
Berbulan bulan berlalu, perut Lira semakin membesar, dia bahkan kesulitan untuk berjalan lagi. Namun karna dia harus mengurus dua anak lain, dia tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Meski sudah ada baby sitter yang disewa oleh Radith, Lira merasa tak tenang jika belum melihat dan mengurus sendiri anak anaknya. Radith sendiri sudah melarang, namun Lira tidak bisa diatur, jadi Radith yang mengalah.
"Sayang, kamu udah bangun pagi pagi, udah duduk aja di sofa, kalau yang lain kamu tinggal lihatin suster nyiapin mereka. Susternya juga gak papa kan?" Tanya Radith yang diangguki oleh dua suster yang sedang membawa tas untuk Sean dan Zia. Lira hanya menghela napas dan duduk di sofa sesuai dengan permintaan Radith.
"Sean, kamu sama Zia sama Om Andre ya, Papa mau temenin Mami di rumah. Nanti kalau kamu pulang juga sama Om Andre aja ya, nanti sore kita jalan jalan sama Mami juga, oke?" Tanya Radith yang diangguki oleh Sean dan Zia. Radith merasa beruntung karna anak anaknya mengerti kondisi mereka dan tak banyak mengeluh tentang hal itu, mereka hanya sering meminta untuk bermain dengan Radith dan Lira, sisanya mereka bisa mengerti.
"Ya udah, kalian berangkat ya, biar gak telat juga jadinya," ujar Radith yang diangguki lagi oleh mereka. Zia dan Sean diberkati oleh Radith seperti biasanya dan segera pergi ke sekolah karna mereka akan terlambat. Untung saja Radith memiliki Andre yang membantunya dalam segala hal. Mereka pergi dari rumah dan suster masuk ke kamar mereka masing masing untuk membereskan kamar mereka. Sementara Lira dan Radith duduk di Sofa untuk beberapa saat.
"Ra, ini udah 6 bulan kan ya Seanwatinya? Kata dokter kamu harus jalan jalan biar ototnya gak kaku juga. Ayo kita jalan jalan aja yuk mumpung masih pagi, mau gak? Mumpung aku agak lega juga posisinya," ajak Radith yang diangguki oleh Lira, Radith bangun dari posisinya, namun Lira seperti menanggung berat dan tak bisa bangun dari sana. Hal itu sontak membuat Radith terkekeh, istrinya sudah seperti paus yang terdampar di pantai.
"Uluh uluh istriku sampai susah bangun. Seanwati, nih, dengar ya nak, sayangnya Papa dan Mami. Kamu harus lihat ini perjuangan mama kamu menggendong kamu sampai nanti kamu lahir. Jadi anak baik ya nak, banggakan mama dan papa, dan selalu bahagia bersama kami," ujar Radith sambil mengelus perut buncit Lira. Radith membantu istrinya untuk bangun dan mereka pergi dari rumah menuju taman yang biasa digunakan untuk jalan jalan oleh warga sekitar.
Hawa bagi memang sangat menyegarkan bagi pejalan kaki, apalagi tak banyak motor atau mobil yang lewat di sini, mereka bisa berjalan dengan tenang. Radith melarang Lira untuk berlari, dia takut Seanwati terguncang dan kaget, lalu malah minta dilahirkan saat Lira berlari (ah, logika yang aneh, namun Lira menurut saja, toh dia juga tidak berminat untuk berlari).
"Lumayan sepi, kamu mau pemanasan atau perangan gitu gak Ra? Kalau mau aku pegangin. Nih, terutama squad gitu, aku mau belikan kamu yang bola bola besar buat duduk itu lupa terus loh. Kamu gak ingatkan aku," ujar Radith yang dengan setia menggandeng tangan Lira tanpa mau melepaskannya. Lira berdecih melihat lelaki itu, Radith tentu bingung apa yang salah sampai Lira berekspresi seperti itu.
"Kalau emang niat mau belikan sih gak usah nunggu aku melahirkan juga Dith, lama banget kamu bilanh mau belikan sejak 2 bulan lalu alasannya lupa. Tapi pas ingat gak langsung pesan," ujar Lira menyindir yang membuat Radith tertawa, dia tidak bermaksud seperti itu, tapi dia selalu tak membawa ponsel saat mengingat hal ini, dan dia sudah lupa jika sudah memegang ponselnya. Rupanya Lira sangat kesal dengan hal itu.
"Aku gak bawa ponsel loh sekarang. Kamu bawa gak? Kalau kamu bawa, aku pesan sekarang pakai ponsel kamu, nanti aku yang bayar, bisa kan? Mana ponselmu?" Tanya Radith yang dijawab Lira dengan menunjukkan tangan yang kosong. Dia hanya berniat untuk berjalan jalan sebentar, jadi dia tidak membawa ponsel, bahkan tidak membawa uang karna dia ingin makan di rumah saja. Mereka harus mulai berhemat untuk biaya hidup 5 orang nantinya.
Namun rupanya Lira tergoda dengan tukang bubur kacang hijau yang ada di sana. Apalagi tampak ramai jadi pasti rasanya enak. Sudah lama dia tidak memakan bubur kacang hijau atau bubur ayam. Namun kali ini dia ingin sekali makan itu, dia ingin Radith membelikannya makanan itu, karna dia sedang tidak membawa uang untuk membayarnya, dia juga tak membawa ponsel sehingga tidak ada uang elektronik juga di sakunya.
__ADS_1
"Dith, kamu bawa uang kan? Aku mau bubur kacang hijau itu Dith," tunjuk Lira pada tukang bubur itu yang membuat Radith merogoh kantongnya, namun dia tidak membawa apa apa. Dia menatap ke arah Lira dengan wajah polos, membuat wanita iu menghela napas dengan wajah sedih. Dia ingin sekali makan, namun Mereka berdua tidak membawa uang sama sekali.
"Kamu beli dulu yang, aku pulang dulu ke rumah buat ambil uang, kamu pesan buat kamu dulu aja, nanti aku pesan sendiri. Tunggu di sana ya, aku lari deh nanti biar cepat nyampe rumahnya," ujar Radith yang sebenarnya tak disetujui oleh Lira, namun Radith ingin menjadi suami yang baik dan teladan, jadi dia memaksa untuk melakukannya. Lira diantar sampai tukang bubur itu dan dia segera berlari dari sana ke rumahnya meski rumahnya berjarak cukup jauh dari sini.
"Huft, semangat papa muda anak 3, kau pasti bisa kuat, lebih kuat dari superman, dan lebih cepat dari flash," ujar Radith yang sudah berlari. Dia tidak melihat ke belakang lagi, sudah lama dia tidak berlari. Biasanya saat di sekolah dulu dia berlari dengan Luna, ah kenangan itu tidak akan pernah hilang dari pikirannya. Bukan berarti dia masih mencintai Luna, dia hanya tak mau membuang kenangan itu dari pikirannya, alam bawah sadarnya tak menginginkan hal itu.
"Kalau dulu gue lari kayaknya bisa cepat dan enak banget deh kok sekarang engap ya? Apa karna gueu dah bapak bapak? Astaga, gue masih 30 an kok, belum bapak bapak, huft huft huft," Radith terus mengoceh agar tidak terasa. Bodohnya dia lupa jika dia punya banyak pengawal di sekelilingnya yang tak terlihat, dia bisa saja meminjam uang dari orang orang itu, namun dia terlalu senang karna Lira mengidam sesuatu, jadi dia tidak terpikirkan hal itu dan langsung berlari saja.
Sampai di rumah, dia segera mengambil dompet dan Uang, lalu kembali keluar dari rumah. Saat sudah melewati gerbang, dia berhenti, lalu melihat ke arah rumahnya dan melihat ada 3 mobil terparkir di sana, membuatnya menjadi kepikiran dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia mengambil kunci mobil dan menaiki salah satu mobilnya yang paling murah, benar benar murah, bahkan harga mobil ini tak sampai 100 juta. Hanya mobil keluarga yang kecil muat untuk 4 orang.
Radith berpikir karna dia hanya ingin ke depan komplek, tidak perlu memakai mobil yang mahal, dia hanya perlu sampai ke depan sana dan mobil ini adalah satu satunya yang matic serta memiliki banyak bensin, jadi dia memakainya saja. Dia ingin segera menyusul Lira karna khawatir istrinya kenapa napa. Dia menyusul Lira dengan cepat dan memarkirkan mobilnya di sana. Lalu melihat Lira yang sudah duduk sambil menyantap semangkok bubur, ada sesuatu yang membuat Radith merasakan aneh.
"Pak pesan satu lagi ya pak," ujar Radith yang juga kepingin saat melihat Lira hampur menghabiskan mangkok ke tiga. Meski memang menurut Radith porsinya cukup kecil, namun jika sudah 3 mangkok, mungkin Radith tak akan menghabiskannya dan tetap merasa kenyang sampai siang bahkan malam. Namun Lira bisa menghabiskannya tanpa beban dan sangat cepat.
"Yang pelan pelan loh, nanti kesedak, pelan pelan gak akan aku tinggal," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh. Dia mengelus perutnya dan kembali makan, lalu saat habis, dia meletakkan mangkok ketiga itu di bawah kakinya, dia melihat ke arah penjual dan memesan satu lagi, namun kali ini tidak memakai bubur ketan hitam karna dia sudah kenyang, namun masih menginginkan kacang hijau yang enak itu. Radith tidak melarang sama sekali dan membiarkan saja Lira membeli sebanyak yang dia suka.
Penjual itu sontak saja merasa senang dan membuatkan sesuai pesanan Lira. Istrinya kembali makan dan membuat Radith terkekeh lagi dan lagi, Lira snagat imut, Radith sangat menyukainya. Dia tidak bisa tidak tersenyum setiap Lira memasukkan makanan ke mulutnya. Namun pendangannya teralihkan dengan pasangan yang duduk tak jauh dari mereka. Mereka menatap Lira dengan jijik, lalu melihat ke arah mobilnya yang terparkir di seberang jalan.
"Nak, kamu jangan makan banyak banyak begitu ya nak, kamu jangan buat mama kelaparan kayak gak makan satu bulan ya. Untung aja kamu gak rewel dan gak banyak makan di sana, jadi Mama dan Papa bisa menabung dan membeli mobil yang bagus dan mahal buat kamu. Terus juga bisa beli rumah di bagian yang mahal di sini, cash gak pakai kredit," sindir orang itu yang membuat Lira berhenti makan, tiba tiba saja napsu makannya menghilang dan tidak berminat untuk menghabiskan makanan di tangannya.
"Gak usah didengar, gak usah terpancing, mereka kan gak tahu kita," lirih Radith yang diangguki oleh Lira. Namun dia sungguh tak ingin lagi menghabiskan setengah kacang hijau di tangannya. Radith mengambil alih makanan itu dan menghabiskannya karna dia tidak mau membuang makanan, namun orang yang ada di sana malah tertawa meremehkan Radith dan Lira karna Radith menghabiskan makanan sisa yang dimakan oleh Lira. Padahal itu sah sah saja karna Lira istrinya.
__ADS_1
"Tuh nak, untung Mama papa kamu gak miskin miskin banget sampai papamu harus makan makanan sisa daripasa pesan lagi yang baru. Ih, nak, semoga kita gak jatuh miskin seperti itu ya nak. Semoga papamu mendapat promosi di perusahaan PT Mitra Mulia sebagai direktur yah, sekarang kan masih asisten, tapi uangnya udah banyak."
Lira memandang ke arah Radith. PT Mitra Mulia adalah anak perusahaan milik Radith. Itu bukan perusahaan Radith yang besar, masih banyak yang lebih besar termasuk perusahaan alat alat elektronik milik Radith. Apakah orang itu bekerja di sana dan mengejek pemilik perusahaan tempat dia bekerja? Apa mereka tidak tahu malu? Itulah yang dipikirkan oleh mereka.
"Ah iya, sebentar." Orang itu mengeluarkan kartu nama dan memberikan pada Radith dan Lira.
"Itu kartu nama suami saya, barangkali kamu mau pekerjaan yang lebih baik. Suami saya asisten manager di perusahaan itu, jadi kalau kasih pekerjaan sekelas staff senior, leader atau spv pasti masih bisa. Saya lihat kamu punya potensi. Saya kasihan sama kamu yang mau punya anak, pasti butuh banyak biaya." Lira dan Radith saling berpandangan untuk sejenak, Lira hendak membuka mulutnya, namun Radith menahannya.
"Ah, terima kasih banyak ya bu, ibu memang sangat baik pada saya. Terima kasih bu dan pak, kebetulan saya memang sedang membutuhkannya. Jadi besok saya bisa langsung ke sana menemui anda ya pak... Anton? Benar ya pak?" Tanya Radith dengan sopan. Seorang pria yang namanya Anton mengangguk sopan pada Radith dan Ibu itu tersenyum bangga, lalu duduk di kursinya lagi untuk menikmati bubur yang ada di sana.
"Kamu udah? Kalau udah kita pulang yuk," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Lelaki itu pergi ke arah penjual dan menanyakan jumlah yang mereka habiskan. Lelaki itu mengeluarkan uang 500 dan membayarkannya, bahkan tak mengambil kembalian. Semua itu dilihat oleh pasangan yang ada di sana.
"Lihatlah, dia hidupnya susah, tapi masih bergaya kasih orang banyak uang untuk membuat kita terkesan Pa, ah, apakah benar keputusanku untuk memberi dia pekerjaan?" Tanya orang itu yang tidak digubris oleh Radith, lelaki itu pura pura tak mendengar dan menggandeng Lira untuk pergi dari sana.
"Bapak, Ibu, kami pergi dulu, sekali lagi terima kasih untuk tawaran pekerjaannya. Lain kali kami akan membalas jasa bapak dan Ibu. Ah ya, kalau Ibu bapak tidak keberatan, rumah saya ada di komplek melati paling pojok, jadi kalau mau main, kami akan jamu sebaik mungkin," ujar Radith yang diangguki oleh mereka dengan bangga.
"Baiklah, kami akan mampir jika ada waktu ya," ujar orang itu.
Lira dan Radith masuk ke mobil dan Lira langsung memandang Radith dengan kesal, apakah lelaki itu tidak malu atau marah anak buahnya memperlakukannya seperti itu?
"Pembalasan yang tepat dan menyakitkan, harus dilakukan dalam waktu yang tepat, tenang aja sayang, aku punya cara sendiri. Anto Gatra Andriansyah, Asisten Manager. Dia bakal kenalan sama aku sebentar lagi."
__ADS_1