang anda miliki membuat kami terkesan dan kami percaya uang yang kami berikan akan berkembang, keuntungan yang kami dapatkan juga tidak pernah mengecewakan," ujar Salah satu klien itu yang membuat Radith merasa bangga. Mereka mengobrol non formal sebentar, sebelum akhirnya membubarkan diri karna sibuk dengan urusan masing masing, begitu juga Radith yang langsung kembali ke hotel dan menghubungi Andre untuk perkembangannya.
"Sebenarnya kami tidak ada petunjuk ingin melakukan apa, tapi kemarin, Lira tiba tiba aja bilang kalau Sean mimpi dan isi mimpinya itu tentang Zia, dan kami diminta untuk mencari sesuatu dari mimpi itu. Apa menurutmu itu mungkin?" Tanya Andre yang berharap Radith akan mencegah dan menghentikan mereka, karna bagaimanapun Andre tetap merasa itu hal yang mustahil dan hanya angan semata. Namun karna Lira masih atasannya, dan dia tidak punya ide lebih baik, dia harus melakukannya.
"Lakukan seperti yang Lira katakan, dan jangan beritahu orang lain tentang hal itu. Aku akan menelpon mereka setelah ini. Pastikan kau mengikuti semua petunjuk yang Lira dan Sean katakan, dengan itu mungkin kita bisa menemukan Zia secepatnya," ujar Radith yang membuat Andre tercengang, namun karna Radith yang berkata, dia tentu makin tidak bisa menolak, akhirnya dia tetap melakukan semua sesuai rencana mereka.
"Kenapa mereka sangat aneh? Kenapa lebih percaya dengan mimpi anak kecil? Apa kita harus mencari semua preman bertato naga di seluruh Indonesia ini? Itu pun jika pelakunya seorang preman. Ah, aku sangat kesal tapi bahkan aku tidak bisa melakukan apa apa," ujar Andee yang masih merasa tidak terima, namun tetap dia lakukan, dan dalam hatinya berharap tidak bisa menemukan Zia dengan cara ini, dengan begitu asumsinya akan menjadi benar dan di kemudian hari, dia bisa punya alasan untuk melarang Lira melakukan hal seperti ini.
Sementara itu Radith yang sudah mematikan panggilan langsung menelpon Lira. Untung saja Lira sedang luang dan mengangkat panggilan Video darinya. Lira tersenyum senang melihat wajah Radith, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi sedih karna Radith terlihat sangat lelah, kantung mata dan kerutan di wajahnya sudah terlihat jelas. Namun bahkan lelaki itu masih tak mau mengistirahatkan tubuh dan pikirannya barang sejenak.
"Sean udah mimpi aneh lagi ya? Kenapa kamu gak bilang dulu ke aku malah bilang ke Andre? Aku merasa kecewa nih kamu malah bilang ke Andre bukan ke aku duluan. Kamu lebih percaya dari dia daripada aku ya?" Tanya Radith yang membuat Lira memutar bola matanya, dia sudah hafal dengan pola seperti ini, nantinya mereka malah akan berkelahi hanya karna masalah sepele, yah, Lira sih yang biasanya jadi marah beneran.
"Gak usah mancing, aku lagi gak mood banget buat bertengkar sama kamu, aku tuh mau bilang ke kamu, tapi kamu kan lagi di pesawat, Sean juga baru cerita ke aku, jadi ya aku langsung telpon Andre lah buat cari tahu, kalau pun itu cuma mimpi, berarti kan udah kita tahu jawabannya, sama sama kita gak punya petunjuk juga kan, tapi kayaknya sih Andre gak percaya sama hal ini, entah deh dilakuin beneran atau enggak sama dia," ujar Lira sambil mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Pasti dilakuin kok, karna aku juga udah minta ke dia buat itu. Jadi kalau gak dilakuin ya dia bisa aku kirim ke Afrika, hahaha. Kamu tenang aja, entah kenapa aku merasa kita bisa menemukan Zia dengan cara ini, biasanya feeling aku tepat, jadi kamu jangan khawatir, kalaupun kita gagal, pasti gak akan jauh jauh dari hal itu," ujar Radith yang dianggki oleh Lira, yah, paling tidak kata kata penyemangat itu sungguh menjadi semangat baginya. Dia berharap semua yang dikatakan Radith menjadi nyata.
"Wah, tuan Radith memang selalu bisa diandalkan. Aku akan menunggu kabar selagi merawat Sean junior ini, aku akan menjaga diriku dengan baik," ujar Lira yang membuat Radith tertawa, dia tahu Lira hanya menggunakan alasan itu untuk bermalas malasan di rumah, karna dia tidak boleh terlalu lelah dan tentu saja satu satunya cara agar tidak lelah adalah tinggal di rumah saja.
"Ah ya, aku mau bilang, aku nanti pulang hari minggu, kemungkinan ini aku udah bisa selesai lebih cepat. Aku mau antar kamu check up juga, aku mau lihat bayi kita kayak apa," ujar Radith bersemangat. Lira tentu saja juga senang jika Radith bisa menemaninya. Kemarin saat dia memastikan kandungannya, dia harus pergi ke dokter sendiri dan mendapat tatapan aneh dari orang orang di sana. Mungkin mereka mengirq Lira hamil tanpa suami.
"Tapi kamu gak usah buru buru, kalau memang belum selesai ya gak papa, aku sendiri kan juga bisa, dan kalau kamu emang udah selesai, bisa temenin aku, ya lebih bagus lagi, aku jadi senang deh," sahut Lira yang membuat Radith tertawa, tentu saja dia akan pulang dengan cepat, dia harus melihat calon buah hatinya meski nanti masih berbentuk detak jantung.
"Aku tutup dulu ya, habis ini mau bahas ke depannya gimana, teknisnya gimana. Kamu baik baik di rumah, salam buat Sean, bilang aja papanya kangen sama Maminya," ujar Radith sambik tersenyum geli, namun Lira yang sudah biasa pun menanggapinya dengan santai (tidak merasa malu lagi), mereka mengucapkan perpisahan singkat sebelum akhirnya benar benar menutup telpon.
Lira mengelus perutnya yang rata sesudah telpon selesai, dia beruntung, anak dalam kandungannya juga beruntung karna selama dia tumbuh dalam perut Lira, anak itu akan memiliki ayah yang sah, tidak seperti Sean yang berat sekali cobaannya. Namun Lira akan menyayangi ketiga anaknya dengan adil, rata dan setara. Dia ingin anak anaknya merasa beruntung tumbuh di keluarga ini.
"Ah mami, apa mimpi Sean bisa membantu?" Tanya Sean yang membuat Lira kembali serius. Walau dia senang dengan kehamilannya, dia tidak boleh terlalu bahagia, bagaimanapun anaknya yang satu lagi tidak jelas ada di mana, dia tidak bisa bahagia di saat anaknya masih menderita.
"Sangat membantu, Mami udah minta ke Uncle Andre untuk mencari Om yang di lehernya ada gambar naga. Did you know Sean, kami bahkan gak kepikiran untuk mencari preman yang menculik anak anak untuk jadi pengemis, kami hanya fokus pada bandara, tapi karna kamu bilang ke kami, jadi kami punya cara lain, paling tidak punya alternatif lain untuk mencari Zia," ucap Lira lembut, dia mengelus kepala Sean dan menenangkan anaknya, karna dia tahu, hilangnya Zia juga berdampak secara psikologis bagi Sean.“
"Mulai sekarang, jika Sean memiliki ide atau mimpi tentang Zia, Sean harus kasih tahu Mami ya, mungkin hal itu akan membantu. Semakin cepat Zia ditemukan akan semakin baik. Mami tidak bisa jika harus berlama lama pisah dengan anak anak Mami. Kalian semua anak anak yang berharga untuk Mami, jadi kalian harus selalu sehat dan bahagia, serta selalu ada di pandangan Mami agar Mami tenang dan lega," ujar Lira yang diangguki oleh Sean.
***
Beberapa hari kemudian, Radith sudah sampai di rumahnya dia langsung mencari Lira dan Sean, namun rupanya kedua orang itu tidak ada di rumah, membuat Radith menjadi sedih dan duduk di Sofa ruang tamu sampai tak terasa tertidur. Ah, lelaki itu bahkan tidak bisa tidur nyenyak saat berada di Jepang, namun dia bisa tertidur di sofa rumahnya. Memang benar kata orang, rumah adalah tempat pulang terbaik.
__ADS_1
Malam harinya, Sean dan Lira baru pulang dari perjalanan mereka, mereka sengaja untuk pergi berkeliling Bali, melepas kejenuhan dan juga tiba tiba saja Lira menginginkannya. Radith tidak memberitahu kepulangannya sehingga Lira dan Sean tidak tahu dan tidak bersiap di rumah. Wanita itu terkejut saat melihat Radith sudah tidur pulas di sofa.
"Sean, Sean bantu mami buat makanan buat Papa yuk, kasihan Papa habis dari luar negeri kecapekan sampai ketiduran," bisik Lira yang diangguki oleh Sean. Mereka mencuci kaki dan tangan di kamar mandi, lalu pergi ke arah dapur. Lira ingin memasak omelete spesial dengan keju dan daging, Radith pasti menyukainya.
Aroma wangi dapur ternyata membuat Radith bangun karna dia sadar tadi rumahnya kosong. Dia langsung menggeliat sebentar, lalu pergi ke arah dapur, dia tersenyum senang melihat Lira dan Sean sibuk memasak. Lelaki itu sengaja hanya melihat dari jauh, ingin tahu apa yang akan mereka lalukan. Lalu setelah Lira akan selesai, Radith kembali ke arah sofa dan menidurkan dirinya di sana.
Lira dan Sean membawa omelete itu di hadapan Radith dan Sean langsung memeluk papanya, membuat Radith "bangun" dan langsung memasang wajah terkejut melihat apa yang dibawa oleh Lira dan Sean. Dia tersenyum senang karna Lira dan Sean bahkan secara dadakan memasak untuk mereka.
"Selamat pulang kembali Papa, semoga besok gak pergi pergi lagi ya biar Sean dan Mami gak kesepian di rumah. Ini Mami sama Sean masakin Omelete spesial untuk Papa, karna Papa kan pasti lapar dan rindu masakan mami," ujar Lira yang diangguki oleh Sean. Radith merasa terharu dengan perhatian dan kasih sayang keduanya.
"Terima kasih sudah membuat ini, tadi Papa pulang gak ada orang, eh malah jadi ketiduran. Bangun bangun kok sudah dimasakin, terimakasih Sean sudah bantu Mami buat masak, Sean memang jagoan papa yang paling hebat," ujar Radith yang langsung menggendong Sean dan membuat anak itu tertawa senang.
Lira menggunakan sendok memotong omelete itu dan menyuapi Radith. Perlakuan sederhana yang mungkin dilupakan banyak keluarga di luar sana. Rahasia hubungan yang awet dan bahagia, mereka harus bisa mengerti, memuaskan dan menunjukkan cinta satu sama lain, tidak ada rasa malu dalam mengungkap rasa dan kata cinta pada keluarga sendiri.
"Wah, enak sekali. Ini sih karna Sean udah bantu Mami, biasanya masakan mami Enak, sekarang tambah enak. Ah, mungkin Papa harus mendaftadkan Sean ke kursus memasak agar jadi Chef. Iya nak? Kamu mau jadi chef?" Tanya Radith yang langsung dijawab gelengan kepala spontan oleh anak itu. Radith tentu menanyakan mau jadi apa Sean di kemudian hari.
"Mau jadi seperti Papa, seperti Papa yang sekarang, yang sayang sama Mami dan Sean, kerja dan banyak uang, bisa belikan Sean banyak mainan," ujar Sean yang kembali membuat Radith merasa terharu. Dia kira Sean akan menjawab dokter, polisi atau profesi hebat di luar sana, namun Sean malah ingin menjadi sepertinya.
"Ambil hal baik yang papa punya, yang Papa kasih buat Sean. Tapi jangan pernah tiru hal buruk yang Papa lakukan. Papa sayang dama Sean, Papa sayang sama Mama Lira," ujar Radith sambil memeluk keduanya. Lira hanya bisa tersenyum karna kedua tangannya sibuk memegang piring.
"Papa mau mandi dulu, setelah itu kita makan dan mengobrol, terutama sama dedek bayi yang masih di perut Mami, Papa gak sabar mau ngomong sama dia," ujar Radith yang mengelus perut Lira walau perut itu masih rata. Sean turun dari gendongan Radith dan menunggu lelaki itu untuk selesai mandi agar mereka bisa mengobrol dengan lebih nyaman.
__ADS_1