Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 108


__ADS_3

Teman Lira yang bernama Jenny sungguh datang ke rumahnya dan bertemu dengan Lira serta Zia dan Sean. Radith harus mulai sibuk bekerja dan tidak bisa mendampingi mereka. Jenny dan Lira pergi ke kamar Zia dan meminta anak itu menunjukkan secara langsung gambar yang dia buat. Jenny langsung mengeluarkan Ipad miliknya.


"Ah, desain yang kamu maksud mungkin seperti ini, jika memang seperti ini, tante akan bantu kamu untuk merealisasikannya, tante akan membuatkan kamu baju ini," ujar Jenny yang langsung mulai bekerja, dia membuat sketsa kadar untuk desain milik Zia dan Zia mengamatinya. Sean melihat ketiganya dan merasa bosan. Dia langsung keluar dari kamar dan mengajak pengawal untuk bermain dengannya.


"Ayo kita main jenga, siapa yang menjatuhkan duluan, dia harus membelikan semua orang es krim," ujar Sean yang tentu membuat mereka semangat, Sean bermain dengan para pengawal dan dia menggunakan nalarnya, dia berhasil memenangkan permainan dan mendapat hadiah es krim dari pengawal yang kalah.


"Logika tuan muda memang sangat hebat, tuan muda bisa memenangkan permainan ini bahkan saat melawan orang dewasa, tuan muda akan memiliki masa depan yang cerah. Karena tuan muda bisa menyelesaikan masalah dengan mudahnya, saya yakin itu," ujar pengawal yang tentu membuat Sean mengangguk senang. Dia juga ingin mendapat masa depan yang cerah dengan kemampuannya ini.


"Tapi mami tidak menganggap hal ini keren, mami malah menganggap apa yang Zia lakukan itu keren. Dari kemarin mami cuma mau bermain bersama Zia, padahal ada Sean juga, tapi mami tidak mau sama Sean, Sean jadi merasa apa yang Sean lakukan sia sia. Sean tidak bisa ada di dekat mereka karna Sean diabaikan," ujar Anak itu yang membuat pengawal terdiam.


"Sean jangan khawatir, ada kami yang akan selalu ada untuk Sean, bermain dengan Sean dan tentu saja menjadi teman Sean. Mami Sean, nyonya besar, tidak akan mungkin mengabaikan Sean, pasti maminya tuan muda Sean sudah menyiapkan semua hal baik untuk tuan muda, dan tuan muda harus percaya hal itu," ujar Pengawal yang kembali membuat Sean terheran.


"Apakah aku harus mempercayai sesuatu yang tidak seperti kelihatannya? Aku bahkan tidak bisa dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ah, Mami sekarang sudah tidak sayang aku lagi. Mungkin mami memang ingin memiliki anak perempuan saja," ujar Sean yang menunduk sedih.


"Siapa bilang mami tidak sayang Sean? Apa perlu Papa yang buktikan seberapa besar mami sayang dengan Sean? Apa yang sudah mami lalui dan korbankan untuk kebahagiaan Sean? Atau pala harus rincikan semua? Tapi walau dirinci pun, rasanya masih belum cukup karena apa yang mami lakukan sangat besar," ujar Radith yang membuat Sean terdiam. Anak itu tidak menyangka Radith datang tiba tiba seperti itu.


"Kalau sekarang mami sedang fokus pada Zia, bukan berarti mami tidak sayang dengan Sean. Tapi mami hanya ingin berlaku adil untuk kalian. Sean sudah mendapat banyak hal, sekarang giliran Zia, tapi bahkan mami tidak melupakan Sean loh, jadi Sean jangan merasa begitu ya," ujar Radith yang bingung bagaimana harus menjelaskannya.


"Tapi Sean bahkan hanya mendapat buku bergambar, sedangkan Zia mendapat buku, alat tulis, dan Ipad untuknya. Apa karena cita cita Zia jauh lebih besar dan berharga dari cita cita Sean? Apakah cita cita Sean memang tidak keren?" Tanya Sean yang membuat Radith memandang ke arah anak buahnya untuk meminta pertolongan, namun tentu anak buahnya tidak berani ikut campur.


"Eum, kalau Sean bilang cita cita Sean tidak keren, Sepertinya Sean salah persepsi. Cita cita Sean sangat keren kok, bahkan terlampau keren untuk usia Sean saat ini. Karna apa yang diperlukan Sean masih jauh di depan, Sean bahkan baru bisa sekolah untuk Astronot di usia 17 tahun, 10 tahun lagi loh," ujar Radith yang tidak membuat Sean puas.


"10 tahun bukan waktu yang sebentar, selagi menunggu, Mami masih memberikan apa yang Sean butuhkan, contohnya ya buku itu, nah nanti kalau Sean sudah selesai dengan bukunya atau Mami dan Papa rasa Sean butuh sesuatu, pasti kami penuhi nak, tidak perlu menunggu Sean dewasa. Jadi papi harap Sean bisa menyadari rasa cinta Papa dan Mami untuk Sean," ujar Radith yang membuat Sean menangis.


"Maafkan Sean, maafkan Sean sudah egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Sean berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Sean berjanji hanya akan mengikuti dan percaya pada mami dan Papa," ujar Sean yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu memeluk Sean sejenak, lalu melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Sean dengan senang.


"Karna Sean adalah anak yang baik, Papa punya hadiah untuk Sean. Ini, untuk Sean," ujsr Radith yang mengulurkan Mainan roket kecil yang bisa diterbangkan. Dan ada remot untuk mengontrol naik dan turunnya, untuk mengendalikannya memang sulit dan rencananya Radith hanya ingin memberikan itu sebagai pajangan, namun jika Sean memang ingin memainkannya, dia tidak akan masalah dengan hal itu.

__ADS_1


"Ini bagus sekali, terima kasih papa, Sean sangat suka dengan hadiahnya," ujar Sean yang langsung membuka mainan itu dari dusnya dan melihat ke arah remot. Dia bisa melihat ada banyak kontrol di sana, namun dia takut merusaknya, jadi dia hanya memegang dengan pelan tanpa memainkannya.


"Bisa nanti Sean sudah lebih besar dan dewasa, Sean akan memainkannya, tapi karena sekarang Sean belum bisa dan belum mengerti, Sean tidak mau memainkannya, takut rusak. Terima kasih papa," ujar Sean dengan cerah, sangat berbeda dari saat dia tadi setelah bermain jenga. Radith tersenyum senang melihat itu.


"Ya sudah, Sean letakkan dan simpan di kamar Sean ya, nanti papa ke kamar Sean, papa mau bicara dengan pengawal dulu," ujar Radith yang diangguki oleh anak itu. Sean segera berlari senang ke kamarnya, meninggalkan Radith dan para pengawal yang tampak panik karena Radith ingin bicara dengan mereka.


"Kalian santai saja. Saya tidak ingin marah dengan kalian kok. Saya cuma mau tanya, sudah sejak kapan Sean berbicara seperti itu? Mengatakan kalau Lira terlihat lebih sayang dengan Zia dibanding Dirinya?" Tanya Radith dengan wajah serius, tentu saja serius karena itu akan menimbulkan luka batin bagi Sean dan jika itu terjadi, Sean akan selalu menganggap Lira tidak sayang padanya.


"Kami baru tahu hari ini, namun memang belakangan tuan muda sering murung dan banyak diam. Apalagi saat nyonya besar bermain dengan Zia yang sebenarnya itu menggambar dan sebagainya, tuan muda langsung terdiam dan tidak ikut bicara tuan," ujar pengawal itu yang membuat Radith terdiam


“Saya minta tolong pada kalian, tolong awasi Sean, dan jika memang dia merasa sedih atau kesal, tolong bantu saya hibur dia, karena saya menyadari, saya tidak bisa ada di sisi dia setiap saat, apalagi Lira sedang hamil dan tentu saja fokusnya terpecah dengan banyak hal, saya tidak mau Sean merasa sedih,” lirih Radith yang diangguki oleh pengawalnya.


Radith masuk ke kamar Sean dan melihat anak itu sungguh tertarik dengan roket, bahkan anak itu memiliki miniatur roket yang dia buat sendiri, di sebelah miniatur itu ada roket yang tadi dia berikan pada Sean saat di teras. Radith merasa Sean sudah sangat dewasa dan matang di usianya yang sebenarnya masih belia. Dia ingin mendukung penuh anaknya untuk meraih apa yang dia mau.


“Nak, Papa boleh ngobrol sama Sean gak? Sean suka sekali sama roketnya sampai Papa dibiarkan berdiri di sini,” ujar Radith yang membuat Sean menyengir dan langsung mengajak Radith untuk masuk ke dalam kamarnya. Radith duduk dengan tenang dan melihat ke arah Sean yang masih menatap mainan pemberiannya.


“Sean, apa kamu pernah merasa iri atau marah pada Zia? Untuk hal apapun?” tanya Radith yang membuat Sean terdiam untuk sesaat, namun akhirnya anak itu mengangguk, membuat Radith menghela napas, namun tidak mengubah ekspresi wajahnya.


“Eum, apa boleh Papa tahu alasannya? Kalau menurut Sean itu rahasia, Sean tidak perlu memberitahu Papa,” ujar Radith yang diangguki oleh Sean, namun dia merasa tidak perlu merahasiakan ini dari Radith. Anak itu juga merasa jika Radith perlu tahu akan hal ini, dia tidak pernah mau berbohong pada Radith dan Lira.


“Karena sejak ada Lira, Mami sudah tidak begitu sayang pada Sean. Bahkan saat mami tahu apa yang Sean ingin lakukan, ya sudah hanya itu, Mami jauh lebih senang mendengar apa cita cita Zia. Sean tidak suka hal itu. Tapi Sean tahu, Sean juga harus sayang pada Zia, meski dia anak dari tante jahat yang sudah menyakiti Sean,” ujar anak itu yang membuat Radith merasa sedih.


“Maafkan papa dan Mami jika membuat Sean merasa seperti itu ya nak, Papa dan Mami tidak pernah sengaja menyakiti Sean. Papa akan mendukung apapun yang menjadi cita cita Sean dan Mami juga begitu. Jika memang kami terlihat lebih menyayangi Zia, itu karena kamu merasa bersalah membiarkan Zia hidup menderita sebelum masuk ke rumah ini. Bukan berarti kami tidak menyayangi dan bangga pada Sean.”


“Ya, Sean tahu hal itu. Mami juga bilang ke Sean untuk selalu menyayangi Zia, menganggap Zia saudara kandung Sean dan juga belajar bersama Zia. Tapi bahkan mami tidak pernah bertanya tentang Sean, mungkin karna mami sudah bosan ya Pa sama Sean? Karna Sean sudah bersama mami sejak Sean masih bayi?” tanya Sean yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Radith.


“Tidak nak, Mmai tetap sayang sama Sean, mami juga bangga pada Sean dan Mami tidak akan pernah bosan dengan Sean. Jika memang Sean punya sesuatu yang harus dikatakan kepada kami, Sean tinggal katakan saja. Bagi papa, semua anak anak papa berharga dan rasa sayang papa ke kalian itu sama. Mungkin memang papa bukan ayah yang sempurna, tapi ayah akan berusaha berikan yang terbaik untuk kalian berdua, dan sebentar lagi 3,” ujar Radith yang diangguki oleh Sean.

__ADS_1


“Apakah Sean keberatan jika papa ceritakan ini ke Mami? Atau Sean mau ini jadi rahasia kita berdua saja?” tanya Radith yang membuat Sean bingung kembali. Dia tampak ragu, namun tatapan Radith yang hangat membuatnya mengangguk pelan.


“Mami tidak akan marah pada Sean kan Pa? Sean takut jika mami marah atau sedih, karna mami sudah lelah menggendong dedek bayi di dalam perutnya, pasti mami akan sedih jika tahu hal ini,” lirih Sean yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Radith. Radith merasa terharu sekaligus merasa bersalah karna Sean dipaksa dewasa sampai seperti ini.


“Papa kan pintar merayu Mami, dan kalaupun tidak, Mami juga tidak akan marah. Seperti yang Papa bilang, kami sayang dengan Sean dan Zia, kami mau yang terbaik untuk kalian, mau kalian bahagia. Jadi kalau kalian sedih, atau marah, kalian bilang ke kami, kita cari solusinya dan keluarga ini semuanya bisa bahagia. Mengerti ya nak?” tanya Radith yang diangguki oleh Sean.


Radith memeluk anaknya dengan hangat, mengelus punggung anak itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia kira dia sudah menjadi ayah paling baik di dunia ini karna menyediakan semua fasilitas untuk anak anaknya, namun ternyata dia malah melupakan hal yang paling sederhana, yaitu perasaan anak anaknya, dia lupa jika anak anaknya masih kecil dan tentu mereka juga punya perasaan dan uneg uneg yang harus mereka keluarkan.


“Sean, kamu sudah tahu mau minta apa ke santa klaus? Jangan lupa untuk minta hal yang bagus, tapi jangan serakah, kalau nanti Sean serakah, Santa klausnya malah gak mau kasih hadiah untuk Sean dan memilih untuk kasih ke anak lain,” ujar Radith yang mengalihkan obrolan agar tidak terlalu sendu seperti tadi.


“Ya, Sean sudah memikirkannya. Tapi sepertinya tidak akan dikabulkan karena tabungan Sean tidak banyak. Sean sudah masukkan semua uang Sean, semoga santa klaus mau menerimanya, Sean sangat ingin ini,” ujar Sean dengan penuh harap.


“Memang Sean ingin apa? Kalau memang Sean sangat ingin, kenapa tidak minta ke Papa? Kenapa harus menunggu santa klaus? Padahal papa kan juga bisa membelikan untuk Sean, memang apa yang Sean inginkan?” tanya Radith yang memancing anaknya.


“Sean tidak bisa memberitahu papa, karena itu akan menjadi rahasia. Sean mau minta ke santa klaus, karena jika Sean diberi hadiah, itu artinya Sean sudah menjadi anak yang baik. Kata bu Guru, hanya anak yang baik yang akan diberi hadiah oleh santa klaus, jadi Sean mau jadi anak yang baik, agar nanti hadiah Sean bisa dikabulkan,” ujar Sean dengan senang.


“Apakah Sean ingin menjadi anak yang baik hanya karena Hadiah? Ah, papa akan sangat sedih jika begitu, itu artinya Sean tidak tulus pada mami dan papa, Papa jadi sedih,” ujar Radith yang merengut. Namun Sean melambai lambaikan tangannya, seolah mengatakan apa yang Radith kira itu tidak benar.


“Sean menyayangi Mami dan Papa, walau Sean tidak dapat hadiah pun Sean akan tetap menjadi anak yang baik. Tapi jika Sean juga mendapat hadiah, itu akan menyenangkan, Sean bahagia,” ujar Sean yang membuat Radith terkekeh. Sean adalah anaknya, wajar jika mereka memiliki sikap yang mirip. Selalu mencari peluang keuntungan dimanapun.


“Ya sudah, nanti kalau Papa bertemu santa, papa akan bilang jika Sean adalah anak yang baik, jadi nanti Sean pasti mendapat hadiah. Tapi nanti papa juga diberi tip loh karena sudah bantu Sean,” ujar Radith dengan senyumnya.


“Benarkah papa akan membantu? Yeay! Terima kasih! Sean akan mentraktir papa makan di depan sekolah Sean jika memang Santa klaus datang dan memberi hadiah.”


“Tunggu dulu, kamu jajan di luar?” tanya Radith yang membuat Sean terdiam seolah sudah tertangkap basah.


“Maaf papa, jangan bilang santa klaus ya,” lirih anak itu dengan lucu dan takut. Radith terkekeh dan mengusap kepala Sean dengan gemas.

__ADS_1


“kamu memang anak papa,” ujar Radith bangga.


__ADS_2