Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 86


__ADS_3

Radith pergi ke Jakarta setelah berpamitan. Dia mencari semua tempat, namun masih tak bisa menemukan Zia. Andre yang selalu ada di sampingnya pun mulai lelah dengan semua inim apalagi kondisinya yang belum pulih betul membuat tubuhnya merasa sakit dimana mana. Radith pun menjadi kasihan dan tidak enak pada Andre yang memang seharusnya masih pemulihan.


"Ndre, lo pulang aja ke Bali, istriahat sampai lo benar benar pulih, gue tahu kok ini pasti lebih berat rasanya karna lo sakit. Apalagi udah berhari hari kita cari dan gak ketemu. Lo udah bisa temukan fakta Zia ada di kota ini pun gue udah berterima kasih ke lo, mungkin gue udah gak tahu harus kasih bonus atau hadiah apa ke lo untuk hal ini," ujar Radith yang membuat Andre menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak memikirkan hal itu, dia hanya ingin Zia lekas ditemukan dalam keadaan selamat.


"Gue gak butuh hadiah, lagian kalau bukan karna kebodohan gue, Zia gak mungkin hilang. Paling gak kalau Grace gak mati, dia bisa kasih tahu kita dimana Zia, tapi ini enggak dan itu salah gue," ujar Andre yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Radith. Jelas ini bukan salah Andre, Andre justru sangat membantunya kali ini, jika tak ada dia, Radith pasti sudah kesulitan.


"Gue udah tanya tuh preman dan dia itu udah dapat duit dari Grace atau Greselyn itu buat bawa Zia ke sini, dan mereka emang niatnya mau jual Zia, tapi si preman gak tahu kalau Grace mati, dia masih nunggu Grace nyampe ke Jakarta dan mereka bakal jual Zia," ujar Radith yang membuat Andre terkejut, dia tidak menyangka rupanya semua sudah bagian dari rencana Greselyn.


"Dia ketangkap sama kita itu bukan mau dia, dan dia bukan lagi misi bunuh diri biar Zia hilang. Enggak, dia itu mau balik ke mall dan ambil mobil sport gue, bakal dia jual gitu buat modal. Nah malah ketemu lah sama lo, dan akhirnya lo bikin dia tewas, coba kalau lo gak bikin dia tewas, pasti Zia udah dijual sekarang," ujar Radith yang tak Mau Andre terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia tak mau Andre terbebani dengan hal yang tidak perlu, toh fokus mereka tidak ke dirinya.


"Zia mungkin jauh dari sana, tapi gak mungkin dia ke luar pulau. Anak umur 5 tahun bisa apa sih emangnya?" Tanya Radith yang diangguki oleh Andre, bisa saja Zia ada di emperan toko seperti pengemis karna sebelum kabur pun dia sudah didandani dan dipaksa menjadi pengemis dan pengamen, mereka bisa saja melewati Zia nakun tak sadar gadis kecil itu ada di sana.


"Ada kemungkinan gak dia datang ke desa di bawah kolong jembatan? Atau mungkin eum, dia dibawa satpol pp gitu? Menurut lo mungkin gak?" Tanya Andre yang meminta pendaoat Radith karna dia tiba tiba saja kepikiran hal itu dan memang bisa saja terjadi seperti itu. Radith tampak berpikir, sepertinya dia harus mengecek, namun tentu saja dia tak bisa turun langsung dan menunjukkan wajahnya ke mereka.


"Anak buah gue lagi di Bali semua, coba lo ajak satu aja anak buah lo, suruh dia buat ngecek ke kantor satpoll pp terdekat, terus juga disebar aja ke kantor kantornya. Gue udah capek banget jalan jalan ke sana kemari, kita balik ke hotel dulu ya, mandi, makan, terus gue mau nyari gereja terdekat, ini hari minggu, gue belum ke gereja," ujad Radith yang diangguki oleh Andre. Mereka segera kembali ke hotel untuk beristirahat dan membersihkan diri mereka.


"Lo mau ke gereja? Mending nanti sore aja lah, ini istirahat dulu. Lo baru nyampe ke Jakarta udah cuma taruh tas dan berangkat, ini lo istrihat dulu aja, kita tunggu apa yang ditemukan sama anak buah gue, pasti ada hal baik deh. Kita udah mulai ketemu titik terang, gak ada lama lama lagi buat ketemu sama dia."


"Semoga. Karna bisa aja kan dia takut, terus numpang mobil orang gitu sampai ke luar kota. Bisa mati gue kalau dia beneran begitu, makin kecil lagi kemungkianan gue bisa ketemu sama dia," ujar Radith yang membuat Andre ikut merasa sedih. Dia tidak mau Radith merasa sebersalah ini, apalagi sejak awal bukan dia yang membuat Zia mengalami hal ini.


"Anak umur 6 tahun Ndre, dia harus mengalami semua hal pahit yang gue yakin banget itu buat dia trauma. Gue gak mau dia terus terusan menyimpan rasa trauma itu Ndre," ujar Radith« frustasi. Dia sudah sangat lelah, dia juga sudah tidak sanggup jika harus berpindah kota untuk mencari Zia lagi. Namun jika dia tidak melakukannya, bisa saja malah dia tak bisa bertemu anaknya lagi.

__ADS_1


Masih menidurkan dirinya di kasur, dia mendapat panggilan dari Lira. Dia tak mau Lira dan Sean melihatnya yang sedang frustasi. Dia segera mengubah air mukanya baru menjawab panggilan itu. Rupanya Lira tidak sedang berada di rumah, dia menggandeng Sean dan koper miliknya dengan satu tangan, satu tangan lagi memegang ponsel. Radith tentu bingung kemana istrinya pergi di saat seperti ini?


"Coba dong tebak, aku mau kemana ini? Lagi dimana juga. Ini tempat yang sering kamu datangi kok," tanya Lira yang membuat Radith tertarik untuk menebak, dia menebak banyak tempat wisata yang sering dia kunjungi di Bali, namun semua salah dan Lira tidak pergi ke sana. Radith akhirnya menyerah dan meminta Lira untuk memberitahunya. Lira mengangguk puas dan menunjukkan sekeliling dengan kamera belakang.


"Bandara? Itu.. itu bandara Soetta kan? Kamu lagi di Jakarta? Kamu? Kamu sama Sean ke Jakarta?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira setelah dia kembali ke kamera depan. Radith tampak senang, namun tampak khawatir dengan keadaan anaknya, karna ini belum waktunya liburan, namun Lira dan Sean malah harus menyusulnya ke sini, dia juga tak tahu berapa lama akan menemukan Zia di sini.


"Aku udah ijin ke gurunya buat sekolah online sekaligus pakai guru privat dan selolahnya bolehin, yah aku juga agak memelas gitu sih biar bisa diijinkan. Mumpung Sean masih kelas 1, jadi gak papa sama gurunya kalau mau privat. Yang jelas tugas, ulangan sama ujian nanti Sean bisa ngerjain. Nah, ujiannya masih seminggu lagi, aku udah minta guru privat sama Alex jadi nanti pasti lancar lancar aja deh."


"Aku gak setuju kalau kamu ajak Sean untuk susah begini sebenarnya, tapi ngelihat sebesar itu rasa sayang kamu buat aku, kau jadi terharu. Kamu tunggu ya, aku jemput kamu ke sana. Jangan kemana mana," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Lira dan Sean menunggu di bagian kafetaria untuk makan cemilan sambil menunggu agar tak bosan atau kelaparan.


"Sean, mau makan roti? Atau donat? Atau mau yang asin asin?" Tanya Lira yang membuat Sean antusias. Dia melihat ke arah meja dan etalase, lalu memilih beberapa makanan yang tampak lezat di matanya. Sean senang dengan makanan yang ada di tangannya. Dia segera melahap makanan itu dengan nikmat, membuat Lira juga ikut senang karna Sean masih mau makan dejgan lahap setelah dia memaksa Sean untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan belajarnya.


"Apa Sean harus pindah sekolah lagi Mi? Sean sudah mendapat teman di sana, Sean gak mau kalau harus pindah sekolah lagi, Sean nanti tidak punya teman," ujar Sean yang tentu membuat Lira tersentil. Dia selalu mengorbankan Sean untuk semua masalah yang dia hadapi, dan kali ini Sean sampai protes, yang artinya semua sudah berlebihan bagi Sean dan dia mulai tidak suka dengan keputusan Lira meski dia tetap mengikutinya karna tak ada pilihan lain.


"Mami, kita ke sini untuk Zia kan? Kalau Zia ketemu dan Sean gak bawa hadiah, nanti dia marah sama Sean bagaimana?" Tanya anak itu yang membuat Lira tersenyum, mungkin jika mereka membeli sekarang, akan terbuang karna Zia belum tentu ditemukan hari ini.


"Eum, kalau nanti kita ketemu sama Zia, kita bakal makan makanan yang enak biar dia gak marah karna Sean makan donat. Kita nanti makan Pizza atau ayam yang enak, atau mau steak atau apapun yang Sean dan Zia mau, oke?" Tanya Lira yang diangguki oleh Sean. Mereka melihat Radith yang berjalan mencari keberadaan mereka. Lira langsung menelponnya dan memintanya pergi ke arah mereka.


"Kalau gak ada kalian, Papa gak tahu mau gimana lagi, cuma kalian yang bisa menguatkan papa, cuma kalian yang bisa membuat papa bertahan. Terima kasih ya, terima kasih sudah Mau ke sini dan kasih kekuatan buat Papa," ujar Radith yang memeluk Sean. Sean tak mengerti dan masih sibuk dengan donat coklat di hadapannya, jadi sia tidak begitu mendengar Radith.


Mereka segera pergi ke hotel dan Radith memesan satu kamar lagi untuk Lira dan Sean, mungkin dia akan ikut tidur bersama mereka saat malam nanti, namun dia malas untuk memindahkan barang barangnya, jadi dia akan tetap membiarkan barang barang itu ada di kamar Andre. Mereka bertemu kangen untuk beberapa saat, lelah dan frustasi yang dirasakan Radith langsung hilang seketika.

__ADS_1


"Aku di sini satu malam aja ya, aku ke rumah Alex aja, sayang uangnya juga. Lagian guru private Sean juga nanti ada di sana kan," usul Lira yang diiyakan saja oleh Radith, setidaknya mereka masih sangat mudah untuk bertemu, atau bahkan dia dan Andre juga bisa tidur di sana. Dan pengawal mereka memakai tenda atau mencari rumah penginapan terdekat untuk beristirahat.


"Kalian istirahat dulu aja, habis ini kan aku mau ke gereja rencananya sama Andre, kita ke Gereja bersama aja ya, sekalian berdoa semoga Zia bisa ketemu dalam waktu dekat, karna ini kan paling gak Sean cuma bisa ke siji selama 4 hari kan? Minggu depan dia ada ujian, dia juga butuh kisi kisi sama bantuan dari gurunya," ujar Radith yang disetujui oleh Lira.


"Aku juga rencananya gitu, aku ngerasa janggal pas di rumah, feeling aku gak enak gitu, jadi aku susulin kamu ke sini, takut kamu kenapa napa, karna di bayangan aku kamu suram banget, aku takut aja kamu frustasi atau bagaimana," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu menceritakan semua informasi yang dia dapat, mereka bercerita banyak sampai tak sadar waktu sudah dekat untik beribadah.


Mereka segera mandi dan berganti pakaian, lalu pergi menuju gereja terdekat untuk beribadah. Mereka mengikuti doa dan ibadah dengan baik, kusyuk, apalagi karna ada doa khusus di hati mereka, mereka berharap Zia bisa ditemukan, yah, hanya itu harapan mereka dalam waktu dekat ini.


Setelah selesai, Mereka ingin bergegas untuk pulang, namun mata Sean tampak menyipit saat berada di luar, dia langsung menunjuk sambil berlari, membuat Radith, Lira dan Andre ikut berjalan menyusul Sean yang sepertinya sangat tertarik dengan sesuatu yang dia lihat.


"Zia!" Panggil Sean yang membuat Radith melotot. Dia berlari keras untuk menyusul Sean dan bahkan mendahuluinya. Dia bisa melihat anak perempuan yang berdiri tak jauh dari dirinya. Anak itu ada di pinggir jalan dan tampak sedang membawa bungkusan. Radith langsung berlari ke anak itu dan menahannya.


"Papa Radith?" Tanya anak itu yang langsung membuat kaki Radith lemas. Dia menangis sejadi jadinya sambil memeluk Zia meski itu di pinggir jalan, dia tak peduli dan memeluk anak yang selama ini dia cari dengan frustasi, dia bisa menemukannya di sini, di saat yang bahkan tak terduga.


"Zia mana yang sakit sayang? Kasih tahu papa mana yang sakit?" Tanya Radith mengecek kondisi tubuh yang sudah sangat kumal itu. Zia mendapat banyak luka di tubuhnya, membuat Radith makin merasa teriris dan memeluknya semakin erat. Radith sangat lega menemukan Zia dalam kondisi hidup meski memprihatinkan, paling tidak dia bisa membuat Zia sembuh seperti sedia kala.


"Mami Lira, Sean," lirih Zia saat melihat Sean dan Lira berjalan pelan. Lira langsung berlari dan berjongkok, memeluk Zia dengan erat meski dia memakai baju putih dan lumpur, debu yang menempel di tubuh Zia sebagian pindah ke tubuhnya, dia tak peduli, dia sangat senang karna Zia akhirnya bisa ditemukan.


"Kita pulang ke hotel dulu, Zia biar mandi dan makan dulu, terus kita bawa ke dokter," ajak Lira karna Radith merasa Blank. Mereka segera kembali ke hotel seperti permintaan Lira.


Radith masih tak henti menangis bahagia, berkat Sean, dia bisa menemukan Zia pada akhirnya, ah tidak, berkat Tuhan. Karna jika dia tidak beribadah di sini, dia tidak akan bertemu dengan Lira.

__ADS_1


"Rencana Tuhan sungguh ajaib, waktu dan moment yang Tuhan beri tak pernah salah atau meleset," lirih Radith yang tak henti bersyukur atas apa yang dia dapat hari ini.


__ADS_2