
Radith kembali ke rumah wanita bernama Grace. Dia mengembalikan Zia dengan wajah lesu, Grace sendiri tidak berniat untuk menyudutkan Radith, dia hanya ingin melihat ekspresi kaget itu cukup lama, dia tahu Radith pasti tidak menyangka jika dia memiliki dua anak di luar pernikahan, dengan dua wanita yang berbeda, bahkan kejadiannya pun sangat tidak terduga.
"Kalau anda tidak mau bertanggung jawab, tidak apa apa, saya sudah puas dengan melihat anda tahu, jika anda punya anak lain lagi dari wanita lain, itu sudah cukup bagi saya, paling tidak Zia bisa bertemu dengan papa kandungnya cukup lama. Silakan pergi jika tidak ada yang diperlukan lagi," ujar Grace tanpa ekspresi dan hendak menutup pintu, namun Radith menahannya. Dia menatap lagi ke arah Zia.
"Hai nak, Om mau pulang dulu ya, besok kalau ada waktu, Om akan mampir dan bawa kamu jalan jalan, kamu mau kan?" Tanys Radith dengan lembut. Zia mengangguk dan masuk ke dalam rumah karna Grace memintanya untuk segera masuk. Grace menatap Radith dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak, membuat Radith salah tingkah dan semakin merasa bersalah.
"Saya tidak tahu kejadiannya seperti apa. Saya benar benar tidak bisa ingat. Jika boleh, saya minta waktu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, paling tidak saya sudah dapat petunjuk dan yakin Zia adalah anak saya," ujar Radith yang diangguki oleh Grace. Wanita itu benar benar masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Radith yang masih sedikit lingkung, namun dia mencoba mengendalikan pikirannya.
"Gue harus ngomong apa ke Lira? Zia beneran anak gue dan gak mungkin tuh cewek gila bisa nukar atau manipulasi hasil tes DNAnya. Tapi gue gak bisa kalau sampai Lira kambuh saat tahu masalah ini. Ah **1*, kenapa harus gini sih?" Tanya Radith frustasi pada dirinya sendiri. Dia mengacak rambutnya dengan kesal dan pergi dari sana. Dia harus memberitahu Lira saat ini juga, jika bertambah besar, pasti semakin tidak terkendali.
"Pak, apa bapak ingat apa yang terjadi lima tahun lalu setelah Lira pergi ke Australia saat dia tahu dia hamil? Apa ada sesuatu sampai saya bisa punya anak dengan orang lain lagi?" Tanya Radith pada supir sekaligus pengawalnya. Orang itu tampak gugup, membuat Radith curiga jika orang itu menyembunyikan sesuatu. Radith menunggu jawaban darinya, namun dia tidak memberi jawaban sama sekali.
"Kau pasti tahu sesuatu. Jika kau tidak mengatakannya padaku, aku akan membuatmu membayarnya dengan nyawamu. Kau tahu, ini sangat penting, rumah tanggaku akan hancur jika aku tidak bisa menjelaskan semua ini dengan baik. Jika kau masih merasa kasihan padaku, tolong, katakan semua," ujar Radith yang tidak terdengar seperti meminta tolong karna dia tidak main main dengan ancamannya.
"Saya tidak bisa bercerita di jalan. Jika boleh, saya akan menceritakannya saat sudah berada di rumah dan sekalian menceritakannya di depan nyonya agar tidak terjadi kesalah pahaman. Nyonya pasti tidak akan menyalahkan tuan jika tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar supir itu yang tentu tidak disetujui oleh Radith. Lelaki itu harus tahu ceritanya baru dia memutuskan apakah dia akan menceritakannya pada Lira atau tidak.
"Tapi jika saya boleh menyarankan, lebih baik nyonya tahu tentang hal ini, karna Nyonya pasti berpikiran buruk dan itu tidak baik untuk kesehatannya. Nyonya harus tahu dan tidak salah paham, karna sungguh tuan, itu bukan salah tuan Radith," ujar orang itu yang semakin membuat Radith gemas. Dia tidak bisa tahu dan memprediksi sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pengawalnya sangat aneh? Apakah benar ini bukan salahnya?
"Lira punya penyakit mental dan kau juga tahu itu, apa kau yakin berita ini tidak akan berpengaruh di kondisi mentalnya? Dia harus menghadapi hal yang bahkan aku sendiri sangat syok. Jika sampai dia kambuh atau malah jadi lebih parah, apa kau akan bertanggung jawab? Jika tidak, jangan membuat aku marah dan kesal karna Kau bahkan tidak mau segera menceritakannya padaku.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya lupa akan hal itu, baiklah, mari menepi dan menceritakan semuanya, namun saya tidak yakin Nyonya akan percaya jika tuan yang menceritakan sendiri pada Nyonya," ujar orang itu yang membuat Radith geram. Dia tidak ingin mengulang sesuatu yang sama sampai berkali kali, namun sepertinya orangnya ini benar benar takut mati, makanya dia tetap membawa nama Lira, paling tidak dia tidak akan dibunuh saat itu juga.
"Aku mengerti, lekas sampai di rumah dan lau ceritakan semua padaku, baru kita berbicara pada Lira. Aku tidak akan menutup nutupinya, aku tidak akan menyangkal tentang anak kecil itu, jadi Kau tidak perlu khawatir untuk itu, aku akan melihat separah apa yang aku lakukan, jika itu sangat parah, aku lebih baik tidak memberi tahu Lira sama sekali, paling tidak sampai kondisi mentalnya sudah sembuh total," ujar Radith yang diangguku oleh supirnya itu. Mereka segera kembali ke rumah untuk berdiskusi.
Akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat dan Radith segera membawa orang itu ke dalam ruangan kerja yang kedap suara agar tidak ada yang bisa mendengar obrolan mereka. Orang itu tampak sangat gugup, bahkan tidak berani menatap ke arah Radith, padahal Radith bersikap Normal saat ini, tidak ingin menjadi dingin atau memasang wajah jahatnya.
"Saat itu saya sedang berada di sudut ruangan sebuah klub malam, karna tuan ingin menghabiskan waktu untuk mabuk mabukan karna ditinggal oleh nona Lunetta dan ditinggal oleh Nyonya Lira. Dan yah, kala itu tuan benar benar tidak sadar, tapi salah satu pengawal malah memberi anda obat p3rangsang, membuat Anda semakin liar saat itu."
"Tuan menjadi mengamuk dan bahkan mengeluarkan pistol untuk bermain main, untung saja tuan tidak menyalakan penguncinya, jika tidak, pasti sudah ada yang mati kala itu. Tuan terus meraung raung, dan akhirnya saya serta pengawal itu membawa tuan pergi dari sana, namun tidak membuat tuan menjadi lebih baik. Tuan tetap meronta ronta dan terus menyebut nama Nyonya Lira, namun sesekali tetap meracau tentang Nona Lunetta."
"Pengawal itu adalah pak Andre, seorang yang tewas saat misi di Amerika. Dia yang sudah menculik wanita yang akhirnya kami tahu bernama Gracia, mungkin itu orang yang sama dengan Grace," ujar pengawalnya yang masih disimak oleh Radith karna dia benar benar tidak ingat kejadiannya.
"Kami kira tuan hanya akan melakukannya, melepaskan hasrat itu pada wanita yang diculik oleh pak Andre, lalu kami akan memberikan uang dengan jumlah yang sangat sangat besar untuknya hidup, tapi ternyata kami salah, semua di luar perhitungan kami," ujar orang itu yang membuat Radith makin nengerutkan keningnya, dia tahu ini aneh, sangat aneh, namun sepertinya dia akan mendapatkan jawaban yang dia inginkan sebentar lagi. Dia masih terus menyimak apa yang pengawalnya katakan.
"Semalaman wanita itu ada di kamar pak Radith. Saat keluar, tubuhnya sudah berdarah darah, banyak luka di tubuhnya dan bahkan kepalanya, di dekat mata cukup bengkak dan membiru, bibirnya juga berdarah dan ada bekas ****** dimana mana. Kami sangat terkejut dengan kondisi wanita yang masih t3lanjang saat itu," ujar pengawal yang membuat Radith super kaget.
"Kami membawa orang itu ke seorang dokter dan dokter berkata lukanya bisa sembuh, namun wanita itu pasti mengalami trauma untuk jangka panjang karna dia harus mengalami penyiksaan s3ksual seperti itu. Sebenarnya kami juga bertanya tanya apa yang terjadi, namun saat itu kami lebih fokus untuk membuat wanita itu diam."
__ADS_1
"Kami berdua memberikan uang dengan jumlah yang sangat besar, kami juga membelikan rumah untuk orang itu agar orang itu bisa memiliku tempat tinggal atau bisa menjualnya jika diperlukan (atau tidak diperlukan). Kami mendengar jika orang itu benar benar menjadi gila dan dalam posisi hamil sehingga dia harus di rawat di rumah sakit jika agar janinnya selamat.
"Terakhir yang kami dengar, orang itu sedang sekarat saat melahirkan janinnya, lalu tidak lama kemudian dia meninggal, meninggalkan anaknya di rumah sakit itu. Kami mengambil anaknya dan menitipkannya di panti asuhan. Namun saya tidak tahu bagaimana bisa anak itu tiba tiba ada di tangan Ibunya lagi."
"Maksud kamu, kamu sudah tahu Grace mati, tapi besoknya, anaknya sudah ada dan dia sehat? Begitu?" Tanya Radith yang diangguki oleh pengawalnya. Dia sangat marah dengan orang yang sudah membuatnya menjadi serumit ini di saat bahagia seperti itu. Dia tidak menyangka semua karna kebodohan orang yang dia percaya, orang yang dia andalkan. Lebih menyebalkannya lagi, dia tidak bisa marah karna orang itu sudah mati.
"Ya, tuan. Tapi setelah kami bertanya, ternyata dia mengalami mati suri saat kami membawa bayinya, namun akhirnya dia bangun, meski setelah itu kembali pingsan, namun setelah bangun, anakbya sudah ada di panti asuhan. Mungkin dia memang dendam dan mencari tuan Radith sendiri," ujar orang itu yang membuat Radith semakin geram pada dirinya sendiri. Kenapa dengan tangannya sendiri, dia menjadi seorang yang bejat tanpa dia sadar.
"Kenapa kau baru memberitahu aku sekarang? Jika kau beritahu aku sejak dulu, bukankah semua akan lebih mudah diselesaikan? Aku yakin kau setuju dengan pendapatku saat ini," ujar Radith yang diangguki oleh pengawal itu. Tentu saja benar, jika dia jujur sejak dulu, kemungkinan Radith akan bertanggung jawab pada wanita itu dan mungkin tidak akan menimah dengan Lira.
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku marah atau menyalahkan seseorang, jadi tenanglah, aku tidak akan marah padamu. Aku hanya bingung bagaimana menjelaskannya pada yang lain. Terutama jika melihat dan membayangkan apa yang terjadi dengan gadis itu, jika dia sampai penuh luka dan berdarah darah, bukankah ada yang salah denganku? Mari singkirkan wanita asing itu, apakah itu artinya aku bisa saja melukai Lira?"
"Tuan, saat tuan tidak tahu apa yang terjadi, tuan baik baik saja, itu artinya tuan harus bertindak seolah tidak terjadi apa apa, jadi tuan harus bertindak seperti ini seterusnya walau dia yang merekam sering kali upload video tuan dengan wajah yang cerah dan cerita, saya tidak mau tuan berubah karna hal ini."
"Aku sudah berubah saat tahu apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Jika itu benar, aku bahkan harus berlutut untuk pantas meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Namun sebelum itu semua, aku harus berbicara pada Lira mengenai hal ini, semoga semua baik baik saja dan Lira dalam kondisi yang baik. Biar aku yang menceritakannya, namun jika aku salah, kau boleh menyela untuk mengoreksinya," ujar Radith pada pria itu.
"Lira, aku mau ngomong sama kamu sayang, kamu bisa diajak ngobrol kah sekarang?" Tanya Radith di depan kamar Lira sambil memencet tombol panggilan di kamar itu, namun karna tidak ada jawaban, dia ke kamarnya dan menemukan Lira yang duduk memandang figura foto keluarga kecil mereka sambil terisak."
Radith langsung berlari dan berlutut di hadapan Lira, dia tidak bisa mengatakan apapun, namun melihat Lira menangis, hatinya merasa ikut teriris. Baru saja dia berjanji membuat Lira bahagia, namun kini dia sudah membuat Lira menangis terluka, karna perbuatannya sendiri. Radith merasa tidak becus sebagai suami.
"Maaf, maaf, maafin aku, maaf karna aku gak bisa jadi suami yang baik. Maaf, aku terlalu ceroboh dan bod0h, maafin aku sayang," ujar Radith yang membuat Lira menjadi kasihan, dia meminta Radith untuk duduk di sebelahnya, namun Radith tidak mau.
Lelaki itu menceritakan apa yang terjadi satu hari ini, semua fakta tanpa ditutupi sama sekali, dia tidak bisa membohongi Lira, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap terbuka terhadap apapun. Dia bisa melihat raut wajah Lira yang tampak sangat kecewa meski tidak mengatakan apa apa.
"Semua sudah terjadi. Bukan wewenang aku untuk marah karna kejadiannya saat aku ada di Aussie dan kamu belum sama aku. Tapi aku harap kamu bisa bertanggung jawab seperti lelaki sejati. Aku akan bebaskan kamu untuk melakukan apapun, bahkan jika aku dan Sean yang pergi, aku akan rela."
"Gak, gak akan pernah aku biarkan kamu dan Sean pergi. Aku akan selesaikan semua tanpa mengorbankan hubungan kita. Tapi aku mohon ke kamu, tahan sedikit rasa sakitnya, yah? Aku benar benar butuh kamu di saat sepergi ini, aku benar benar bingung, jatuh dan frustasi, aku butuh kamu Ra."
__ADS_1
"Iya, aku ada di sini, aku gak akan kemana mana, aku akan pergi kalau kamu minta aku buat pergi. Tapi kalau kamu gak mau aku pergi, aku akan tetap ada di sini, selagi kamu masih bisa aku percaya dan aku pegang, aku gak akan pergi kemana mana, aku cinta sama kamu Dith."
"Terima kasih banyak sudah mau menjadi cahaya di tengah gelapku saat ini Ra. Maaf belum bisa menepati janjiku, tapi tunggu aku ya, aku akan kembalikan semua pada tempatnya dan tetap mencintai kamu sampai habis napasku," ujar Radith yang mencium puncak kepala Lira dengan hangat.