Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 83


__ADS_3

Radith berangkat ke Jepang denganperasaan cemas, dia sudah menyiapkan presentasi sampai tidak tidur, sharusnya dia bisa sedikit beristirahat di dalam pesawat, namun nyatanya pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Dia berharap urusan di negara ini bisa selesai lebih awal dan bisa segera membantu Andre untuk menemukan anaknya. Semakin lama mereka menemukan Zia, semakin gawat keadaan anak itu.


“Sampai di bandara, tolong lekas telpon Lira dan tanyakan tentang Sean. Aku akan mengurus semua masalah pekerjaan dulu, pastikan kalian tetap menghubungi Lira dan Andre, dapatkan kabar terbaru dari mereka, dan kau, coba cari orang yang bisa menemukan anakku, mungkin detektif atau apapun itu, aku percaya kalian bisa melakukannya dan tidak akan mengecewakanku, aku meminta tolong pada kalian,” ujar Radith yang diangguki oleh mereka, tentu saja sudah menjadi tugas mereka untuk menolong Radith.


“Ah, aku sampai lupa caranya tidur dengan nyenyak. Tolong cari tahu apakah bisa aku mempersingkat waktu untuk berada di Jepang, aku sudah tidak dalam mood untuk proyek ini, tapi proyek ini snagat penting, aku tidak bisa melewatkannya. Astaga, mungkin aku akan gila jika berada dalam satu tahun yang suram ini, rasanya tak cukup membuatku sengsara selama 5 tahun, Tuhan masih memberiku waktu yang berat terus menerus,” ujar Radith yang tidak bisa menahan rasa lelah di hatinya.


“Tenang saja, semua ada waktunya. Jika Tuan mendapat waktu sulit untuk 6 tahun, maka kebahagiaan yang didapat pasti lebih dari 12 tahun, tapi itu akan bisa terwujud jika tuan bisa bersabar dan banyak bersyukur. Ah ya, jika Tuan masih diberi masalah, itu artinya tuan dipandang kuat,” ujar orang itu yang membuat Radith nenghela napasnya.


"Yah, memang perkataan orang jaman dulu itu enak sekali, dan ah, ya sudahlah, takut diazab juga sama Tuhan, udah, saya itu cuma mau ngeluh aja, bukan berarti gak percaya sama Tuhan. Kamu malah membuat saya jadi seakan berdosa sekali," ujar Radith yang membuat orang itu tertawa kecil. Dia tidak menjawab lagi, takut Radith menjadi kesal dan malah menghukumnya.


Sementara itu di Indonesia tepatnya di pulau dewata. Andre dan timnya masih berusaha mencari Zia. Mereka sudah menyebar ke banyak pelabuhan yang mungkin didatangi oleh kapal dari Bali, namun tidak menemukannya. Mereka tidak mungkin menyusuri tiap kota yang ada di negara ini, mungkin 10 tahun lagi baru akan ditemukan oleh mereka.


"Kenapa kita tidak melapor pada polisi dan membiarkan orang orang mencarinya? Jika kita menempel iklan di surat kabar, pasti akan lebih mudah menemukannya," usul salah seorang anak buah Andre, namun membuat Andre tidak suka, dia dan Radith punya alasan tersendiri tidak mencari Zia secara terbuka begitu.


"Kalau kita lapor ke polisi, mereka akan tahu identitas kita. Kamu pikir, berapa banyak orang yang sudah kita buat hilang? Berapa banyak nyawa yang mati di tangan kita? Kalau sampai polisi tahu, hukuman mati lah yang kita dapat. Jika kita menulis di surat kabar, bagaimana jika ada orang yang memanfaatkan keadaan dan malah memalak kita. Apa kamu pikir Radith akan menyukai hal itu?" Tanya Andre yang diangguki oleh mereka.


Yah, begini nasib bekerja di zona abu abu cenderung hitam. Mereka harus kucing kucingan dengan pihak kepolisian, walau identitas Radith akan selalu aman, karna dialah otak dari semuanya, namun yang bekerja kotor selalu anak buah yang pangkatnya masih rendah, jadi mereka tidak tahu nama Radith. Berbeda dengan Andre dan timnya yang sudah berpangkat tinggi, jadi mereka mengenal Radith.


"Kita cari sampai dapat, dan jika sampai Radith pulang ke Indonesia kita belum ketemu sama Zia, lebih baik kita pakai ide untuk memasang iklan di surat kabar. Aku akan memikirkan cara, atau justru mungkin aku akan punya cara lain, yang jelas kita berusaha dulu semaksimal mungkin untuk hal ini, aku harap kalian bisa mengerti, ini waktu yang sulit bagi kita semua.


"Zia sungguh anak yang beruntung. Dia hanyalah anak haram yang tidak sengaja lahir berkat Pak Radith. Tapi bahkan dia sampai dicari sebegitu seriusnya, pak Radith memang orang yang baik," ujar anak buah Andre yang tanpa sadar membuat mereka hening. Bahkan Andre sampai terdiam untuk sesaat dan mencerna apa yang dia katakan.


"Yah, jika kau mengatakan hal itu di depan Radith, aku bisa pastikan kalau Radith tidak akan menjadi orang yang baik lagi. Mungkin kau lupa jika Sean juga lahir di luar pernikahan, Sean dan Zia itu sama, dan mereka anak yang sah dari Radith, sudah pasti Radith akan mencari mereka dan memastikan keadaan mereka aman," ujar Andre yang membuat orang itu terdiam karna baru sadar apa yang dia katakan.

__ADS_1


"Maaf, saya kelepasan karna mungkin sudah lelah dan frustasi Zia tidak ditemukan. Saya salah, mohon jangan adukan hal ini ke pak Radith, saya tidak mau dihukum atau di kirim ke luar negeri," ujar orang itu yang membuat Andre menghela napas, mana tega dia membiarkan anak buahnya merana seperti itu? Dia akan melindungi mereka bagaimanapun keadaannya.


"Kau harus menjaga lisanmu jika memang kau ingin hidup untuk waktu yang lama. Kau tahu jika di tubuhmu juga terpasang chip yang akan meledak kapanpun Radith mau, seharusnya kalian bersyukur masih bisa hidup sampai hari ini, kalian harus pastikan Zia ditemukan dalam keadaan selamat, untuk menghindari murka Radith," ujar Andre yang diikuti oleh yang lain.


Mereka kembali bertugas masing masing, mengkoordinasi tim di lapangan yang berpanas panasan untuk mencari Andre. Dia tidak menyangka akan sesulit ini mencari Zia. Seharusnya dia tidak membunuh Greselyn kemarin, jadi dia tidak perlu berbaring di rumah sakit ini dan bahkan kehilangan jejak Zia sampai serumit ini.


"Ah, belum satu hari aku pergi, aku sudah sangat merindukan Lira. Aku ingin segera pulang dan bertemu dengannya. Aku merasa bersalah bahkan di saat dia hamil muda, aku tidak bisa fokus pada anak kami karna banyaknya masalah yang aku hadapi, entah bagaimana caranya aku menebus semua waktu yang sudah aku buang."


"Apakah saya boleh mengatakan sesuatu pak Radith?" Tanya Asisten Radith yang tentuvlangsung dijawab gelengan kepala oleh lelaki itu. Dia hanya ingin mengomel karna tidak bisa tidur, namun asistennya akan menceramahinya seperti tadi. Dia tidak mau mendengar ceramah itu karna kepalanya sudah pusing.


"Tidak, kau tidak perlu melakukannya, aku akan merenung sendiri, terima kasih atas tawaranmu," ujar Radith yang diangguki oleh Asistennya.


Di sisi lain pulau Bali, Lira dan Sean sesang sarapan dalam hening. Lira tahu ada yang salah dengan anak itu, namun dia tahu juga, jika sudah seperti itu, Sean tidak akan mau cerita langsung padanya. Dia akan menunggu Sean untuk bercerita sendiri dengan nyaman dan jujur. Dia melihat Sean yang gelisah menatap ke arahnya, namun akhirnya anak itu memberanikan dirinya untuk berbicara pada Lira.


"Memang Sean mimpi apa tadi malam?" Tanya Lira yang membuat anak itu terdiam. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti sedang menahan tangisnya. Ah, anak umur 6 tahun sudah bisa mengontrol emosinya, entah Lira harus bangga atau sedih akan hal itu, dia jadi tidak bisa membiarkan Sean untuk jujur dengan perasaannya.


"Sean mimpi Zia dipukul sama om om jahat yang culik Zia. Sean mimpi kalau Zia menangis tapi om itu tetap memukulnya bahkan sampai berdarah. Kasihan Zia Mi, Sean, Sean bahkan gak tega dan tetap merasakan sakit, Zia, Zia gak kenapa napa kan Ma?" Tanya Sean yang membuat Lira terdiam. Apakah mungkin Sean memang memiliki bakat itu? Pakah Sean memang bisa melihat seseorang lewat mimpinya?


"Sean, Sean bisa lihat gak tempatnya itu dimana? Apa ada sesuatu yang bisa jsdi petunjuk? Kayak rumah berwarna apa atau ada icon kota seperti monas dan sebagainya?" Tanya Lira yang membuat Sean kembali berpikir. Dia berusaha mengingat apa yang dia lihat di sana.


"Kalau yang pertama saat Zia diculik, Sean cuma melihat satu gang yang sempit dan ada tong sampah di sana, Sean lupa apa tulisan di tong sampah itu, dan kalau yang tadi malam, Sean cuma melihat dia ada di dalam ruangan, tapi itu bukan cuma Zia, ada banyak anak anak lain di sana Mi," ujar Sean yang disimak oleh Lira. Dia tidak mengira akan mendapat petunjuk besar dari mimpi Sean.


"Apa tidak ada tanda khusus dari om jahat itu? Seperti tato? Atau tindik? Atau bagaimana?" Tanya Lira yang kembali membuat Sean mengingat. Dia hanya fokus dengan wajah Zia yang berdarah, tidak memperhatikan om Jahat yang di sana. Namun setelah mengingat lagi, dia mengangguk ke arah Lira dengan tatapan penuh harapan.

__ADS_1


"Sean tidak begitu ingat Mi, karna Sean hanya sedih melihat Zia dipukuli, tapi coba Sean ingat ingat lagi, Sean melihat rumah yang berantakan dan banyak tongkat di sana, lalu.." Sean memejamkan matanya untuk mengingat, lalu beberapa saat kemudian, dia membuka mata dan teringat sesuatu, walau tak yakin dengan apa yang dia lihat.


"Sean ingat Mami, Ada gambar naga di leher dekat ke arah telinga. Om jahat itu memakai anting anting di telinga yang ada gambar itu Mi, tapi apa mungkin Zia ada di sana beneran? Sean kan cuma mimpi," ujar Sean yang langsung terdiam. Lira menghela napas panjang mendengar itu, benar juga, apa dia yakin mimpi Sean adalah benar? Karna jika tidak, dia hanya akan melakukan pekerjaan yang sia sia.


"Mami mau kabarin Om Andre masalah ini dulu ya, kamu nanti berangkat sama pulangnya sama om itu dulu ya, jangan pulang sama siapapun kecuali om itu. Kamu mengerti kan?" Tanya Lira yang diangguki oleh anak itu. Mereka berpisah setelah makan, Lira bersiap untuk pergi dan Sean langsung berangkat sekolah. Mereka menjalani kehidupan masing masing walau keduanya masih khawatir dengan keadaan Zia.


"Andre, ini Lira. Jika kau punya kenalan yang bisa tahu data data preman, kau mungkin bisa dapat petunjuk dimana Zia. Preman itu mempunyai tato di lehernya, dan ada anting anting di telinganya. Yah, kau harus mencari preman yang mempekerjakan anak anak untuk menjadi pengemis, jadi kita bisa mengerucut dan tidak perlu terlalu sulit untuk menemukan Zia."


"Darimana Kau yakin kalau Zia ada di sana? Apakah ada seseorang yang memberi tahumu? Atau kau menemukan suatu petunjuk?" Tanya Andre yang membuat Lira bingung bagaimana akan menjelaskan ke Andre? Jika anak itu tidak percaya, mereka tidak akan punya kesempatan.


"Jika aku mengatakannya, aku berharap kau masih percaya dan mau mengikuti apa yang aku sarankan. Karna ini satu satunya petunjuk yang kita punya. Aku mengetahuinya dari Sean. Dia mimpi jika Zia disiksa oleh orang dengan ciri ciri yang aku sebutkan tadi. Jadi aku yakin orang itu pasti yang sudah menculik Zia. Dan kita harus mencari orang itu," ujar Lira yang tentu membuat Andre tercengang.


"Dasarnya adalah mimpi? Apakah kau tidak bergurau? Bagaimana mungkin kita bertindak atas dasar hal yang tidak nyata? Mimpi hanya bunga tidur yang seharusnya tidak menjadi beban pikiran. Apakah Kau yakin kita harus mengikuti mimpi itu?" Tanya Andre yang tentu membuat Lira kesal. Dia sedang hamil muda, hormonnya tidak baik.


Suasana hati yang mudah buruk, ditambah dia yang mengidap bipolar. Tentu saja menghadapi Andre akan membuat kemarahannya meningkat. Dia mencoba untuk sabar, karna jika dia marah sekarang, Andre tidak akan mengikuti apa yang dia mau dan mungkin saja Zia tidak akan pernah ditemukan.


"Lantas apa yang mau kau lakukan? Mencari ke pelosok Indonesia? Apa itu jauh lebih baik? Jika ada petunjuk walau sedikit saja, kita harus mengambil petunjuk itu dan mencoba untuk mencari tahu. Aku rasa bukan hal sulit untukmu mencari preman dengan tato naga dan tindik di kupingnya. Kumpulkan semua dan kirim fotonya, aku akan meminta Sean untuk mengingat."


"Baiklah, karna kita sudah tidak punya pilihan, aku akan melakukan semua yang kau intruksikan, semoga saja kita bisa bertemu dengan Zia, aku akan mengumpulkan semua data orang orang yang mungkin bisa membantu kita. Terima kasih untuk masukan yang sudah kau beri," ujar Andrw yang menyadari mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk bisa menemukan Zia.


"Panggil tim lapangan, kita harus mencari data preman se Indonesia, karna tidak akan mudah, cepat cari yang berkompeten," ujar Andre yang langsung diikuti oleh anak buahnya. Mereka langsung memanggil tim lapangan dan tim IT untuk berkumpul. Jika memang bisa dilakukan dengan cara seperti ini, tentu lebih baik, karna mereka tak perlu bersusah payah menyusur setiap kota di Indonesia ini.


"Semoga saja Zia lekas ditemukan. Jika memang dia diculik dan dijadikan pengemis, keselamatannya terancam, kita harus lekas menemukan dia dalam kondisi yang utuh dan sehat," ujar Andre pelan.

__ADS_1


__ADS_2