
Akhirnya Radith bisa kembali ke Bali. Lelaki itu mendarat di bandara dan langsug pulang ke rumahnya. Dia memang tidak memberi tahu Lira dan Sean, sengaja dengan tujuan memberi kejutan pada mereka. Saat sampai di rumah, dia melihat Sean dan Zia sedang bermain bersama, membuat lelaki itu tersenyum senang dan langsung meminta Sean dan Zia untuk memeluknya. Dia senang akhirnya swmua bisa berakhir seperti yang dia inginkan.
Dia berhasil membuat Ibu pemilik Villa itu bertekuk lutut di hadapannya karna dia memiliki banyak bukti kuat, dia bahkan berencana mengakusisi semua asset yang dia punya dengan mengganti uang, jika tidak mau, mungkin Radith akan menggunakan cara lain untuk mendesaknya, yang jelas dia ingin rumah yang ada di daerah itu menjadi miliknya. Dia juga akan memproses untuk membeli tanah dan membuat tempat wisata di sana.
"Kamu kok pulang gak bilang bilang? Aku gak masak, anak anak tadi cuma pesan di ojek online aja. Kamu mau makan apa? Aku pesan sekalian atau aku masakin mau kah?" Tanya Lira saat mendengar suara Radith dan langsung keluar menghampiri lelaki itu, tak lupa memeluk lelaki itu dengan senang karna dia bisa kembali dengan selamat. Radith menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dia tidak ingin makan untuk saat ini.
"Aku mau makan yang lain aja, lebih gampang didapat juga. Gimana? Enak sih ya kayaknya," ujar Radith yang membuat Lira terkikik, dia tahu apa yang dimaksud oleh Radith, namun dia tak mau terpancing karna dia takut anak anak anaknya akan terpengaruh pikiran kotor itu, Radith sudah bisa menahannya, dia terlalu sibuk memikirjan hal lain sampai tak ada waktu memikirkan hal semacam ini, tentu saja Lira juga senang akan hal itu.
"Eh yang, kita pergi ke dokter lagi aja yuk, buat periksa kondisi dedeknya, aku juga takut kalau terjadi apa apa sama dedeknya. Gimana? Amu mau gak?" Tanya Radith yang tentu diangguki oleh Lira. Gadis itu merasa senang karna Radith sangat antusias dengan anak mereka, lelaki itu bahkan selalu menanyakan kondisi Lira untuk memastikan istri dan anaknya baik baik saja.
"Sean mau ikut sean mau lihat dedek bayinya. Boleh kah Pa? Sean mau lihat dedek bayinya perempuan atau laki laki," ujar Sean yang diangguki oleh Lira. Tentu saja anak pertamanya itu berhak untuk tahu bagaimana adiknya, dengan catatan dia tidak akan menganggu prises pemeriksaan dan akan bersikap seperti anak yang baik, dia akan mengajak Sean dan Zia untuk melihatnya.
"Mami, melihat mami dan dedek Bayi, Zia malah jadi rindu sama Mama, apakah mami tahu dimana mama? Kenapa mama tidak pernah bertemu kagi dengan Zia?" Tanya gadis kecil itu yang tentu membuat Lira terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan itu dan melempar pada Radith agar lelaki itu sendiri yang menjawabnya. Jujur saja, Lira masih merasa bersalah jika ingat Zia sudah kehilangan Ibunya saat Ibunya melahirkan.
"Setelah besok kita melihat dedek bayi yang ada di perut Mami, kita pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Mama kamu, kamu mau kan? Tapi kamu harus janji satu hal, kamu akan menjadi anak yang baik dan dengar apa yang papa bilang. Kamu mengerti?" Tanya Radith yang sebenarnya tak disetujui oleh Lira. Bagaimana gadis kecil itu bisa diminta untuk melakukan hal yang berat begitu? Lira tidak mau Zia merasa hidupnya hancur setelah melihat kondisi keluarganya. Lira tak tega hanya dengan membayangkannya.
"Kita harus kasih tahu Zia secepatnya, kalau dia tahu pas dia udah dewasa, dia udah ngerti, dia akan benci sama kita karna menyembunyikan ini. Makanya aku mau sama dia aja, aku kasih tahu dia dulu ya biar dia bisa memahami hal itu, tidak begitu menyalahkan kita dan seiring berjalannya waktu, dia akan mengiklaskan semua," ujsr Radith yang sudah Final. Dia tidak mau diskusi lagi mengenai hal ini, dia hanya ingin Zia tahu tentang apa yang berhak dia tahu.
"Sayang, aku sebenarnya mau ajak kamu, tapi kalau sekarang gak bisa, aku gak bisa bawa kamu ke tempat yang jauh lagi. Aku gak bisa ambil resiko dedek bayinya kenapa napa. Jadi kamu di rumah saja sama pengawal ya, nanti aku ke Jakarta berdua aja sama Zia. Zia gak papa kan kalau cuma berdua sama Papa?" Tanya Radith yang tentu diangguku oleh Zia. Baginya yak masalah karna tujuannya ingin bertemu dengan Mamanya.
"Zia, kalau yang mami tahu, mama kamu itu sering cubit dan pukul kamu kan? Bahkan sering kunci kamu di kamar mandi atau di kolam belakang. Kamu masih sayang banget sama mamamu ya?" Tanya Lira yang memhuat Radith terkejut. Menurutnya tak pantas Lira menanyakan hal itu pada Zia yang masih kecil, bisa saja hal itu berpengaruh untuk otak dan perkembangannya, meski begitu, Zia tampak baik baik saja dengan pertanyaan itu, walau Radith yang masih meraca cemas pada gadis kecil itu.
"Karna mama sangat baik, walau mama sering pukul atau cubit Zia, itu karna Zia nakal, tapi setiap hari mama sekali menyanyikan lagu untuk Zia, mama memberi makan untuk Zia, dan bahkan mama selalu membacakan cerita untuk Zia. Jadi Mama itu orang baik Mi, mama tidak pernah jahat pada Zia, itu karna Zia yang nakal saja," ujar Zia yang membuat Lira terharu.
__ADS_1
"Kamu anak yang baik, kamu anak yang benar benar baik. Mami bangga punya anak kamu, kamu harus bisa jadi anak yang baik dan sukses, mami akan selalu ada di dekat kamu, temenin kamu, mami sayang sama kamu dan Sean," ujar Lira memeluk Zia dengan erat. Kekhawatiran Radith langsung hilanh saat melihat Zia baik baik saja, paling tidak gadis kecil itu tidak merasa tertekan ataupun terintimidasi dengan apa yang Lira katakan.
"Lain kali jangan bilang begitu, aku gak mau kalau sampai Zia atau Sean tumbuh dengan pikiran mama mereka adalah orang yang jahat, yah, terutama Zia. Bagaimanapun Greselyn sudah menjadi Ibunya selama 6 tahun dan dia dirawat, itu artinya sejahat jahatnya wanita itu, dia tetap orang yang baik bagi anaknya," bisik Radith pada telinga istrinya agar Zia dan Radith tidak mendengar.
"Ya, aku paham, dan aku yang salah. Maaf, aku benar benar gak sengaja melakukannya," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu tidak mamu memperpanjang masalah dan memilih untuk membawa semua barang barangnya dan masuk ke rumah.
"Eh Ra, kayaknya kita jadi deh beli rumah atau Villa di daerah raja ampat sana. Tapi mungkin bakal ribet banget, jadi aku perlu banyak waktu. Kamu wajib doain aku ya," ujar Radith yang langsung memeluk Lira saking senangnya. Dia tak menyangka bisa mendapatkan rumah dan villa yang dia impikan di sana. Dia akan membangun lagi rumah itu jika memang hak kepemikikan sudah jadi di tangannya.
"Ya udah nanti kalau memang jadi beli, kabarin aju aja, kalau gak jadi gak usah gak papa, nanti biar aku sering sering main ke sana, aku suka banget lihat penduduk aslinya, baik banget," ujar Lira yang disetujui oleh Radith. Mereka mengobrol sampai Zia dan Sean sudah selesai mandi, sudah memakai baju yang bagus dan mereka sudah siap mengantar Lira datang ke dokter untuk memeriksa kondisi babynya.
Di rumah sakit, mereka melakukan pemeriksaan yang sudah biasa Radith lakukan. Namun bagi Sean dan Zia, semua baru, untung saja dokter itu baik dan mengijinkan Sean dan Zia untuk ikut melihat kondisi adik mereka. Sean dan Zia bersikap baik, tidak lari larian ataupun berteriak, mereka sungguh menuruti apa yang Radith katakan. Hal itu juga yang membuat dokter jadi baik pada mereka.
"Nah, sekarang kita akan melihat kondisi adik kecilnya di dalam perut mama ya, sini sini," ujar dokter yang membuat Sean dan Zia mendekat, mereka melihat apa yang dokter itu lakukan dan langsung melihat ke arah Layar dimana bentuk bayinya sudah terlihat. Mereka langsung terdiam dan terkagum melihat adik mereka di dalam perut mamanya. Ravi merasa bangga melihat anak anak mereka yang tampak menyayangi adik mereka.
Setelah mereka melanjutkan pemeriksaan dan memastikan semua kondisinya baik dan normal, Lira dan Radith berpisah di sana. Lira dan supir pengawalnya langsung pulang ke rumah, sedangkan Radith dan Zia langsung pergi ke bandara, karna dia sudah berjanji pada Zia, dia akan mengantar gadis itu untuk bertemu dengan mamanya.
Dalam hati Radith merasa takut jika Zia tidak bsia menerima apa yang sebenarnya terjadi, dia ingin Zia mengerti apapun yang terjadi, semua dilakukan untuk dirinya, namun dia tak bisa memaksa Zia untuk mengerti akan hal itu, Zia juga berhak untuk marah atau sedih padanya, atau bahkan tak terima papa kandungnya sudah membunuh Ibunya sendiri, yah walau Ibu itu pantas mendapatkannya.
"Zia mau beli makan dulu? Atau mau sama Papa langsung pergi ke makam mama Zia?" Tanya Radith yang baru sadar mereka belum makan sedair tadi. Zia ingin pergi makan dan akhirnya mereka makan di kantin bandara sebelum pergi ke makam Gracia. Ya, dia akan membawa Zia ke makam Gracia. Dia tidak mau memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia ingin lihat apakah Zia memahaminya.
Setelah selesai makan dan mereka melanjutkan perjalanan ke makam, Zia tampak bingung saat Radith mengajaknya ke sana. Namun gadis kecil itu masih diam saja, samoai akhirnya mereka berdiri ke sebuah nisan bertuliskan Nama Mamanya, Zia langsung menatap Radith dengan tatapan yang bertanya, dia tidak berani bertanya apa apa, namun karna Radith juga tak mengatakan apapun, Zia akhirnya buka suara.
"Apa yang terjadi pada mama Zia? Kenapa, kenapa mama ada di sini?" Tanya anak itu dengan polos. Radith langsung berjongkok dan merangkul tubuh anak itu, lalu mengajak anak itu pergi ke bagian nisan.
__ADS_1
"Nak, kamu coba baca yang ada tulisan bintang dan ada tulisan plusnya," ujar Radith yang diangguki oleh Zia. Dia membaca angka angka di sana lalu kembali menatap ke Radith, sepertinya Zia tidak menangkap apa yang dimaksud oleh Radith.
"Angka bintang di sini, adalah angka mama Zia lahir, mama Zia lahir pada tanggal ini bulan ini tahun ini," ujar Radith sambil menunjuk ke angka angka itu. Zia mengangguk paham dengan penjelasan itu.
"Nah, kalau angka yang adw di tanda plus, atau sebenarnya tanda salib ini, itu menunjukkan tanggal kematiannya, kamu bisa lihat di sini adw tanggal ini, bulan ini, tahun ini," ujar Radith yang membuat Zia terdiam. Sepertinya dia menyadari sesuatu. Dia menatap ke arah angka angka itu san menatap ke arah papanya lagi.
"Itu, itu tanggal ulang tahun Zia pa. Tapi tidak mungkin tanggal ulang tahun Zia adalah tanggal kematian mama Grace, kan mama Grace selama ini ada di dekat Zia. Ini salah ya pa?" Tanya Zia bingung. Radith ingin menangis melihat anak itu, namun dia berusaha tegas agar Zia juga menjadi tegar.
"Tidak nak, hari ini papa mau bilang ke kamu, mama Grace yang melahirkan kamu, sudah meninggal di saat melahirkan kamu, dan orang yang selama ini mengaku sebagai Mama kamu, itu bukan mama kamu sayang, mamanya tante Greselyn," ujar Radith yang membuat Zia makin bingung. Dia langsung memegangi kepalanya karna tidak mengerti.
"Zia, Zia dengarkan Papa ya, Zia dengarkan papa, Zia gak usah mikir apa apa dulu, Papa memang mau cerita ke Zia karna Papa tahu, Zia anak yang kuat, kalau Zia mau menangis, Zia mau marah, Zia mau kecewa sama papa, Zia katakan saja," ujar Radith yang membuat Zia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Zia tidak marah, Zia hanya bingung dengan apa yang terjadi. Jadi, mama yang melahirkan Zia sudah meninggal sejak lama? Lalu yang selama ini jadi mamanya Zia itu siapa Pa? Apakah dia orang jahat?" Tanya Zia tak percaya, karna dia selalu menganggap Greselyn adalah orang yang baik.
"Pada dasarnya dia orang baik seperti yang Zia katakan. Namun karna dia serakah terhadap harta, dia menjadi jahat, dan bahkan dia tega membuat Zia sendirian di Jakarta dan menjadi pengemis, itu karna Orang itu ingin membalas dendam pada papa."
"Banyak hal yang tidak dan perlu kamu ketahui sayang, tapi papa harapkamu bisa sabar sampai nanti kamu akan tahu satu persatu apa yang perlu kamu tahu, kamu mau kan sabar dan pelan pelan untuk sampai ke tahap itu? Apapun yang terjadi, kamu harus selalu ingat kalau Papa dan Mami akan selalu sayang sama kamu, kami gak akan biarkan kamu sendirian di dunia ini."
"Apakah benar? Apakah nanti mami tidak seperti orang yang mengaku sebagai Ibu Zia namun malah membuat Zia sedih? Apakah Mami Lira tidak akan mencubit atau memukul Zia saat Zia melakukan kesalahan? Zia takut," lirih gadis itu yang mulai ingin menangis. Radith membiarkan Zia menangis untuk sesaat, akhirnya dia tahu selama ini Zia merasa tertekan karna dia sadar, dia adalah orang lain di keluarga ini.
"Papa tahu, Mami Lira bukan orang seperti itu, namun jika Mami jadi seperti itu, kamu punya papa, kamu cerita ke papa semua yang terjadi, papa ada di pihak kamu, papa gak akan pernah sakiti kamu ataupun membuat kamu terluka lagi, kamu percaya yah sama papa," pesan Radith sambil mengelus kepala Zia.
"Terima kasih Papa," lirih Zia sambil mengelus papan mamanya.
__ADS_1