
Di sebuah ruangan VIP yang ada di sebuah Hotel, Radith berjalan ke arah kaca dan merapikan rambutnya yang berantakan. Lelaki itu memainkan dagunya dengan wajah menyelidik, seolah sedang meneliti sesuatu. Siapa pun yang melihat Radith saat ini pasti merasa Radith sangat aneh dan mungkin sudah depresi berat karna ditinggalkan oleh gadis yang dia cinta, dua kali.
"Gue udah lakukan segalanya, tapi dia malah nikah dan punya anak dari orang itu. heh, gantengan juga Gue daripada tuh cowok. Itu Lira bertahun – tahun kena polusi mata kah?" tanya Radith pada cermin yang ada di hadapannya. Dia sangat kesal, lelaki itu sudah menolak puluhan gadis untuk harapan kosong.
"Tapi kenapa Gue ngerasa gak asing sama anaknya sih? Emang pernah ketemu? Dimana coba?" tanya lelaki itu lagi. Sebenarnya Radith sedang dalam mood yang baik, dan entah mengapa dia hanya kesal karna Lira sudah memiliki lelaki lain, bukan menunggu dirinya. Hal itulah yang membuat Radith tidak mengamuk dan menunggu waktu yang tepat.
"Gak, gak, Gue beneran pernah lihat dia," ujar Radith pelan sambil memijit keningnya, memaksa sisa – sisa memori dalam otaknya keluar. Lelaki itu langsung membuka mulutnya saat mengingat sesuatu. Dia segera menghubungi sekretarisnya dan berkata dia akan pulang ke Indonesia sementara Sekretarisnya melakukan presentasi bersama asisten pribadinya.
Lelaki itu langsung memesan pesawat paling cepat, dan dia segera kembali ke Indonesia. Tujuannya adalah rumah Ibunya. Ibu yang sudah lama tidak dia kunjungi. Bukan bermaksud durhaka, Radith hanya benar – benar tak memiliki waktu, namun dia selalu memastikan Ibunya dalam kondisi yang sehat dan aman. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan sebagai anak.
"Dave, kamu akhirnya pulang, Mama udah kangen banget sama kamu. Kamu apa kabar? Ayo kamu masuk dulu, kamu mau makan apa? Mama pesankan ya?" Radith merasa hangat mendengar suara itu, dia baru menyadari bahwa dia juga sangat merindukan Ibunya, meski mereka tak terlalu dekat karna sifat Radith yang dingin.
"Dave baik Ma, Mama sehat kan? Dave buru – buru ke sini, jadi Dave gak bawa apa – apa. Kalau Mama mau sesuatu atau butuh apapun, kasih tahu aja Ke Mira (Seorang yang ditugasi Radith untuk menjaga mamanya), pasti Mira beliin, kalau dia gak nurut, Dave bakal kirim dia ke Zimbawe," ujar Radith yang membuat Mira tersentak.
"Dia baik kok, dia sudah rawat Mama seperti Mama kandungnya. Dia juga sering cerita kalau Kamu sangat sibuk dan berbahaya buat kamu sering datang ke sini. Mama bisa mengerti. Tapi mama Minta kamu hati – hati ya, Harta gak ada apa – apanya dibanding nyawa anak lelaki satu – satunya yang Mama punya," ujar Mama Radith dengan wajah yang terharu.
__ADS_1
"Mama, Dave pasti baik – baik aja, Dave senang karna Mama bisa mengerti. Dave janji, Dave bakal bawa Mama buat tinggal sama Dave kalau nanti semua situasinya sudah aman. Dave janji gak akan makan waktu lama," ujar Radith yang diangguki oleh Mamanya.
"Ah ya, gak mungki kamu datang ke sini hanya untuk berbasa – basi sama Mama kan? Kamu ada perlu apa sampai malam – malam menyempatkan waktu ke sini?" tanya Mama Radith yang kini dengan wajah serius. Radith menghela napasnya, dia menceritakan semua masalahnya pada Mamanya, untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Mama gak nyangka cowok dingin kayak kamu bisa punya masalah cinta yang serumit ini. Bagaimanapun, apa yang kamu lakukan pada Lira itu salah Dave, dan wajar jika dia benci atau gak mau ketemu sama kamu. Kalau kamu mau dia kembali, kamu gak bisa paksa dia, kamu harus lembut biar dia luluh."
"Mama gak pernah mengajari kamu untuk jadi laki – laki yang nakal seperti itu, tapi mungkin kehidupan kamu yang buat kamu belajar. Asalkan kamu sudah tahu kalau kamu salah, Mama tidak akan masalah, kamu sudah dewasa. Tapi sekarang masalahnya ada di kalian, kalian mau bagaimana ke depannya.
"Iya Ma, Dave tahu, tapi Dave masih gak bisa kontrol emosi, Dave kesal lihat dia sudah punya suami dan anak," ujar Radith yang kemudian menegakkan tubuhnya. Dia langsung memandang mamanya, membuat Mamanya ikut bingung dan juga menegakkan tubuhnya. Radith diam beberapa saat sambil matanya mencari sesuatu.
"Kamu cari apa? Barang – barangnya udah Mama ubah tempatnya, kamu gak akan ingat. Kamu butuh apa biar Mama bantu carikan," ujar Ibu Radith yang langsung berdiri dan berkacak pinggang. Radith terkekeh melihat hal itu.
"Mama simpan album foto kayak mau simpan bom, kenapa harus susah – susah? Kalau Mama lupa terus kebuang gimana?" tanya Radith yang membuat mamanya mengisyaratkan dia untuk diam.
"Mama sengaja, biar gak usah dibuka – buka atau dilihat, nanti cepat rusak, lagipula kalau Cuma ditaruh, nanti bisa ketumpahan air, atau kena tahi cicak, kan rusak. Nih, kamu butuh ini buat apa?" tanya Mama Radith sambil mengulurkan album itu.
__ADS_1
Radith menerima Album foto yang sudah lama tidak dia pegang. Dia mengelus sampulnya yang bahkan terbebas dari debu, keputusan mamanya untuk menyimpan Album dengan rapat sangat benar. Lelaki itu membuka Album foto yang ada di tangannya dengan hati – hati dan teliti, namun baru gambar pertama, dia sudah berhenti.
"Ini waktu Mama hamil kakak kamu, ada kan fotonya? Mama mau setiap tumbuh kembang kalian terekam jelas, biar besok kalau mama udah gak bisa apa – apa, Mama bisa kenang kembali semua."
"Di sini juga ada foto Dave waktu kecil kan ma? Mungkin umur tiga sampai neam tahun," ujar Radith yang membuat mamanya berpikir.
"Ah, gak ada disitu, itu kan Cuma foto – foto kehamilan mama. Kamu Cuma bilang album lama, kalau album kamu ada di lemari," ujar Mama Radith yang mengambil kembali album itu, membuat Radith berdecak dan memutr bola matanya.
"Ya emang album itu gak di lemari?" tanya Radith pelan agar mamanya tak mendengar.
"Ini album foto dari kamu waktu masih sebesar biji kacang, sampai kamu SMA, setelah itu gak ada karna Mama udah gak foto kamu lagi," ujar Mama Radith sambil mengulurkan album lain. Radith mulai membukanya dan sedikit tersenyum. Mamanya tak berbohong, di sana ada foto USG sejak dia masih sebesar kacang kedelai.
"Ini dia," ujar Radith yang langsung melompati banyak halaman hanya untuk melihat dirinya saat berusia tiga sampai lima tahun. Lelaki itu cukup terkejut, dan dia mengambil salah satu foto yang ada di sana lalu menyimpannya ke dalam sebuah tempat yang sudah disiapkan oleh Mira agar foto itu tak rusak.
"Mau kamu apakan foto itu?" tanya Mama Radith dengan bingung. Lelaki itu tersenyum lebar, dia memeluk mamanya sebentar dan mencium pipi mamanya. Sesuatu yang mungkin lebih dari dua puluh tahun tidak dia lakukan. Hal kecil itu bahkan sudah membuat Mamanya merasa terharu membalas pelukan hangat yang Radith berikan.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi dan apapun keputusan kamu, Mama bakal dukung dan berikan yang terbaik buat kamu. Kamu dan kakak kamu adalah berlian dalam hidup Mama, Mama dukung dan selalu mendoakan kalian," ujar Mama Radith sambil menahan tangisnya.
"Belum saatnya Mama menangis terharu, tunggu sebentar lagi, Dave bakal bawa menantu sekaligus cucu buat mama," ujar Radith dengan mata yang terbuka lebar (tidak lebaar juga sih, dia kan sipit).