Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 22


__ADS_3

Lira duduk di kamarnya dengan ragu dan takut. Di tangannya sudah terdapat surat pengunduran diri miliknya, namun dia juga mempertimbangkan perkataan Luna, dia juga khawatir jika Radith akan benar – benar menjadi gila dan tidak memiliki seseorang yang melindunginya saat itu tiba. Namun apakah Lira harus tetap berada di sisi lelaki itu?


"Gue emang suka sama Dia, tapi Gue juga punya harga diri. Gue gak bisa biarin orang kayak dia menguasahi hidup Gue. Terus Gue harus apa? Gue harus gimana? Lira, Lo harus gimana?" tanya Lira pada surat itu. Lira akhirnya memasukkan surat itu ke dalam laci dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


"Lo harus sedikit than sama semua ini. Gue yakin nanti pasti semua bakal membaik. Siapa tahu Radith akan melihat ketulusan Lo dan membuka hati? Haha mimpi aja yang tinggi, toh gratis," ujar Lira pada dirinya sendiri. Lira membasuh tubuhnya dan mencari cara agar Radith bisa paling tidak mengurangi rasa sukanya pada Luna.


"Harusnya Luna terima cintanya Radith, dia kan juga pernah cinta sama Radith, gak akan susah buat suka lagi kan sama dia? Gue mah pasti rela asalkan Radithnya bahagia," ujar Lira saat membuka satu persatu pakaiannya dan melanjutkan mandinya yang tertunda. Dia keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos dan lengan pendek.


"Mba, kapan kita pindah dari tempat ini? aku udah tanya ke temen temen aku tentang kontrkan yang murah. Gak besar, tapi paling gak kan kita punya tempat tinggal dulu," ujar adik Lira yang sudah duduk di tepi ranjang miliknya. Untung saja Lira memiliki kebiasaan membawa pakaian ke kamar mandi.


"Sementara ini kita gak usah pindah dulu, kita harus di sini dulu untuk waktu yang mba juga gak tahu. Masih banyak yang harus mba kerjakan," ujar Lira yang tampak tak disukai oleh adiknya. Adiknya itu menunjukkan wajah tak terima secara langsung, namun belum adiknya mengeluarkan suara, Lira sudah menjelaskan.


"Mba tahu kamu gak betah, mba tahu kamu lebih baik hidup miskin daripada hidup karna karna belas kasihan orang lain, mba juga begitu. Tapi kita selalu diajarkan buat balas budi kan? Mba harus balas budi ke orang ini, mba gak mau seumur hidup ma dihantui rasa bersalah."


"Kasih mba waktu buat balas budi bagian Mba. Kamu juga, beberapa tahun lagi kalau kamu udah sukses, kamu harus balas budi ke pak Radith. Bagaimanapun dia yang sudah kasih kamu beasiswa kan?" tanya Lira yang diangguki oleh adiknya. Mereka kembali bebrincang banyak hal lain dan tidak membiarkan topik tentang Radith merusak suasana.


*


*


*

__ADS_1


Lira masuk ke ruangannya dengan wajah yang lesu. Banyak yang ada di pikirannya, membuat pikirannya menjadi penuh dan tidak bisa memikirkan hal lain. Bahkan dia rasanya tak dapat bekerja hari ini. gadis itu duduk di kursinya dan langsung menidukran kepalanya di meja, sampai akhirnya ponsel miliknya berbunyi.


'Jangan lesu seperti itu. aku tak mau pegawaiku apalagi asistenku seperti orang yang tidak pernah makan. Aku menggajimu dengan layak, bekerjalah sesuai gaji yang kau dapatkan.' Lira hanya membaca pesan itu dan tak berniat untuk membalasnya.


'Lo tuh ya, gue udah berwibawa jadi bos, bukannya Lo ngomong maaf kek, makasih kek, malah Cuma dibaca. Gak ada sopan – sopannya.' Lira memijit pelipisnya elihat Radith yang begitu kekanak – kanakan. Lelaki itu mengawasinya dari cctv, apakah lelaki itu tak memiliki pekerjaan lain hari ini? kenapa dia suka sekali mengawasi Lira? Apakah dia takut Lira melakukan sesuatu yang berbahaya pada Luna?


"Kamu urus semua keperlan saya hari ini ya, saya akan pergi ke rumah Luna, saya belum meastikan keadaan dia hari ini. kamu bisa kan?" pesan suara itu membuat Lira langsung menegakkan tubuhnya dan dengan cepat berjalan ke arah ruangan Radith. Dia harus mencegah Radith agar tak pergi ke rumah Luna.


"Pak Radith, apa saya boleh menemani pak Radith kali ini untuk pergi ke rumah Luna? pak Radith kan masih sakit, pak Radith gak boleh kemana – mana sendirian, terlalu berbahaya," ujar Lira yang tiba – tiba masuk ke ruangan Radith. Lelaki itu mengerutkan keningnya dengan bingung. Sejak kapan Lira peduli pada hal seperti ini?


"Saya tidak pergi sendiri. Ada belasan pengawal yang siap menjaga saya kapanpun dimana pun. Apa kamu masih merasa khawatir? Lagipula, kamu tidak ada urusannya dengan semua ini, kenapa kamu sangat ingin ikut?" tanya Radith yang membuat Lira tergagap. Dia tak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut Radith.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Tidak biasanya kamu kayak gini kamu bahkan membuat saya merasa jijik. Apa kamu menarik perhatian saya agar saya jatuh cinta sama kamu? Menjijikan," ujar Radith yang membuat Lira tertohok, namun gadis itu menguatkan mentalnya sendiri agar Radith tidak terluka nantinya. Dia juga tak bisa membicarakan rencana pernikahan Luna bukan?


"Tapi kan pak Radith bilang akan berikan apapun untuk saya kalau saya menyelesaikan misi ini. Jadi kalau gitu, saya minta pak Radith tidak perlu untuk pergi ke rumah Luna untuk selamanya," ujar Lira yang kini dimengerti oleh Radith. Lelaki itu berjalan dan memegang pundak Lira cukup kuat.


"Kau tahu, aku memang menjanjikan hal seperti itu padamu. Tapi kamau juga ahrus ingat posisimu. Kamu boleh minta apapun, ta[I tidak dengan mengaturku. Aku bosnya di sini. Ingat?" tanya Radith yang menatap lurus ke bola mata Lira. Gadis itu bahkan harus menelan saliva dengan susah payah karna tatapan Radith yang dingin.


"Saya melakuakn hal ini untuk melindungi bapak. Saya tidak bis amembiarkan pak Radith menjadi terluka lagi. Saya tidak bisa membuat pak Radith meratapi Lunetta. Lupakan dia dan cari kebahagiaan pak Radith pak," ujar Lira yang kembali membuat Radith terdiam beberapa saat, namun lelaki itu segera tersadar dan menjawab perkataan Lira.


"Bahagiaku hanya Lunetta. Kalau dia pergi, aku tidak akan pernah merasa bahagia. Kamu tahu apa? Kamu Cuma suka sama aku karna harta kan? Bahkan jika aku sekarat, kamu gak akan panik kan?" tanya Radith yang berbicara dnegan pedas. Tanpa sadar membuat Lira menjadi geram. Padahal niatnya untuk kebaikan Radith. Namun lelaki itu tak tahu diri sekali.

__ADS_1


"Ya terus bapak mau sampai kapan jadi bayangan Pak Darrel untuk melindungi Luna? Sampai kapan pak Radith akan bahagia sekaligus terluka karna Lunetta? Pak Radith harus punya kebahagiaan di atas kaki pak Radith sendiri. Luna bukan takdir pak Radith," ujar Lira yang tanpa sadar membocorkan rahasia ini


Radith tampak tak terima dengan jawaban Lira. Lelaki itu langsung menghampiri Lira dan mengambil leher gadis itu dengan tangannya lalu sedikit menekannya sampai gadis itu merasa sesak dan kesulitan bernapas. Lira memukul mukul tangan Radith, namun lelaki itu sama sekali tak mau melepaskannya.


"Gue udah sabar dari tadi. Tapi Lo yang terus mancing Gue. Lo tahu apa soal Gue sama Luna? Jangan mentang – mentang Lo tinggal sama dia beberapa bulan ,Lo bisa seenaknya gini. Gue udah kenal Luna bertahu tahun, Gue tahu dia, dan hal itu yang membuat Gue jatuh cinta sama dia."


Lira tampak makin sulit bernapas. Bahkan wajah gadis itu mulai membiru. Melihat itu Radith lngsung meelempar Lira ke sofa dan hendak pergi dari ruangannya. Dia akan menemui Luna dan memastikan gadis itu tak kesulitan, apalagi Darrel sedang fokus ddengan penyembuhan ginjal miliknya dan pasti tak ada waktu untuk Luna.


"Luna akan menikah. Dia akan menikah dengan Darrel tak lama lagi. Pak Radith harus berhenti sekarang."


deg


Radith langsung lemas mendengar hal itu. seakan ribuan jarum kecil menusuk – nusuk jantungnya dengan cepat. Jarum itu kecil, namun jika banyak dan ditusukkan berulang kali, tetap saja rasanya akan menyakitkan. Itulah yang dialami oleh Radith.


"Saya gak bisa biarin pak Radith sakit hati lagi. Jadi saya mohon, berhenti suka sama Luna karna dia sudah dapat kebahagiaannya. Dan itu bersama pak Darrel, bukan pak Radith. Selamanya akan seperti itu."


Radith menghela napasnya dan melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan miliknya, meninggalkan Lira tanpa penjelasan apapun.


Tanpa terasa, air mata Lira langsung keluar setelah pintu tertutup dan dia hanya sendiri. Dia bahkan sampai sesenggukan karna merasa sakit. Apalagi dia tahu Radith jauh lebih sakit hati dibanding dirinya.


"Saya janji pak, saya akan buat bapak bahagia semampu saya. Saya akan berusaha membuat bapak mengikis sedikit demi sedikit perasaan itu. saya berjanji akan bertahan semampu saya."

__ADS_1


__ADS_2