
"Zia, mulai sekarang kamu sekolah di sini ya, Papa bakal antar jemput kamu setiap hari, nanti kalau misal papa gak bisa jemput, ada orang yang akan menjemput kamu, tapi kamu harus kasih password, nah, passwordnya itu "sssttt" gitu. Kalau orangnya bisa jawab, berarti itu benar papa yang minta," ujar Radith saat mereka sudah ada di dalam mobil, Grace sengaja tidak ikut karna Radith akan langsug berangkat ke Singapura setelah mengantar Zia karna urusan bisnis yang mendesak.
"Kenapa harus pakai password Pa? Apa ada orang yang akan mengaku dan berbuat jahat?" Tanya Zia bingung. Gadis kecil itu senang bisa duduk di sebelah Radith, biasanya dia akan duduk di belakang karna Seanlah yang memiliki kursi ini, bukan berarti dia membenci Sean, dia hanya sedikit iri melihat Sean yang punya banyak wewenang di rumah itu. Meski begitu, Zia senang bisa berteman dengan Sean yang selalu menghibur dan melindunginya.
"Ya, karna sekarang ini banyak orang jahat, Zia harus berhati hati, dan Zia gak boleh takut, karna Papa akan selalu melindungi Zia. Dan lagi, Zia nanti coba belajar bela diri aja, kalau ada yang jahat, Zia bisa langsung hajar orangnya. Bagaimana?" Tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Radith, namun dia menyukai ide bela diri, dia akan melakukannya karna menarik.
Mereka sampai di gerbang yang megah, banyak anak orang kaya yang juga bersekolah di sana, meski tidak semewah sekolah Internasional, sekolah ini cukup populer dengan anak anak orang kaya yang bersekolah di sana. Tenaga pendidiknya pun dan terjamin, membuat Radith percaya jika mereka bisa mendidik Zia dengan baik, apalagi Zia juga anak yang pintar.
"Ini hari pertama Zia sekolah, apa Zia mau papa antar sampai ke dalam kelas?" Tanya Radith yang membuat Zia berbinar, tanpa berpikir dia langsung menganggukkan kepalanya dan setuju agar Radith ikut sampai ke depan kelasnya. Dia ingin memamerkan pada dunia bahwa sekarang dia sudah punya ayah seperti anak anak lain. Dia juga bisa memamerkan ayahnya sangat baik padanya.
Radith menggandeng Zia setelah memarkirkan mobilnya, mencari kelas anak itu ternyata cukup sulit karna setiap gedung memiliki banyak tingkatan kelas. Contoh saja, Gedung A merupakan kelas 1 A, kelas 2B, kelas 3C, hingga kelas 6F. Gebung B merupakan kelas 1B hingga 6A sangat sulit karna dia harus menghitung abjad itu untuk menentukan dimana kelas Zia.
Di sepanjang jalan, dia digoda oleh Ibu ibu yang ada di sana. Astaga, sekolah Elit tidak menjamin perilakunya baik dan sopan, mereka bukan orang miskin, namun akhlak mereka sangat miskin, membuat Radith merasa jijik dan makin merindukan Lira yang sudah tidak berada di pulau ini lagi.
"Aduh." Tiba tiba saja ada seorang wanita muda yang tersandung oleh Heelsnya sendiri dan jatuh di hadapan Radith. Lelaki itu tentu dengan sigap berjongkok untuk menolong wanita muda itu, wanita muda itu tampak kesakitan dengan memegang kakinya, Radith memandang kaki wanita itu, tidak ada apa apa, mungkin dalamnya kesleo.
"Aw, sakit sekali, aku tidak bisa berdiri. Maukah kau menolongku untuk berdiri?" Tanya wanita itu sambil memegang tangan Radith. Lelaki itu langsung bangkit berdiri dan pergi dari sana, memanggil pengawalnya untuk menggantikannya menolong wanita muda itu. Sejak ada Lira, Radith tidak pernah bisa menyukai atau bahkan kagum dengan kecantikan wanita lain, apalagi jika orang itu bertingkah menjijikan. Radith tak akan sudi untuk mengenalnya lebih jauh.
"Papa, kenapa tidak menolong ibu tadi? Kasihan ibu tadi seperti kesakitan karna jatuh?" Tanya Zia bingung karna Radith mengajarkan padanya untuk berbuat baik, namun dia sendiri tidak berbuat baik pada wanita itu. Padahal wanita itu tampak sungguh kesakitan, mungkin karna dia menjatuhkan diri secara nyata hanya untuk mendapat perhatian Radith? Satu hal lagi yang membuat Radith merasa benci, dia benci dengan wanita yang bodoh.
"Tidak semua orang terlihat sakit itu sungguh sakit, tidak semua orang yang terlihat baik benar benar baik, Zia harus pintar memilih teman, agar hidup Zia benar benar penuh manfaat dan kebaikan, Zia jangan biarkan orang orang memanfaatkan Zia dan malah berbuat jahat pada Zia," ujar Radith yang begitu berat bagi Zia, tentu saja dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Radith karna usinya masih terlalu muda untuk membahas hal seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudah, intinya, Zia jangan gampang percaya sama orang, udah itu aja. Nanti Zia di sini dijagain sama pengawal Papa, ini orangnya, Zia nanti pulang sama Om ini ya, Papa ada pekerjaan, kemungkinan pulangnya besok, Zia harus jadi anak yang baik ya selama papa pergi," pesan Radith yang diangguki oleh Zia. Radith mengantar Zia sampai masuk ke dalam kelas, dan saat guru datang, dia langsung pergi karna tidak mau mengganggu guru itu dalam mengajar.
Radith melihat waktu di tangannya, dia harus segera pergi ke bandara dan lepas landas ke Singapura. Dia akan terlambat jika tidak sampai di bandara dalam waktu setengah jam. Untung saja bandara dari sekolah ini tak begitu jauh, jadi pasti masih ada waktu untuk mengejar. Jika bukan karna bisnis ini berhubungan langsung dengan tuan Wilkinson dan teman temannya, Radith tidak akan mau menyusul ke Singapura dan menanganinya sendiri.
Lelaki itu harus mengerjakan banyak sekali pekerjaan, presentasi dan proyek yang harus selesai dalam waktu singkat. Otaknya yang cair kini sudah meleleh, meluber dan tidak ada sisanya, dia tak habis pikir, kenapa dia sampai selelah ini hanya untuk mendapatkan uang? Namun setelah ingat dia sudah memiliki anak, dia menarik kembali kata katanya, dia sadar, semua itu untuk Zia dan Sean.
Radith merebahkan dirinya di sofa yang ada di sana. Akhirnya setelah 8 jam bekerja tanpa henti, dia sudah bisa menyelesaikan semua, tinggal menunjukkan proyek yang dia buat di hadapan tuan Wilkinson, jika disetujui, dia akan mendapat bonus yang besar, namun bukan hal yang mudah untuk mendapatkan aproval dalam proyek ini, karna melibatkan banyak pengusaha besar, tuan Wilkinson benar benar memberikan yang terbaik dari yang terbaik.
Lelaki itu melihat jam, sudah jam 8 malam, dia segera memesan pesawat untuk jam 5 pagi agar dia bisa kembali ke Jakarta dan bisa sampai di rumah Lira pukul 6, besok Sean akan sekolah, dia ingin mengantarkan Sean seperti dia mengantar Zia, namun bedanya, Sean akan merasa lebih lengkap karna Mami dan Papanya mengantar dia untuk ke sekolah pertama kalinya, mungkin impian setiap anak untuk bisa merasakan itu? Radith ingin mewujudkannya, apalagi itu adalah moment pertama mereka yang berkesan sebagai keluarga.
Sementara itu di Jakarta, Sean tak berhenti mengeluh karna dia tidak mau sekolah di Kota ini. Dia ingin pulang ke Bali, atau paling tidak pergi dan meninggalkan kota ini. Namun tentu sajabLria menolaknya, apalagi Sean tidak memberikan alasan yang jelas untuknya mengabulkan permintaan Sean. Dia hanya meminta pulang ke Bali, dan tampak kesal sekali meski Lira sudah menyiapkan seragam untuk dia pakai besok.
"Sean, ini kan rumah uncle Alex, Uncle Alex besok akan antar kamu sampai ke sekolah kamu. Di sini, sekah internasionanya sangat baik, kamu bisa berbicara bahasa Inggris sepuas kamu saat ada di sana. Kamu yakin gak mau? Di sana juga ada kantinnya, enak loh. Besok ya Mama dan Uncle Alex yang bawa kamu ke sekolah, kita lihat suasana di sana," ujar Lira yang tentu saja tidak membuat Sean puas. Sean ingin sesuatu yang lainnya.
"Papa lagi ada pekerjaan yang sangat penting dan berbahaya, Papa kirim kita ke Jakarta hanya agar kita bisa aman dan selamat. Sean udah tahu kan kalau Papa akan lalukan apapun untuk Mami dan Sean? Jadi kita tidak boleh mengeluh, Sean sebisa mungkin memaafkan dan jangan marah ke papa, karna Papa lakukan semua ini untuk kita juga," ujar Lira lembut yang memberikan pengertian pada Sean. Karna Lira tak mau Sean tumbuh dengan dendam di hatinya.
"Ya Mami, Sean akan ingat itu. Tapi boleh tidak Sean marah dulu untuk sekarang? Sean marah sekali dengan Papa yang bahkan baru bertemu kita sebentar, tapi sudah pergi lagi, bahkan membuat kita jauh darinya. Sean kesal, Dwan mau marah ke Papa, tapi setelah itu Sean tidak akan dendam ke Papa" keukeuh anak itu yang tidak bisa diapa apakan oleh Lira. Toh anak itu sudsh berjanji tidak akan membuat Radith kesusahan, jadi dia tenang saja untuk hal itu.
"Semua buku Sean sudah disiapkan kah? Kalau sudah Sean tidur dulu sekarang, karna besok kan Sean harus sekolah. Tuh, Uncle aja udah tidur sampai ngoroknya seperti sapi," ujar Lira yang menunjuk Alex. Lelaki itu tidur di depan TV sambil mengorok keras sesekali. Membuat ibu dan anak itu merasa ngeri namun juga geli melihatnya.
Sean menurut dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Dia tidak mengantuk, namun dia tetap menuruti perkataan Lira. Dia mengambil Ipadnya dan bersiap untuk tidur di kamarnya dengan Ipad itu, karna Ipad itu adalah temannya sebelum tidur, dia biasa menonton Serial Inggris yang lucu sebelum tidur. Liea yang tahu itu kebiasaan hanya membiarkan saja, meski dia membatasi Sean jika tidak tidur dalam 1 jam, dia akan mengambil Ipad itu san membiarkan Sean berusaha tidur sendiri.
__ADS_1
Pagi harinya, Sean sudah bangun, memakai seragam kecilnya dan sarapan dengan masakan yang dibuat oleh unclenya. Mereka sarapan dengan lahap, sampai akhirnya pintu rumah mereka diketuk dan Alex yang keluar untuk melihat karna tidak baik jika ada orang tahu tentang Lira dan Sean, apalagi jika orang itu berhubungan dengan Grace. Radith mengaku mereka pindah ke Sumatra agar Grace tidak mencari, tidak lucu jika wanita itu tiba tiba muncul di sini.
"Wah, sepertinya kalian senang melihat tamu yang datang. Seperti jalangkung yang tak diundang langsung datang, Sean! Sini nak, ada yang mau ketemu sama kamu," teriak Alex dengan semangat. Sean mengambil roti lapis bakarnya dan menuju ke sumber suara. Penasaran dengan tamu yang disebutkan Alex, apakah super hero yang dia suka belakangam hari ini hadir mengunjunginya?
Mata Sean langsung berbinar melihat siapa yang datang. Lebih dari super hero di film yang dia tonton. Tamu ini bahkan lebih berharga dari jutaan hero di luar sana. "PAPA!" Pekik Sean yang langsung berhambur ke pelukan Radith, memeluk Papanya dengan erat karna mau datang ke rumah ini untuk bertemu dengannya.
Lira juga keluar dari ruang makan dan terkejut, dengan air mata yang tiba tiba keluar karna terharu, dia berlari dan memeluk Radith. Lelaki itu membalas pelukan Lira dengan hangat, seolah mereka sudah lama tak bertemu, padahal belum ada 1 minggu Lira pergi dari Bali ke Jakarta, namun Rindu Radith angat besar rupanya.
"Papa ke sini mau antar Sean pergi ke sekolah. Dulu papa pernah janji kan akan antar dan temani Sean? Jadi ini papa tepati, Papa akan mengantar Sean, bareng sama Mami dan Uncle Alex juga. Jadi Sean gak usah sedih ya, Maafkan Papa harus melakukan banyak hal yang membuat Sean marah, Sean mau kan maafin papa dan tunggu sebentar lagi di sini? Setelah semua selesai, kita akan hidup bersama seperti sebelumnya."
"Ya, Sean tidak pernah membenci Papa, Sean tahu, apapun yang Papa lakukan, itu buat Sean. Jadi Sean cuma marah sebentar, setelah itu tidak. Sean bahagia karna Papa ada di sini untuk mengantar Sean, terima kasih banyak," ujar Sean yang kembali memeluk Radith. Lira dan Radith berjongkok lalu memeluk Sean dengan pelukan 2 arah yang tentu sangat menghangatkan bagi Sean. Anak itu merasa menjadi anak paling beruntung di dunia ini karna memiliki Radith dan Lira yang begitu sayang padanya.
Mereka menuju ke sekolah Sean dengan perasaan senang dan tentu saja bernyanyi di sepanjang jalan. Radith memarkirkan mobilnya dan turun untuk mencari kelas Sean. Sean menggandeng tangan kanan Radith dan tangan kiri Lira. Anak itu sangat bangga karna Papa Maminya sangat menawan, rupawan dan tentu saja jutawan (eh maaf keceplosan).
"Wah, lihat, itu pasangan yang sangat sempurna. Ayah Ibunya sangat cantik, bahkan anak itu sangat tampan. Bukankah itu gen yang sangat bagus? Mereka juga tampak seperti orang kaya, sepertinya hidup mereka berkecukupan dan bahagia. Ah, aku iri pada mereka."
Radith dan Lira pura pura tidak mendengar pujian yang berbisik itu. Namun beda dengan Sean, dia tak henti tersenyum setiap mendengar pujian itu. Dia bangga memiliki papa dan mamanya sehingga dia terlahir tampan, dan bahkan juga memiliki wajah yang rasionya nyaris sempurna. Mungkin beberapa tahun lagi, Sean akan bertumbuh jadi lelaki yang sangat tampan.
"Sean masuk ya, nanti Mami sama Uncle yang temani Sean ya, Papa harus pergi lagi ke tempat lain. Nanti kalau sudah selesai pekerjaan Papa, pasti papa datang lagi, dan nanti kalau semua beres, kita pulang ke Bali, oke?" Tanya Radith dengan riang bahkan memberikan tangannya untuk tos.
Sean mengangguk dan memberikan tosnya pada Radith, lalu masuk ke dalam kelasnya dengan Lira yang masih takjub dengan pertumbuhan Sean yang sangat cepat baginya. Dia tidak menyangka Sean akhirnya bisa masuk ke bangku sekolah dasar.
__ADS_1
"Anak kita tumbuh dengan hebat. Terima kasih sudah menjadi Istri dan Ibu yang hebat. Tunggu aku sebentar lagi, terima kasih udah percaya sama aku, aku cinta kamu," ujar Radith mengecup bibir Lira singkat, walau mereka ada di tempat umum.