Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 43


__ADS_3

"Hari ini anak anak Luna ulang tahun, kita mau ke sana atau enggak?" TanyabLira setelah mendaoat pesan dari Lunetta dan memintanya untuk datang ke acara ulang tahun anaknya. Ini pertama kalinya dalam hidup Radith dia memikirkan Luna untuk sekian lama. Dia sedikit ragu, dia takut jika kehadiran Luna membuat hatinya kembali goyah.


"Kalau Lo gak yakin mending gak usah sih, daripada sampai sana Lo sakit hati ngelihat Luna sama kak Darrel kan? Lagian ini kan acara anak mereka, sebenernya yang diundang itu Sean, gue juga gak tahu mereka tahu Sean dari mana, mungkin seprotektif itu pak Smith sama kita," ujar Lira yang disetujui oleh Radith, memang tuan Wilkinson sangat protektif kepadanya, bahkan sangat mendukung jika dia bersama Luna.


Tuan Wilkinson tahu, meski Darrel berusaha keras, Radith tetap lebih banyak menolong Luna dibanding Darrel, namun karna satu kesalahan fatal, Luna jadi lelah dengan Radith dan hati Luna berpindah ke Darrel yang selalu ada untuknya. Bahkan Jordan pun setuju dengan pendapat itu, meski kini mereka semua sudah bahagia di jalan masing masing dan tidak menyesal satu sama lain.


"Lo gimana? Kalau Lo oke ya kita berangkat, Sean masih 100 persen jadi tanggung jawab Lo masalah begini, walau gue bapak kandungnya, tapi kan belum sah jadi suami Lo juga," ujar Radith yang sebenarnya hanya menghindar. Namun ternyata Lira malah memutuskan untuk hadir dan ikut memeriahkan acara si kembar 3 yang menggemaskan itu. Lira tidak pernah melihat mereka secara langsung, namun melihat dari foto saja sudah nampak mereka lucu.


"Ya udah, kalau gitu, kita berangkat aja, sekalian Sean bisa dapat teman baru, selama di Indonesia kan dia gak pernah punya teman juga. Di Australia juga sih, dan Sean juga butuh teman, kalau dibiarin malah jadi anak Ansos, tapi Lo posisi aman kan? Udah gak ada mafia mafia apalah itu kah Dith? Gue gak mau anak Gue kenapa napa," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, memang saat ini situasinya tidak sekacau kala itu.


"Karna ini pestanya keluarga Wilkinson, pasti aman sih, kalau mau berangkat ya Oke, tapi kalau boleh gue minta, nanti di sana kita pakai 'aku kamu' ya jangan 'Lo Gue' rasanya lebih enak didengar juga kan?" Permintaan Radith disetujui oleh Lira. Sebenarnya dia ingin mengatakan hal itu pada Radith, namun Dia tidak ingin Radith mengira dia ingin hubungan mereka romantis.


Niat Lira ingin lebih halus dalam memanggil Radith karna Sean, dia tidak mau Sean tumbuh menjadi anak yang terbiasa dengan Lo - Gue, meski terdengar biasa, namun bagi Lira tetap tidak baik dan tidak sopan, jadi dia ingin mengajari anaknya tentang hal itu. Untung saja Radith peka dan malah memintanya lebih dulu, dengan ini dia bisa memanfaatkan keadaan dan mengatakan dia terbiasa dengan panggilan itu jadi mereka bisa meneruskannya saja, dengan begitu Lira tak perlu menurunkan gengsinya.


"Kalau gitu siap siap aja dulu, gue mau booking hotel buat kita, acaranya kamis kan? Kita berangkat hari Selasa aja, Rabunya bisa main dulu, terus nanti bisa nginep di hotel dulu," ujar Radith yang disetujui oleh Lira. Mereka menyiapkan segala keperluan, termasuk susu tambah Kalsium yang rutin diminum oleh Sean.


Mereka mengemas pakaian sedikit dan yang paling penting tidak lupa membawa baju yang akan mereka gunakan di hari H, jika baju rumah atau main mereka masih bisa beli, namun jika baju pesta, rasanya akan mahal dan sayang kika digunakan sekali saja. Mereka jarang menghadiri pesta seperti ini, jadi baju pesta memang jarang dipakai.


"Mami, Uncle Ayah, kita mau kemana? Apa kita akan pindah lagi? Sean lelah berpindah rumah," ujar anak itu dengan lesu. Dia menganggap mengepak barang artinya pindah rumah, saat di Australia, Lira memang beberapa kali berpindah rumah, dan Sean tidak pernah suka karna mereka sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk Sean.


"Tidak, kita akan perlu ke sebuah pesta. Pesta ulang tahun anak yang seusia kamu. Kamu mau kan ikut? Kalau mau, kita berangkat sekarang, kalau kamu gak mau, Ayah sama Mami yang berangkat, kamu di rumah sendirian," ujar Radith dengan iseng. Sean langsung memajukan bibirnya dan bersiap untuk menangis.


"Nah, dari pada Sean di rumah sendiri, ayo kita pergi bersama. Sean mau kan pergi sama Ayah?" Tanya Radith yang membuat Sean tidak jadi menangis. Bocah itu mengusap mata dan hidungnya lalu mengangguk dan berlari ke kamar untuk membawa barang barangnya sendiri. Radith kembali ke kamarnya setelah membantu Lira merapikan koper.

__ADS_1


"Eh, Sean dilihatin tuh, dia nanti ngebongkar semua bajunya gimana? Repot beresinnya, gue mau ke kamar gantian mau pack baju dulu," ujar Radith yang diangguku oleh Lira. Lira bangkit dan mencari Sean di kamarnya. Anak kecil itu mengambil sebuah koper mainan yang kecil, untuk wadah barang barangnya.


"Sean mau bawa apa? Semua barang barang yang mau dibawa dimasukin sini aja ya, jangan semua, nanti dimarahin sama pak pilotnya. Oke? Bajunya gak usah ya, nanti mama aja, kamu taruh mainan yang mau kamu bawa aja, oke?" Tawar Lira yang diangguki oleh Sean. Anak itu mulai mencari mainan yang akan dia pilih.


Wajah Sean sangat lucu, anak itu bersidagu, lalu salah satu tangannya dia bentuk angka 7 di bawah bibir, dengan wajah yang berkerut dan mata yang menyipit. Anak itu memilih mainan seolah sedang mengikuti pemilu, sangat menggemaskan bagi Lira yang melihatnya, Lira bahkan sampai tertawa jika Sean seperti ini.


"Mami, kalau Sean bawa Logo, apa Sean bisa memainkannya? Jika tidak, Sean akan membawa pistol mainan. Ah tapi nanti teman teman akan takut dengan Sean. Kalau begitu Sean mau memasukkan ini saja," ujar Sean yang memasukkan mainan gamebot air yang pernah Lira belikan untuknya, Lira bahkan tidak yahu kenapa Sean mengambil itu.


"Bukankah itu membosankan? Kenapa kamu tidak mengambil mobil mobilan atau pesawat yang diberikan Ayah padamu? Bukankah itu lebih keren? Kau bisa memainkannya dengan remot saja bukan?" Tanya Lira yang diangguki oleh Sean, namun anak itu tidak tampak antusias dengan mainan yang dipilih oleh Lira.


"Sean tidak suka? Jika Sean tidak suka ya tidak perlu membawanya, bawa yang Sean suka saja, kalau nanti perlu bantuan mami, panggil saja ya, mami mau ke kamar ayahmu dulu," ujar Lira yang diangguki oleh Sean. Anak itu kembali mengemas barang yang dia suka dan akan dia mainkan di kota itu, atau paling tidak mereka mainkan saat di perjalanan.


Sean bukan tidak suka dengan dua mainan yang disebutkan Lira, namun bagi Sean, memainkan itu sangat menyenangkan, namun terasa sedih jika jatuh atau menabrak. Sean tidak mau meminjamkannya pada temannya, jadi dia tidak membawa sama sekali agar orang orang itu tidak tahu Sean memiliki mainan seperti itu.


"Lo mau pergi ke acara ulang tahun anak anak aja hebohnya kayak mau tunangan ya? Apa Lo mau modus sama Luna? Ingat Radith, Luna itu istri orang, mana anaknya udah 3 lagi, jadi jangan caper atau ngarep sama dia lagi ah, gak baik tahu," ujar Lira yang membuat Radith kesal tentunya. Dia hanya tidak mau memalukan di depan tamu tamu tuan Wilkinson, tentu dia harus tampil pantas.


"Ya gue dandan lah, yang rapi, yang ganteng biar Lo di sana gak perlu ngelirik cowok lain karna gue udah paket lengkap. Jadi gue gak usah khawatir kan? Lo juga gak usah cemburu sama Luna, Lo kira 5 tahun cinta sama Lo itu gue masih sempat mikirin Luna? Gue kerja sampai nyaris mati karna Lo gak mau ketemu gue lagi," ujar Radith yang membuat Lira meliriknya.


"Lo nyaris mati karna salah Lo sendiri, nah gue? Gue nyaris mati karna orangnya mau balas dendam ke Lo. Masuk akal gak tuh? Gue lagi duduk manis bahagia sama anak gue, tiba tiba diculik dan nyaris mati karna Lo yang jadi alasan, apa? Mau adu nasib kayak gimana?" Tantang Lira tak kenal takut. Radith tersulut karna pancingan itu, dia langsung membuang bajunya dan menghampiri Lira.


"Ya semua masalah kan karna Lo daftar jadi asiaten pribadi gue, kenapa Lo ngelamar saat itu? Kalau Lo gak ngelamar kan gue gak perlu suka sama Lo, gak perlu sampe kayak orang bego dan Lo gak perlu dalam bahaya karna gue," ujar Radith yang tidak berpikir dulu. Lira yang tadinya bergurau malah akhirnya menanggapi dengan serius.


"Ya! Salah gue harus ada di sana, ngelamar pekerjaan dan diterima. Harusnya gue gak pernah jadi asisten Lo, suka sama Lo, dan bahkan sampai ngejagain Lo sebegitunya, coba kalau Gue gak ketemu Lo, Lo gak akan ngehamilin gue, Gue gak akan ketemu Lo, gak perlu tertekan karna hamil 9 bulan, ngurus anak 5 tahun SENDIRIAN!" Ujar Lira yang ngegas diakhir.

__ADS_1


"Gue udah mau tanggung jawab Ya, Lo aja yang ngusir gue dan gak kasih kesempatan buat Gue! Dan satu lagi, gak usah bawa bawa Sean, kalau Lo gak mau, ya udah Sean sama gue aja, gue urus dia sampai dia kuliah, terjamin semua pendidikannya," ujar Radith yang semakin panas.


"Oh, Lo pakai uang buat bahas semua ini. Fine, gue gak butuh duit Lo, gue bahkan gak butuh ada Lo di hidup Gue. Gue bakal pergi sama Sean!" Ujar Lira mengakhiri percakapan dan membanting pintu kamar Radith lalu pergi ke kamarnya. Dia hanya membawa barang barang yang tidak dia beli menggunakan uang Radith dan membawa Sean untuk diajak pergi.


"Nak, kita main ke rumah Om kamu yuk, kamu gak pernah ketemu sana dia, jadi kita kenalan sama dia, nanti Uncle Ayah nyusul, kita berangkat duluan ya," ujar Lira yang tentu saja Sean menurut. Mereka segera pergi dari rumah Radith untuk ke bandara dan pergi ke Jakarta untuk menemui Adiknya.


Sementara Radith yang melihat dari Jendela mengira Lira hanya menggertak dan akan pulang lagi jika dia memohon, dia sedang kesal, dia tidak akan memohon pada Wanita itu.


Radith meminta seorang bawahan untuk mengikuti Lira. Wanita itu terlalu ceroboh dan lupa musuh Radith cukup banyak dan tentu mereka akan celaka dengan mudah. Meski sedang kesal, Radith tentu tidak mau Lira dan anaknya terluka karna pertengkaran yang sepele ini, bahkan Radith sudah tidak ingat apa masalahnya.


"Pak, Nyonya dan tuan muda menuju bandara menggunakan taksi, apa saya harus terus mengikutinya?" Seseorang yang melapor itu membuat Radith kelabakan dan langsung berlari mengambil kunci mobilnya. Dia seketika tersadar tidak boleh membiarkan Lira pergi lagi, setelah semua yang mereka lalui.


Lelaki itu sampai ke bandara dan langsung berlari ke arah loket tiket. Dia melihat Lira dan Sean sudah selesai membeli tiket dan saat mata mereka bertemu, Lira berjalan cepat agar bisa menghindar, namun tentu Radith lebih cepat karna lelaki itu tidak membawa anak atau bawaan lain. Akhirnya Radith berhasil menyusul Lira.


"Lira jangan kayak anak kecil gini ah, Lo mau kemana pakai pesawat? Balik ke Aussie? Gak lucu. Masalah kita cuma sepele, jangan lah begini, kasihan nih Sean masih ngantuk dibawa terbang, ayo pulang, kita omongin baik baik," ujar Radith dengan wajah khawatir, namun masih ada wajah kesal yang bisa dibaca oleh Lira.


"Gak usah, gue mau pergi dulu, nanti kalau udah sampai dan nenangin diri, Gue bakal hubungin Lo. Lo siap siap aja buat ketemu Luna dan semua tamu penting itu, gue mau pergi ke suatu tempat dulu," ujar Lira yang tentu tidak diijinkan oleh Radith, dia masih tidak tahu Lira mau pergi kemana karna tiketnya sudah dia simpan.


"Gue mau ke rumah Adik gue, udah lama banget gue gak ke sana. Sean juga biar ketemu sama Omnya. Gue mau ke Jakarta, Lo kan besok ke sana, ya anggap aja gue pergi duluan, dinginin kepala dulu baru ngomong," ujar Lira yang tampak final dan tidak bisa diganggu gugat.


"Oke kalau gitu, setidaknya gue tahu Lo kemana. Gue bakal kirim 1 orang buat jagain Lo, Lo gak perlu tahu siapa orangnya, karna dia gak akan terlihat sama Lo, jadi Lo santai aja, gue cuma mau pastikan istri dan anak gue selamat," ujar Radith yang sengaja sangat manis agar Lira tidak jadi pergi.


"Oke, gue gak akan kenapa napa, gue pergi," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu sebenarnya merasa aneh, kenapa mereka sampai pisah rimah hanya karna masalah yang sangat sepele. Bahkan tadinya hanya gurauan.

__ADS_1


"Apa gue terlalu kaku dan tadi nyahut dia kayak ngebentak? Astaga malah jadi overthinking kan gue," ujar Radith menggeleng gelengkan kepalanya dan memilih pulang untuk merapikan barang yang dia bawa


__ADS_2