
"Ra, kamu mau makan apa hari ini? Kamu gak usah masak, aku mau kita makan di luar aja, sekalian piknik, nanti setelah Zia pulang ke rumah," ujar Radith yang memeluk Lira dari samping. Lira, Sean dan Radith sedang bersantai sambil menonton TV karna Sean akan pindah sekolah di Bali, jadi dia harus menunggu.
"Sean, kamu udah waktunya belajar loh, kamu masuk kamar ya, sana kamu belajar dulu, kalau ada yang hak paham, kamu kasih tahu mami aja ya, nanti mami bantu, atau cari jawabannya lewat kutub, kan ada guru guru pintarnya di sana," ujar Lira yang dituruti oleh Sean. Anak itu langsung berdiri dan pergi ke kamarnya, tak lupa membawa Ipad yang selalu menemaninya saat belajar atau bosan, Lira akhirnya bisa berduaan dengan Radith dan bersantai seperti ini.
"Jadi gimana? Mau gak? Kalau iya aku bakal nyari info tempat makan yang enak, kamu pasti suka sih kalau aku yang nyari. Sekalian kita perginya ke arah yang dingin, aku agak bosan lihat pantai terus, kita kan belum pernah lagi piknik keluarga, aku kangen rasanya, ya? Mau ya?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira. Lira menatap ke arah jam dinding dan membuka ponselnya lagi.
"Jangan hari ini, aku jam 10 sampai gak tahu jam berapa kan harus ngurus pindahnya Sean. Nanti sekalian jemput Zia, rencananya aku mau sekolahin mereka barengan, biar kita gak susah juga ngawasinnya, ngajarinnya dan antar jemputnya juga," ujar Lira yang membuat Radith terfokus. Dia merasa bukan pilihan yang baik untuk mereka menyekolahkan Sean dan Zia bersama sama.
"Menurut aku tetap di rencana awal kita aja. Aku pengen Sean masuk Denpasar Internasional School aja. Aku malah pengen jangan ada yang tahu dulu kalau Zia sama Sean saudara beda Ibu, aku gak mau mereka kena bully atau apalah itu," ujar Radith yang dijawab helaan napas dari Lira. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Radith, dan dia mengerti kenapa Radith berpikir demikian, karna dia juga berpikir begitu pada awalnya.
"Kamu tahu kan aku awalnya juga nyaranin itu, tapi sekarang kan aku Ibu mereka berdua, gak ada 2 wanita di rumah ini, cuma ada aku, ya jadi orang orang gak perlu tahu kisah ini lah. Pokoknya Zia itu anak aku, Sean juga, gak ada istilahnya anak beda Ibu atau apa itu, kalau teman temannya gak tahu kan gak masalah," ujar Lira yang masih membuat Radith cemas, dia bahkan malah jadi kepikiran kenapa Lira seperti ingin sekali Radith dan Zia ada di sekolah yang sama.
"Bukan apa apa, aku juga gak mau lah Zia dihina atau gimana. Tapi aku justru takut akan jadi pertanyaan di pikiran anak anak kenapa kok mereka sekolahnya pisah, salah satu atau bahkan keduanya bakal merasa gak adil dan aneh. Kamu tahu kan usia mereka itu penasarannya tinggi? Kalau mereka tanya, ya masak aku harus menjelaskan semua?" Tanya Lira yang tak mengerti kenapa Radith merisaukan hal yang sebenarnya bisa mereka handle.
"Gak gitu, tapi mereka kan gak selamanya di kelas 1 Ra. Pasti akan ada kelas 2, kelas 3, dan kalau mereka mulai besar, teman teman mereka tahu mereka saudara, tapi usia mereka dekat, mereka bakal curiga Ra, mereka bakal tanya dan anak anak pasti bakal cerita. Aku udah mikir sampai ke sana," ujar Radith yang membuat Lira menyerah, entah kenapa dia jadi kesal pada suaminya dan memilih diam.
"Ya udah, lakuin kayak yang kamu mau. Kamu yang urus semua. Ingat ya, kamu, bukan Andre atau yang lain," ujar Lira jutek sambil berlalu dari sana. Radith berdecak, dia tidak mengira Lira akan marah hanya karna hal sepele seperti ini. Memang apa salahnya jika mereka pisah sekolah? Radith bahkan bisa menjemput keduanya tepat waktu, dia punya banyak mobil dan karyawan. Dia sangat bisa meminta orang orangnya untuk menjemput Zia dan Sean.
"Ra! Lira! Gak gitu Ra, kamu jangan marah dong, kan maksud aku bukan kayak gitu. Kamu jangan salah paham dong ke aku. Lira! Astaga Tuhanku Allahku," ujar Radith yang ingin masuk ke kamar, namun Lira sudah mengunci pintu kamarnya. Radith merasa jengah karna mereka bahkan belum dua hari hidup bersama lagi, namun Lira sudah menunjukkan tanda tanda akan menjadi menyebalkan. Yah, walau Radith mengerti kondisi emosi Lira memang naik turun dan akan selalu begitu.
__ADS_1
"Gini deh, kita coba dulu cara aku, kalau nanti gak berhasil, kita coba cara kamu. Aku nanti pindahkan Zia ke sekolah Sean kalau misal situasinya mendukung. Kita bisa kasih alasan ke mereka karna Sean sekolahnya nyusul, jadi gak bisa satu sekolah. Bisa kan? Ayolah Ra, kita harus kerja sama dalam hal ini, kamu masak mau mempertaruhkan hidup anak anak demi ego kita begini.
Lira tak menjawab, Radith menyerah dan memilih pergi, menemui Sean yang sedari tadi ada di kamarnya. Dia ingin mendengar pendapat Sean tentang hal ini, namun dia juga ingin menyusun kata kata agar Sean tidak penasaran. Jika memang Sean setuju pada Lira, Radith akan menyekolahkan Sean di tempat Zia, namun dia harus memiliki alasan yang tepat untuk jawabannya.
"Sean, lagi belajar apa nak?" Tanya Radith yang membuat Sean mendongak. Dia menjelaskan apa yang sedang dia pelajari. Ah, pelajaran anak sekarang berbeda dari jamannya dulu. Sepertinya jauh lebih sulit dan berat. Mereka menggabungkan semua mata pelajaran ke dalam satu tema, membuat anak harus mempelajari semua pelajaran dalam satu waktu.
"Sekarang anak kelas 1 SD pelajarannya begini? Wah, gila sih ini, untung gue udah lahir dari dulu," desis Radith melihat buku pelajaran Sean, namun sepertinya Sean tidak kesusahan sama sekali, dia hanya melihat ke kutub dan mengerjakan soalnya dengan metode yang diajarkan. Ah, Radith baru menyadari betapa Cerdasnya Sean sampai bisa mencerna semua mata pelajaran itu dengan mudah. Radith bahkan tidak bisa jika harus mengajari Sean, anak itu memang Jenius, mungkin karna Lira yang melahirkan dirinya.
"Sean, kalau Papa tanya, Sean mau pindah sekolah dimana? Sean kalau Satu sekolah sama Zia, mau gak?" Tanya Radith yang membuat Sean mendongak. Anak itu berpikir cukup lama, namun akhirnya menggelengkan kepalanya dengan yakin. Radith tentu terkejut, bukankah mereka dekat? Kenapa Sean tidak mau satu sekolah dengan Zia? Apa alasannya?
"Sean kan dekat dengan Zia, kenapa Sean gak mau satu sekolah sama Zia? Kalau Sean satu sekolah, kan bisa berangkat bareng, belajar hareng dan kalian juga bisa kain bersama kan di sekolah? Kenapa malah gak mau nak?" Tanya Radith yang membuat Sean makin menggelengkan kepalanya. Radith menunggu anaknya sampai menceritakan sendiri, apakah Sean sedang musuhan dengan Zia sampai seperti ini? Entahlah, Radith harus mendengar jawaban dari Sean sendiri.
"Sean tidak mau satu sekolah sama Zia, karna nanti Sean harus bersaing dengan dia. Kalau nanti Sean dapat peringkat 1, Zia akan dapat peringkat 2, dan nanti Mami dan Papa akan lebih bangga sama Sean. Sean tidak mau, Sean juga mau cari teman teman yang baru, jadi Sean ingin beda sekolah dengan Zia." Radith melongo mendengar jawaban itu. Sangat di luar dugaannya dan bahkan dia tidak mengira Sean akan sedewasa itu. Jika itu hanya ditulis tanpa mendengar suara kecil Sean, dia pasti mengira anak SMA yang sedang mengatakannya.
"Sean gak boleh masuk ke sekolah Internasional ya Pa? Kata mama Sean akan masuk ke sana. Apa nanti Sean akan masuk ke Sekolah Zia dan bukan ke sana?" Tanya Sean yang makin membuat Radith terkejut. Namun dia segera menggelengkan kepalanya dan memegang pipi Sean, mengelusnya pelan. Dia terharu Sean bisa berpikir sampai sejauh ini, dia anak yang memiliki banyak keistimewaan, mungkin Gen itu mengalir dari dirinya juga. Haha, pede aja dulu.
"Boleh nak, papa kan hanya bertanya, selebihnya papa akan serahkan ke Sean. Apakah Sean mau sekolah di sekolah biasa, sekolah elit atau sekolah internasional. Papa dan Mama hanya bisa mengarahkan. Kalau Sean maunya gitu, oke nak, kita nanti daftar ke sana ya, mamamu lagi ngambek sama Papa, kamu yang bujuk yah," ujar Radith yang diangguki oleh Lira, seolah sudah terlalu sering dia melihat Lira mengambek seperti ini.
"Mami, ini Sean. Mami, boleh Sean masuk? Mami, mami are you okay there?" Tanya Sean saat Lira tak menjawab. Namun dia mendengar suara pintu dibuka dan Lira keluar dari kamar lalu menggendongnya, masuk ke dalam kamar Radith dan kembali mengunci pintu agar lelaki itu tak bisa masuk ke kamarnya. Lira curiga Radith sudah membujuk Sean, dia akan marah jika sampai Sean mengambil keputusan karna disetir oleh Radith.
__ADS_1
"Mami, ayo kita daftar sekolah. Sean mau pergi ke sekolah Internasional Mi, kata Papa Dwan boleh sekolah di sana, mami juga bolehkan Sean kan? Ayo Mi, kita pergi sekarang. Sean udah gak sabar buat pergi ke sekolah lagi," ujar anak itu riang. Lira terkejut, apakah Radith membujuk Sean agar satu pendapat dengannya dan menentang Lira sang Ibu kandung? Atau memang lelaki itu paham maksud AtauSean yang meminta Radith untuk melakukannya? Tapi apa mungkin Sean? Semakin dipikir, semakin berat rasa di kepala, Lira memilih untuk bertanya langsung dibanding berasumsi.
"Kamu kok tiba tiba setuju sama aku kenapa? Emang kamu pikir dengan kamu ngalah tanpa tahu maksud aku, aku bakal senang gitu? Aku bakal berterima kasih ke kamu? Enggak ya Dith, aku mau kamu ngerti maksud aku, tanpa mikir aku abcd," omel Lira yang tiba tiba membuat Radith kaget. Dia mengerjapkan matanya dan terkekeh melihat Lira.
"Aku udah dengar pendapat Sean sendiri dan dia setujunya sama kamu, ya udah, aku nurut. Karna yang mau sekolah kan Sean, aku mau Sean yang memutuskan aja. Gak lucu kalik Ra, Sean yang ngejalanin kita yang berantem. Udahan ya marahannya, aku minta maaf karna gak bisa nurutin apa mau kamu, tapi beneran deh, Sean yang mau sama hal ini," ujar Radith yang membuat Lira penasaran. Memang apa yang Sean katakan?
Radith menceritakan semua yang terjadi di kamar dan Lira akhirnya paham. Dia sepakat dengan Radith setelah mendengar cerita itu. Yah, jika Sean yang mau, Lira juga tak akan menolaknya. Apalagi karna Sean yang meminta, anak itu akan lebih bertanggung jawab dengan pilihannya. Jika Lira memaksa dan Sean menjadi pembangkang, Sean akan menyalahkan Lira karna memaksa sesuatu yang bukan keinginannya.
"Aku senang kita bisa sepakat. Walau alasan aku sama Sean beda, aku benar benar ngerti perasaan dia. Dan kalau nanti anak kita dua duanya peringkat 1 kan juga bagus gitu loh, kita bisa membanggakan keduanya. Iya gak?" Tanya Radith sambil terkekeh. Lira mengangguk saja agar cepat, dia ingin urusan Sekolah Sean segera selesai.
Mereka pergi ke sekolah yang dipilih oleh Radith, karna Sean masuk terlambat, Radith harus mengikti prosedur yang panjang, dan tentu jumlah materi yang tidak sedikit agar Sean bisa masuk dan mengikuti pelajaran di sini, dan akhirnya Sean pun bisa bersekolah di sini, anak itu menatap girang buku dan seragam yang dibawa oleh Mami dan Papanya. Dia senang akhirnya bisa bersekolah lagi, setelah dua hari tidak bersekolah.
"Kita jemput Zia dan habis itu kita makan di luar ya. Ini udah jam 12, harusnya sih Zia udah mau pulang ya, dia pulang 12.15," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka langsung pergi ke sekolah Zia yang tak kalah mewah dan megahnya dari sekolah Sean. Ah, Radith harus lebih bekerja keras untuk bisa membayar uang sekolah, hahaha.
Setelah Zia masuk ke dalam mobil, mereka melanjutkan perjalanan, Radith sudah menemukan tempat makan yang enak dan cocok untuk orang banyak. Dia akan makan di dalam hotel bintanh 5, meski harganya mahal, rasa masakannya pasti sangat enak. Tak apalah sekali kali menbayar mahal untuk makanan, sekalian juga merayakan Sean yang mulai besok sudah bersekolah.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita menggunakan jaket yang tudungnya dikerudungkan di kepala. Dia memakai kacamata hitam. Tangannya mengepal melihat keluarga ini bahagia. Padahal dia berharap anak perempuan itu akan terus menangis sampai mereka terpaksa memanggilnya kembali. Namun ternyata Zia malah sangat Akrab dengan mama sambungnya. Tidak masuk akal!
"Awas aja kalian, kalian akan merasakan kehilangan yang besar. Enak saja setelah aku pergi kalian masih bisa haha hihi makan di hotel berkelas, gue gak akan biarkan kalian bahagia setelah gue mengalami semua hal ini," ujar orang itu pelan karna dia sedang bicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia memikirkan banyak rencana di kepalanya, namun dia juga tahu, tidak bisa menyerang mereka di tempat yang ramai. Apalagi dia juga tahu jika ada pengawal yang selalu mengikutinya, dia bisa menyadari keberadaan orang yang mengikutinya itu, membuatnya geram, namun tidak bisa melakukan apa apa.
"Ah, gue tahu bagaimana membuat Lo membayar apa yang Lo lakukan ke Gue. Termasuk dengan mengirimkan orang orang gak jelas ini buat ngikutin gue. Lo kira akan bahagia? Enggak! Gue gak akan biarkan kalian bahagia! Tunggu gue mati baru kalian bisa memimpikan hal itu," ujar wanita itu penuh dendam dan amarah. Tidak peduli jika orang yang mengikutinya mendengar dan melapor.