Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 53


__ADS_3

"Yesss akhirnya lokasi brangkas besar mereka ketemu, lekas hubungkan dengan tuan Wilkinson, saya akan mengabari sendiri masalah hal ini, dan kalian semua bisa tunggu di luar," ujar Jordan yang diikuti oleh mereka. Ruangan yang Jordan tempati saat ini sudah kedap suara, jadi dia tidak takut ada yang menguping. Apalagi keamanan di sini juga sudah dibuktikan ketat dan aman.


"You did Well, gak salah Papa percayakan hal ini ke kamu. Yah, Papa akan kirim orang untuk mengambil semua uang yang ada di brangkas mereka. Kau harus pastikan bos besar mereka tertangkap dan jadikan dia tumbal untuk semua hukuman, pastikan dia mati. Dan untuk orang yang menyerang Radith, tahan dia, dan hapuskan jejak dia dari penangkapan."


Jordan mengerutkan keningnya saat mendapat perintah itu. Kenapa Tuan Wilkinson mau membebaskan orang itu dari hukumannya? Orang itu akan dihukum berat karna merupakan petinggi di sindikat itu. Dia bukan hanya pengedad, namun bisa dibilang bandar. Tentu hukuman yang dia terima tidak akan mudah dan kecil, paling tidak Jordan akan pastikan dia dipenjara selama 20 tahun.


"Jangan berpikir papa terlalu baik melepaskan dia, itu tidak akan terjadi. Papa hanya memikirkan cara menghukum orang itu dengan lebih baik, dan tentu dengan cara kita sendiri. Yah, Radith yang akan menghukumnya karna orang itu yang sudah membuat Radith kritis, jadi biarkan Radith menjadi orang pertama yang menghukum orang itu."


Jordan tersenyum di posisinya dan merasa bangga karna papanya masih memikirkan nasib Radith yang masih berada di ambang hidup dan mati. Dia tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti keluarganya hidup dengan nyaman walau itu di penjara. Jika tuan Wilkinson sudah memutuskan begitu, tentu saja Jordan mendukung dengan senang, sedikit dari keinginannya sudah terkabul.


"Lakukan dengan cepat, jika kalian sudah mengambil semua uangnya, lekas beri kabar dan papa akan segera menghubungi orang yang meminta bantuan Papa, jadi semua bisa berakhir dengan cepat," ujar tuan Wilkinson yang diikuti oleh Jordan. Lelaki itu segera keluar dari ruangan dan meminta orang orangnya melakukan apa yang dia minta. Mereka segera pergi ke tempat yang ditemukan oleh Jordan.


Lelaki itu sengaja tidak memberi tahu Darrel karna hal ini sangat berbahaya dan dia tidak mau Darrel terluka, karna lelaki itu masih menjadi tulang punggung dari adik yang paling dia cinta dan anak anak mereka. Meski terlihat merendahkan lelaki itu, Jordan sebenarnya sangat menghargai dan menyayangi Darrel sebagai saudara, namun dia tidak mau menunjukkannya.


"Terlalu sepi, kita tidak bisa mendekat, kita harus melihat ada orang lain dulu karna kita tidak bisa ambil resiko oergi ke sana dan ternyata semua adalah jebakan mereka, kita harus mempertaruhkan nyawa kita di misi ini, jadi kita semua harus hati hati dan jangan ceroboh," ujar Jordan pelan namun bisa didengar oleh orang orangnya, karna mereka sedang mengintai tempat "harta karun" yang dia di rumah itu.


Mereka menunggu cukup lama di sana, sampai akhirnya ada dua buah mobil memasuki rumah itu, mereka memarkirkan mobil di area halaman dan segera turun dari mobil. Salah satu yang keluar Jordan tidak mengenalnya, namun salah satunya Jordan sangat tahu, dia sering membantu orang itu saat dulu, ah ternyata orang itu malah menjadi bandar narkoba.


"Wah, selama hidup kita gak tahu siapa yang akan menolong kita, atau siapa yang akan peduli sama kita. Gila, dia udah gue bantu buat banyak hal, dan gue juga sampai gak bisa mikir apa yang bisa mikir itu, kenapa selama ini mereka gak ketahuan sama sekali?" Tanya Jordan dengan heran pada bawahannya, bawahannya hanya diam tanpa menjawab apapun karna dia juga tak tahu.


"Ah, gak tahu lah, emang sering banget orang terlalu gak tahu dirinya tinggi banget sama Gue, dikira gue bikin berbagi itu cuma buat konten, melihat wajah tersenyum mereka, padahal itu juga membuatnya menjadi berharga, but see, orang ini memang lantas buat di penjara," ujar Jordan pada dirinya sendiri.


Mereka langsung membuat perangkap dan mengepung orang orang itu, memberikan obat bius dan merusak cctv, lalu segera masuk ke dalam ruangan brangkas yang sangat rahasia dan keamanannya cukup ketat. Untung saja Jordan tidak bodoh, dan dari dulu dia tahu hal seperti ini akan terjadi. Lelaki itu membawa ahli perkodean yang bisa menembus keamanan ini dengan mudah.

__ADS_1


"Lima menit, karna banyak laser yang harus dimatikan atau kita semua akan tertembak laser," ujar orang itu yang diangguki saja oleh Jordan, dia tidak begitu peduli berapa lama, ah asal tidak lebih dari 8 jam karna efek obat itu akan hilang, dan pekerjaan mereka akan sia sia, atau mungkin lebih buruk.


Kurang dari lima menit, orang kepercayaan Jordan itu bisa membobol semua pertahanan dan juga kemanan yang ada di ruangan ini. Mereka segera masuk ke ruangan yang penuh dengan uang itu, bahkan mereka sampai menganga melihatnya. Meski kini mereka menghadapi masalah yang baru.


"Kalau kita pakai tas, semua gak akan masuk, tapi kalau kita mau semua masuk dan jadi punya kita, kita harus membawa semua sekontainer yang ada di sini, astaga, saya tidak yakin ada ide yang bagus dari kedua opsi ini," ujar anak buah Jordan melapor dan membuat Jordan jadi frustasi karna ini jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan.


"Bawa Bom kecil kan kamu? Ledakkan pas di pintu ini dan biarkan dia meledak, kita tunggu aja di atas, nanti kalau udah, kita tinggal panggil derek, dekat juga jaraknya. Namun karna itu keperluan yang mendadak, Mereka harus mempersiapkan secara mendadak juga serta mengambil resiko yang tinggi. Mereka cukup was was karna ini bukan di negara mereka.


Setelah semua siap. Jordan dan anak buahnya keluar dari rumah itu untuk mengambil mobil dan akan menderek kontainer berisi uang itu menggunakan mobil dan akan membawa semua uang itu ke kapal yang diseludupkan. Mereka akan menyelesaikan semua dengan rapi dan menghilangkan satu orang yang tidak akan menjadi tersangka atau dicari oleh mereka. Jika semua lancar, mereka akan bisa mendapat keuntungan yang sangat sangat besar.


Setelah Jordan selesai dengan masalah uang, dia meminta anak buahnya untuk segera pergi ke kapal dan dia akan menyusul untuk memastikan saat polisi datang, mereka dalam keadaan yang rapi sehingga polisi gak akan pernah mengecek orang itu dan tidak akan ingat tujuan mereka datang ke tempat ini. Jordan senang karna dudah melakukan yang baik untuk papanya.


Radith bangun dari tidur panjangnya, dia tidak bisa menggerakkan tangan kanan dan kaki kiri. Karna efek tembakan yang cukup dekat dan lakinya perlu waktu lebih untuk pemilihan, apalagi yang baru mengalami, pasti lebih sakit dan dalam rasa sakitnya, seperti yang Radith rasakan saat ini, namun sia tahu dan tidak berteriak atau meminta tolong.


"Woah, udah 3 hari gue gak sadar? Emang 3 hari ini ada apa aja, ngapain aja? Gimana? Tante sama Om Vanes? Rencananya? Ashh astaga Radith, lo selalu melakukan sesuatu yang gak bermutu dan gak berguna, kalau memang ini gagal, udah pasti bang Jordan yang akan disalahkan untuk semua, membayangkan saja sudah membuat Gue merinding."


"Ada kabar terbaru gak? Gps yang gue tinggal ada membantu gak? Gue gak bisa ingat apa apa selain gue ditembak, gue juga gak ingat wajah yang nembak gue, jadi Lo bisa ceritakan semua man Selama 3 hari ini gimana?" Tanya Radith yang membuat Darrel mengerutkan keningnya. Kenapa lelaki itu snagat terburu buru?


"Udah, Lo gak usah mikirin itu dulu sih, kasihan juga kan otak Lo harus mikir ini itu. Semua udah beres dan GPs Lo itu kunci utama kita bisa menemukan ini. Lo harus sabar aja karna Gue juga belum dapat kabar dari Singapura, gue ditinggal sama Bang Jordan buat jagain Lo di sini," curhat Darrel yang menunjukkan wajah kesal atas perlakuan Jordan.


"Syukurlah kalau membantu. Gue kira identitas gue terbongkar dan itu membuat kacau, karna serius deh, gue gak nyangka pas ngikutin itu di belakang mereka banyak juga yang ngikutin. Jadinya orang itu nabrak dan nyulik gue sampai begitu. Sial, kalau mengingat itu lagi kayak bikin gue kesel banget asli."


Tak lama setelahnya. Darrel mendapat kabar dari Jordan bahwa misi selesai dan mereka berhasil. Mereka akan bertemu di tempat yang enak buat nongkrong sembari membagi hasil yang mereka dapat, lalu sekalian menjalani liburan di sana untuk merasakan keberhasilan mereka dalam mengumpulkan beberapa millyard uang dengan waktu singkat, meski nyawa yang menjadi taruhan.

__ADS_1


"Well, bawa gue kak, bawa gue buat ketemu bang Jordan. Karna memang gue gak bisa jalan dan gue malas pakai tongkat, tolong bawa Gue pakai kursi roda, gue harusnya benar benar membuat dia sadar kalau mengusik Radith bayarannya itu besar, dan ternyata apa yang mereka lakukan gak ada gunanya," ujar Radith yang hanya diangguki oleh Darrel karna mereka harus cepat.


Mereka sampai di sebuah rumah kosong dan menyalakan listrik. Mereka duduk melingkar dengan sesesok manusia yang ditaruh di tengah agar seperti orang mati. Radith menatap orang itu dan langsung mengingat, orang itu yang menyebabkan kondisinya seperti sekarang ini. Mereka mendiskusikan bagi hasil juga terkhusus Radith, memikirkan hukuman apa yang akan dia terima.


"Yah, kalau gue sih hukumannya adil, kalau dia tendang ya gue tendang, kalau dia pukul ya gue pukul, jadi yang gue mau cuma nembak dia aja, udah, setelah itu terserah deh mau diapain dianya, yang jelas gue mah gak peduli dia mau hidup atau mati setelah itu," ujar Radith dengan wajah yang serius. Dia memang menyimpan dendam yang besar pada orang di hadapannya ini, namun dia tidak mau jika orang ini harus mati di tangannya.


Jordan mengabulkan permintaan Radith dan mereka beristirahat sembari menunggi orang itu sadar dari pengaruh obat. Jordan juga sudah menghubunfi tuan Wilkinson untuk bisa melakukan misi selanjutnya. Tuan Wilkinson segera mengirim orang ke lokasi untuk memastikan tidak ada bukti yang akan menangkap dirinya, sebelum menelpon orang yang meminta bantuannya.


Setelah efek obat hilang, orang yang bertanggung jawab atas kondisi Radith sudah diikat kuat di sebuah kursi yang kakinya tertanam di lantai, jadi tidak akan bergesek atau bergerak. Radith ada di hadapan orang itu dengan kursi rodanya, tidak membangunkan dan memilih menunggu orang itu bisa bangun dari tidurnya dan menghadapi kematiannya.


"Seharusnya Gue udah bunuh Lo kemarin, jadi Lo gak akan menyusahkan Gue kayak gini. Sial, kenapa gak gue bunuh aja?" Tanya orang itu saat melihat Radith yang menatap dingin ke arahnya. Radith terkekeh, wajah dinginnya hilang seketika. Dia memang pistol yang tidak bersuara dan membuka kuncinya.


"Yesss, betul, Lo harusnya bunuh Gue selagi bisa, karna Gue punys tujuh lapis nyawa, gak akan gampang matinya. Tapi kemarin Lo malah nembak Gue di kaki, di tangan, gak ada ngaruhnya di hidup Gue jadinya. Masak Lo gak tahu sih? Atau Lo terlalu baik jadi mengijinkan Gue buat hidup?" Tanya Radith yang langsung membuat wajah orang itu berubah seketika.


"Ya, gue udah ngelametin nyawa Lo, jadi sekarang Lo harus menyelamafkan nyawa gue juga, Lo kan udah hutang budi sama gue, karna gue gak tega buat bunuh Lo, jadi gue biarkan lo hidup," ujar Orang itu yang membuat Radith makin kesal, namun dia tetap tersenyum meski hatinya dongkol karna orang tuanya diseret seret dalam masalah ini.


"Benar! Maka dari itu, gue juga gak akan bunuh Lo. Gue bisa janjikan hal itu, kalau gue berkhianat, Gue akan terima apapun yang Tuhan kasih, sampai sebulan ke depan pokoknya oh yak," ujar Radith yang membuat orang itu tersenyum karna masih ada harapan.


Tidak ada suara, namun darah mengalir dari kaki lelaki itu, ternyata Radith sudah menembak kaki orang itu, seperti apa yang dilakukan orang itu padanya, dia juga benar benar tidak akan membunuh orang ini, dia hanya akan menembak tangan orang itu seperti apa yang orang itu katakan padanya.


"Nah, kemarin kan Lo lakuin hal itu ke Gue, jadi ya Gue lakukan hal yang sama. Gue juga gak langsung dapat bantuan walau gue berdarah darah saat itu, sama persis kayak Lo sekarang, kita impas, gue udah gak ada dendam lagi sama Lo," ujar Radith memberikan pistol itu pada pengawal dan pergi dari sana.


Dorr

__ADS_1


Pengawal itu memilih pistol yang bersuara untuk mengakhiri hidup orang itu agar tangan Radith tidak perlu kotor melakukan hal ini. Radith lega akhirnya semua berakhir dan yah, kali ini Radith bakal benar berhenti dan kapok buat ikutan begini, dia memikih hidup sederhana bersama istrinya dibanding uang banyak namun nyawanya hilang.


"Setelah pemulihan, Gue bakal balik ke Lira dan fokus sama pengobatan Lira dan urus Sean, Gue gak akan mau ikut proyek begini lagi, makasih buat semua dan perhatiannya," ujar Radith yang diangguki saja okeh Jordan, karna jika itu yang diinginkan Radith, Jordan harus menghargainya


__ADS_2