
Radith keluar dari kamarnya dan memasukkan plester berdarah yang dia bungkus dalam plastik ke dalam tempat sampah agar Lira tidak menemukannya, lukanya kembali parah karna dia tidak sengaja menarik ototnya saat tidur, jadi dia harus memulai semua dari awal. Dia takut Lira akan curiga, namun dia juga tidak mau memberi tahu wanita itu.
"Dith, Luna sama keluarganya katanya mau ke sini, mereka mau liburan di sini, dan nanti nginap di rumah ini. Kamu udah tahu tentang itu?" Tanya Lira yang tiba tiba saja masuk ke dalam kamar Radith, untung saja lelaki itu sudah merebahkan dirinya dan mentupi tubuhnya dengan selimut. Dia mengangguk dan bertindak seolah tidak terjadi apapun.
"Eum, jadi, kamu mau dia ke sini, nginap di sini dan liburan sama kita? Well, Radith, kamu bahkan belum menepati janji buat pergi sama Sean, kamu bilang masih capek, kaki kamu sakit, apalah itu, kok kamu malah setuju ada orang mau join di liburan kita? Mantan kamu pula?!" Tanya Lira sewot. Radith mengerutkan keningnya melihat Lira yang sepanas itu mendengar Luna akan berlibur di pulau ini.
"Is it a big problem? Ya udah sih, dia juga ke sini sama suaminya, anak anaknya. Biarin aja, kita bisa liburan sendiri. Mereka menginap di sini kan juga biar gak usah nyewa hotel lagi, gak papa chill aja, kalau kamu cemburu atau takut aku mepet dia, kamu bisa ada di sebelahku 24 kali 7 hari, sampai dia pulang ke Jakarta," ujar Radith santai, namun tidak dengan Lira, dia tampak tak menyukainya.
"Kamu tahu dia bakal ke sini satu minggu? Wow, someone told me dia udah gak mau peduli dan mau membuka lembaran baru, tapi ternyata dia masih tahu apa yang dilakukan dan akan dilakukan sama mantan pacarnya. Menakjubkan," ujar Lira sambil bertepuk tangan. Radith tentu saja bingung dengan sikap itu, namun seketika dia ingat tentang kondisi Lira.
"My bad, I'm sorry. Aku bukan peduli atau apa, tapi kan kemarin aku juga kerja bareng Darrel dan Darrel udah bilang kalau mereka bakal liburan ke sini selama seminggu, aku gak tanya sama sekali, just trust me, kalau kamu gak mau aku dekat dia, ya udah, aku gak akan dekat dekat dia, aku bakal selalu sama kamu," ujar Radith yang tidak ingin ribut dengan Lira karna hanya akan memperburuk situasi.
"Oke, keep your words because I will killing you if you come closer to Luna! (Oke, pegang omonganmu, karna aku akan membunuhmu jika kamu mendekati Luna)," ujar Lira yang langsung keluar dari kamar Radith, namun tidak menutup pintunya. Radith ingin berteriak, namun dia merasa percuma saja, dia harus menutup pintu kamar itu sendiri agar tidak terjadi masalah yang tidak perlu.
"Papa, kapan kita liburan? Aku mendengar apa yang Papa dan Mami katakan, apa kita tidak akan liburan keluarga? Apa keluarga Aunty Luna akan ikut berlibur? Ooh, Sean ingin kita liburan bersama," ujar Sean yang tampak kecewa juga. Radith merasa bersalah membuat anaknya merasa seperti itu, namun dia juga tidak bisa membawa mereka pergi sekarang, karna kondisinya akan ketahuan.
"Maaf Sean, Uncle- Ayah tidak berniat buat melanggar janji kita. Tapi apa Sean menyukai tempat ini? Apa Uncle Ayah perlu membeli satu agar kita bisa tinggal di sini selamanya? Jika ya, Uncle ayah akan membelikannya untuk Sean," ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Sean, anak itu tidak terlalu suka di sini dan lebih suka pulau Bali, walau Radith masih tidak tahu apa alasannya.
"Yah, di sini menyenangkan, pantainya cantik, tapi Sean merasa tidak bebas. Lebih baik kita tinggal di rumah sebelumnya, Sean bisa bebas bermain," ujar Sean yang di jawab senyuman oleh Radith, anak itu hanya mau berlibur dengan Radith dan Lira sebelum pulang, jadi mereka bisa membuat kenangan manis, namun untuk tinggal di sini, Sean masih tidak mau.
"Sean tahu papa masih sakit, karna Papa selalu membuang bungkusan berisi darah ke tempat sampah, tapi Sean tidak akan mengatakannya pada Mami, karna Sean tahu mami akan marah. So, Get Well Soon papa," ujar Sean yang melambaikan tangannya dan langsung keluar dari kamar Radith, tak lupa menutup pintunya. Meninggakkan Radith yang tersenyum bangga melihat putranya.
Namun sesaat kemudian dia baru menyadari beberapa hal, pertama, Sean sudah tahu jika Radith sakit, itu artinya ada kemungkinan Lira mengetahuinya juga dan menunggu waktu untuk meluapkan semua. Dan kedua, Sean memanggilnya dengan sebutan "papa"! Radith sampai tidak percaya dengan telinganya saat ini, rasanya tidak mungkin Sean memanggilnya dengan sebutan itu namun Sean melakukannya.
"Waw, sepertinya Lira mengatakan dan mengajarkan banyak hal saat gue pergi, dia memang istri yang bisa diandalkan, terima kasih Tuhan, Engkau memberikan semua keberuntungan di dunia ini untukku, dan untuk keluargaku," syukur Radith sambil memejamkan mata karna mengantuk, dia menuju alam mimpi dimana dirinya bisa berlari sesuka hati tanpa merasakan sakit.
__ADS_1
Keesokan harinya, Radith menelpon bantuan untuk membereskan rumahnya dan mempersiapkan semua yang diperlukan untuk pesta kecil kecilan malam ini atas permintaan Darrel untuk merayakan keberhasilan mereka. Radith tentu saja hanya bisa setuju dan meminta orang lain untuk melakukannya, karna dia tidak akan mau melakukan semua itu sendiri.
"Kak Darrel menyarankan kita buat bikin Barbeque, menurut kamu gimana? Kalau ya, aku bakal beli banyak daging buat kita bakar, tapi kalau menurut kamu enggak, aku batalin aja, biar mereka ada acara sendiri dan kita acara sendiri," ujar Radith yang tak mau Lira marah, jadi dia memberi wanita itu pilihan penuh.
"Ya udah, buat aja, toh gak setiap hari mereka ke tempat kita kan? Ah, kita yang ke tempat mereka, karna ini pasti runah keluarga Luna di pulau ini, ya udah, siapkan aja. Ada yang perlu aku bantu? Karna sepertinya kamu masih capek banget, jadi kamu cuma duduk aja di sofa dan nyuruh orang lain buat ngelakuin semua hal," ujar Lira yang memhuat Radith gugup, namun dia masih bisa menahannya dan tampak biasa saja di depan Lira.
"Kamu gak perlu melakukan apapun, cukup duduk manis dan beri perintah ke mereka, dan yah, nanti kamu harus bisa jadi nyonya Galeno yang cantik dan menawan, gak perlu banyak effort buat kamu, tapi juga jangan less effort aja, oke?" Lira mengangguk setuju dan keluar dari kamar Radith, tak lupa membiarkan pintu tetap terbuka seperti biasanya, membuat Radith darah tinggi dibuatnya.
"Lira!! Kalau masuk kamar aku, tutup lagi pintunya!" Teriak Radith dengan keras, namun tentu saja Lira tidak mendengar karna semua kamar di ruangan ini kedap suara dan pastinya Lira sudah ada di kamarnya. Darrel memang menyukai kamar yang kedap suara (yah, kalian pasti tahu kenapa, stttt, itu urusan orang dewasa), lelaki itu memiliki kamar kedap suara di semua rumah yang tuan Wilkinson miliki.
Ruangan ini akan menjadi tidak kedap suara jika dia memencet tombol yang ada di tempat tidur, antisipasi jika rumah mereka dimasuki maling atau orang jahat, mereka masih bisa memiliki harapan untuk meminta bantuan, yang tentu akan sulit dilakukan jika ruangan ini kedap suara. Sangat canggih bukan?
Sementara itu Radith harus berjalan lagi ke arah pintu dan menutupnya, lalu menatap kasurnya dan kakinya bergantian. Dia perlahan mengangkat kakinya dan berjalan seperti biasa walau pelan. Dia harus segera bisa melakukannya tanpa hambatan, karna luka di kakunya jauh lebih parah dari luka di lengannya, toh lengannya bisa tak banyak bergerak, tapi kakinya tidak.
"Udah, kamu nurut dulu sayang, nanti aku yang tidur sama Sean, atau tidur di sofa, gak jadi masalah, gak usah bikin ribut dulu yah, biar Luna sama kak Darrel istirahat aja dulu, sama kita senang senang di sini, oke?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Toh Radith bisa tidur dengan Sean, dan Sean menyukainya, namun Sean tidak suka Lira tidur bersamanya karna mereka berbeda jenis kelamin (menurut Sean, itu tidak baik).
Mereka memulai percakapan dengan Lira dan Luna sibuk di dalam dapur, sementara Darrel dan Radith ada di halaman belakang. Tentu saja Darrel yang melakukan semua karna tahu Radith masih tidak mungkin melakukannya, dan dia harus cepat agar Lira tidak tahu akan hal ini, mereka akan berkata melakukan ini bersama, dan Radith yang melakukan hal berat, maka dari itu Radith hanya duduk setelahnya.
"Waw, aku gak menyangka kita semua bisa kumpul dan pesta kecil begini, biasanya Rashi sama Ravi cuma main sama mbaknya aja, sekarang mereka bisa main sama Sean. Kak, itu adeknya dijaga ya," ujar Luna yang diiyakan oleh anak anak yang sedang bermain itu. Lira ikut bahagia melihat Sean yang sepertinya sudah tidak masalah dengan kejadian kado di pesta ulang tahun anak Luna.
"Ah ya, kalian kapan menikah? Mau menikah di Indonesia kan?" Tanya Luna tiba tiba, Lira dan Radith saling pandang, seperti salah tingkah ditanya seperti itu. Walau mereka sudah merencanakannya, mereka masih belum bisa menentukan tanggal dan persiapan yang matang, jadi mereka sama sama tidak bisa menjawab petanyaan itu, Luna pun mengerti dan tidak menanyakan hal itu lagi (Karna Darrel juga menegurnya).
"Oh, sosisnya habis, aku ambil dulu ya di belakang, kak Darrel lagi sibuk ngebakar daging," ujar Luna yang langsung berdiri, namun Lira mencegahnya. Dia memberi kode pada Radith yang sedari tadi hanya duduk bersantai, namun Radith tak peka dengan kode itu, yang tentu saja membuat Lira kesal.
"Kamu masak tega sih bikin Luna pergi sendiri ke dapur dan ambil sosis? Kenapa kamu gak menawarkan diri buat ambil? Kamu gak gentle banget, padahal juga dari tadi kamu gak ngapa ngapain. Kak Darrel juga nyiapin barang, tapi dia masih bisa ngebakar daging," tegur Lira saat Radith tidak peka. Luna langsung melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Gak usah, kan kakinya Radith lagi sakit karna kemarin pas kerja dia ketembak di kaki sama tangan. Lagi pula ngambil sosisnya kan gak berat, aku aja Ra," ujar Luna yang langsung pergi ke dapur, meninggalkan Lira, Radith dan Darrel yang membeku karna mencerna apa yang Luna katakan. Darrel langsung menepuk jidatnya, merasa kesal dengan kelakuan Luna.
"Eum, gue masuk ya, tadi gue pindah posisi sosisnya, pasti Luna bingung nyarinya, gue ke sana dulu ya," ujar Darrel yang langsung pergi dari sana, meninggalkan Radith dan Lira yang masih terdiam. Radith yang merasa takut, dan Lira yang merasa bingung. Tanpa basa basi, Lira menepuk kaki Radith dengan keras.
"Eum, bukan yang ini, tapi yang satunya, Ra," ujar Radith karna Lira menepuk kaki yang salah, Lira langsung menepuk kaki sebelah lagi, membuat Radith mengaduh kesakitan karna wanita itu menepuk dengan cukup keras dan tentu menyakitkan.
"Kamu bohong ke aku? Katanya kamu gak kenapa napa? Ini apaa?" Protes Lira yang hampir menangis, Radith langsung menggenggam tangan Lira dan meminta Lira untuk diam, karna dia tidak mau Lira menangis.
"Maaf, aku bukan bermaksud bohong sama kamu, aku cuma gak mau kamu panik dan khawatir. Aku juga udah janji akan kembali dengan utuh kan? Jadi ya aku mau tepati janji itu, walau gak tepat tepat banget. Tapi aku gak papa, cuma kadang masih sakit, tapi gak papa, aku yakin bentar lagi juga sembuh," ujar Radith yang membuat Lira berhenti menangis.
"Aku gak bilang bukan karna aku mau bohong ke kamu, taoi aku gak mau kamu cemas, kamu gak boleh merasa cemas, sedih atau apapun yang memicu trauma kamu, ingat? Sekarang kamu udah tahu, tapi bentar lagi aku sembuh, jadi kamu gak perlu khawatir atau sedih karna semua udah lewat, oke?" Bujuk Radith dengan senyum yang hangat.
"Tapi... tapi aku merasa jadi... pacar yang.. istri yang buruk karna.. karna.."
Radith langsung menempelkan bibirnya ke bibir Lira agar wanita itu tidak bicara lagi. Lira merasakan kehangatan bibir itu dan ikut larut dalam ciumannya, ciuman mereka semakin dalam dan panas, seakan keduanya tidaj mau saling melepaskan lagi. Radith sampai sedikit mendorong Lira, namun tangannya menahan kepala wanita itu agar ciuman mereka makin dalam.
"Wow wow gaes, bukan bermaksud mengganggu dan maaf kalau udah ganggu, tapi kalau kalian mau lanjut, kalian mungkin bisa lanjutkan di dalam, yang lebih privat? Kara di hadapan kalian ada 4 anak kecil yang tentu belum bisa lihat adegan ini, dan yah, kalian bisa lebih bebas jika berdua, barangkali akan ada Sean junior?" Celetuk Luna yang membawa satu nampan penuh sosis untuk mereka semua.
"Ah, eum, sorry, kelepasan. Kita makan sosisnya aja ya, eum, kak, Lo duduk aja gantian gue yang bakar daging sama sosisnya," ujar Radith dengan telinga yang memerah karna malu. Dia berjalan pincang ke arah panganggan dan menyalakan kipas angin kecil agar api tetap menyala.
"Eum, aku masuk, mau ambil sirup dan minuman buat kita," ujar Lira yang kangsung berdiri dan masuk ke arah dapur untuk mengambil minuman, karna dia tahu pasti akan merasa canggung jika tetap di sana.
"Yah, maaf, Gue ganggu ya? Sorry ya Dith," ujar Luna merasa bersalah.
"Iya, kamu ganggu Luna, astaga," ujar Darrel pasrah sambil menepuk jidatnya karna tahu, Luna akan selalu menjadi Luna.
__ADS_1