Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 127


__ADS_3

Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136


Terima kasih banyakkk atas pengertiannya


--------------------------000000----------------------


"Ra, Lira, aku mohon sama kamu, aku mohon, ini yang terakhir kalinya. Aku, aku gak tahu kalau mereka membahayakan kamu dan Baby El, aku mohon percaya sama aku gak pernah ada niat buat mencari musuh atau kembali ke dunia itu, sungguh, aku cuma pengen keluarga kita aman. Tapi mereka ternyata udah mengincar keluarga kita sejak lama, aku bisa apa?"


Lira tidak mau mendengar, dia mendorong kereta bayi milik baby El dan juga satu koper bawaannya. Radith tidak tahu harus melakukan apalagi, dia sudah membujuk Lira dan menjelaskan semua, namun Lira tetap pada pendirian dan keputusannya, dia merasa ini yang terbaik untuk baby El jika Radith masih belum bisa menjadi orang biasa.


"Aku udah kasih waktu kamu, lima tahun. Kamu bayangin Dith, lima tahun. Aku mau nikah resmi sama kamu juga karna kamu udah janji gak akan terlibat sama kayak begini. Tapi nyatanya apa? Anak aku hampir mati Dith, anak aku hampir mati karna kamu. Anak yang udah aku jaga di perut aku, cuma karna harta, anak aku hampir mati."


"Kamu gak bisa bayangin jadi aku, kamu gak peduli juga, kamu cuma peduli bagaimana mempertahankan semua kan? Kamu bahkan masih sama mereka, aku, aku merasa terkhianati sama kamu, aku gak tahu lagi harus apa Dith," ujar Lira dengan lemah. Dia merasa sedih dan tidak berdaya dengan apa yang Radith lakukan. Dia merasa semua sudah diluar batas kesabaran yang dia punya.


"Aku gak pernah mau Lira. Siapa yang mau hartanya diambil sih? Dan yah, kalaupun cuma harta aku diambil, gak papa, aku miskin pun gak papa, tapi karna kamu yang diambil, ya aku gak bisa diam aja, aku gak tahu rencana Andre kayak gimana, dan aku terpaksa buat menuruti apa yang dimau sama tyan Wilkinson, aku terpaksa Ra," ujar Radith yang tak kalah frustasinya. Dia tak tahu lagi bagaimana membuat Lira mengerti.


"Terpaksa? Ya kamu terpaksa. Terus apa? Kamu tetap melakukannya kan? Kamu letakkan keluarga kamu di dalam bahaya yang besar, lagi dan lagi, aku capek Dith, aku capek setiap ada masalah aku harus lari ke sana kemari buat melindungi anak anak aku, apalagi Baby El yang bahkan belum satu tahun, tapi nyawanya sudah diancam. Kamu pikir aku bisa diam aja? Enggak!"


"Aku udah bilang ke kamu Ra! Aku gak bisa apa apa, terus gimana? Aku harus biarkan tuan Hobert ambil kamu? Ambil semua harta aku, ambil Baby El? Ambil nyawa aku? Iya kah? Aku udah berusaha buat melindungi keluarga kita, maaf kalau cara aku salah atau gak sesuai sama apa yang kamu inginkan. Terus aku harus gimana? Aku harus apa? Aku biarkan diri aku mati di tangan dia?" Tanya Radith yang sudah tak sabar dan sedikit meninggikan suaranya.


"Gak, kamu gak harus ambil tawaran dari tuan Sanjaya, kalau kamu dari awal gak nikah sama aku. Kalau dari awal kamu gak sama aku, mungkin kita gak perlu ada di situasi seperti ini. Aku gak harus dalam bahaya, setiap malam nangis mikirin nasib dan masa depan anak aku, bahkan aku khawatir, apakah besok aku masih hidup?"


"Harusnya aku gak nikah sama kamu! Ah bukan, harusnya aku gak kenal sama kamu! Aku gak jadi sekretaris kamu! Aku gak mau terima tawaran kerja dan jadi orang bodoh yang jatuh cinta ke kamu Dith!!" Bentak Lira yang bahkan tak peduli baby El sudah menangis keras. Radith sampai tak menyangka Lira bisa mengatakan hal sekasar itu padanya.


"Aku gak bisa lagi, aku mau hidup tenang, aku mau anak anak aku hidup tenang tanpa mikirin kami Dith! Udah lah, aku gak bisa lagi sama kamu, kita cerai aja. Kita pisah! Kamu bisa lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Kamu bisa bunuh semua orang itu, atau bekerja untuk tuan Wilkinson, aku gak peduli lagi, yang jelas jangan pernah lagi kamu bahayakan aku dan anak anak aku," ujar Lira yang membuat Radith terdiam.

__ADS_1


"Ada banyak hal yang mungkin emang bikin kita bertengkar, dan akan ada banyak hal lagi. Tapi kayaknya kamu lupa sama janji kita di altar, bahwa kamu akan sama aku dalam untung dan malang. Kamu lupa? Bahkan masalah ini kamu minta pisah sama aku? Kamu lupa kah kalau kamu udah lewatin banyak hal sama aku?" Tanya Radith dengan lemas.


Kondisinya belum pulih sepenuhnya, namun Lira malah menambah beban psikologisnya dengan mengatakan hal seperti itu, dia tak menyangka Lira tega melakukannya. Dia kira wanita itu akan memberikan dukungan penuh untuknya, namun ternyata Lira malah langsung meminta bercerai. Apakah yang dilakukan Radith salah? Radith melakukan itu bahkan karna dia khawatir dengan istri dan anak anaknya.


"Ya, aku ingat sama semua janji itu, tapi kamu juga harus ingat, jauh sebelum aku berjanji di depan altar, kamu udah janji sama aku untuk menjaga aku, menjaga Sean dan kamu juga janji akan berhenti dari dunia mafia dan perdagangan gelap. Tapi nyatanya mana? Dua kali, ah itu yang aku tahu, yang aku gak tahu berapa? Banyak kan pasti? Banyak kali kamu udah langgar janji itu, apa aku gak boleh melanggar satu?" Tanya Lira yang sudah berderai air mata.


"Kamu menilai aku salah Ra, tolong, jangan begitu. Aku, aku gak bisa gak ambil tugas ini, dan ini bukan untuk uang, ini sebagai balas budi aja. Aku mohon, jangan biarkan aku jadi orang yang gak tahu terima kasih, aku gak bisa Ra membuat kepercayaan orang lain hilang, dan kala aku benar benar butuh bantuan, mereka udah gak percaya. Aku gak mau kayak gitu," ujar Radith yang masih berusaha membujuk Lira.


"Aku gak melarang kamu untuk melakukan itu kok, silakan lakukan yang kamu anggap benar, aku gak peduli lagi. Yang jelas ya terserah kamu mau apa, kamu mau ikut sama misi berbahaya yang mengancam nyawa? Silakan! Kamu mau membahayakan anak anak kamu karna balas budi? Silakan. Tapi jangan anak anak aku yang jadi korbannya," ujar Lira yang membuat Radith menghela napasnya.


"Oke kalau itu mau kamu, aku gak bisa maksa lagi, ya udah kalau menurut kamu kita harus pisah, aku bakal lakuin sesuai yang kamu mau. Kamu boleh tinggal di sini sama anak anak, di sini jauh lebih aman dari di luar sana, terutama untuk baby El. Kamu tenang aja, aku gak akan tidur di sini, kamu gak perlu lihat aku."


"Jadi kamu pilih pekerjaan kamu dibanding keluarga kamu Dith? Wow, kamu menakjubkan," ujar Lira menggelengkan kepalanya pelan saking tidak percaya dengan yang Radith lakukan.


"Aku melakukan pekerjaan ini untuk keluarga aku. Aku melakukannya untuk melindungi kalian. Kamu harus tahu itu," lirih Radith yang juga langsung pergi dari sana, diikuti oleh Andre dan 9 pengawalnya.


"Diam, gue lagi gak bisa diajak diskusi, hubungi tuan Wilkinson, kita sampai ke Jakarta dua jam lagi," ujar Radith yang diiyakan oleh Andre sementara A langsung menghubungkan panggilan ke tuan Wilkinson.


"Percaya sama aku, semua aku lakukan buat keluarga kita, terutama anak anak, aku mohon, percaya sama aku," lirih Radith dengan suara yang bergetar.


**********


Ravi mengajak Thea untuk pergi ke toko baju dan perihasan. Entah karna Ravi merasa Thea anak yang asik, atau dia tahu Thea tidak akan marah atau baper padanya saat dia mengatakan dia ingin mengajak Thea untuk membantunya memilih baju dan perihasan untuk Alena. Ravi sudah memantapkan niatnya untuk menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.


"Lo beneran gak papa kan kalau gue mintanya lo bantuin gue buat cari gift buat Alena? Gue takutnya lo nanti merasa gak dihargai atau merasa tersakiti gitu, tapi ini gak papa kan?" Tanya Ravi yang membuat Thea tertawa. Padahal biasanya Ravi santai saja saat menyuruhnya, mungkin lelaki itu masih takut Thea adalah tipe yang mudah tersinggung.

__ADS_1


"Gak papa lah, gue malah senang bisa bantu lo buat nembak dia, lagian karna gue juga dia jadi salah paham, gue harus sedikit menebus dosa gitu ceritanya. Udah, lo santai aja, gue gak papa kok," ujar Thea yang diangguki oleh Ravi, lelaki itu merasa tenang saat tahu Thea tidak masalah dia reporti dengan masalah itu. Ravi dan Thea memasuki sebuah mall yang terkenal mewah dan mahal.


"Lo mau belikan di toko toko bermerk ini? Gue tahu lo anaknya Wilkinson, tapi, tapi masak lo sekaya itu? Beli barang mewah ini lebih mahal dari uang sekolah 3 tahun loh," ujar Arthea dengan bingung, namun Ravi bersikap santai, dia tidak akan mungkin berani melangkahkan kaki ke tempat ini jika dia memang tidak membawa uang yang cukup.


"Gue cuma mau beli dress yang cakep, sepatu hak yang lumayan tinggi, sama paling cincin aja buat ngajak dia serius. Tapi gue gak tahu apa yang cewek suka. Walau lo kayak cowok, lo kan cewek juga, jadi lo pasti tahu dan paham dong kira kira gimana yang Alena suka. Karna jujur aja, gue gak ada clue sama sekali," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea. Sebenarnya untuk masalah fashion, gadis itu cukup mengerti dan cukup bisa diandalkan.


"Lo mau konsep yang kuat atau yang soft aja? Lalau soft, mending pakai warna pastel, lebih feminim dan manis. Kalau lo mau yang konsep strong gitu, beli yang biru laut, atau gak Merah fanta, itu bagus banget kalau konsep strong," ujar Thea saat mereka mulai masuk ke bagian baju. Ravi mengangguk dan langsung meminta gadis itu untuk memilih. Karyawan di sana langsung menyambut Arthea dan Ravi dengan ramah, membantu mereka untuk bisa memilih baju yang mereka suka.


"Warnanya gak usah yang terlalu mencolok sih, yang lembut gitu aja," ujar Ravi yang diangguki oleh Arthea. Gadis itu memilih beberapa baju dan menunjukkannya pada Ravi, namun lelaki itu tak bisa membayangkan Alena memakai dress ini, dia juga tak tahu ukuran tubuh Alena. Hal itu tentu saja membuat Thea menjadi bingung, padahal banyak baju yang bagus dan meski tak ada ukuran, mereka bisa membuatkannya khusus dengan ukuran itu.


"Eum, gini deh, lo sini Te," ujar Ravi yang membuat Thea mendekat. Lelaki itu langsung merangkul Thea dengan wajah yang serius, seolah berpikir sesuatu, dia juga memegang lengan Thea, namun wajahnya tak melihat ke arah gadis itu, tentu saja Thea tahu, lelaki itu sedang membayangkan tubuh Alena dan dia ingin Thea sebagai patokan ukuran.


"Ukuran badan dia sama lo mirip Te, mungkin kalau lo pakai, dia juga pas. Coba deh lo pakai terus gue lihat, kalau emang bagus, ya gue ambil, gue bakal bayangin lo itu Alena, badan kalian mirip mirip kok," ujar Ravi yang sebenarnya membuat Arthea tak nyaman dan malas, namun karna dia sudah berjanji, dia harus menepatinya, jadilah dia masuk ke ruang ganti dan memakai dress semata kaki yang sangat indah seperti gaun, namun tetap simple dan enak dipakai.


"Wah, cantik sih, tapi gue masih ngerasa terlalu simple, coba deh pakai yang ini, sama rambut lo gerai aja sebentar, Alena jarang ikat rambut dia, biar makin mirip dan bisa kebayang gue," ujar Ravi yang mendapat pelototan dari Arthea. Gadis itu tak pernah ingin menggerai rambutnya di kota yang panas dan penuh sesak ini, rasanya sangat sumpek dan tak nyaman.


"Gue gak mau kalau harus ngegerai rambut. Lo lihat rambut gue panjang, emang rambut Alena panjang? Panas tahu kalau digerai, udah sih gini aja, lo kira kira aja Alena seberapa dan gimana, ya?" Bujuk Thea yang mendapat gelengan kepala dari Ravi, lelaki itu langsung memajukan bibirnya beberapa senti, membuat Thea menjadi risih dan kesal di saat yang bersamaan.


"Katanya mau bantuin gue? Katanya merasa bersalah? Katanya mau lakukan apa aja buat minta maaf?" Tanya Ravi yang membuat Thea tertekan. Dia langsung masuk ke ruang ganti sambil menggerutu, membuat Ravi tertawa melihat ekspresi dan perilaku gadis itu, sangat imut baginya, namun dia juga tak mau Arthea tahu dia sedang meledek, karna dia memang ingin melihat, bukan ingin mengerjai atau bagaimana.


Tak selang berapa lama, Thea keluar dari ruang ganti dengan rambut yang sudah digerai dan jepit yang merapikan poninya. Ravi langsung melongo melihat Thea memakai dress wmei gaun itu. Thea terlihat sangat cantik, segar dan lembut. Rambutnya yang panjang terurai menambah aura manis dari wajahnya. Apalagi rambut gadis itu sangat bagus, hitam dan tebal, dan memiliki model keriting gantung. Jika itu Ravi dan Ravi adalah wanita, dia akan sangat menyukai model rambut itu.


"Wah, pasti Alena jadi cantik banget sih gitu, gue suka nih, oke, kita bungkus yang itu. Mbak, saya minta tolong packing yang ini ya, buat hadiah aja, tulisannya kejutan dari Ravi untuk Alena," ujar Ravi yang tentu membuat karyawan itu bingung. Dia menatap ke arah Ravi dan Thea bergantian, lalu fokus pada Thea yang juga bingung di tatap seperti itu.


"Bukannya dress ini untuk mbak ini, kenapa harus dibungkus dan ditulis kejutan? Ah maaf saya bertanya, saya hanya penasaran," ujar orang itu yang membuat Ravi menatap ke arah Arthea dengan geli, bisa bisanya ada yang menganggap mereka adalah pasangan kekasih, padahal itu adalah hal paling konyol yang pernah Ravi dengar.

__ADS_1


"Dia bukan pacar saya kak, saya juga gak pernah kepikir atau mau pacaran sama dia, haduh,geli geli gimana gitu, hahah, dia teman saya, teman yang paling baik," ujar Ravi yang mencubit pipi Thea pelan, membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan memukul pundak Ravi cukup keras.


__ADS_2