
Radith memakai kemeja yang dibawakan oleh Lira. Karna kejadian tadi siang, Radith memutuskan untuk tidak pulang ke apartemennya, mungkin dia akan menyewa apartemen lain atau tinggal di kantornya. Sebelum dia bisa menangkap Karin yang masih berkeliaran, dia tidak akan bisa merasa lega atau lengah sedikitpun, apalagi sudah ada orang di sekelilingnya menjadi korban.
"Lun, Gue yang jemput atau kita ketemu di sana?" tanya Radith di panggilan telponnya. Luna mengatakan Radith harus menjemputnya agar mereka tak kerepotan, akhirnya Radith langsung meninggalkan kantornya untuk pergi bersama Luna. Lira yang ada di ruangannya hanya bisa tersenyum miris melihat kepergian Radith, sampai kapan lelaki itu akan mengharapkan Luna?
Lira takut, dia tak mau Radith terluka lagi. Katakanlah dia bodoh, dia merasa kasihan dengan Radith. Lelaki itu yang selalu tulus pada Luna, namun Luna sudah tak bisa lagi mencintai lelaki itu. Kini malah Lira yang menjatuhkan perasaan pada Radith. Apakah di masa depan, Lira akan bernasib sama dengan Luna? Seakan lingkaran inin tak akan pernah ada habisnya.
Sementara itu, Radith merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Dia mendadak takut akan banyak hal, namun itu tak membuat niatnya untuk menemui Luna dibatalkan. Radith harus mengatakan perasaannya pada Luna atau dia akan menyesal selamanya. Radith tak berharap Luna akan membalas perasaannya, bahkan dia sudah menyiapkan mental untuk jawaban terburuk.
"Dith, udah lama banget Lo gak ajak Gue pergi gini loh. Tumbenan?" tanya Luna dengan senyum merekah sepeti biasanya. Radith hanya terkekeh melihat Luna, gadis itu masih sama, menggemaskan dan bersikap apa adanya. Mungkin itu alasannya Radith masih menyimpan perasaan yang sama.
"Ada banyak hal yang harus gue omongin ke Lo, mungkin selama ini Gue diam, tapi Gue takut, selama Gue diam, Gue bakal melewatkan banyak hal dan tenggelam dalam penyesalan," ujar Radith dengan wajah yang serius, membuat senyum di bibir Luna luntur perlahan. Gadis itu menghela napasnya dan duduk menghadap jalanan yang sudah sepi.
"Mungkin emang bener, banyak yang harus kita omongin. Udah bertahun – tahun kita gak ngobrol serius, maksudnya Lo yang certia, kalau Gue mah selalu apa aja cerita ke Lo," ujar Luna dengan kekehan pelan, meski kekehan itu tak terasa lucu sama sekali dalam suasana seperti ini. Radith tahu, Luna sudah menyadari apa yang akan dia katakan.
"Lo ada pantangan gak boleh makan apa gitu gak? Lo masih suka kambuh? Lo masih minum banyak obat gitu gak? Eem, gak boleh yang terlalu berminyak kan? Berarti kita gak boleh makan itu, kalau sosis bakar? Ah, Gue gak tahu apa aja pantangan Lo.."
"Radith…." Luna emmotong Radith yang tiba -tiba saja menjadi cerewet. Gadis itu berjalan di samping Radith dan meminta lelaki itu membelikan jagung bakar untuknya. Sementara itu Radith membeli sosis bakar untuk dirinya karna dia tak begitu suka memakan jagung. Setelah siap, Radith hendak memakan sosisnya, namun Luna mengambil sosis itu.
"Tiba – tiba Gue pengen makan sosis, Lo makan jagungnya ya Dith, nih, jagung kan sehat buat Lo," ujar Luna yang langsungg menggigit sosis dari tangan Radith, sementara tangannya yang satu mengulurkan jagung ke arah Radith. Lelaki itu tampak kesal, namun tak membantah sama sekali.
"Lo tahu Gue gak doyan jagung. Lo malah kasih makan Gue jagung. Emang niat buat ngeracun Gue kan Lo dari awal?" tanya Radith dengan sinis, namun dia juga menggigit jagung itu dengan wajah enggan, dia sungguh tak menyukai jagung, namun karna Luna yang meminta, dia tetap makan saja. Luna sendiri merasa geli dengan sikap Radith.
"Lo banyak berubah ya. Lo gak nyebelin lagi, Lo gak egois lagi, dan Lo mau aja turutin hal yang bahkan Lo gak suka. Biasanya kan Lo bakal berontak dan Lo buang jagung itu terus beli sosis, sekarang Lo mau – maunya makan itu," ujar Luna yang membuat Radith berhenti menggigit. Lelaki itu baru menyadari perbuatannya.
"Gue gak begitu benci sama jagung sekarang. Makanya Gue masih mau makan. Lo gak usah sok tahu deh Gue gak berubah sama sekali. Kalau ada yang berubah, itu Lo. Lo gak berisik dan gak manja lagi, Gue jadi merasa kehilangan Lo," ujar Radith yang pelan di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Yah, kita kan harus bergerak ke arah yang lebih baik. Gue gak bisa selamanya manja dan berisik dan Lo tahu itu kan?' tanya Luna yang ternyata mendengar perkataan Radith. Lelaki itu tak menjawab lagi, dia memilih untuk menghabiskaan jagung itu sebelum merasa mual dan akhirnya malah membuang makanan itu.
"Beliin Gue gula kapas, dua," ujar Luna setelah selesai memakan sosis milik Radith. Lelaki itu mengangguk dan langsung berdiri untuk mengantre. Luna sendiri merasa sedih melihat sikap Radith, seakan lelak iitu tahu ini adalah saat terakhir mereka bisa bersama seperti ini. Lelaki itu menuruti apapun keinginan Luna.
"Nih gula kapas, habis loh, Gue gak mau buang – buang uang buat Lo," ujar Radith yang sebenarnya bergurau. Luna meengangguk dan mencuil gula kapas itu dan mengecapnya dengan nikmat. Luna menyuapi Radith dan lelaki itu menghabiskan gula kapas yang disodorkan oleh Luna, padahal dia bertekad memulai pola hidup sehat untuk mencegah diabetes dan penyakit lain. Untuk malam ini, dia tak mau memikirkan semua itu.
"Bisa gak setelah semua selesai, kita nai ke biang lala? Biar ngobrolnya ala novel – novel gitu Lun, mau gak?" tanya Radith yang membuat Luna terkekeh. Luna menganggukan kepalanya, dia merasa ini adalah saatnya dia membalas semua sikap baik Radith, sekaligus menegaskan hubungan mereka yan ghanya teman di masa depan karna Luna sudah memantapkan hatinya.
Setelah bermain di beberapa tempat. Luna dan Radith akhirnya memutuskan untuk mengakhiri 'petualangan' mereka malam ini, mengenang masa sekolah mereka yang penuh dengan permainan dan tak asing dengan pasar malam. Luna dan Radith masuk ke sangkar burung atau bianglala yang sama dan penjaga mulai menaikkan mereka.
"Gue ngerasa ade javu deh Dith. Kayaknya Gue pernah mengalami hal ini," ujar Luna saat mereka mulai di atas. Luna berusaha mengingatnya, dan kemudian dia baru sadar, dia pernah bermimpi tentang hal ini, sudah sangat lama, saat itu Luna sedang dalam kondisi yang cukup buruk.
"Yah, mungkin Lo udah bisa ngelihat masa depan. Kalau habis ini Lo bisa lihat masa depan, Lo tolong lihatin ya, Gue sama siapa, punya anak berapa, dan Gue bahagia atau enggak," ujar Radith yang membuat Luna memandangnya dengan lekat. Luna tak tega melihat Radith sepeti ini.
"Tanpa Gue bisa lihat masa depan. Gue yakin Lo bakal bahagia Dith. Gue tahu Lo cowok yang baik, Lo sayang sama orang di sekeliling Lo dan bahkan Lo rela korbanin apapun buat orang yang Lo sayang, jadi Gue yakin Lo baka bahagia ke depannya," ujar Luna yang membuat Radith terdiam.
"Ah, ya, Gue kan ada tujuan ngajak Lo buat sampai ke tempat ini. Gue Cuma mau bilang dua hal. Yang pertama, Gue udah tahu Lo udah putusin hati Lo buat nikah sama Darrel. Lo udah gak ada rasa sedikitpun sama gue Lun?" tanya Radith yang langsung pada intinya, dia tahu mereka tak memiliki banyak waktu.
"Lo tuh gak bisa basa – basi dikit ya? Bilang kek ampunya bagus, atau udaranya enak, langitnya cerah. Tuh ada bulan di langit, tapi lebih cantikan Gue. Gak romantis banget sih Lo," ujar Luna yang tak dijawab oleh Radith, lelaki itu tahu Luna berusaha untuk mencairkan suasan, namun itu tak berhasil bagi Radith. Lelaki itu masih merasa tegaang.
"Gue gak mau buang – buang waktu lagi Lun. Gue Cuma mau Lo jawab pertanyaan Gue. Apa Lo udah bener – bener suka sama Darrel? Lo masih nyimpan rasa sama Gue gak?" tanya Radith yang membuat Luna tersenyum manis di hadapan Radith.
"Gue udah benar – benar suka sama dia Dith. Gue sadar saat kita bertiga ditangkap pak Indra, Gue khawatir sama kalian, tapi yang ada di pikiran Gue lebih banyak ke kak Darrelnya, dan Gue jadi ngerasa bersalah karna selama ini Lo harus terlihat dan selalu kena bahaya karna Gue."
"Gue gak keberatan untuk itu, Lo gak perlu ngerasa bersalah ataupun hutang budi sama Gue. Semua udah dibayar Luna smalam ini, Lo kasih waktu buat kita, Lo kasih waktu buat Gue. Gue berterima kasih untuk itu Lun. Gue bahagia banget malam ini," ujar Radith pelan, lelaki itu tersenyum tipis dan menghirup udara banyak – banyak.
__ADS_1
"Mungkin ini saat yang tepat buat Gue bilang ke Lo, sebelum Lo udah resmi jadi istri Darrel dan Gue gak bisa ngomong ini selamanya. Luna, Gue udah dari lama suka sama Lo, bahkan Gue udah suka sama Lo sejak kita kunjungan Industri di candi prambanan. Lo ingat apa yang terjadi waktu itu?"
"Gue ngerasa Lo cewek manja yang bodoh, tapi hati Gue tergerak buat lindungin Lo. Akhirnya Gue sadar Gue suka sama Lo, Gue berusaha buat lindungin Lo apapun yang terjadi, dan Gue berhasil sampai saat ini, dan mungkin ini menjadi saat terakhir Gue lindungin Lo sebelum dia yang jadi jodoh Lo melakukan itu."
"Gue terlalu bodoh sama perasaan Gue, Gue ngerasa gak pantas buat Lo. Apalagi waktu itu ada Blenda, Gue gak bisa tinggalin dia, sampai akhirnya ada Darrel yang benar – benar sayang sama Lo. Gue gak mau rusak hubungan kalian, Gue gak berani. Dan Gue menyesal untuk hal itu," ujar Radith yang membuat Luna menengok kaget.
"Seandainya Gue berani bertahun – tahun yang lalu. Seandainya Gue ngomong ke Lo yang sebenarnya tentang perasaan Gue, pasti saat ini gak akan seperti sekarang ini, Lo bisa aja akhirnya malah jadi sama Gue. Lo suka banget sama Gue sampai Lo gak bisa ada rasa sama Darrel. Bahkan Lo masih ragu di saat kalian udah tunangan."
"Tapi Gue sadar, seandainya itu gak akan mengubah keadaan. Gue menyesal, iya banget Lun. Tapi Gue mau yang terbaik buat Lo, Gue mau Lo bahagia. Sekarang Lo udah bahagia dan Gue ngerasa itu cukup buat Gue."
"Enggak Dith, itu gak cukup buat Lo. Kalau pun itu cukup buat Lo, itu gak cukup buat Gue. Gue gak mau Lo gak bahagia. Gue mohon, Lo harus bahagia, ini permintaan Gue mungkin yang terakhir buat Lo. Gue gak mau Lo Cuma bisa jagain Gue, pasti ada orang lain yang nantinya bakal jadi cinta sejati Lo."
"Kalau sampai akhir ternyata Gue Cuma suka dan cinta sama Lo? Lo mau apa? Lo mau gimana? Lo juga gak bisa cegah Gue dan hati Gue kan?" tanya Radith yang membuat Luna terdiam dan menunduk. Luna merasa bersalah, seharusnya sejak awal dia tidak membuat Radith merasa seperti ini.
"Gue gak bisa bahagia kalau ada orang yang terluka Dith. Gue gak bisa bahagia kalau orang yang berperan penting udah nyelametin Gue berkali – kali malah gak bahagia," ujar Luna dengan lirih. Gadis itu tak mau menangis, namun rasanya sesak melihat Radith yang sesungguhnya. Radith yang rapuh dan terlalu mencintainya, di saat dia sudah mencintai orang lain.
"Lo tenang aja kalik. Gue gak selemah itu. Gue Cuma mau jujur tentang semua, bukan berarti Gue bakal terpuruk dan hancur setelah Lo nikah. Gue kan penguasaha sukses, masih muada lagi, pasti banyak yang mau sama Gue," ujar Radith yang terkekeh dan mengacak rambut Luna agar gadis itu tak menangis.
"Lo mau kan janji sama Gue Dith? Lo mau janji kan apapun yang terjadi, Lo harus bahagia. Ketika Lo ketemu cinta sejati Lo, Lo mau perlakukan dia seperti belahan jiwa Lo dan Lo mau jaga dia, Lo bakal bahagia sama dia. Janji sama Gue dith." Luna mengajukan kelingkingnya di hadapan Radith, lelaki itu tampak ragu awalnya, namun akhirnya dia menangguk.
"Iya, Gue janji. Gue gak janji itu akan terjadi dengan cepat, tapi Gue janji, Gue bakal cepat bangkit dan cari jodoh Gue snediri. Gue janji gak akan terpuruk saat lihat Lo sama orang lain," ujar Radith yang menautkan kelingkingnya di jari Luna.
Luna bahagia, dia bisa mewujudkan mimpinya untuk naik biang lala dalam kondisi seperti ini bersama Radith. Meski suasanya berbeda, dia dalam kondisi sehat dan percakapan mereka tak begitu sedih. Meski mereka akehilagan adegan terakhir di mimpi Luna, yah, mungkin kalian akan ingat jika sudah membaca kisah sebelumnya.
"Ternyata gak setegang yang Gue bayangin Lun. Gue kira bakal sesak dan Gue gak terima sama jawaban Lo. Ternyata gue malah plong, seolah beban berat Gue terangkat semua. Makasih udah kasih waktu Gue malam ini, Gue bisa hidup dengan nyaman ke depannya."
__ADS_1
"Iya, Lo bukan hanya bisa hidup dengan nyaman, tapi Lo harus Dith. Ingat, Lo udah janji sama Gue."
Mereka menghabiskan sedikit malam itu dengan menyusuri kota bersama, menghabiskan malam terakhir mereka sebelum mereka memutuskan untuk benar – benar mengambil jalan masing – masing, setidaknya untuk Luna yang sudah mantap untuk menikahi Darrel, lelaki yang menjadi kekasihnya enam tahun ini.