Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 58


__ADS_3

Di sebuah butik ternama langganan para pengusaha membeli dan memesan busana, Lira mencoba gaun yang sudah dipesan oleh Radith tanpa sepengetahuannya. Dia tidak bisa menyembunyikan raut bahagia saat memakainya, apalagi gaun itu sangat pas di tubuhnya, sangat cantik dan penuh gemerlap. Radith memang tidak asal dalam memilihnya, bahkan sangat bagus. Lira tidak bisa menyembunyikan rasa kagum itu.


"Aku kira cuma bentuknya aja yang bagus buat kamu, aku gak nyangka ukurannya juga pas banget buat kamu, padahal aku cuma mengira ira aja loh pakai tubuh aku, kira kira ukuran kamu segini," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh, dia masih sibuk mengagumi gaun yang melekat di tubuhnya, dia tidak ingin perubahan apapun, dia langsung setuju dengan pilihan Radith.


Setelah itu mereka pergi ke toko perihasan, dimana Lira sebenarnya sudah pernah memilih, namun karna Radith membeli cincin yang berbeda, dia harus mencobanya lagi. Lira bisa tahu cincin itu sangat mahal bahkan hanya dengan melihatnya. Dia bahkan tidak berani mendekat atau menyentuhnya, takut merusak barang mahal itu, meski Radith sudah membeli untuknya, dia akan merasa bersalah jika cincin ini rusak saat dia pegang.


Setelah bujukan dari Radith, akhirnya Lira memakai cincin itu dan matanya langsung berkaca kaca, dia tidak pernah menyangka akan bisa memakai cincin yang sangat mahal in idalam hidupnya. Dia pernah membaca, di toko perihasan brand ini, tidak ada yang murah, bahkan yang dipilih Radith bisa seharga ratusan juta, namun lelaki itu membelinya dengan mudah hanya untuk Lira, karna bagi Radith, Lira jauh lebih berharga dari cincin ini.


"Aku senang kalau kamu juga suka apa yang aku pilih, aku gak pernah masalah sama harga, apalagi ini moment seumur hidup sekali bagi kita. Aku mau kita terus sama sama sampai maut memisahkan kita. Aku gak mau pisah lagi dari kamu, aku gak mau hidup tanpa kamu lagi, aku mau setelah kita menikah, kita janji akan tetap bersama apapun yang terjadi, oke?" Tanya Radith dengan menahan senyumnya.


"Ya, aku akan berjanji untuk itu, aku bahagia sekali akhirnya hari yang ditunggu akan datang sebentar lagi. Sean juga udah bisa nerima kamu sebagai Papanya, dia juga bilang ke aku kalau dia merestui kita karna dia tahu kamu orang baik. Aku senang semua berjalan dengan lancar Dith, aku bahagia," ujar Lira sambil tersenyum. Radith ikut tersenyum dan memberi kecupan singkat di dahi Lira.


"Ini cincinnya simpan dulu aja ya mba, kan lebih aman kalau di sini, nanti saya ambil kalau udah mepet atau pas hari H aja ya, gak papa kan mba kalau titip dulu di sini?" Tanya Radith yang tentu dibolehkan oleh pegawai karna produk mahal mereka dibeli oleh Radith, mereka akan untung besar karna hal ini, jadi menitipkan barang itu bukan masalah yang besar.


"Aku udah nyiapin Cateringnya juga, sama tempatnya aku udah book persis di dekat pantai, dan dekorasinya juga udah aku pilih, tapi nanti kamu koreksi lagi, apapun yang mau kamu ganti, tinggal ganti aja, aku mau semua yang aku lakuin sesuai dengan ekspetasi kamu, dan pernikahan kita akan berkesan buat kamu," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka pergi dari toko perihasan itu menuju toko undangan karna itu satu satunya yang belum Radith lakukan.


"Kita buat 500 undangan gitu aja dulu, nanti kan tulisannya bisa kita tulis sendiri, aku belum kepikiran mau undang siapa aja soalnya," ujar Lira saat berada di dalam mobil. Radith mengerutkan keningnya mendengar jumlah orang yang ingin Lira undang, sangat berbeda dari yang ada di pikirannya, jumlahnya terlalu sedikir bagi Radith.


"Aku tuh udah nyiapin makanan per itemnya 1500 porsi loh, ya paling gak kita undangnya 1000 orang, 500 nya back up kalau mereka pakai atau bawa plus one, kalau 500, apa gak terlalu sedikit dan sepi? Kita juga di ruang terbuka loh, pasti kelihatannya lebih luas dan lalau sepi pasti gak begitu seru dan meriah," ujar Radith yang sebenarnya disetujui oleh Liora, namun dia tetap ingin hanya mengundang 500 orang.


"Gak papa kita undang 500 orang aja, terus nanti kan sama plus one mereka, sisanya bisa kita bagikan ke pegawai catering, bisa juga kita bagikan ke orang orang yang ada di sekitar lokasi, mereka pasti senang, nanti tinggal ngomong ke pegawainya nyiapin dus, jadi kalau sisa bisa kita bungkus dus dan kita bagikan," ujar Lira yang membuat Radith kalah dan mengalah, karna apa yang Lira pikirkan bukan hal yang jahat.


"Lagian nih ya dith, kita bukan artis, bukan orang terkenal atau tokoh penting, ngapain juga undang 1000 orang? Malah bingung mau undang siapa. Apalagi aku 5 tahun ada di Aussie, dan gak ada teman di sana, makin susah nyari tamu yang bisa diundang, paling teman teman sekolah, gak akan nyampe 100 juga," sambung Lira yang diangguki lagi Radith, dia menurut saja dengan apa yang Lira pikirkan jika itu hal baik.


"Oke, undangan untuk 500 orang, kalau gak ada yang bisa diundang, ya kita undang aja orang yang bisa kita temui di jalan, hahaha. Habis ini kita lihat catering dulu, setelah itu makan siang baru lanjut lihat tempatnya, aku udah laper, tapi mau naikin napsu makan dulu lewat makanan yang ada di catering," ujar Radith yang diangguki oleh Lira kali ini. Mereka melunasi undangan itu dan segera pergi dari sana saat semua beres.

__ADS_1


"Gak jadi ke catering dulu ya Ra, aku udah laper banget ternyata, mau makan dulu aja ya, oke, kita berangkat," ujar Radith dengan lucu tanpa mau mendengar jawaban Lira karna dia memang sudah lapar. Mereka meluncur ke tempat yang dipilih oleh Radith, sebuah restoran Buffet dimana mereka bisa mengambil apapun yang menjadi menu hari ini dan mereka hanya perlu membayar sekali.


"Ah, ini All you can eat versi bukan BBQ ya Dith? Versi Buffet kayak angkringan gitu ya?" Tanya Lira saat memasuki ruangan dan berisi makanan makanan yang mewah. Radith memang sangat boros akhir akhir ini, padahal dia berkata perusahaannya sedang mengalami kesulitan ekonomi, jadi aneh jika Radith menghabiskan dua ratus ribu per orang hanya untuk makan di tempat mewah ini.


"Kamu gak usah bingung gitu, ini aku gak pakai uang perusahaan, tapi emang uang yang aku budget buat makan. Aku kan ada anggaran masing masing, makan ya makan, kerja ya kerja, dapur ya dapur," ujar Radith seolah tahu isi pikiran Lira. Wanita itu langsung berdehem dan segera mengambil makanan yang ada di sana.


"Dith, seandainya ada restoran begini yang harganya menengah ke bawah, pasti enak ya. Udah nanti makanannya murah murah, bisa ambil sendiri, gak ada batas waktunya pula, pasti banyak yang betah nongkrong sambil ngobrol gitu di sini," Ujar Lira yang tiba tiba mengingat hal itu, kebanyakan All you can eat memiliki batasan waktu, namun di sini tidak.


"Ya makanya orang di sini juga gak ngasih harga menengah ke bawah, karna mereka tahu target pasar mereka ornag orang kaya yang bingung mau apa. Mereka gak akan makan banyak, dan bahkan pulang ceoat buat arisan atau urusan lain, ya kan?" Tanya Radith yang masuk di akal Lira dan wanita itu menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang Radith katakan.


Mereka makan dengan tenang dan nikmat, setelah itu pergi dari sana untuk mengurus masalah catering dan semua masalah yang tersisa. Saat sudah merasa semua cukup, mereka hanya perlu bersantai di rumah sambil menunggu hari H, Lira sangat gugup saat hari semakin dekat, dia bahkan sampai malu dan tidak mau bertemu dengan Radith.


Hari yang dinanti pun tiba. Banyak undangan yang datang dengan pasangan mereka masing masing, Radith mengundang semua orang di perusahaannya, membuat Tamu menjadi banyak dan Lira senang karna cukup ramai, banyak orang yang menghargai mereka dan bahkan rela menyisihkan waktu untuk hadir dan memberi selamat bagi mereka berdua.


Radith menunggu Lira bersama dengan pastor di altar yang disediakan. Lira digandeng oleh Alex, satu satunya keluarga yang dia miliki, di deoan Lira juga ada Sean yang menabur bunga bunga kecil untuk mengantar Lira menuju Radith, sesampainya di altar, Radith memegang tangan Lira dan mengajaknya untuk berjalan menghadap ke pastor yang akan menberkati mereka.


"Ya, saya bersedia."


"Ya, saya bersedia."


"Kini kalian sudah disatukan oleh Tuhan dan apa yang disatukan oleh Tuhan, tidak dapat diceraikan oleh manusia. Berbahagialah kalian sampai maut memisahkan kalian dan kalian akan bersatu lagi di surga Bapa yang kekal," ucap pastor itu sambil membuat tanda salib dan diikuti oleh Radith dan Lira.


"Kau boleh mencium pengantinmu," ujar Pastor itu yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu msmandang bibir Lira yang lembut dan bersinar, namun dia ingin membuatnya hangat, jadi dia memilih untuk mencium lama kening Lira dan memeluk wanita itu dengan cukup erat, menyalurkan semua cinta yang tidak bisa dia ungkapkan, hanya dapat dia katakan lewat pelukan ini.


"Aku bersyukur menemukanmu, aku bersyukur bisa memilikimu, aku sangat bersyukur akan menghabiskan sisa waktuku bersamamu, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu," ujar Radith yang kembali mencium kening Lira singkat, lalu menghampiri tamu undangan yang terus memberi mereka ucapan selamat.

__ADS_1


Lira dan Radith sibuk menyalami dan terus tersenyum dengan para tamu undangan. Namun tiba tiba saja mata Radith menangkap ada ornag yang melihat ke arah mereka dengan intens. Orang yang sama yang tenggelam dan menatap Radith dengan tatapan menusuk. Dia langsung memperhatikan orang itu, meski matanya tak langsung fokus pada orang itu.


Namun sepertinya yang diperhatikan merasa juga, karna orang itu langsung menyingkir dari tamu undangan lain dan menghilang tanpa jejak lagi. Radith tidak mau membuat keributan di hari bahagia ini, namun dia juga tidak bisa membiarkan orang itu lolos dengan mudah. Bagaimana orang itu bisa masuk di antara tamu undangan? Apakah dia datang bersama orang yang Radith kenal?


"Sayang, aku ke sana dulu ya, kamu di sini aja sama Sean atau sama tamu, aku cuma sebentar," ujar Radith di telinga Lira dan pergi dari sana setelah mendapat ijin dari Lira. Dia menghampiri pengawal yang menjaga pintu masuk ke acara ini, namun ternyata pengawal itu tidak tahu sama sekali ada penyusup yang masuk, itu artinya orang tadi tidak menyusup dengan mencurigakan, karna bahkan pengawalnya tidak menyadarinya.


"Ada yang keluar gak barusan pak? Cewek atau cowok deh, ada gak?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala. Acara baru saja dimulai, tidak mungkin Tamu langsung pulang begitu saja, apalagi jika belum menikmati semua makanan lezat yang tersaji di sana, mereka tidak akan pulang sebelum mencicipi semuanya.


Radith kembali kepada Lira dengan lesu, membuat Lira khawatir dan bertanya, namun dia mengatakan semua baik baik saja, dia hanya merasa sedih karna dia tidak berkunjung ke makam Blenda saat hendak menikah, karna dia menganggap Blenda seperti adiknya, dia merasa bersalah tidak cerita pada Blenda bahwa mereka akan menikah.


"Kalau gitu, nanti setelah acara kita ke sana aja. Aku gak pernah tahu tentang Blenda ini, jadi alu mau kenalan juga sama orang yang sangat penting di hidup suamiku, gak papa kan aku ikut?" Radith mengangguk dan menyetujui permintaan Lira. Mereka memang harus berkenalan karna bagaimanapun, Blenda salah satu orang yang berharga baginya, adik paling berharga sedunia.


"Masalah Blenda aja kah yang buat kamu kayak gini? Aku punya fisarat bukan cuma ini. Ayo, kamu udah janji buat selalu jujur dan terbuka sama aku, jadi ya kamu jujur aja sama aku, kamu kenapa, kenapa segelisah itu?" Tanya Lira sambil memegang pundak Radith agar lelaki itu tidak tegang.


"Aku emang ada sesuatu, dan aku gak akan bohong sama kamu, tapi aku gak mau buat situasinya jadi gak kondusif sekarang, jadi aku akan pastikan semua dulu, baru setelah itu aku bilang ke kamu semuanya. Oke? Aku bukan mau bohong ke kamu, tapi aku perlu waktu buat nyari jawaban, baru aku bilang ke kamu."


Lira mengangguk paham mendengar hal itu, paling tidak Radith tidak berbohong padanya. Lelaki itu hanya ingin Lira tetap tenang dan menunggu, itu juga demi kebaikan dan keselamatan keluarga ini, jadi Lira menurut, anggap saja sebagai tugas pertamanya dalam keluarga ini.


"Mami, papi, tadi ada yang kasih Sean minuman, katanya buat mami sama papi," ujar Sean yang memberikan segelas cairan berwarna merah. Radith dan Lira berpandangan dan langsung menatap ke arah Sean, berjongkok agar mereka bisa sejajar dalam memandang.


"Sean udah minum ini belum?" Tanya Lira yang dijawab gelengan kepala oleh Sean karna dia pernah dilatih Lira untuk tidak memakan agau meminum yang bukan miliknya.


"Bagus, terima kasih sudah kasih ini ke mami, sekarang Sean main lagi ya sama Kakak kakak, nanti —kalau Sean mau makan, panggil mama, mama yang akan ambilkan dan kasih buat Sean. Oke?"


Sean menganggukkan kepalanya dan pergi lagi dari sana, sementara Lira membuang air itu karna merasa ada yang tidak beres darinya.

__ADS_1


"Ini yang mau kamu bilang ke aku?" Tanya Lira dengan cemas. Radith menganggukkan kepalanya pelan dan lesu, tak lupa debgan helaan napas panjang yang melelahkan.


"Masalah mulu, kapan bahagianya?" Tanya Radith pada dirinya sendiri.


__ADS_2