
Seorang pria turun dari pesawat dengan mengenakan kacamata hitam. Wajahnya sudah berubah dari sebelumnya, kini dia yakin tidak akan ada yang mengenali wajahnya untuk saat ini dan dia bisa memulai hidup yang baru dengan keluarganya kecilnya, dia menjalani berbagai pemeriksaan termasuk dengan paspor dan visanya. Setelah memastikan semua beres, dia segera pergi dari bandara ke suatu tempat yang sudah dia rencanakan untuk bertemu dengan seseorang.
Setelah sampai, dia melihat wajah yang dia cari dan langsung duduk di depan orang itu, orang itu tampak kaget dan terkagum dengan perubahan yang sangat identik yang dia lakukan. Dia benar benar mengambil identitas orang lain untuk dia pakai dan dia kembali ke Indonesia dengan wajah yang benar benar baru, namun suaranya masih sama, jadi sedikit lucu melihat orang berwajah bule dengan suara Indonesia.
“Terima kasih lo udah mau bantuin gue sampai kayak gini, lo orang yang benar benar baik. Kalau gue boleh minta tolong lagi, lo bisa gak bantu gue buat ketemu sama Nesya dan gue bisa kembali sama dia? Gue udah kangen banget sama dia,” ujar lelaki yang kita kenal dengan nama Roy itu. Radith mengangguk dan tentu saja dia bersedia untuk membantu Roy untuk bertemu dengan istrinya.
“Hari ini, sore ini, gue dan Lira bakal jalan jalan ke danau, sekalian mau jogging, gue udah minta Lira buat ngajak Nesya, jadi nanti ceritanya gue ajak teman dan Lira juga ajak teman, terus nanti lo ketemu sama Nesya secara tidak sengaja, kalian nanti bisa ngobrol dan ternyata cocok, terus kalian pacaran dan memutuskan untuk menikah. Gue yakin kalau tuan WIlkinson bakal merestui kalian,” ujar Radith yang diangguki oleh Roy.
“Gue masih gak ngerti kenapa dia sebegitu bencinya sama gue yang bahkan gak pernah ganggu, senggol atau kenal sama dia sebelumnya. Kalau bukan karena dia bapak dari istri gue, gue akan bunuh dia bagaimana pun caranya. Tapi gue masih menghormati dan gak mau cari masalah sama dia karena Nesya, eh malah ternyata dia mau bunuh gue gak peduli sama perasaan Nesya,” lirih Roy dengan geli.
Dia tahu tuan Wilkinson sudah keterlaluan padanya karena masalah ini, namun dia bahkan masih menghormati tuan WIlkinson karena Nesya masih jadi anaknya, dia memilih untuk menjadi orang lain dan menikah lagi dengan Nesya agar mendapat restu dan hidup damai bersama dengan istrinya, semoga saja tuan Wilkinson masih memiliki hati untuk bisa melihat Nesya bahagia.
“Lo udah punya tempat tinggal kah? Atau lo mau tinggal di homestay yang ada di sini?” tanya Radith penasaran. Roy memilih untuk tinggal di hotel atau homestay karena dia tidak berencana tinggal di Indonesia dengan Nesya. Dia tetap ingin tinggal di luar negeri karena Indonesia membawa kenangan buruk untuknya. Dia mengalami banyak hal buruk di negara ini, dia tidak ingin trauma itu membuatnya tertekan.
“Kalau lo tinggal di homestay, lo bisa cari yang di dekat rumah gue, jadi nanti lo gampang buat komunikasi sama gue, ceritanya lo teman gue yang lama di Indonesia, tapi lo udah balik ke luar negeri belakangan, terus lo balik lagi ke Indonesia, jadi lo mau tinggal di dekat rumah gue, oke kan?” tanya Radith yang diangguki oleh Roy, dia bisa melakukan apapun yang Radith inginkan, hanya untuk tujuannya tercapai.
“Gue cuma mau keluarga gue balik dan gue bisa hidup tenang, asli, hidup gue tuh dah tenang, udah bahagia sama Nesya, kenapa tiba tiba bapaknya peduli dan mau gue mati sih? Toh apapun yang gue kerjakan, gue gak pernah mengefek hal itu ke Nesya, apa yang gue lakukan gak pernah nyakitin Nesya, kenapa dia sebegitunya ya?” tanya Roy dengan heran, dia masih tidak mengerti kenapa tuan WIlkinson ingin membunuhnya.
“Gue gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi gue diminta buat bunuh lo karena lo itu bandar dan apa yang lo lakukan pasti berdampak ke Nesya, itu yang dia pikirkan. Mungkin saja kan lo banyak musuhnya dan itu bisa bikin bahaya buat Lira, atau bisa juga lo malah ngasih narkoba ke anak itu kan, yah gue tadinya mikir begitu juga, tapi setelah gue kenal kalian, pikiran gue berubah,” ujar Radith pelan.
“Gak masuk akal lo gak kenal sama orang itu tapi lo benci banget sama dia. Apalagi ini masalah nyawa, kayak nyawa gak ada harganya sama sekali buat dia. Gak paham lagi gue., dah lah yang penting setelah ini gue bisa ketemu sama istri gue, gue kangen banget sama dia,” ujar Roy yang tak ingin berlarut larut, dia ingin bertemu dengan Nesya dan mencurahkan rasa rindunya.
“Tapi lo harus tahu ya kalau lo gak bisa sembarangan. Lo gak bisa langsung peluk dia atau terang terangan, lo harus tahan diri buat sementara waktu, sampai nanti kalau kalian mau pacaran, lo harus bisa tahan itu semua,” ujar Radith yang diangguki lagi oleh Roy, dia bisa menahan semua hal yang menyakitkan, dia hanya butuh bertemu dengan istrinya.
Sore harinya, Radith pergi bersama dengan Lira sementara anak anak mereka ada di rumah agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, anak mereka akan aman dan tidak ikut terseret dalam masalah ini. Sebenarnya Radith pun tidak ingin melibatkan Lira, namun wanita itu mengotot ingin membantu karena alasan tertentu, namun dia bahkan tidak bisa mengatakannya pada Radith dan Radith mencoba mengerti hal itu.
__ADS_1
“Nesya sudah sampai di sana, Roy gimana? Eh nama dia siapa sekarang?” tanya Lira yang merapikan rambutnya agar lebih enak untuk dilihat.
“Reymond, susah ya, panggil aja Rey. Enak kan, Roy, Rey?” tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka melanjutkan perjalanan dengan hening, Radith yang di kepalanya berisi pertanyaan kenapa Lira memiliki alasan yang tidak bisa dikatakan padanya dan kenapa Lira tertarik dengan masalah pekerjaannya?
Setelah beberapa saat, Radith dan Lira akhirnya sampai di danau itu dan Lira langsung mencari dimana Nesya. Wanita itu duduk di sebuah kursi yang ada di sana dan langsung berdiri saat melihat Lira. Dia harus memasang wajah galaknya saat melihat wajah Radith karena tidak mungkin mereka berdamai begitu saja setelah
Roy atau mari mulai sekarang kita panggil dia Rey, dia melihat Radith dan Lira sudah ada di danau itu. Namun matanya tertuju pada seorang wanita yang sangat familiar untuknya. Dia sangat merindukan wanita itu, dia ingin berlari dan memeluknya, namun karena keadaan, dia harus menahannya dan harus mengikuti alur sesuai rencana mereka.
"Ah, itu Rey, dia teman dari luar negeri. Hai Rey, Come here, you can speak bahasa Right? Ini Nesya, dia teman Lira, my wife. I want you to know her," ujar Radith yang langsung ditatap sinis oleh Nesya. Dia tidak menatap ke arah Rey, dia malah menatap ke arah Lira dengan tatapan marah.
"Oke, pertama lo ajak gue jogging sore sore begini, masih panas begini. Terus kedua, lo ajak suami lo yang masih belum gue maafkan dan masih gue benci, dan ketiga, suami lo yang sialan ini bawa cowok yang mau dikenalin ke gue? Kalian gila atau gimana?" Gerutu Nesya yang mulai memerankan aktingnya sebagai wanita yang pemarah.
"Radith cuma basa basi aja mau ngenalin dia ke Lo nya. Itu dia temen Radith, dari luar negeri dan emang diajak buat jogging, bukan mau dijodohin sama Lo kok, mereka mau take time sendiri saja," ujar Lira yang merangkul Nesya dan langsung mengajak wanita itu berlari.
"Ah, gue capek, gue mau istirahat dulu, capek banget," ujar Lira yang langsung duduk di pinggir danau. Nesya tertawa melihat Lira yang sebenarnya masih berlari sedikit, namun sudah tepar seperti itu. Bahkan dia saja belum merasakan kelelahan seperti yang Lira rasakan. Mungkin karena dia rajin berolahraga dan bermain di pantai.
"Gue udah ngelahirin dua kali dan anak gue ada 3, wajar lah kalau gue udah gampang tepar. Emak emak anak 3 nih bos, kalau gue bisa lari satu keliling danau, malah horor dong jadinya," ujar Lira membela diri karena Nesya menertawakan dirinya. Dia tidak ingin Nesya menganggapnya lemah.
"Lah? Gue lagi hamil. Lagi hamil muda. Mama muda nih bos, tapi tenaga prima. Lo bayangin aja nanti kalau gue udah jadi Ibu anak 3, pasti jauh lebih strong, hahaha," ujar Nesya tanpa sengaja. Semua terdiam saat Nesya mengatakan hal itu, terutama Rey yang masih belum tahu soal hal ini. Melihat semua orang terdiam, Nesya akhirnya menyadari perkataannya.
"Bercanda, ah elah kalian semua kok serius amat. Mana mungkin gue hamil kalau suami gue udah tewas ya kan? Bercanda aja gue mah. Gue cuma gak mau kalah aja sama Lira, makanya gue nyeplos gitu," ujar Nesya yang langsung disambut tawa oleh Radith, dia tidak mau pengawal melihat gelagat aneh mereka.
"Lo mah kebiasaan tingkah nya sembarangan. Kalau ada orang yang dengar pasti salah paham. Gila lo ngaku ngaku hamil gak ada suaminya, hamil sama bule mana lo?" Celetuk Radith yang membuat Lira paham dan ikut tertawa. Mereka langsung mengalihkan pembicaraan ke hal lain agar tidak menimbulkan huru hara terutama pada Rey yang masih syok.
"Ah, Dith, beli minum yuk, kamu gak bawa minum kan tadi ke sini? Aku haus banget Dith, ayo beli minum kita," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Radith dan Lira berdiri, Nesya dan Rey hendak berdiri, namun mereka menahannya dan meminta Nesya dan Rey tetap duduk di sana.
__ADS_1
"Kalian di sini aja. Jaga tempat ini, adem banget soalnya, nanti gue sama Radith belikan aja deh kalian mau minum apa. Pokoknya kalian di sini aja dan jangan kemana mana, gue gak mau tempat ini ditempati oleh orang lain," ujar Lira yang langsung pergi sehingga Nesya tidak bisa mengatakan apapun.
"Tuh anak emang ya, ada ada aja, kenapa gak ikut aja coba? Mana dia gak dengar dulu gue mau minum apa. Huh, tempat sepi begini, siapa yang mau ambil?" Celoteh Nesya yang membuat Rey tertawa kecil, Nesya menengok dan menatap Rey bingung. Wanita itu benar benar bertindak seolah Rey adalah orang lain.
"Pardon me? Are you Laughing at me?" Tanya Nesya sinis. Rey mengangguk dan tersenyum, dia ingin bertindak sebagai bule yang murah senyum dan ramah karena sudah lama tinggal di Indonesia. Nesya masih terdiam dengan alis yang terangkat, lalu membuang mukanya.
Nesya memang sengaja membuang muka karena tidak tidak sanggup melihat Rey yang meski wajahnya sudah berbeda, dia merasakan kehangatan yang sama. Orang itu masih sama, suaminya yang lucu dan hangat, dia sangat mengenali lelaki itu, Radith tidak bohong, di sebelahnya ini memang Roy, suami yang sudah dia tunggu kehadirannya.
"Kamu beneran hamil? Aku tahu kamu gak bercanda pas bilang itu. Wajah dan nada bicara kamu spontan. Aku mau tahu aja, kamu beneran hamil?" Tanya Rey dengan hati hati. Nesya tidak menjawab, dia takut tubuhnya sudah ditempeli mic atau apa pun yang bisa membuat orang mendengar suaranya.
"Kita baru kenal, jadi kamu gak usah kayak udah kenal lama. Kamu siapa juga aku gak tahu, kenapa aku harus kasih tahu kamu? Gak penting banget," ketus Nesya seolah memberi tanda pada Roy untuk tidak terlalu dekat dengannya. Untung saja Roy langsung mengerti dan menjauh, dia menatap ke air danau yang tenang, tidak tahu seberapa dalam danau yang tenang dan menyejukkan ini.
"Yah, kan siapa tahu kamu memang hamil, saya akan bertanya siapa bapaknya. Karena di Indonesia ini pacaran tapi punya anak tidak biasa terjadi. Itu biasa terjadi di luar negeri, Bahkan banyak yang hanya berkencan sekali, namun sudah melakukannya, aku jadi penasaran apa kau juga sama saja?" Tanya Rey yang dijawab kekehan oleh Nesya.
"Yah, di luar negeri banyak orang yang ingin menikah dahulu, baru melakukannya, meski itu hanya minoritas, tapi ada. Sama seperti orang Indonesia, mereka juga ada hanya kencan sebentar lalu melakukan hubungan badan, meski tidak banyak," ujar Nesya dengan wajah yang tidak mau menatap ke Rey, dia lebih suka menatap ke arah danau.
"Sama saja kan? Ada mayoritas dan minoritas, dalam hal ini aku hal baiknya dan kau kebalikannya. Namun banyak juga hal lain yang bertentangan, karena kami menganut adat ketimuran, tentu jauh berbanding dengan kau yang kebaratan," jelasnya pada Roy.
"Yah, setiap orang memiliki baik buruknya masing masing, aku tidak peduli apa yang terjadi esok hari, selagi hari ini aku masih bersama dengan orang yang aku cinta, orang yang aku rindukan namun bahkan aku tak bisa menggenggam tangannya," ujar Roy dengan wajah yang sedih.
"Tidak sekarang, tapi nanti. Kau akan bersama dengan orang yang kau cinta, kau akan mendapat banyak kebahagiaan dan cinta yang diberikan oleh wanita itu, saat waktunya tepat, semua hanya masalah waktu saja," ujar Nesya dengan senyum manis di wajahnya.
"Sekarang, ayo kita cari Lira dan Radith, kayaknya mereka bakal lama kalau gak dicari," ujar Nesya yang diangguki oleh Roy.
"Aku sudah cukup menikmati pemandangan yang indah, jadi aku bisa menahan rinduku pada keindahan danau ini untuk sementara waktu, sampai aku bisa kembali lagi ke sini, semoga danau ini masih sama saat nanti aku kembali," ujar Roy yang berdiri dahulu dan membantu Nesya untuk berdiri sebelum akhirnya dia berjalan bersama Nesya untuk mencari Radith dan Lira.
__ADS_1