Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 54


__ADS_3

Lelaki itu melepas perban di kakinya. Meski lukanya sudah mulai mengering, dia tidak bisa berjalan dengan normal. Namun dia terus memaksa karna tidak mau Lira tahu dia terluka di luar sini. Dia akan dimarahi oleh Lira, atau bahkan membuat wanita itu semakin trauma. Dia berusaha untuk berjalan dengan normal meski merasa sakit yang luar biasa.


"Lo jangan paksa kaki itu buat jalan normal! Lo butuh waktu paling gak satu bulan buat itu luka sembuh sampai ke dalam dalamnya, terus baru habis itu Lo bisa latihan jalan PELAN PELAN, Kenapa Lo malah maksain gini sih? Itu sampai darahnya keluar lagi, Lo malah cuma memperburuk keadaan Lo tahu gak," ujar Jordan yang gemas melihat Radith.


"Well, gue udah pernah ada di posisi begini, berkali kali, jadi begini gak akan bikin gue begitu terpengaruh. Gue udah janji sama Lira buat pulang dalam sebulan, dan Gue cuma ounya waktu lima belas hari di sini, yang artinya gue harus benar benar bisa berjalan normal dalam 15 hari itu," ujar Radith yang melihat darah di kakinya.


Karna terus memaksa untuk menggerakkan kaki itu dan berjalan, luka yang ada di kakinya kembali terbuka dan darah kembali mengalir. Jordan tidak merasa itu keputusan yang tepat, karna pada akhirnya Radith tidak bisa berjalan, dan bahkan lukanya juga tak kunjung sembuh. Mereka harus memikirkan cara lain jika memang Radith tak ingin Lira tahu akan hal ini.


"Kita bisa bohong aja kalau ternyata Lo masih ada pekerjaan dan Lo harus lebih lama di sini, jadi Lo gak perlu pulang dalam satu bulan, daripada begini kan? Kita juga gak sepenuhnya bohong, lo kan masih ada urusan di sini, gimana?" Tanya Jordan yang dijawab gelengan kepala oleh Radith karna dia tahu, bukan hal yang baik untik berbohong masalah ketepatan waktu.


"Gue udah janji sama dia, janji sama Sean. Kalau gue ingkar, mereka gak akan percaya sama gue, dan gue sendiri yang kena kan? Gak mau, gue gak mau Sean gak percaya lagi sama gue, sampai sekarang bahkan dia gak bisa panggik gue papa, kalau dia tahu gue ingkar janji, dia makin gak mau panggil gue papa."


Jordan merasakan keresahan itu, namun dia juga tidak bisa membantu banyak. Semua kembali lagi pada Radith, namun Jordan tahu lelaki itu tidak akan bisa sembuh jika terus memaksa seperti ini, dan justru akan berbahaya karna bisa saja ototnya sobek, dan dia harus menjalani operasi untuk membenarkannya. Dia tentu juga tidak mau Radith mengalami hal buruk itu.


"Oke, gini aja. Lo pemulihan selama 13 hari, terus dua harinya Lo baru belajar jalan. Nah, karna itu bakal sakit, Lo beli aja obat yang penhilang nyeri sprei, pas Lo sampai di depan rumah, lo semprot itu sprei dan lo gak akan merasakan sakit pas berjalan, walau lo bakal ngerasa nyeri saat nanti efek obatnya hilang."


"Tapi paling tidak, pas kalian ketemu, lo dalam keadaan baik, dan yah, lo bisa masuk ke kamar dengan alasan lelah, jadi Lo bisa mengistirahatkan kaki Lo yang pasti kram setelah itu, gimana? Better kan? Daripada Lo paksa jalan dan gak mendapat manfaat apa apa? Ya kan?" Tanya Jordan yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu menyetujui saran yang diberikan oleh Jordan.


"Thanks bang, Lo emang selalu bisa gue andalkan . Ah, seandainya gue punya kakak laki kayak lo gini, pasti bakal bahagia sih. Sayang Lira cuma punya adik dan kakak perempuan gue hak cukup pantas buat jadi saudara yang bisa gue andalkan, jadi gue gak bisa merasakan itu," lirih Radith dengan getir, namun dia segera menganggap ucapannya hanya angin lalu.


"Well, kalau dulu Lo gak ninggalin Luna kayak orang bego malam malam di tengah hujan dan Darrel yang datang buat tolong dia, mungkin Lo bisa aja jadi adik ipar gue. Tapi sayang, ksrna kebodohan lo sendiri, lo jadi kehilangan dia. But yeah, semua sudah berlalu, gue bisa kok jadi abang ketemu besar ke lo, tenang aja," ujar Jordan setengah bergurau.


Radith tahu Jordan memang berniat menyindir sikap pengecutnya kala itu, apapun alasannya, dia sudah membuat Luna sangat terluka, baik secara fisik maupun mental sehingga dia tidak bisa menampakkan diri atau bahkan meminta maaf dengan sungguh sungguh, dia juga terlalu malu meminta Luna untuk kembali.


"Yah, emang gue yang salah bang, gue terlalu berpikir akan banyak hal, semakin banyak yang gue pikirkan, semakin sering gue kehilangan. Kalau lo belum tahu aja, pas Luna menikah sama Darrel, gue stres berat, dan gue mabuk, Lira yang bawa gue balik ke ruangan gue."

__ADS_1


"Tapi gue malah melecehkan dia, dan dia kabur ke lusr negeri tanpa jejak sama sekali, di saat gue tahu dia ada di Aussie, gue susul dia, dan gue kehilangan dia karna gue gak berani ngotot buat dia tetap sama gue. Dua kali bang, gue kehilangan orang yang gue sayang cuma karna gue ragu."


"Yah, gue gak tahu ceritanya, tapi gue setuju bagian Lo kehilangan semua hal karna lo ragu. Gue ikut senang karna akhirnya lo bisa menemukan perempuan yang bisa bikin lo bangkit dan bahagia seperti ini, gue bakal jaga kalian, selayaknya abang yang jaga adik adiknya. Walau lo udah bukan sama Luna lagi, Lo tetap keluarga gue."


"Makasih sekali lagi. Keluarga Wilkinson udah banyak banget bantu gue sampai bisa kayak gini. Gue benar benar gak nyangka bisa ketemu orang sebaik kalian dalam hidup gue. Semoga aja Kalian selalu bahagia, terima kasih buat semua bang, walau ini mungkin benar benar misi terakhir kita, gue bangga bisa gabung di tim yang hebat ini," ujar Radith dengan tulus sambil menahan tangisnya.


Jordan menepuk punggung Radith pelan, agar lelaki itu bisa melelehkan air mata yany pasti membuatnya sesak. Jordan menghela napasnya berkali kali dan meminta Radith menghabiskan air mata itu, Jordan bahkan tidak melihat Radith, karna dia tak mau Radith menjadi stres di saat merasa lelaki tidak boleh menangis, padahal mereka sama sama makhluk hidup.


"Kenapa gue selalu jadi lemah di depan Lo ya bang? Kayak yang nyaman aja gitu gue jujur di depan lo, padahal gue selalu jadi lelaki hebat di depan orang lain," heran Radith setelah beberapa saat dan langsung menyeka air matanya. Dia merasa lega hanya dengan mengeluarkan beberapa tetes air mata bersama dengan kesesakan dalam hatinya menanggung banyak beban itu.


"Karna gue tahu, lo gak sepenuhnya move on dari Luna, walau Lo udah punya Lira dan Sean. Makanya gue mau ingetin aja ke Lo kalau Luna udah jadi punya orang, punya 3 anak pula dan dia sudah menganggap lo biasa aja. Lo perlu ingat, gue akan sering lakukan ini, sampai Lo biasa aja saat gue menyebutkan kejadian itu, artinya Lo udah bisa melepas Luna dan siap cinta sama Lira 100 persen."


Radith menghela napas saat menyadari itu. Lelaki itu tahu Jordan bisa membaca sikapnya, dan meski Radith bilang seribu kali dia sudah melupakan Luna, dalam hatinya setiap hari dia masih membayangkan hal hal jahat dan sedih yang dia lakukan pada Luna, bahkan dari awal mereka berjumpa. Dia menyesal sudah melakukan itu.


Hari hati berjalan dengan cepat, luka di kaki dan tangan Radith sudah tertutup sempurna, meski masih ada bekas di sana. Lelaki itu juga sudah berjalan meski harus pelan karna tidak terbiasa dan dia juga merasa nyeri jika memaksa untuk berjalan. Lelaki itu tidak menyerah dan kembali mencoba sampai dia bisa berjalan tanpa bantuan tongkat meski masih pincang.


"Lo yakin mau balik hari ini? Kenapa gak nunggu besok? Kan Lo janji pulangnya besok?" Tanya Darrel yang juga masih ada di pulau ini karna menunggu Radith. Mereka akan pergi ke tempat yang sama untuk liburan, mereka juga akan membawa Luna dan ketiga anaknya untuk ikut berlibur, sudah lama mereka tidak libur keluarga seperti ini, pasti akan menyenangkan, mereka juga perlu merayakan keberhasilan mereka.


"Ah ya, gue mau kasih kejutan aja buat mereka, gue juga udah kangen sama anak gue, jadi ya sore ini gue berangkat, dan mereka bakal ngira gue berangkat besok, jadi pasti mereka lagi nyiapin sesuatu buat kepulangan gue, gue pengen tahu gimana reaksi mereka kalau ternyata mereka yang gue kaish kejutan."


Darrel mengangguk paham dan membantu Radith membawa barang. Mereka sudah selesai dan Radith hanya perlu sering berjalan agar tidak pincang permanent, lelaki itu juga harus kontrol rutin ke dokter untuk memastikan kondisinya dalam keadaan baik, jadi Radith mengalami mengalami hal buruk lagi pada kakinya, kemungkinan lelaki itu akan cacat permanent, jadi mereka harus menghindari kemungkinan itu.


Radith menaiki penerbangan dibantu oleh pengawal yang juga ikut dalam penerbangan itu. Dia transit di Jakarta dan segera pergi lagi menuju lombok. Dia sudah snagat rindu dan penasaran apa yang mereka siapkan untuk menyambut Radith, lelaki itu sangat bersemangat untuk menyaksikannya.


Sementara itu Lira dan Hafiz yang Radith panggil untuk tinggal di lombok sementara waktu masih melakukan terapi dan Lira menangis di sana. Mereka mencoba agar Lira bisa melupakan semua mimpi buruk dan memaafkan masa lalunya sehingga dia bisa bahagia di waktunya sekarang. Tentu saja semua juga bergantung pada Lira sendiri.

__ADS_1


"Gak papa, lo bisa menangis, tapi setelah ini, Lo belajar memaafkan semua hal yang udah terjadi, baru Lo bisa hidup nyaman dan hilang dari bayangan trauma itu," ujar Hafiz yang diangguki Lira meski wanita itu sedang menangis.


Lira menangis keras, dia bahkan sampai memukul mukul meja dan membuat Hafiz sedikit kelelahan dalam menenangkannya. Tiba tiba saja Lira terisak dan berdiri, lalu memeluk Hafiz yang berdiri di depannya. Bertepatan dengan itu, Radith masuk ke dalam rumah yang Lira tempati dan melihat adegan melodrama yang memuakkan bagi Radith.


"Dith, ini gak kayak yang lo..." kata kata Hafiz terputus karna Radith segera memotong.


"Gak gak, gue tahu kok, kalian lagi terapi, Lira nangis dan peluk Lo, gue tahu dan gue juga tahu juga lo gak akan mengecewakan gue dengan hal murahan itu. Jadi yah, lupakan aja. Kalau kalian masih butuh waktu buat terapi, maaf, anggap aja gue gak pernah lewat," ujar Radith yang membuat Lira menahan tangannya.


Lira berdiri dan memeluk Radith sebentar, mencium aroma tubuh yang khas, membuat Lira jatuh cinta pada lelaki itu hanya dengan mencium aromanya. Wanita itu menatap Radith tanpa melepaskan pelukannya, Radith gemas dan langsung mencium kening wanita itu karna dia sangat merindukannya.


"Kok pulang cepat? Bukannya pesawatnya besok ya? Aku belum nyiapin apa apa buat nyambut kamu, aku pikir mau bikin atau pesan gitu pas nanti setelah terapi, eh malah kamu udah di sini, mana melihat hal yang gak enak lagi," keluh Lira yang merasa tidak enak dengan Radith, namun lelaki itu tidak merasa itu adalah masalah, karna dia yang ingin memberi kejutan.


"Gak papa, kamu bisa ganti kejutan yang akan kamu siapkan malam ini, kok. Kamu bisa ganti malam ini juga, penasaran gak apa yang bisa kamu lakukan?" Tanya Radith sambil memainkan alisnya. Lira awalnya tak paham, nakun saat dia paham, dia segera melepaskan pelukan mereka dan secara reflek Lira menendang kaki Radith, yang apesnya adalah kaki yang tertembak.


"Eh? Eh? Kamu kenapa? Aku nendangnya gak keras kok, kamu kesakitan banget? Kamu kenapa?" Tanya Lira khawatir. Hafiz juga menyimak, namun dia tahu Radith sedang menahan sakitnya, dia tidak bisa bertanya di sini karna pasti Radith punya alasan tidak jujur dengan mereka.


"Aku kan kemarin lari ke sana kemari, udah berusaha buat nangkap penjahatnya dan dapat uangnya. Jadi kakiku bengkak gitu deh, makanya sakit kalau dipegang, jadi kamu jangan pegang pegang ya sayang, sadar dikit lagi," goda Radith yang membuat Lira jengah dan meraup wajah lelaki itu dengan gemas nya.


Lira menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak mempercayai apa yang Radith katakan. Dia menatap Radith dari atas sampai ke bawah, namun langsung merasa kasihan setelah melihat wajah Lesu Radith pada saat ini.


"Ah, ya udah kalau gitu kamu ke kamar aja terus nanti aku ke kamar kamu ya buat mastiin keadaan kamu, aku mau lanjut terapi dulu, kamu jangan kemana mana loh, langsung masuk kamar," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu masuk ke dalam kamar dengan susah payah, lalu tak lupa mengunci pintu kamarnya dari belakang.


Radith membuka perbab di kakinya dan melihat darah keluar lagi dari luka itu karna Lira menendangnya cukup keras meski wanita itu tidak merasa hal itu adalah keras, meski Radith merasa sangat keras, dia hanya tidak mau ribut untuk hal yang sepele. Lelaki itu mengambil perban dan gunting yang ada di kotak P3k.


"Here we go again," ujar Radith yang membuka perban di tangan dan kakinya lalu mulai mengobati lukanya sambil menggigit bibir karna dia tidak bisa berteriak di sini karna Lira dan Sean pasti bisa mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2