
Pagi menyapa, Radith sudah selesai mandi dan melihat tidak ada apa apa di kasurnya. Dia mencari keberadaan Lira, namun istrinya tidak ada, jadi dia terpaksa mengambil bajunya sendiri. Radith membuka lemari dan melihat satu set baju, celana, jas bahkan dasi sudah ada di sana, digantung dengan rapi. Lelaki itu tersenyum dan mengambil satu set itu lalu memakainya.
Ah, Lira pasti sibuk karna Zia dan Sean akan berangkat sekolah pagi ini, keduanya pasti merepotkan, Lira harus menyiapkan dua sarapan, dua pakaian, dua sepatu, dua bekal, dua kali kerja, pasti dua kali lebih sibuk. Tapi Radith bahkan tidak bisa membantunya. Lelaki itu sedikit merasa bersalah, yah, hanya sedikit, karna dia lebih menikmati tidur nyenyak dan mandi yang tenang menyegarkan.
"Zia, ini bekal buat Zia ya, nanti Zia gak usah jajan di kantin yah, takutnya gak sehat, ini Mami udah bawakan makanan yang enak, nanti makan ini aja ya kayak kemarin. Ini juga ada buat Sean, kalian baik baik ya di sekolah," ujar Lira yang memasukkan bekal ke dalam tas sekolah anak anak sementara anak anaknya memakai kaos kaki.
"Selamat pagi anak istriku, selamat pagi anak anakku, kalian tampak mempesona semua. Sean, Zia, udah sarapan kah kalian?" Tanya Radith yang dijawab anggukan kepala oleh mereka berdua. Sean dan Zia sudah duduk di sofa dengan tenang, menunggu Radith selesai sarapan barulah mereka berangkat bersama. Lelaki itu memeluk Lira dan memberi kecupan selamat pagi, hal yang biasa dan wajib dia lakukan. Dia duduk di meja makan bersama Lira, namun istrinya tampak kelelahan, dia malah merasa jadi suami yang buruk.
"Besok aku bawa suster aja ya buat mereka. Paling gak ya urus persiapan mereka sehari hari, aku gak tega lihat kamu kayak gini loh, baru sehari sayang, kalau sebulan, apa gak jadi nenek nenek kamu kecapekan banget tiap harinya. Nanti kalau kamu gak cocok sama susternya, kita ganti kayak yang kamu mau, gitu aja gimana?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Dia tidak mau berlagak seperti super mom di saat dia tahu dia akan kewalahan.
"Tumben langsung nurut, capek banget ya pasti. Aduh sayangku, semangat ya, nanti kita tambah satu lagi yang baby biar jadi penyemangat dan penyegar buat kamu, yah?" Tawar Radith yang membuat Lira mengangkat kepalanya dengan wajah marah. Radith tidak mengerti kenapa Lira menatapnya seperti itu. Apakah dia melakukan kesalahan? Lira tampak sangat marah dengan pernyataannya.
"Kamu bilang penyegaran, enak, lucu karna kamu ketemu Sean dan Zia pas mereka udah besar. Kamu kan gak tahu aku gak pernah bisa tidur nyenyak sejak Sean masih bayi, sampai sebesar itu baru dia ketemu kamu. Enak banget kalau ngomong punya anak punya anak. Kalau nanti aku gak benar ngurus mereka, kasihan dong mereka, aku juga jadi punya dosa besar karna gak rawat anak itu dengan baik.
"Ya maaf lah, aku kan gak tahu, iya, kita bakal punya anak kalau kamu mau kita punya anak. Aku gak akan maksa kamu, aku mau kita bahagia, kalau kamu bahagia dengan punya anak dua, ya udah, kita punya anak dua aja. Tapi kalau kamu mau, yah, aku siap aja pokoknya buat kasih bahannya," ujar Radith yang membuat Lira memutar bola matanya.
"Buruan makannya, kasihan anak anak kalau berangkatnya telat. Nanti setelah antar Zia, kamu antar Seannya sampai ke dalam kelas loh, karna dia kan baru masuk, kasihan kalau bingung. Kayaknya harus ke TU atau Kepseknya dulu, gak tahu deh, kamu nanti ke sana aja pokoknya," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu makan dengan lahap, walau hanya nasi goreng telur, karna Lira yang membuat, rasanya jadi enak.
"Menurut kamu, kita pakai suster atau pembantu aja Ra? Alau pembantu kan bisa bantuin kerjaan rumah juga. Kalau suster kan fokus ke anak anak aja, menurut kamu lebih enak mana?" Tanya Radith yang sudah menelan makanan di mulutnya, lalu kembali memasukkan sesendok lagi sambil menunggu jawaban dari Lira. Lira tampak berpikir sejenak, lalu dia mendekat ke arah Radith.
"Dua duanya boleh? Kalau ada pembantu sama suster, kan mereka bisa fokus sama kerjaan masing masing. Suster fokus sama anak, pembantu fokus sama rumah. Nah, aku fokus menyejahterakan diri," ujar Lira menaikkan kedua alisnya dan menggoda Radith. Dia ingin bergurau, namun sepertinya Radith menganggap serius perkataannya dan tampak berpikir.
__ADS_1
"Oke, besok kita sewa 2 pembantu sama 2 suster. Tapi kamu ikut aku ya ke kantor. Kalau dulu kamu jadi sekretaris aku, sekarang kamu jadi penyemangat aku. Mau kan? Nanti kan kamu juga bisa ikut antar jemput anak anak juga. Daripada kamu di sini, pasti bosen, mending ikut aku, toh di ruang kerja aku ada semua yang kamu butuh juga," ujar Radith yang membuat Lira melongo, namun dia juga berpikir itu ide yang bagus, dia sekalian bisa memastikan Radith tidak bermain api di luar sana.
"Ya udah, mau aja aku. Yang penting anak anak sejahtera. Udah, gak usah dibahas sekarang, kamu buruan loh makannya, kasihan tuh mereka udah nunggu," ujar Lira yang membuat Radith menengok. Dia tidak merasa Sean dan Zia keberatan karna anak anaknya sudah melihat ke layar Ipad milik Sean. Jadi jika Radith selesai 2 jam kemudian pun rasanya tidak jadi masalah. Namun karna Lira akan terus mengomel, dia akhirnya makan dengan cepat dan mencuci piringnya di wastafel.
"Aku berangkat dulu ya, nanti di kantor aku coba nyari deh di agen, atau kamu yang nyari biar sesuai sama keinginan kamu, nanti telpon aku aja, oke, aku berangkat," ujar Radith yang mencium bibir Lira singkat, lalu keningnya. Radith mengambil ponselnya dan berjalan ke arah Zia dan Sean yang tampak bosan, namun masih fokus pada tontonan itu.
"Aku kita berangkat, nanti kalian terlambat," ujar Radith yang diangguki oleh keduanya. Mereka berlari kecil ke arah Lira untuk berpamitan. Lira mengecup dahi mereka dan memberikan tanda salib di dahinya, hal yang ingin dia biasakan agar anak anaknya selalu dilindungi dan diberkati oleh Tuhan. Sean dan Zia tidak keberatan melakukan hal itu, mereka malah senang karna Ibu mereka memberikan berkat untuk mereka.
Setelah selesai berpamitan, Sean, Zia dan Radith masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari sana. Lira melihat kondisi rumah yang sudah rapi, dia juga melihat ke arah kamar Sean dan Zia, keduanya rapi. Entah kenapa dia sangat bersyukur karna Sean dan Zia anak yang tenang, tidak suka membuat ribut atau berantakan. Dia tidak membayangkan jika Sean dan Zia tipe anak yang sebaliknya. Mungkin dia akan meledak dalam waktu dekat.
Sementara itu di jalan, Sean dan Zia tampak bermain bersama, entah apa yang mereka mainkan, Radith tidak tahu. Mereka kemudian bernyanyi mengikuti lagu yang diputar oleh Papa mereka, tak terasa sudah sampai di depan sekolah Zia. Anak itu merapikan barang barangnya dan hendak turun namun Radith mencegahnya untuk turun.
"Anak papa yang cantik, belajar yang rajin dan dapat ilmu yang berguna hari ini ya, berkat papa menyertaimu. Nanti pulang kamu tunggu papa ya, jangan mau diajak sama siapapun, pokoknya tunggu papa buat datang, oke?" Zia menganggukkan kepalanya dengan senyun di wajahnya. Dia merasa bahagia akhirnya bisa merasakan hidup seperti teman temannya, bahkan jauh lebih baik. Dia juga bisa bersekolah di tempat yang bagus dan bahkan di antar jemput setiap harinya.
Radith melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Zia, mengucapkan terima kasih pada kepala sekolah dan pergi dari sana. Ada banyak pekerjaan menumpuk, dan sebenarnya dia bisa saja meminta orang untuk melakukannya, namun dia dan Lira sudah sepakat akan membuat Sean dan Zia merasa beruntung tumbuh di keluarga ini. Dia ingin Sean dan Zia merasa tumbuh dengan kasuh sayang penuh orang tuanya, jadi selagi dia bisa, dia akan mengantar Zia dan Sean seperti ini setiap hari.
Hari yang padat, mereka sudah sibuk dengan kegiatan masing masing, Radith mengecek ponselnya sesekali, dan melihat Lira sudah menemukan 4 orang yang akan bekerja untuk mereka, membantu mereka mengurus rumah dan keperluan anak anak. Radith melihat ke arah jam dinding. Satu jam lagi Sean pulang dan Dua jam lagi Zia yang pulang. Dia akan pergi dari sini setengah jam lagi, agar tidak terlalu lama menuggu di sana.
Sementara itu, di depan sekolah Zia, sudah berdiri wanita yang memakai kacamata hitam, serta pakaian yang tertutup. Wanita itu memakai mobil keluarga yang kecil dan cukup murah. Yah, seperti yang kalian tebak, dia adalah saudara kembar Gracia, sepertinya dia belum menyerah untuk membuat keluarga Radith menderita.
Wanita itu masuk ke dalam sekolah itu dan meminta ijin pada gurunya untuk membawa Zia pulang lebih awal dengan alasan keperluan keluarga. Pihak sekolah tentu tak langsung mengijinkan dan memanggil Zia, memastikan Zia kenal dengan orang yang terbilang aneh ini, seperti maling yang mengendap endap.
__ADS_1
"Zia, ayo nak ikut Mama, kita harus pergi ke suatu tempat. Ini kan jam terakhir Zia, mama udah ijin ke bu guru, jadi kita boleh pergi," ujar Greselyn saat Zia masuk ke ruang guru. Zia tersenyum girang dan memeluk Greselyn, bagaimanapun, di mata dan benak Zia, Greselyn adalah Ibunya, Ibu kandung yang dia sayangi. Yah, dia belum cukup umur untuk tahu yang sebenarnya terjadi.
"Iya Ma, Bu guru, ini Mama Zia. Zia boleh kan ijin pergi sama Mama?" Tanya anak itu yang membuat Guru tersebut tersenyum dan mengangguk. Zia segera kembali ke kelas bersama guru itu, meminta ijin pada guru yang sedang mengajar dan membawa tasnya untuk pergi bersama Mamanya. Dia ingat pesan Radith untuk menunggu lelaki itu sampai datang. Tapi tidak termasuk Mamanya kan? Zia sangat mengenal Mamanya, tidak mungkin Mamanya berbuat jahat.
"Terima kasih sudah diijinkan untuk pulang lebih awal Bu, kami permisi dulu," ujar Greselyn dengan ramah dan menggandeng Zia untuk pergi dari sana. Greselyn sengaja masuk ke parkiran dan tidak menimbulkan kecurigaan. Dia tahu orang orang Radith sudah kehilangan jejaknya sejak dia pergi menjual mobilnya dan membeli mobil baru, lalu meninggalkannya di sebuah parkiran dan menyewa mobil lain. Ah, seniat dan Sematang itu rencananya.
Setelah Greselyn dan Zia pergi dari sana, Radith dan Sean sudah sampai di gerbang sekolah anak itu tanpa rasa was was sama sekali. Radith melihat bapak tua yang menjual telur gulung, ah, dia sangat rindu rasa makanan yang tak sehat namun nikmat itu. Jadilah dia membeli semua stock yang bapak itu punya untuknya, Sean dan pengawal yang mengikutinya.
"Sean jangan ngomong apa apa ke Mami ya, nanti malah dimarahin sama Mami, ini Papa lagi pengen banget jajan, Sean coba aja, pasti Sean juga suka deh," ujar Radith yang diangguki oleh Sean karna anak itu sama sekali tidak pernah makan makanan yang tak sehat seperti itu. Dia ingin mencoba makanan yang kata Radith lezat.
Mereka menunggu cukup lama dan bahkan membeli beberapa camilan lain, sampai akhirnya teman teman Zia sudah keluar, Radith menunggu di depan mobil, namun Zia tidak kunjung keluar, bahkan sampai sekolah itu cukup sepi. Radith memintq ijin pada security untuk mengecek putrinya, barangkali masih ada tugas kelompok atau semacamnya.
Namun ternyata sudah tidak ada orang di sana. Radith cukup panik dan mencari kemana mana, dia bertanya pada guru, dan ternyata dia mendapat info dari guru jika Zia oulang lebih awal dengan ibunya, mereka memberikan ijin karna Iza tampak akrab dengan orang itu, bahkan Zia sendiri memanggil orang itu dengan sebutan Mama, jadi mereka tidak mencegah sama sekali.
Lelaki itu langsung terdiam, dia menghembuskan napas berkali kali agar tidak panik, dia lalu pamit pada guru di sana agar tidak menimbulkan kepanikan, namun setelah keluar dari sekolah, dia langsung mengambil ponselnya, menelpon orang yang bertanggung jawab pada Greselyn.
"Kalian dimana? gimana kerjanya sampai Greselyn bisa lolos dan bahkan membawa Zia pergi dari sini? Kalian mau mati? Apa kalian sudsh bosan hidup?" Tanya Radith yang tentu membuat orang orangnya menjadi panik.
Rupanya mereka memang mengikuti Greselyn kemanapun, seperti yang sudah seharusnya, namun dia sangat licik, dia masuk ke toilet yang membuat orang orang itu tak bisa mengikutinya, lalu Greselyn mengganti baju dan keluar dari sana tanpa ketahuan, bahkan meninggalkan mobilnya di sana.
Radith tidak mengira Greselyn sepintar itu, dia bahkan tidak bisa menyalahkan orang orangnya, dia hanya merasa kesal karna bisa dibohongi oleh Greselyn, lebih buruk, dia harus menemukan Zia secepatnya karna anak itu akan berada dalam bahaya jika tidak segera ditemukan.
__ADS_1
"Sialan! Gue gak akan kasih ampun kali ini!" Desis Radith pada dirinya sendiri.