
Radith memejamkan matanya dan membayangkan apa yang sudah dia lalui selama ini. Bertahun-tahun dia tidak bisa mendapat cinta Luna kembali, dia juga harus kehilangan Lira selama 5 tahun dan kini, malah dia mendapat dua anggota keluarga baru yang berpotensi merusak rumah tangganya.
“Aku udah urus akta Sean sama Zia, tapi aku takut mereka jadi bahan gunjingan orang di sekolah kalau mereka ke sekolah bersama. Gimana kalau Zia dan Sean sekolah di tempat yang berbeda aja? Aku gak yakin ide yang baik kalau mereka satu sekolah,” ujar Radith yang sudah merebahkan dirinya di samping Lira. Wanita itu menutup ponselnya dan fokus pada suaminya, memikirkan ide Radith untuk kedua anak mereka.
Ah, anak mereka. Entah kenapa Lira masih merasa aneh jika mengingat dia sudah punya dua anak, meski yang satu lagi tidak ada hubungan darah dan ibu kandungnya masih hidup, tetapi tetap saja, anak Radith anak Lira juga karna dialah istri sah Radith. Dia harus memikirkan yang terbaik untuk keduanya secara adil, dan apa yang dibilang Radith sangat betul bagi Lira.
“Dari dulu aku mau Sean belajar di Sekolah Internasional karna dia kan kesulitan kalau pakai bahasa Indonesia, di Sekolah Internasional dia kan setiap harinya bakal pakai bahasa Inggris, jadi dia belajar pun enak. Nah tapi setelah ada Zia, kemarin aku mikir, Sean mungkin gak bisa sekolah di sana karna aku lihat Zia gak biasa ngomong pakai bahasa Inggris, kasihan dia kalau dipaksa masuk ke Sekolah berbahasa Inggris.”
“Kamu udah mikir sampai ke sana? Ya Tuhan, terima kasih kau berikan wanita yang sangat hebat ini untukku, aku gak nyangka kamu bakal mikir nasib Zia. Terima kasih udah bikin aku gak sendirian menghadapi masala ini. Karna jujur aja, aku gak sreg sama Mamanya Zia, aku gak tahu kenapa. Aku ngerasa ada hal yang aneh gitu sama dia, bahkan dia gak segan ngejewer kuping Zia sampai merah, ngeri pokoknya.”
“Gak usah mikir sampai ke sana. Kalau misal Grace bukan orang baik, pasti lama-lama juga ketahuan. Mending kamu fokus sama pendidikan anak-anak aja, biarin emaknya bertindak sesukanya asal gak menyakiti Sean, kalau mendidik Zia, dia lebih berhak sebenarnya, jadi ya aku gak bisa ikut campur, mungkin kalau aku lihat sendiri bisa aku tegur karna sesama Ibu, kalau sekarang kan gak bisa,” ujar Lira yang diangguki oleh Radith.
“kalau memang sekolah mereka dipisah, ya aku balik ke rencana awal, aku mau masukin Sean ke sekolah Internasional, dan Zia, kita bisa masukkan dia ke sekolah elit, tapi yang bahasa kesehariannya tetap bahasa Indonesia, kalau sekolah Elit kan pasti ada kayak sistem belajar bahasa Inggris gitu kan, lama-lama Zia juga terbiasa berbahasa Inggris, jadi nanti mungkin pas SMP kita bisa masukkan dia ke sekolah Internasional juga.”
“Boleh sih, coba nanti aku cari daftar sekolah-sekolah yang elit, kalau Sean, aku percayain ke kamu ya, aku tahu kamu juga udah mikir sekolah mana, iya kan? Kamu memang assiten pribadiku yang selalu bisa aku andalkan,” ujar Radith yang menoel hidung Lira dan mereka terkekeh bersama, namun setelah itu Lira merasa ingin mengerjai Radith.
“Dith, aku pingin es krim coklat, di rumah gak ada stocknya, kamu mau kan beliin ke supermarket? Sekalian beli buat semua orang. Sama kayaknya persediaan pembalut sudah habis, kamu beli sekalian ya, bungkus kosongnya ada di rak dekat kamar mandi, kamu cari yang sama kayak itu aja,” ujar Lira yang membuat Radith melongo. Dia tidak mau membeli pembalut, biasanya Lira yang membeli sendiri benda itu, Radith kan merasa malu.
“Sayaangg, aku udah capek loh jadi asisten pribadi kamu, aku juga udah capek mikir masa depan anak kita, masak kamu gak mau belikan aku barang yang sepele itu. Hiks, sedih aku, padahal otak aku udah capek, kaki aku juga lagi pegal, tapi kamu malah… Hiks.” Lira sangat buruk dalam berakting, Radith sudah tahu istrinya hanya bergurau, dia mencium bibir wanita itu singkat agar Lira berhenti bergurau seperti itu.
“what a magic word?” Tanya Radith dengan kedua alis yang terangkat. Lira tampak berpikir dan menatap Radith dengan lucu, lalu memanyunkan bibirnya dan memasang wajah imut.
__ADS_1
“Belikan yang aku minta dong, Please?” Tanya Lira sepeerti anak kecil. Radith menahan tawanya melihat Lira yang begitu manis. Bahkan jika orang lain melihat, mungkin Lira masih terlihat seperti anak SMA, padahal Lira sudah menjadi Ibu anak satu.
“Sebenarnya Magic wordnya Radith ganteng, tapi karna kamu imut, oke, aku belikan. Aku ke supermarket dulu, jadi anak baik yah di rumah, sama kalau bisa lihat anak-anak lagi ngapain, kalau mau aja sih, kan tuan Putri gak boleh capek,” ujar Radith dengan gemas sambil mencubit pelan pipi Lira. Radith mencium pipi istrinya dan keluar dari kamar untuk membelikan yang Lira butuhkan.
Lelaki itu pergi ke kamar mandi dan melihat laci yang ada di sana. Dia melihat bungkusan berwarna biru dan hitam, membuatnya bingung, mana yang dimaksud oleh Lira, namun karna dia malas kembali lagi, dia mengambil keduanya dan melipatnya jadi kecil agar bisa dia masukkan ke dalam kantong. Dia segera mencari kunci mobilnya dan hendak keluar dari rumah, namun tiba-tiba Grace keluar dari kamarnya dan menatap ke arah Radith, membuat lelaki itu berhenti dan menunggu Grace bicara.
“Ah anu, ada yang harus saya beli, apakah ada mobil yang bisa dipakai? Karna sepertinya supermarket jauh dari sini,” ujar Grace dengan sedikit gugup, sangat berbeda dari dia saat pertama kali bertemu Radith di rumah ini, garang dan tidak punya rasa takut. Hari sudah malam, Radith tentu tidak tega membiarkan wanita ini pergi ke supermarket sendiri.
“Gue juga mau ke supermarket, bareng aja, daripada pakai dua mobil, mlah boros,” ujar Radith yang diangguki langsung oleh Grace. Mereka segera keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Radith langsung menjalankan mobilnya ke supermarket tanpa berbicara sama sekali dengan Grace karna memang mereka tak saling mengenal, jadi tidak tahu ingin membicarakan apa.
“Lo mau beli apa memang?” tanya Radith yang membuat Grace terkejut, ternyata wanita itu sedari melamun karna tidak diajak bicara. Dia juga tidak langsung menjawab Radith, malah menggelengkan kepalanya dan turun dari mobil. Tentu saja Radith merasa heran, namun tidak mau ambil pusing dan langsung masuk ke dalam supermarket itu.
Radith langsung mencari rak makanan ringan, dia membeli banyak makanan ringan sekaligus, dia berencana memberikannya pada pengawal-pengawalnya sekaligus menjadi simpanan di rumahnya. Lelaki itu tidak melihat ke label harga dan langsung mengambil apapun yang dia mau, memasukkannya ke keranjang belanja. Hampir saja Radith lupa dengan pesanan Lira. Dia segera pergi ke bagian wanita dan melihat banyak “benda rahasia” di sana.
“Lo mau beli pembalut? Kenapa gak bilang dari tadi sih, tahu gitu kan Gue nitip aja ke Lo, gak usah nyari sendiri,” ujar Radith tanpa malu. Grace seperti kaget dan tidak terbiasa dengan gaya bahasa Radith. Sementara Radith langsung memberikan bungkus kosong itu kepada Grace, meminta Grace untuk membantunya mencari benda itu. Grace langsung tahu dan mengambil benda itu dan memberikannya pada Radith dan langsung Radith letakkan di keranjangnya.
Grace mengambil benda dengan merk berbeda dan meletakkannya ke keranjang juga karna Radith memintanya saat dia berniat untuk membawanya sendiri. Grace mengikuti Radith kemanapun lelaki itu pergi, sampai lelaki itu ke tempat es krim, dia bingung hendak mengambil yang mana dan meminta Grace untuk memilih karna dia tidak tahu apa yang Zia suka.
“Lo yang pilih, ambil apa aja yang Lo mau, bingung juga Gue mau beli apa. Yang banyak sekalian ya, buat anak-anak sama buat pengawal Gue juga, sekalian sama pembantu di rumah,” ujar Radith yang diangguki oleh Grace. Sementara itu Radith memilih es krim yang disukai oleh Lira. Istrinya itu suka es krim langka yang pernah viral dan harganya mahal, dia mencari es krim itu dan langsung membeli 4 kotak agar istrinya puas.
“Udah semua kah?” tanya Radith yang diangguki oleh Grace. Mereka segera pergi ke kasir dan Radith mengeluarkan semua belanjaan. Padahal dia hanya ingin membeli es krim dan pembalut, namun malah seperti belanja bulanan dengan banyak sekali makanan ringan. Grace bahkan sampai mengalami culture shock dengan jumlah belanjaan Radith. Lelaki itu menghabiskan hampir satu juta, hanya untuk makanan ringan dan es krim.
__ADS_1
“Mba, saya pinjam trolinya dulu ya, susah juga bawa sebanyak ini,” ujar Radith yang tentu diperbolehkan oleh kasir tersebut. Mereka memasukkan semua makanan ke dalam mobil dan Radith pergi dari sana bersama Grace. Wanita itu masih terdiam dan seperti belum berada dalam kesadaran yang penuh. Radith meliriknya dan entah kenapa hati nuraninya tergerak untuk mengajak Grace bicara.
“Gak usah shock, orang di rumah kan banyak dan harus giliran juga jaga, jadi ya makanannya juga banyak. Lo kayak kaget banget gitu, santai aja lagi, gak tiap hari juga kok gue kayak gini, karna Lira pengen es krim sama minta dibelikan pembalut aja,” ujar Radith yang ingin mencairkan suasana. Mereka tinggal satu rumah, mereka harus bisa beradaptasi untuk saling bicara.
“Lira minta dibelikan pembalut? Dan anda mau? Waw, tidak semua pria mau melakukannya, anda benar-benar suami yang mengagumkan,” ujar Grace yang membuat Radith tertawa. Radith sendiri juga kaget kenapa dia bisa sebaik itu dengan Lira. Tapi dia memang tidak bisa menolak permintaan Lira. Mungkin ini yang dinamakan Bucin level tinggi.
“Gak usah terlalu formal, Gue juga masih dua puluhan. Gak enak juga kalau harus formal begitu, dan Lo juga gak usah takut keluar kamar, udah, kayak biasa aja. Gue masih belum nemu cara yang pas untuk minta maaf untuk semua yang Gue dan orang-orang Gue lakukan, tapi gue benar-benar gak tahu, ini bukan alasan, tapi beneran gak tahu, dan yah, walau gak tahu juga Gue harus minta maaf, jadi Gue minta maaf ke Lo.”
“Gak usah dibahas dulu yah, dengan Zia udah hidup lebih baik juga aku udah lega. Mungkin perlu waktu untuk menghilangkan luka batin itu, tapi yah, ya udah, udah terjadi juga, gak tahu mau gimana lagi, mau ngomong apa, gak tahu,” ujar Grace yang diangguki oleh Radith. Sepertinya terlalu dini untuk meminta maaf, apalagi Radith tahu, kesalahannya sudah benar-benar menghancurkan hidup dan masa depan orang lain.
Sesampainya di rumah, Radith langsung membagikan semua makanan ringan, mengambil es krim dan barang yang dipesan oleh Lira, lalu meninggalkan Grace begitu saja dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya terdapat kulkas sendiri, jadi dia akan menyimpan Es krim kesukaan Lira di dalam kulkas itu. dia melihat Lira sedang membaca novel dan mendongak saat Radith masuk ke kamarnya. Lelaki itu mengaktifkan kunci wajah agar tidak ada yang masuk ke kamar mereka.
“Loh, kok yang itu, aku gak pingin es krim yang itu,” ujar Lira yang membuat Radith ngebug untuk beberapa saat. Lelaki itu meletakkan es krim di meja dan langsung menghampiri Lira, lalu mengunci istrinya itu dalam pelukannya, membuat Lira berteriak sambil tertawa, meminta ampun pada Radith untuk melepaskannya.
“Itu, es krimnya ditaruh ke kulkas dulu, sayang kalau nanti mencair, sana ih, sanaaaa,” ujar Lira mendorong tubuh Radith. Lelaki itu menurut dan segera melakukan yang Lira minta, lalu kembali ke kasur dan memeluk Lira dengan erat. Lira menggeliat, namun tidak berusaha melepaskan pelukan itu. Mereka kembali tertawa saat Radith melonggarkan pelukannya.
“Ra, dingin, mau yang anget-anget, yang kenyal juga lebih enak. Ingat gak Sean mau adik baru? Sekarang aja yuk,” ujar Radith seperti menahan sesuatu. Lira membuka mulutnya saat Radith tanpa malu meminta hal itu. Pertama dan terakhir kali mereka melakukannya memang saat mereka akhirnya mendapatkan Sean, sebelum dan setelahnya tidak pernah. Saat mereka ingin melakukannya kemarin, Grace malah membuat rusuh di rumah mereka.
Radith melakukan pemanasan yang intens, membuat Lira perlahan naik dan mengikuti irama Radith. Lira mulai merespon dengan apa yang Radith lakukan, meski dia masih pasif karna bingung harus melakukan apa. Perlahan Radith menatap ke arah Lira dan meminta persetujuan, lalu Lira menganggukkan kepalanya, Radith mengecup kedua mata Lira dan kemudian ke bibirnya. Dia mempermainkan kedua “anak kembar” Lira agar dia tidak kesakitan karna mereka tidak melakukannya dalam waktu yang lama.
Lira merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana. Setetes air mata mengalir ke pipinya, Radith berhenti sejenak dan menatap Lira dengan senyum yang sayu. Akhirnya mereka bisa melakukan dalam keadaan sadar dan sama-sama ingin, atas dasar Cinta dari keduanya.
__ADS_1
“Liora Darma, kekasih dalam hidupku, Aku cinta sama kamu,” ujar Radith pelan di telinga Lira sebelum melanjutkan kegiatan mereka membunuh malam yang dingin dengan penyatuan panas dari keduanya.