Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 91


__ADS_3

Radith menunggu telpon dari timnya karna Andre sedang mengambil libur panjang, dia tak bisa meminta atau menganggu anak itu, apalagi setelah anak itu mengalami banyak hal untuk membantunya. Sementara, anak buahnya yang lain tidak secepat dan sekompeten Andre dalam menjalankan apa yang dia minta. Radith masih menunggu dengan tak sabar, dia bahkan tak bisa tidur nyenyak tadi malam.


Di samping Radith masih ada Lira yang tidur dengan nyaman. Melihat Lira, Radith jadi semakin merasa bersalah. Jika Lira tak mengenalnya, jika mereka tidak bertemu dan jika Lira tidak melamar ke perusahaannya, dia tidak akan membuat gadis yang dulu sangat cerah dan pintar jadi seperti itu. Radith harus mengambil masa muda Lira yang nahagia dengan bekerja tak masuk akal, mengirim gadis itu ke Korea hanya demi Luna.


“Ra, kalau lo nolak buat jadi asisten gue, lo nolak buat gue minta lo jagain Luna. Lo nolak dan langsung pergi, mungkin sekarang masa depan lo masih tetap cerah. Maaf ya karna gue udah ambil semua hal bagus yang ada di hidup lo, malah gue kasih tahun tahun penyiksaan tak bertanggung jawab,” ujar Radith pelan sambil mengelus-elus kepala Lira. Dia sangat mencintai wanita yang ada di sampingnya saat ini.


Rupanya Lira nyaman dengan perlakuan Radith, membuat lelaki itu terkekeh dan mengelus Lira dengan lebih intens, membuat wanita itu tersenyum di sela sela tidurnya. Ekspresi itu saja sudah membuat Radith sedikit lega dan tidak sebegitu over thinking dengan apa yang terjadi. Dia tahu Lira sangat mencintainya dan akan memaafkan semua yang dia lakukan meski wanita itu juga merasakan sakitnya.


"Aku bahagia ketemu kamu. Dan aku bersyukur ketemunya kamu. Aku gak akan pernah bosen bilang itu ke kamu Ra, aku sayang sama kamu, kamu juga jangan bosen buat sayang ke aku ya, aku gak mau kamu gak sayang sama aku. Aku perintahkan kamu buat sayang dan selalu cinta sama aku," ujar Radith yang langsung gemas dan mencium hidung Lira. Membuat wanita itu terusik sampai membuka kedua matanya.


"Kenapa sih? Belum pagi loh Dith, kamu gak tidur? Gak capek?" Tanya Lira yang langsung mengucek matanya dan melihat Radith yang masih segar. Tampak lelaki itu belum tidur, karna biasanya jika Radith tidur, dia akan sangat nyenyak sampai pagi. Pasti ada yang dia pikirkan sampai tidak bisa tidur seperti ini, dan tentu saja Lira tahu apa yang lelaki itu pikirkan, namun Lira tak bisa membantu dengan hal itu.


"Gak usah, gak perlu kamu pikirkan apa yang jadi masalah aku. Aku mau kamu tenang aja, aku kan Radith, aku bisa selesaikan semua buat kamu dan Sean. Ah, sama Zia juga. Sama Seanwati juga ini," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu sudah bangun dan tidak bisa tidur lagi, jadi dia menyenderkan kepalanya di senderan kasur, lalu menidurkan kepala Radith di bantal yang ada di sebelahnya. Lira merangkul Radith dan menepuk pelan pundak lelaki itu.


"Kamu sudah lakukan yang terbaik, kamu selalu lakukan yang terbaik. Biarkan dirimu istirahat, biarkan dunia menunggu. Aku ada buat kamu, aku gak akan biarkan kamu sendirian. Sekarang kamu tidur, dunia akan baik baik saja, aku yang janji hal itu ke kamu. Walau dunia hancur pun, duniaku sama kamu akan tetap baik baik saja. Karna apapun yang terjadi, aku tetap sama, kita, tetap sama. Jadi jangan merasa takut atau sendirian lagi," ujar Lira yang tak berhenti menepuk nepuk pundak lelaki itu.


Radith merasa sangat nyaman dan lelaki itu perlahan tertidur, di samping Lira yang masih setia menepuk nepuk pundaknya. Lelaki itu tertidur pulas dan tidak tahu sampai berapa lama Lira melakukan hal itu untuk menenangkannya. Dia sangat lelah, dan perkataan Lira seolah menjadi hipnotis baginya. Yah, biarkan dunia menunggu, dia harus istirahat, dunia akan baik baik saja meski dia beristirahat dua atau tiga jam tanpa memikirkan apapun.


Keesokan harinya. Lira sudah bangun dan menyiapkan teh hangat untuk suaminya. Dia sudah memakai baju yang rapi, karna dia akan mengantar anak anaknya untuk pergi ke sekolah. Tadi pagi, dia sudah meminta asistennya untuk mengantar seragam Zia dan Sean, serta buku buku mereka, sehingga mereka tak perlu pulang ke rumah untuk bersiap. Lira tak tega membangunkan Radith, jadi dia memilih untuk mengantar sendiri Zia dan Sean ke sekolah mereka.

__ADS_1


"Mami, Zia turun dulu ya, terima kasih sudah diantar," ujar Zia saat mereka sampai di sekolah gadis kecil itu. Lira mengangguk sambik tersenyum, tak lupa memberikan berkat di dahi Zia dan mendoakannya agar selalu selamat dan mendapat manfaat dari sekolah hari ini, dia juga meminta Zia untuk tidak ikut dengan siapapun sampai Lira sendiri yang menjemputnya di sekolah ini, bahkan jika Zia mengenal orang itu. Sebagai anak, Zia hanya menurut dengan apa yang diminta oleh Lira.


"Mi, kalau Sean yang dijemput sama orang sekalin mami, boleh kah? Atau Sean juga akan diculik seperti Zia sampai berhari hari?" Tanya Sean setelah mereka berangkat ke sekolah anak itu. Lira mengatakan hal yang sama seperti yang dia katakan pada Zia, bahwa Sean tidak boleh percaya siapapun selain dirinya dan Radith.


"Karna, orang yang kita kira baik itu belum tentu beneran baik nak, kamu lihat Zia kan? Dia diculik sama mamanya sendiri, sampai ke Jakarta dia keadaannya seperti itu. Kamu gak mau kan seperti Zia? Mami gak mau anak anak mami mengalami hal seperti itu, jadi kalian harus bantu mami untuk mewujudkannya. Kalian harus ingat, apapun yang mami dan Papa lakukan, semua itu untuk kalian," ujar Lira yang diangguki oleh Sean.


Sebenarnya Lira merasa bersalah karna sudah mengatakan banyak hal berat pada anak anaknya yang masih sangat muda, namun dia juga menyadari, dia harus melakukannya untuk melindungi mereka. Bahkan sejak Sean bayi, dia merasa hidupnya selalu diawasi dan terancam. Benar saja, saat Radith menemukannya, dia diculik dan langsung dibawa ke Amerika tanpa sepengetahuan siapapun. Untung saja Radith cerdas dan bisa menemukannya.


Hal itu tentu saja sangat mungkin akan terjadi pada Zia dan Sean dan Lira tak mau hal itu terjadi, jadi dia ingin memberikan edukasi pada anak anaknya mengenai hal ini, dia ingin meminimalisir kemungkinan yang akan terjadi. Karna saat berada di Amerika, hati kecil Lira sangat takut, dia takut akan tewas di tangan orang orang jahat itu, dan dia tak bisa melihat Sean lagi. Untung saja Dia bisa selamat dan baik baik saja, bisa bertemu dengan anak itu lagi.


"Sean ingat kata Mami ya, jangan membantah dulu untuk saat ini. Toh mami tidak akan membuat Sean merasa berat, jika apa yanh mami lakukan tidak sesuai dengan keinginan Sean, Sean harus bilang ke mami, jadi kita bisa diskusi dua sisi, mami mengerti Sean, Sean mengerti mami. Oke nak?" Tanya Lira yang diangguki oleh Sean.


"Ah, kok gue jadi pengen seblak ya? Hmm, waktunya mengkaryakan suami tercinta," ujar Lira saat suda turun dari mobil. Dia bergegas untuk baik ke lantai paling atas dan masuk ke kamar hotelnya, di sana sudah ada Radith yang duduk menunggu dia untuk kembali karna ternyata Lira lupa tidak membawa ponselnya. Dia memandang Radith dengan canggung dan penuh rasa bersalah, serta takut juga jika dimarahi oleh lelaki itu. Namun ternyata Radith hanya memeluknya dengan hangat.


"Kamu kalau mau kemana mana, bilang ke aku, bawa ponsel kamu, atau paling gak tinggalin note, aku khawatir. Kamu tahu kan belakangan ini keos banget keadaannya, aku gak mau kamu kenapa napa. Untung aja aku tadi cek kamar anak anak dan ada buku mereka di kasur, jadi aku tahu kalau mereka sekolah dan kemungkinan kamu yang antar. Kalau aku gak lihat buku itu, Bali bakal geger karna aku nyari kamu," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh.


"Maaf ya, aku gak kepikiran sama Ponsel tadi, fokusnya ke anak anak aja. Besok besok gak lagi deh bikin khawatir suami aku yang paling baik dan ganteng ini. Kasihan banget suami aku sampai khawatir. Maafin isti kamu ini ya, istri kamu gak sengaja kok melakukan itu, aku kan sayang sama kamu," ujar Lira yang malah membuat Radith jadi ngeri. Apa yang terjadi dengan wanita itu sampai menjadi genit seperti ini? Tidak seperti biasanya begitu.


"Eum, Seanwati lagi pengen seblak Dith. Makan seblak yuk, nyari yang enak," ujar Lira yang membuat Radith melongo. Apakah Lira bersungguh sungguh ingin makan itu? Di pulau ini? Memang ada yang jual? Radith bahkan tak pernah makan makanan yang bernama Seblak saat berada di Jakarta, apalagi saat berada di Bali, ingin tahu saja tidak.

__ADS_1


"Kalau kata orang orang, kalau lagi ngidam itu harus diturutin Dith, kalau gak diturutin nanti anaknya ngiler. Kamu mau Seanwati yang nanti cantik kayak aku malah jadi ngiler? Gak banget kan? Iya kan? Ya udah, ayo kita beli dan makan," ujar Lira yang tentu membuat Radith kalah, dia mengambil kunci mobil dari tangan Lira dan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar, dia mengunci pintu kamar itu dan bersiap untuk membeli benda bernama Seblak yang entah bagaimana rasanya.


"Kamu yakin anak kita yang pengen? Bukan ibunya? Karna aku aja gak pernah makan seblak seumur hidup aku, masak Seanwati pengen? Padahal dia kan bagian dari tubuh aku, sp3rma aku, harusnya dia mirip aku dong seleranya," ujar Radith yang membuat Lira melongo. Lelaki itu benar, jika dilihat dari sudut pandang itu, Seanwati seharusnya memiliki selera seperti Radith.


"Ya kan dia di perut aku. Makan juga apa yang aku makan kok, jadi ya dia tahu kalau aku suka makan seblak dan dia ngomong tadi kalau dia juga mau makan seblak itu, dia pengen mamanya kasih dia makan seblak," ujar Lira yang tentu saja hanya untuk membuat Radith menurutinya. Lelaki itu tertawa dan mengangguk saja, toh dia tahu jika anak yang ada di perut Lira tak akan sungguh sungguh meminta hal seperti itu, rasanya sangat tidak mungkin.


"Seanwati, kasihan ya kamu nak. Belum juga kamu 5 bulan di perut Mami, kamu udah kena fitnah ya nak? Padahal sih ya, kalau mamimu bilang mami yang mau, papa bakal belikan satu grobak se abang abangnya buat mami kamu, papa kan sayang betul sama Mami. Yah, tetnyata kamu yang pengen beli, ya udah, nanti beli yang gak pedas dan dikit aja ya nak, yang penting kamu merasakan," ujar Radith dengan santai sambil mengelus perut Lira.


"Nah, itulah nak, papamu tuh gitu, dia suka banget nyindir nyindir mami begitu. Kamu lihat kan? Padahal kamu belum lahir, tapi papamu gak mau belikan apa yang kamu mau. Aduh nak, kasihan ya kamu sayang. Kamu yang sabar aja ya nak di perut mami. Dah, kamu bakal mami kasih apapun yang kamu mau, paling gak selama 9 bulan ini," ujar Lira yang kembali membuat Radith tertawa, Lira memang menjadi sumber bahagia paling panas di hidupnya.


"Iya nak, kamu mau minta apaaaa aja, Papa bakal turutin, coba sini nak bilang, kamu mau apa?" Tanya Radith yang mendekatkan telinganya ke perut Lira. Lira hanya menunggu kekonyolan apa lagi yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Dia melihat Radith menangguk anggukkan kepalanya dan seperti berbisik ke perutnya. Padahal dia tahu bayi di perutnya pun masih belum bisa mendengar apa yang dia katakan.


"Apa nak? Ya jangan. Kamu jangan langsung minta mama baru gitu dong, kan Mami kamu masih baik banget sama kamu. Nah, kalau itu setuju, kamu minta papa buat melepas rindu ke mami kamu? Tapi kata mami nanti kamu kenapa napa? Kamu gak papa? Beneran?" Tanya Radith yang membuat Lira jengah dan menendang lelaki itu dengan lututnya pelan. Membuat Radith berhenti bergurau dan hanya tertawa menanggapi wanita itu.


Mereka segera pergi untuk mencari seseorang uang berjualan seblak di pulau ini, sepertinya sangat jarang, atau Radith yang tak pernah keluar untuk sekadar berburu kuliner kaki lima seperti ini? Radith selalu mencari kafe atau restoran, ini pertama kalinya dia mencari pedagang kaki lima di pulau ini.


"Dith, gak jadi pengen seblak, kata dedeknya pengen es krim aja," ujar Lira saat Radith sudah berkeliling mencari penjual itu. Radith berhenti di super market untuk membeli es krim, namun Lira menahan tangannya dan mengedipkan mata beberapa kali, tanda agar Radith menuruti apa yang dia inginkan.


"Pengennya es krim BR yang mahal Dith. Anak kamu nih, sukanya yang mahal mahal, gawat juga nih, kamu harus nabung banyak buat turutin dia," ujar Lira menunjuk ke perutnya.

__ADS_1


"Halaaah, Alibi. Ayo cari dan beli," ujar Radith meraup wajah Lira dengan gemas dan kembali masu ke mobil, diikuti Lira yang tak henti tertawa karna kelakuannya sendiri.


__ADS_2