
Radith menuruti perkaatan Lira. Dia bertekad untuk menjadi lelaki yang lebih baik, dia akan membukikan pada Lira bahwa dia bukan lelaki jahat, da yang terpenting, dia harus membereskan semua masalah yang dia timbulkan karna rasa frustasinya. Melihat Lira begitu kecewa membuat Radith merasa sakit tanpa sebab, dia tak ingin gadis itu membencinya.
"Apa emang Gue mulai jatuh cinta sama Dia? Tapi dia udah terlalu kecewa sama Gue, apa Gue harus paksa dia lagi? Ah enggak Dith, Lo harus biarin dia sendiri dan nanti Lo baru bujuk dia buat balik," ujar Radith dengan senyum yang merekah, dia berharap semua akan menjadi baik pada waktunya.
"Gue yakin kalau hari ini Gue ngalah, dia bakal sembuhin lukanya dan Gue bakal datang ke dia. Setelah semua ini, mungkin memang dia yang dkirim Tuhan buat jadi jodoh Gue, dan Gue gak bisa nolak lagi," ujar Radith pada dirinyas sendiri. Radith sudah siap untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya.
Sejak hari itu, Radith menjadi lelaki yang sangat dingin dan hanya fokus pada pekerjaannya. Bahkan dia tak pernah menyisakan waktu untuk beristirahat dan melakukan hal yang membuatnya bahagia. Radith selalu menganggap dia sedang berada dalam msa hukuman dan Dia harus lalui semua itu sampai Lira memaafkannya dan mereka bisa bahagia bersama.
"Pak Radith, ada klien dari Autralia ingin menanamkan saham untuk perusahaan ini, tapi beliau meminta pak Radith sendiri yang datang dan mempresentasikan proyek kita kali ini. apakah saya harus mengatur jadwal untuk penerbangan bapak? Jadwal bapak kosong untuk besok siang sampai malam." Radith yang sedang membaca berkas merasa terganggu.
"Atur agar Asistenku yang berangkat. Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak akan pergi ke benua itu apapun yang terjadi. Kenapa kau masih menanyakan hal itu?" tanya Radith yang membuat sekretarisnya menjadi takut. dia takut Radith akan memecatnya saat ini juga, dia sudah nyaman berkerja di sini meski setiap hari dia harus berhati – hati.
"Maaf pak, sudah hampir lima tahu berlalu, namun ternyata bapak masih belum mau mengunjungi negara itu. baik pak, saya akan atur agar bapa tidak perlu menghadirinya. Tapi maaf pak, kita harus siap – siap untuk kehilangan saham itu karna memang Mister Robin meminta secara pribadi untuk kedatangan bapak," ujar Sekretaris itu pelan.
__ADS_1
"Jika kau bukan sekretaris yang sudah bersamaku bertahun – tahun, aku akan memecatmu saat ini juga karna kau sudah membuat moodku hancur. Pergi dari sini sebelum aku benar – benar memecatmu," ujar Radith yang diangguki oleh sekretaris itu dengan cepat. Radith benar – benar langsung kehilangan minat dengan berkas di tangannya.
Lelaki itu mengambil sebuah foto yang dia simpan di lacinya. Dulu, foto Luna yang tersimpan di sana, namun kini ada wajah baru di sana, wajah gadis yang selalu dia rindukan jika dia tak memiliki pekerjaan, sehingga membuat dirinya memaksa untuk terus bekerja, namun tetap saja dia merindukan gadis itu.
"Lo masih marah kah sama Gue? Gue pengen banget ngehubungin Lo, paling tidak Gue tahu bagaimana keadaan Lo. Tapi Lo terlalu menyeramkan, Gue gak berani kirim orang buat Lo Ra, gimana kabar Lo sekarang? Udah hampir lima tahun, Lo masih benci sama Gue kah?" tanya Radith pada foto itu dengan perasaan terluka.
Bahkan di setiap Radith hendak memejamkan mata. Rasa bersalah atas perbuataan yang dia lakukan tetap menghantuinya, membuatnya merasa hidup di neraka. Jika saja Lira mengijinkan dirinya untuk membuktikan dia bukan pria jahat, jika saja Lira mau membiarkan Radith untuk bertanggung jawab, mereka pasti sudah bahagia saat ini.
"Ah, apa selama ini Lo nunggu Gue? Lo Cuma ngetes Gue apakah Gue masih mau tunggu atau enggak? Ah iya, pasti gitu, Gue Ra, Gue bakal datang ke Lo sekarang," ujar Radith yang tersenyum girang, dia langsung meminta asistennya menyiapkan semua keperluan dan dia meminta sekretarisnya untuk datang.
Sekretaris itu tahu Radith tak akan tersenyum ke sembarang orang, tapi dia heran, Radith tak pernah mengubah keputusannya. Meski bertanya – tanya apa yang terjadi, sekretaris itu tetap menuruti apa yang Radith minta dan segera menyiapkan apa yang diperlukan. Dia cukup senang karna akhirnya Radith mau mengunjungi negara itu, mengingat mereka sudah banyak kehilangan investor karna trauma Radith.
"Jangan lupa siapkan baju yang terbaik juga untukku. Aku tak mau terlihat buruk di depan mereka semua," ujar Radith yang kembali diangguki oleh sekretaris itu. Radith bahkan meminta sekretarisnya mengosongkan semua jadwal malam ini dan langsung berangkat ke negeri kanguru dengan alasan mereka bisa beristirahat.
__ADS_1
"Malam di sini indah. Kalau kau mau berjalan – jalan, silakan, semua akan ditanggung oleh perusahaan, jadi kau tak perlu khawatir membeli makanan apapun. Kau juga boleh membeli oleh – oleh asal kau masih tahu diri," ujar Radith yang membuat sekretaris itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba percaya semua yang dia alami bukan mimpi.
"Tapi pak, tumben sekali bapak…"
"Kalau kamu keberatan, saya bisa menari ksemua perkataan saya saat ini. kamu keberatan?" tanya Radith yang langsung dijawab gelengan kepala yang cepat dari sekretarisnya, bagaimana bisa dia menolak rejeki dari bosnya yang sangat dingin dan kejam kepada semua pesaing bisnisnya. Kesempatan langka ini akan dia pamerkan pada karyawan yang lain.
Radith memilih masuk ke dalam kamar hotelnya dan bersiap, malam ini dia akan langsung datang ke rumah Lira. Mencoba keberuntungan dan berharap Lira sudah memaafkannya, jika belum, sama saja dia sudah menggali kuburannya sendiri dan dia harus melupakan Lira selamanya.
"Kenapa gue jadi Ragu ya? Kenapa Gue malah jadi takut gini? Keputusan Gue bener kan?" tanya Radith pada bayangannya di cermin. Lelaki ittu merapikan rambutnya dan memakai parfume yang Lira hafal. Dia berharap rumah gadis itu belum pindah kemanapun dan masih menunggunya untuk kembali. Entah kenapa, memikirkan dia akan bertemu lagi dengan Lira membuat hatinya terus berdebar.
Radith menaiki mobil dan menuju ke rumah Lira yang dulu pernah dia datangi. Lelaki itu memencet bel pada rumah yang kini warna temboknya sudah berubah, untung saja dia memiliki daya ingat yang cukup baik. Dia melihat waktu di arlojinya, belum terlalu malam, pasti Lira belum tidur jam segini.
"Kenapa gak ada yang keluar? Atau jangan – jangan Lira udah pindah rumah?" tanya Radith pada dirinya sendiri sambil kembali memencet bel yang ada di sana. Lelaki itu mulai kehilangan harapan dan hendak berbalik, namun dia mendengar suara dari dalam rumah dan pintu langsung terbuka. Saat itu lah mata Radith tak berkedip bahkan haanya sedetik.
__ADS_1
"Ya? Anda siapa? Cari siapa malam – malam?" tanya orang itu dengan bahasa Inggris. Sementara Radith masih membeku dan mencoba untuk membaca keadaan.
"Gak mungkin," ujar Radith pelan pada dirinya sendiri.