
Radith mengecek persiapan mereka untuk terbang, termasuk menanyakan ke dokter apakah istrinya dalam keadaan aman untuk melakukan penerbangan jarak jauh, setelah memastikan semua aman, barulah Radith membawa keluarganya ke bandara. Dia sengaja membeli tiket ekonomi, selain untuk menghemat biaya, mereka semua juga bisa duduk berdekatan dan saling menjaga, apalagi pengawalnya yang juga sedikit banyak tahu tentang medis.
Sean dan Zia duduk dengan tenang, namun mereka juga bermain bersama pengasuh mereka dengan suara pelan karna Radith sudah berpesan untuk tidak menganggu penumpang lain, karna mereka tidak sendiri di pesawat ini jadi mereka harus tetap menghargai orang lain yang ada di sini. Untung saja Sean dan Zia terdidik sebagai penurut, jadi mereka langsung mengangguk tanpa banyak bicara.
Radith dan Lira sendiri duduk bersebelahan. Lelaki itu menidurkan kepala Lira di pundaknya, dengan alasa selimut agar lebih empuk karna pundak Radith cukup keras. Lelaki itu memang sering berolahraga, jadi badannya kencang dan keras, namun hal itu sangat tidak nyaman untuk disandari, dia harus menambah masa otot dengan memakan banyak protein, jadi ototnya bisa bertambah besar dan nyaman untuk disandari.
"Yang, sebenernya kita tuh perginya pas kamu udah lahiran aja, kan enak tuh sekalian bulan madu lagi, kalau gini kan gak nyaman banget akunya, ngelihat kamu yang cantik, suasananya asik, huh, malah harus menahan semua," keluh Radith pelan. Lira tidak menjawab karna dia tak mau terjadi keributan, terlebih perutnya merasa tak enak setelah mereka berada di udara. Tidak biasanya dia mabuk naik pesawat, mungkin karna ada bayi di perutnya, jadi rasanya berbeda sekali dari biasanya.
"Kamu mau muntah ya? Kalau iya aku nyari kantong muntah dulu," tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh wanita itu, dia sama sekali tidak berniat untuk muntah, dia akan menahannya dan tidur agar nanti saat dia bangun mereka sudah siap untuk mendarat dan melakukan perjalanan darat.
Radith tahu istrinya merasa tak nyaman. Dia langsung menutupi perut Lira dengan selimut lain, lalu dia mengusap perut Lira agar nyaman. Istrinya menyukai gerakan itu dan tersenyum meaki matanya tetap terpejam. Radith melanjutkan gerakan itu sampai akhirnya Lira benar benar terlelap. Radith yang juga lelah pun akhirnya ikut tertidur dengan tangan yang masih menyentuh perut istrinya.
Sean dan Zia pun juga akhirnya merasa bosan dan mereka semua tertidur dalam perjalanan, termasuk mbak Anna dan Beta yang tidak biasa naik pesawat, jadi mereka merasa pusing dan mual, namun menahannya agar tidak membuat malu atau malah membuat Sean dan Zia ikut merasa mual dan muntah, mereka tidak mau menyebabkan hal itu.
Setelah beberapa jam penerbangan, mereka akhirnya menghirup udara segar yang ada di sana, Radith dan Lira turun perlahan menuju pintu keluar dan mobil yang akan membawa mereka sudah menunggu di sana. Lira dan keluarganya satu mobil, dan pengawal mereka dua mobil. Mereka pergi menuju villa yang sudah disewa oleh Radith. Setelah mendapat informasi kondisi di sana Aman, Radith dan keluarga langsung meluncur ke sana.
Sean dan Zia sangat senang sampai berlarian melihat suasana yang baru, Villa yang disewa Radith pun masih sangat sederhana, khas daerah sini, namun di satu kotak sudah ada beberapa rumah dan halaman seperti rumah pada umumnya, Radith menyewa 1 kotak itu (yang bisa diisi oleh 5 keluarga) untuk dia dan para pengawal.
"Kalian istirahat dulu aja bergantian, dua orang bisa jaga di dekat pintu, barangkali ada yang mencurigakan atau berbahaya, kalian bisa tahu, sisanya, kalian pergi ke rumah masing masing, pilih lah sana, kalian bisa mandi dan beristirahat, kalian bergantian jaga tiap dua jam, apa kalian mengerti?" Tanya Radith yang diangguki oleh pengawal itu.
Mereka melakukan hompimpa untuk menentukan urutan, mereka yang keluar pertama boleh memilih mau berjaga di urutan keberapa. Radith cukup terhibur dengan cara mereka, dia memang tak membatasi bagaimana mereka mengatur jadwal, asalkan kondisinya tetap aman terkendali, dia tidak akan mempermasalahkan hal itu.
Sementara itu Radith dan Lira langsung masuk ke kamar mereka yang ada di sana. Radith dan Lira tidur di satu kamar, Sean, Zia, Anna dan Beta di kamar lain, Radith menyewa kasur tambahan untuk Anna dan Beta bisa tidur meski tidak ada dipan di kasur mereka, tapi lebih baik daripada mereka harus tidur langsung beralaskan lantai.
"Kamar mandinya hanya satu dan di luar kamar, kalian mandi dulu saja, saya dan Lira mau masuk kamar dulu, dua jam lagi saya mau mandi, jadi kalian gantian di kamar, oke?" Tanya Radith yang diangguki oleh mereka. Radith tak mau melihat hal yang tak pantas, jadi dia memutuskan untuk membagi jadwal mandi.
__ADS_1
Radith benar benar masuk ke kamar dan memilih untuk tidur. Dia sudah lelah dan punggungnya terasa pegal karna perjalanan jauh, bahkan pundaknya juga pegal karna Lira terus menyender, namun dia harus rela demi kenyamanan Istri dan calon anaknya.
Saat Radith sedang tidur, Ibu pemilik villa datang untuk berkunjung, mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta mengecek apakah mereka memerlukan sesuatu yang lain selama tinggal di sini, karna Radith tidur, Lira yang jadinya menemani Ibu pemilik itu untuk mengobrol sebentar.
(Berbicara dengan logat ketimuran, namun sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah dimengerti)
"Saya senang sekali, ada tamu dari luar pulau menyewa seluruh villa yang saya punya. Jika nona manis butuh sesuatu, jangan malu malu untuk kasih tahu saya ya, saya akan membantu," ujar Ibu itu yang diiyakan oleh Lira. Ibu itu pamit pergi setelah mereka mengobrol sedikit, ingin memberikan ruang bagi Lira dan keluarga untuk beristirahat.
Karna dia sudah terlanjur bangun, dia memilih untuk keluar dan melihat ada apa di luar sini, dia melihat dua pengawal yang sudah menunggu rumahnya. Mereka mengangguk sopan sebentar, lalu kembali ke pekerjaannya.
Lira melihat tak jauh dari satu wilayah Villa yang mereka tempati, ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka, lalu saat Lira melihatnya, orang orang itu langsung pergi begitu saja. Lira langsung merasa tegang saat melihat hal itu. Apakah mereka orang jahat yang ada di Bali? Atau mereka hanya penduduk lokal yang penasaran dengan turis lokal?
"Masih ada 4 pasang lain kan? Kalau misal jaga dibagi jadi depan dan belakang gitu gimana? Saya khawatir ada penyusup dari arah belakang," ujar Lira yang membuat mereka saling pandang.
"Sepertinya nyonya melihat sesuatu, dimana?" Tanya salah satu dari mereka yang diangguki oleh Lira.
Lira menepuk kedua pundak mereka dan kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat di sebelah Radith.
Saat Lira masuk ke dalam kamar, dia melihat Radith yang meringkuk ketakutan di dalam selimut. Lira tentu panik dan langsung menghampiri suaminya itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Radith sampai lelaki itu sangat ketakutan, dia mengguncang tubuh Radith dan langsung menatap ke arah lelaki itu.
Radith membuka selimutnya dan menatap wajah Lira, lalu memeluk istrinya dengan erat, Lira sqmpai kaget dan hampir terjungkal, namun dia membalas pelukan itu dengan bingung, dia tidak tahu kenapa Radith sampai seperti ini dan tentu saja dia tak akan tahu jika Radith fidak bercerita apapun.
"Kamu kenapa? Kamu kenapa? Ada apa? Ada yang masuk ke rumah? Kamu biasanya gak ketakutan gini? Kenapa?" Tanya Lira panik. Radith menggelengkan kepalanya dan memukul mukul kepalanya, membuat Lira makin bingung dan menahan tangan lelaki itu, membuat lelaki itu terdiam dan langsung menatap ke arah Lira lagi dengan wajah yang sayu dan lesu. Lira sangat tak tega melihat pemandangan itu, dia langsung memeluk Radith untuk menenangkannya.
"Udah, kamu tarik napas, keluarkan, gitu dulu berulang ulang, baru habis itu kamu cerita ke aku. Aku gak akan marah, aku malah takut kalau kamu begini, kamu kenapa sayang?" Tanya Lira lembut. Radith menghela dan menghirup napas berkali kali, lalu dia mulai membuka mulutnya namun tanpa suara, membuat Lira tak sabar, namun dia tetap menahannya agar Radith tak ketakutan seperti ini. Lira menganggukkan kepalanya seperti menuntun Radith untuk bicara.
__ADS_1
"Maaf, maaf, aku gak sengaja, aku gak bermaksud dan benar benar gak tahu, aku, aku harus mengaku dosa ke kamu, tapi beneran, aku gak sengaja. Aku syok, kaget dan benar benar gak nyangka kalau aku bakal.. aku.." Radith tak bisa menyelesaikan kata katanya. Hal itu sontak membuat Lira makin panik. Memang apa yang dialami lelaki itu sampai seperti ini?
"Kamu kenapa? Ngaku dosa apa? Kamu berbuat apa? Kamu membunuh siapa? Kamu ngapain?" Tanya Lira tak sabar lagi. Radith lalu menceritakan semua yang dia alami dan lihat pada lira dengan terbata bata, sementara wanita itu tetap menyimak karna tidak mau salah paham atau menghakimi secara sepihak.
~Beberapa waktu yang lalu
Lira keluar dari kamarnya untuk melihat sekitar karna dia tak merasa ngantuk, sementara Radith tidur di tempatnya dengan tenang. Namun beberapa saat kemudian, Radith menyadari Lira tak ada di dekatnya. Dia mencari Lira sampai kemana mana, dia bahkan langsung membuka matanya saat rabaan yang dia lakukan tidak menemukan Lira. Ternyata istrinya tak ada di sana. Radith tentu bingung dan ingin tahu Lira dimana.
Lelaki itu mengenakan kaos dan merapikan celananya, lalu keluar dari dalam kamar tidurnya untuk mencari Lira. Dia kira Lira ada di dapur, jadi dia berjalan ke arah dapur untuk mencari istrinya itu, karna mereka belum terbiasa di sini, Radith takut Lira akan terpeleset atau celaka, kadi dia ingin memastikan istrinya baik baik saja.
"Lira? Lira?" Tanya Radith yang langsung menuju ke dapur, di dapur dia tidak melihat siapa siapa, membuatnya makin bingung kemana Lira pergi karna istrinya tidak begitu suka pergi ke tempat yang jauh, jadi Radith memutuskan untuk pergi lagi ke depan dan mencari istrinya. Namun saat dia melewati kamar mandi, tiba tiba saja pintu kamar mandi terbuka.
Tentu saja secara reflek Radith menengok lagi, karna siapa tahu Lira yang ada di kamar mandi itu, namun ternyata itu adalah Anna yang baru selesai mandi. Anna tampak kaget, Radith juga kaget. Yang membuat Radith kaget bukan karna Rambut Anna yang basah, namun apa yang gadis itu kenakan.
Anna hanya mengenakan handuk dengan rambut terurai. Radith merasa membeku, begitu juga Anna, jadi mereka ada di posisi itu beberapa saat sampai akhirnya Radith tersadar dan langsung pergi dari sana, masuk ke kamarnya dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Entah kenapa dia merasa bersalah pada Liea padahal hal itu tidak disengaja dan bisa dibilang hanya sebuah kecelakaan, namun dia merasa harus meminta maaf pada wanita itu, namun bayangan tubuh Anna yang hanya berbalut handuk membuat Radith frustasi, semakin dia ingin melupakan, semakin dia terbayang bentuk tubuh gadis itu.
"Udah, gak papa, itu kan gak sengaja. Habis ini kamu minta maaf ke dia, pasti dia ngerti kok, lagian kan dia juga ada salahnya, kenapa keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk padahal kan ada kamu ada Sean dan bahkan banyak pengawal yang di sekitar rumah ini, harusnya dia bisa dong tahu hal itu dan gak sembrono. Kalau kamu takut bilang, biar aku yang ngomong," ujar Lira dengan halus.
"Lagian kamu kan lihat dia pakai handuk, bukan telanjang. Di Bali kita juga sering lihat badan orang yang telanjang kok, tuh bule bule cuma pakai bikiji malah ada uang pakai cangcut tanpa bra, jadi ya anggap aja biasa aja gitu loh. Gak usah seheboh dan sepanik itu, aku ikutan panik loh," ujar Lira yang membuat Radith sedikit tenang. Entah kenapa dia hanya terbayang Rasa bersalah pada wanita itu.
"Jujur, sampai sekarang aku masih merasa bersalah ke kamu karna aku sampai punya zia, di saat aku berjanji bakal jemput kamu setelah aku berubah ke arah yang lebih baik. Rasa takut aku buat dekat cewek lain tuh ada banget Ra walau cuma teman juga. Jadi ya aku gak pernah dekat sama Anna atau Beta kalau gak ada kamu, aku bahkan gak dekat sama Sekretaris aku."
"Terus kejadian tadi benar benar bikin aku syok, aku gak nyangka aja ternyata bisa sampai kayak gitu. Aku, aku bener bener malu rasanya. Aku takut banget, aku takut kamu marah, aku takut kamu ninggalin aku lagi Ra, aku takut banget," ujar Radith yang membuat Lira kembali memeluknya.
__ADS_1
"Aku gak marah, aku gak marah sama sekali. Udah ya, kamu jangan gini lagi, aku malah sedih lihat kamu begini. Udah ya Dith, udah, kita ke sini mau senang senang, gak perlu merasa begitu. Habis ini kita minta maaf ke Anna ya, dan bilang kalau kamu emang gak sengaja, dia juga pasti syok," ujar Lira yang diangguki oleh Radith.
"Makasih ya Ra," lirih Radith yang kembali memeluk dan menyandarkan kepalanya ke Lira.