
"Liburan semester depan, baby kita udah kuat kan ya? Aku pengen ajak baby kita liburan sekalian ke luar negeri, kemarin kan kita gak jadi pergi, cuma Zia aja yang ikut Jenny, sekarang kita semua bisa pergi ke sana." Radith dan Lira sedang tiduran di kasurnya saat membicarakan hal itu.
"Bisa aja sih, tapi coba nanti dipastikan ke dokter aja, kondisinya sehat dan kuat gak buat ikut penerbangan. Sama kalau bisa sewa 1 tempat itu bukan kita, karena aku takutnya kalau tiba tiba si baby nangis, nanti malah ganggu penumpang lain," ujar Lira yang tentu saja tidak bisa memikirkan dirinya sendiri saja, dia harus memikirkan kenyamanan penumpang lain.
"Tapi Baby El kan juga bukan tipe yang nyusahin begitu, dia gak pernah tuh nangis yang kalau memang dia gak nyaman kan? Ih buktinya dia gak nangis," ujar Radith lagi. Namun Lira tetap merasa jika mereka ingin liburan, mereka harus pastikan bayi mereka tidak rewel dan banyak menangis.
"Kalau aku, mending pastikan si baby dalam good mood dan bisa having fun, daripada dia ikut terus cuma nangis seharian, aku pusing, kamu pusing, kita malah bingung sama babynya, apalagi kalau di luar negeri, cuaca sama kelembabannya kan beda sama di sini, kalau dia gak nyaman? Kasihan juga kan" Radith mengangguk setuju dengan apa yang Lira katakan.
"Iya sih, kasihan juga kalau kita ajak dia liburan malah dia gak bisa merasakan nyaman, ya udah deh nunggu dia agak gede dan ngerti aja baru ajak dia ke luar negeri, liburan kan bisa kapan aja," ujar Radith yang diangguki oleh Lira, namun wanita itu tiba tiba tersadar akan sesuatu.
"Sayang, kalau kamu mau liburan, gak papa berangkat sama anak anak aja, kasihan juga mereka kalau kamu tunda terus, udah dari semester lalu kan kamu bilang mau ajak Sean ke pangkalan ruang angkasa yang ada di sana, kasihan kalau gak jadi," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Dia juga memikirkan nasib dua anaknya yang lain.
"Aku nanti bawa Zia sama Sean, tapi aku khawatir sama kamu juga, aku ngeri kalau kamu kenapa napa pas aku di luar negeri, karena kan banyakan yang aku bawa pengawalnya daripada yang aku tinggal. Aku takut kalau pengawal yang ada gak cukup buat jagain kalian," ujar Radith yang membuat Lira tertawa, dia merasa
Radith berlebihan menanggapi hal ini.
"Aku gak papa, baby El juga gak akan kenapa napa, kan kamu juga cuma di rumah, rumah ini juga udah gak bakal kebobolan kan? Karena setelah waktu itu ada teror, kamu pasang banyak keamanan ekstra, jadi menurut aku ya bakal aman aman aja, aku juga gak akan kemana mana sampai kalian balik," ujar Lira meyakinkan suaminya.
"Tetap aja, aku ngerasanya gak aman aja kalau kamu gak ikut, tapi aku juga udah ada janji sama anak anak, aku bimbang banget jadinya," ujar Radith yang membuat Lira menghela napasnya. Lelaki itu tetap harus pergi dan menepati janjinya agar anak anak mereka tidak merasa kecewa atau dibohongi oleh ayah mereka, namun Radith terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.
"Ya udah, aku nanti sama Andre, Andre kan udah kerja lagi, nanti minta dia kirim pengawal ekstra aja buat rumah ini. Terus kamu kan bawa 20 pengawal kan? Buat kamu 10, 5 Zia dan 5 Sean, ya udah berarti tanpa pengawal Andre aja di rumah ini ada 15 pengawal, 5 buat aku yang 10 pengawal rumah, itu menurut aku udah lebih dari cukup Dith, itu mah sisa sisa banget," ujar Lira dengan yakin.
"Kamu mah emang gitu, apa apa oke oke aja, aku yang khawatir. Apalagi kalau kamu sendirian dan musuhnya tahu kalau aku lagi ke luar negeri, mereka bisa lebih leluasa buat nyakitin kamu, apa kamu yakin bakal baik baik aja?" Tanya Radith yang kali ini benar benar membuat Lira merasa jengah.
"Haih, gak tahu lah Dith, terserah kamu aja mau gimana, terserah kamu mau langgar janji sama anak anak atau gimana, yang jelas aku udah bilang kalau aku gak papa, jadi ya terserah kamu aja sisanya gimana," ujar Lira yang jengah dan malah membuat Radith tertawa.
"Lagian ya Dith, kamu kok takut banget sih tumbenan? Kemarin kemarin juga kamu pergi ke luar kota, luar negeri juga biasa aja kan? Kenapa sekarang kayak seolah musuh kamu kuat banget gitu?" Tanya Lira yang kali ini membuat Radith terdiam. Hal itu membuat Lira yakin, pasti ada sesuatu yang salah dengan lelaki itu.
"Aku menang proyek buat keamanan suatu perusahaan gitu, jadi aku bisa mengerjakan sistem keamanan yang pakai sensor, tapi aku masih tahap uji bisa diretas atau engga gitu sih, gitu lah. Nah, pas aku masih kayak berjuang rebutan sama orang buat menangin proyek, entah kenapa aku ngerasa saingan aku gak terima kalah, dia merasa aku curang."
__ADS_1
"Eum, aku gak mau berburuk sangka, tapi aku juga takut aja kalau dia nekat buat melakukan sesuatu demi balas dendam atas kalahnya dia, atau lebih buruk, dia bisa aja berbuat jahat ke keluarga kita cuam buat ancam aku biar lepasin proyek ini, padahal ini proyek penting, apalagi kan perusahaan emang lagi mau produksi sensor keamanan anti retas," ujar Radith yang membuat Lira paham.
"Yah banyak kemungkinan, bisa aja itu cuma perasaan kamu aja karna kamu menang dari dia, kalaupun benar, untuk menembus sistem keamanan rumah kita, dia perlu banyak uang, banyak rencana dan tentu saja banyak orang, yang bahkan kalau menurut aku gak sesuai aja sama apa yang mereka dapat, jadi gak mungkin mereka lakukan itu, kamu tenang aja," ujar Lira mengelus dada Radith agar lelaki itu bisa tenang.
"Semoga kamu benar ya, jujur aja, aku udah takut banget kalau orang itu emang mau macam macam sama keluarga kita. Semoga aja dalam 2 bulan semua udah selesai proyeknya dan aku bisa lebih tenang lagi. Dan semoga juga pas liburan kamu bisa ikut sekalian sama baby El, lebih tenang lagi aku," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
"Kalau memang situasinya memungkinkan, aku sama baby El bakal ikut, tapi kalau memang enggak, ya kamu aja sama Zia dan Sean, aku gak usah ikut gak papa, lagian juga gak mungkin tuh orang dendam sampai berbulan bulan kan? Kamu gak seistimewa itu buat dipikirin sama orang," ujar Lira yang membuat Radith berdecak kesal.
"Gak tahu aja kamu berapa banyak orang di luar sana yang mikir gimana caranya ajak aku jalan," ujar Radith pelan sambil menarik selimutnya.
"Hah? Apa Dith?" Tanya Lira yang hanya mendengar sekilas.
"Gak papa, siaran langsung gak ada ulangnya," ujar Radith enteng.
Liburan semester tiba, seperti yang dijanjikan, Radith akan mengajak Zia dan Sean jalan jalan ke luar negeri. Sebenarnya Radith sudah berdebat dengan Lira sejak satu minggu lalu karna istrinya enggan untuk ikut, dia ingin beristirahat di rumah bersama bayi mereka. Karna Radith sudah membeli tiket, mau tidak mau dia tetap berangkat bersama dua anaknya.
"Mba Anna dan mba Beta, kalian harus ikut menggantikan Ibu ya, kalian yang jagain anak anak, karna kalau saya sendirian pasti keteteran. Kalian mau kan ikut ke Paris?" Tanya Radith yang tentu saja diiyakan oleh mereka, siapa yang tidak mau ikut berlibur ke luar negeri, GRATIS. Meski mereka tetqp bekerja, tetap saja rasanya akan menyenangkan.
"Gak berani mereka mau goda kamu, kamu seram soalnya. Cuma aku yang berani buat dekatin kamu, kamu juga gak mungkin bisa godain mereka, mereka gak akan mau sama kamu," ujar Lira dengan yakin, membuat Radith berdecak karna diremehkan oleh istrinya, meski semua itu hanya gurauan semata.
"Iya kan mba mba sekalian? Kalian gak mau kan digodain sama suami saya? Kalau kalian gak mau, pas di sana kalian digodain, tendang aja bagian yang paling menyakitkan, kalau dia mengancam, telpon saya, tenang aja, kalian aman. Tugas kalian hanya berlibur dan jaga anak anak, itu saja," ujar Lira dengan senyum namun mereka tahu wanita itu sedang mengutarakan perintah.
"Yang, mereka sih gak bakal godain aku atau gak bakal mau aku godain. Bukan karna takut aku, tapi takut kamu. Kamu seram banget loh barusan, kayak lagi ngancam mereka. Udah sayang, kamu tenang aja, kami akan baik baik dan profesional, tenang ya sayang," ujar Radith yang sedikit ngeri melihat ekspresi Lira. Namun istrinya malah tertawa.
"Aku gak takut sama mereka, aku tahu sih mereka orang baik, kau malah kasihan kalau nanti sampai sana mereka kamu godain. Duh, gak kebayang deh nanti mereka emosinya kayak apa kalau digodain sama kamu, hahah," ujar Lira yang membuat Radith gemas, namun dia tak bisa membantah istrinya, dia hanya mencubit pipi Lira dengan gemas.
"Sayang, kamu ikut aja deh, daripada aku macem macem kan, mending kamu ikut aku, kamu yang lihat sendiri aku gimana gimananya, jadi nanti gak ada kecurigaan di antara kita. Ya? Ya? Aku semangatnya kalau ada kamu aja nih," ujar Radith yang membuat Lira menghela napas panjang. Dia enggan ribut di saat seperti ini, namun Radith tidak mau diam dan membuat kepalanya pusing.
"Kalau kamu mau berangkat, ya berangkat. Enggak ya udah. Aku gak mau ikutan. Kepala aku sakit, badan aku sakit, baby El juga gak lagi ceria ceria amat. Aku malah udah kebayang nanti di sana cuma capek aja Dith, gak mau aku, mau istrirahat aja di sini sama Baby L juga," ujar Lira yang jengah dengan Radith. Dia malas untuk berdebat lagi, dan ingin beristirahat.
__ADS_1
"Kamu mah malah gitu, kalau gitu kan aku yang jadi merasa bersalah sama anak anak, jangan gitu dong Ra, Lira, sayang, iya deh aku bakal pergi sama anak anak dan memberimu waktu istirahat sama Baby El. Tapi aku nanti kirim banyak pengawal dan kamu gak boleh protes loh ya," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Dia memang sudah berencana menurut pada rencana Radith daripada masalah semakin panjang.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat, besok kalian penerbangan pagi. Mba Anna, Mba beta, keperluan kalian dan keperluan Anak anak jangan lupa dicek ya, disiapkan semua. Terutama Sean tuh, jangan sampai Ipad dia ketinggalan, nanti kalau ketinggalan dia bisa badmood dan malah jadinya gak baik. Besok saya cek lagi, tapi ini bantu dulu untuk menyiapkan ya," ujar Lira yang diiyakan oleh mereka.
Mba Anna dan Mba Beta sudah menyiapkan semua keperluan Sean dan Zia, termasuk vitamin, baju dan mainan mereka, yah tentu saja Ipad. Justru malah mereka belum menyiapkan baju untuk 10 hari, jadi mereka harus mulai berkemas agar bisa tidur dan bangun untuk penerbangan pagi.
Untung saja Lira punya pembantu yang lain, jadi orang itu dia minta untuk membantu yang lain sehingga Mba Beta dan mba Anna tidak terlalu keteteran. Mereka bisa menyiapkan pakaian dengan cepat dan langsung beristirahat agar besok pagi bisa bangun dengan bugar.
keesokan harinya. Lira sudah bangun sejak subuh, memeriksa barang pribadi Sean dan Lira untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Mereka, sudah bersiap siap dan keadaan rumah cukup berantakan. setelah siap, Sean dan Zia pergi ke halaman agar tidak menganggu yang lain.
"passport sama visa jangan lupa. jagain juga anak anak biar gak kenapa napa, kamu juga jaga diri baik baik, kalau kamu gak sehat, anak anak pasti ikutan jadi gak sehat. have fun kalian di sana, kalau ada apa apa telpon aja," ujar Lira pada Radith yang mengangguk pasrah.
"aku masih pengen kamu ikut aku Ra, tapi kamu kan gak bakal mau, jadi yah, ya udah deh aku gak paksa kamu. tapi aku beneran pengen kamu ikut, gimana dong?" tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira. Dia sungguh tidak ingin ikut dan dia juga tidak tahu kenapa.
"Sampai di sana langsung kabarin aku ya, telpon atau apa biar aku gak khawatir juga sama kalian, kalau setelah itu kalian sibuk gak kabarin gak papa, yang penting aku tahu kalian sudah turun dari pesawat dengan selamat," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, padahal Radith jauh lebih khawatir dibanding Lira.
"Kamu juga. Sini, aku mau ngomong berdua sama kamu," ujar Radith yang menarik tangan Lira untuk masuk ke kamar mereka. Radith memastikan tidak ada yang mendengar mereka dan lelaki itu melihat ke arah baby El yang juga masih terlelap.
"Di bawah kasur ini ada ruang darurat, yang emang kamu buka kalau dalam keadaan darurat aja. Di dalam sana pun banyak makanan kaleng dan makanan kering, air mineral dan belakangan aku masukin susu formula buat baby El, ada tabung oksigen yang tahan 1 bulan juga. Kalau misal terjadi sesuatu, aku mau kamu masuk ke sana dulu biar kalian aman."
"Setelah kamu buka dan masuk ke sana, ada sinyal otomatis yang masuk ke HP aku, di sana gak ada sinyal buat hp kamu, jadi kamu gak akan bisa telpon, aku yang bakal tahu lewat sinyal itu. Jadi kamu jangan masuk ke sana kalau memang bukan terpaksa dan darurat, karna aku bakal kirim bantuan dan pulang kalau aku dapat sinyal itu."
Lira tak menyangka Radith memiliki ruangan seperti itu di rumah ini. Dia sangat kagum dengan ketelitian dan bagaimana cara Radith melindungi keluarganya.
"Yang ada akses ke ruangan itu cuma kamar kita sama kamar Sean, karna dulu kan kamar Zia masih kamar tamu. Tapi yah, aku berharap kita gak perlu gunakan ruangan ini, hidup aman damai aja kita. Tapi semisal sangat perlu, di dalam sana nyaman banget kok, cuma ya itu, terisolasi. Yang tahu tempat itu juga tim khusus aku, mereka gak akan bocorin apa apa ke siapapun."
"Intinya, kalau kamu kepepet banget nih, kamu pakai ruangan itu, berlindung sampai aku datang, aku pasti bakal selametin kamu," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka berpelukan dan Radith memanjakan Lira untuk sejenak.
"Hati hati di sana ya, jaga anak anak juga. Aku sayang kamu," ujar Lira dengan manis dan mengecup bibir Radith.
__ADS_1
"Iya sayang, aku bakal hati hati, kamu juga hati hati di sini, I love you more," ujar Radith yang berganti mencium Lira dengan lembut namun intens