Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 28


__ADS_3

Lira menghirup udara kota yang menyesakkan, sangat berbeda dari apa yang dia hirup selama ini. Gadis tu masuk ke dalam mobil yang disiapkan oleh dua orang Radith. Mereka segera pergi dari terminal dan langsung menuju apartemen milik Radith. Lira sangat gugup, dia takut Radith akan mengusirnya atau bahkan bertindak buruk kepadanya.


"Ini bukan arah partemen Radith, kalian mau bawa saya kemana?" tanya Lira dengan nada tinggi karna dua orang ini tampa tenang. Dia memiliki trauma dengan orang yang mebahayakan hidupnya, apakah mungkin dua orang ini juga berniat untuk membahayakan hidupnya? Apakah sebenarnya Radith baik – baik saja dan mereka hanya mengarang?


"Tenanglah nona, kami bukan orang jahat. Tuan Radith sudah tidak tinggal di apartemen biasanya sejak kasus Nona menemukan Karin. Dia takut Karin memasukkan kamera pengintai atau hal berbayaha lain di sana. Kami akan membawa nona ke apartemen tuan yang baru tapi mungkin jika jam segini tuan belum pulang, dia pulang lewat tengah malam."


"Lewat tengah malam? Dia lembur sampai jam segitu? Biasanya dia bakal nginap di Kantor kalau harus lembur sampai jam segitu," ujar Lira yang membuat dua orang itu menghela napasnya. Mereka jugaa berharap Radith melakukan lembur demi perusahaan, namun semua sudah berbuah, Radith sudah kehilangan dirinya bersama dengan Lira dan Luna yang pergi bersamaan.


"Seperti yang sudah saya katakan. Tuan Radith sama sekali tidak memikirkan tentang perusahaan. Setiap hari dia hanya menghamburkan uang, dan jika itu sudah lewat tengah malam, berarti tuan Radith sudah puas bersenang – senang bersama wanita – wanita penggoda itu di club malam. Mungkin Nona akan kaget jika melihat sendiri."


"Separah itu? dia tidak membunuh orang lain untuk kesenangannya kan?" tanya Lira yang membuat mereka menggelengkan kepalanya bahkan lebih buruk dari pada itu, dan Lira harus melihatnya sendiri kanr amungkin gadis itu tak akan percaya jika mereka yang mengatakannya. Lira menjadi takut dan was – was karna ekspresi mereka yang sangat serius.


Lira memasuki sebuah apartemen yang sebenarnya cukup besar, namun Lira langsung merasa mual karna bau ruangan itu tak karuan dan bahkan banyak sampah berserakan. Ah, Lira bisa masuk karna entah bagaimana sidik jarinya bisa digunakan di alat penjaga pintu. Mungkin Radith yang mendaftarkannya karna dia tahu Lira akan kembali.


"Ini rumah atau sarang burung sih? Demi apa pak Radith bisa sejorok ini," ujar Lira yang kemudian menutup pintu dan membereskan pakaian yang berserakan. Gadis itu mengambil keranjang untuk baju kotor dan memasukkan banyak baju berserakan di lantai. Namun gadis itu tertegun saat yang tersisa di sana adalah potongan kain segitiga rahasia.


"Eum, Gue ambil atau Gue tinggal? Eum, aduh, kenapa dia bisa ninggalin aset sembarangan di lantai sih? Kalau dimakan tikus gimana? Iih, haduh, Gue ambil aja deh, tenang Lira, itu Cuma kain, gak akan terjadi apa – apa, tenang," ujar Lira yang memungut kain itu dan memasukkannya ke keranjang dengan mata tertutup.

__ADS_1


Gadis itu melanjutkan aktivitasnya dengan merapikan sprei kasur yang sudah terjatuh di lantai dan membuang semua sisa makanan yang berserakan. Baru saja dia sampai ke kota ini, namun dia sudah melakukan hal yang tidak sesuai dengan pekerjaannya. Jika saja ini bukan Radith, dia tak akan sudi melakukan semua ini.


Lira mengakhiri aktivitasnya setelah dia menyemprotkan pengharum ruangan ke seluruh sisi dan sudut apartemen ini, dia segera menggulung rambutnya dan duduk di sofa dengan santai. Sekarang sudah pukul lima petang, seharusnya Radith sudah pulang, namun lelaki itu masih tak terlihat, mungkin memang lelaki itu pergi ke club malam.


Sementara itu Radith sudah duduk di kelilingi banyak wanita yang memang bekerja di tempat ini. Padahal malam masih awal, namun orang – orang ini sudah bersemangat dan menari bersama lelaki hidung belang yang ada di temoat ini meski masih tergolong sepi.


"Ah, sepertinya kau akan menjadi pelanggan tetap club ini. Bagaimana jika kita berkenalan dan aku akan menjadi teman tetapmu di tempat ini?" tanya seorang wanita cantik dengan dandanan yang cantik, tak menor sepeti kebanyakan orang yang ada di sini. Radith terkekeh dan menyodorkan gelasnya yang kosong. Wanita itu mengerti dan mengisi gelas Radith dengan wine terbaik yang mereka miliki.


"Kau masih muda, kenapa Kau ada di tempat seperti ini? apa kau tidak memiliki kekasih hingga kau menghabiskan uangmu untuk wanita cantik yang ada di sini?" tanya wanita itu yang membuat senyum di wajah Radith luntur, lelaki itu meneguk lagi cairan yang ada di gelasnya dan kemudian menunjuk hidung wanita itu.


"Aku tak membutuhkan kekasih. Untuk apa aku memiliki kekasih? Mereka hanya akan memanfaatkan dan meninggalkanku saat mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Kalian para wanita tak berguna, jadi aku hanya memerlukan kalian untuk bersenang senang,"' ujar Radith yang membuat wanita itu tersenyum penuh arti, dia kembali mengisi gelas Radith dengan wine yang tersisa.


"Kau ingin bersenang – senang denganku? Kau tahu, aku bukan orang sembarangan, jadi buat aku terkesan dan kau akan dapatkan apa yang kau inginkan," ujar Radith yang membuat wanita itu tersenyum senang. Wanita itu berjaan menjauh dan berdiri di tengah – tengah. Wanita itu mulai menarikan tarian yang liar, sangat liar.


Radith tak tersenyum sedikitpun, jujur saja, dia tak merasa terkesan sama sekali, malah cenderung jijik dengan cara wanita itu. namun Radith tak mau semua berhenti dengan cepat, dia akan memberi wanita itu sedikit kesempatan meski dia tak yakin wanita itu bisa membuat ada sedikit getaran di hatinya.


Radith memiringkan kepalany saat sesuatu dilempar oleh wanita itu. Radith tahu apa yang dilempar. Itu adalah benda yang menutupi sesuatu yang kembar, namun kenapa orang itu melemparkannya? Padahal asetnya terlihat besar jika mengenakan benda itu. Radith yang mulai bosan langsung berdiri dan hendak melangkahkan kakinya untuk pergi.

__ADS_1


"Tunggu, kenapa kau tidak habiskan minumanmu sebeum pergi? Ini adalah anggur terbaik, kau harus menghabiskannya sampai tak ada tetes yang tersisa," ujar lounge bar yang membuat Radith menghela napasnya dan kemudian menegak smeua sisa anggur yang ada di dalam botol dalam satu tegak. Dia langsung berdiri dan hendak pergi dari sana.


"Auw, maaf, aku gak sengaja." Radith menangkap seorang wnaita yang tiba – tiba terjatuh di hadapannya. Dia merasakan sesuatu menggesek miliknya, dan entah mengapa adik kecil itu tersinggung dan kini mulai marah. Radith merasakan hawa panas di seluruh tubuhnya dan bahkan dia harus menahan tangannya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


"Lo, Lo masukin apa di minuman Gue?" tanya Radith menunjuk orang yang memintanya untuk menghabiskan anggur itu. orang itu terkekeh dan mengangkat tangannya, sementara wanita yang ada di lengan Radith langsung melancarkan aksinya. Kepala Radith pusing, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya, namun dia tak bisa melakukannya pada wanita murah ini.


"Minggir!" perintah Radith yang langsung melempar wanita itu dan pergi dari tempat itu secepatnya. Radith masuk ke dalam mobil dan meminta supir membawanya pulang secepatnya. Dia harus mendinginkan kepalanya dengan berendam ke bathtube dan siraman shower yang menyegarkan. Lelaki itu terhuyung dan sudah membuka smeua kancing bajunya saat masuk ke dalam rumah.


Bertepatan dengan Radith yang masuk, Lira baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu memakai kaos oblong dan celana pendek, bahkan handuk masih ada di atas kepalanya. Dia kaget melihat kondisi Radith, reflek dia langsung berlari dan memegang Radith yang hendak jatuh. Radith menatap gadis itu dengan sayu.


"Luna, Luna, Gue sayang sama Lo. Gue bohong kalau Gue baik – baik aja. Rasanya ngeri Lun, perih banget. Tolong Gue Lun, panas," ujar Radith dengan random yang membuat Lira terdiam. Bahkan dalam posisi mabuk, lelaki itu hanya memikirkan tentang Luna, padahal dia sudah bersusah payah mengikis egonya untuk pergi ke kota ini.


"Lun, panas, bantu Gue, Gue, Gue butuh Lo. Panas." Lira langsung memelototkan matanya saat menyadari apa yang terjadi pada Radith. Lelaki itu langsung mengunci leher Lira dan mendorong gadis itu dengan semua tenaga yang dia punya. Lira terbentur di kasur krna Radith melemparkannya.


"Pak, sadar pak, saya Lira. Saya asisten Bpaak. Saya bukan luna. Bapak mau ngapain?" tanya Lira dengan takut. Dia hendak menyingkir, namun akhirnya Raith malah mengunci Lira dengan kedua tangannya. Gadis itu tak bisa bergerak, mata Radith tampak sangat sayu, Lira tak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa menangis untuk saat ini.


"Pak tolong, saya mohon Pak," ujar Lira dengan suara bergetar. Namun tampaknya Radith sudah tak sadar lagi. Dia menerkam Lira dalam kondisi mabuk dan pengaruh obat yang diberikan Lounge Bar itu. Lira tak diberi kesempatan bahkan untuk bernapas. Gadis itu hanya bisa menangis tanpa bisa mengatakan apapun.

__ADS_1


Malam yang dingin itu berakhir dengan panas dan berisik. Radith tak tahu apa yang dia lakukan, dia hanya mengikuti nalurinya sebagai manusia, sementara Lira sudah tak memiliki tenaga dan malah terhanyut dalam permainan Radith, mereka larut dalam permainan itu entah sampai berapa lama.


"Tuhan, maafkan Lira," ujar Lira di tengah permainan yang Radidth ciptakan.


__ADS_2