
Suasana menjadi hening, Lira tidak mau menatap ke arah Radith dan bahkan tidak mau mengatakan apapun lagi, sementara Radith bingung harus memulai meminta maaf darimana karna dia merasa tidak melakukan kesalahan, itu karna Lira yang memulai perdebatan dan dia hanya menjawab, apakah semua menjadi salahnya? Tentu itu tidak adil bukan? Radith harus menurunkan egonya untuk kali ini.
"Aku minta maaf, kamu jangan musuhin aku begini, aku gak mau kita musuhan dan jsdi contoh yang gak baik untuk Sean. Maafin aku yah," ujar Radith dengan lembut, sangat lembut sampai Lira terbuai dan nyaris saja masuk ke lubang buaya itu, namun dia masih bisa menahan kesadarannya dan menjual mahal agar Radith tidak menganggao remeh dirinya.
"Lira, gak seharusnya kita bertengkar karna masalah sepele begini, aku yang salah karna terpancing emosi dan mengatakan hal yang buruk, tapi tolong, jangan pergi begitu dari rumah, apapun yang terjadi, kita gak boleh membiarkan Sean merasa berada di neraka, kamu juga gak mau itu kan?" Tanya Radith yang masih tetap lembut. Dia tidak mau memperkeruh situasi dengan menyalahkan Lira, dia hanya mau perdebatan ini selesai.
"Kamu curang, kamu bawa bawa Sean, kamu tahu kalau dia kelemahan aku. Oke, kali ini kita damai, tapi aku gak suka sama sikap arogan kamu, kalau kamu gak bisa ubah itu, mungkin selamanya aku bakal pergi dari kamu, aku serius, jadi jangan anggap remeh hal ini," ujar Lira memberi peringatan pada Radith.
"Ya kan judulnya bossy boss, kalau aku gak bossy, gak sesuai judul dong.-. Ya udah apapun itu, aku gak mau kita pecah cuma karna hal yang sepele, kamu udah bisa ubah aku begitu banyak dan sekarang bantu aku untuk gak arogan lagi, karna cuma kamu yang bisa jadi pawangnya aku, jadi tolong ya, bantu aku," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
Wanita itu tidak menyangka akan semudah itu Radith mengambil hatinya begitu mudah, padahal yang ada di otaknya, dia akan membuat Radith menangis, memohon dan bahkan samoai berlutut agar dia mau pulang, tapi ternyata tak butuh waktu lima menit bagi Radith, sia sia saja dia membayar tiket pesawat yang mahal itu dengan tabungannya sendiri, lebih baik dia menunggu Radith yang membelikan untuknya.
"Kamu gak perlu heran kenapa aku bisa minta maaf semudah ini. Itu karna kamu, kamu itu cinta sama aku, seperti aku cinta sama kamu. Setelah ini aku mau omongin pernikahan kita sama Alex, karna dia satu satunya keluarga kamu di dunia ini, aku mau memberikan status yang jelas bagi Sean kalau dia anak aku," ujar Radith yang kembali membuat Lira terharu, meski awalnya Lira hendak memojokkan Radith karna kekasarannya.
"Aku gak mau nikah dulu sama kamu kalau kita masih kayak gini, aku gak mau menikah sama kamu yang sombong, kasar dan seenaknya sendiri. Kamu memang boss aku, boss di tempat aku kerja dulu, tapi dalam rumah tangga, kamu suami aku, kamu yang harus bimbing aku, tapi jangan mendorongku. Genggam tanganku, tapi jangan menyeretku."
"Aku gak ada masalah kalau memang kamu ragu, tapi yang pasti, aku akan tanyakan hal ini setiap hari sampai kamu bosan dengarnya, dan akhirnya kamu mengalah dengan mengatakan Ya buat aku, aku menjadi ayah yang tercatat di akta Sean dan aku menjadi suami yang tercatat di kartu keluarga kita," ujar Radith dengan manja dan riang seperti anak kecil yang merencanakan pesta ulang tahunnya.
"Mami, Uncle ayah, kalian kenapa ada di luar? Kalian mau main tanpa Sean ya? Mami bakal tinggalin Sean ya sama Uncle ayah?" Tanya Sean yang baru bangun dan langsung meminta duduk di pangkuan Lira dan memeluknya. Anak itu sudah cukup besar, namun masih sangat manja pada Ibunya, tentu saja Radith juga gemas saat melihat itu.
"Sean, kalau Uncle Ayah mau jadi ayah Sean, Sean mau gak jadi anaknya Uncle Ayah? Sean jadi gak perlu panggil Uncle lagi, tapi panggil Papa, Papi atau Ayah, bagaimana? Sean mau gak?" Tanya Radith yang membuat Sean langsung menggelengkan kepalanya tanpa berpikir sama sekali. Dia tidak menyangka Sean akan menolak dengan mudah, apakah Radith memberikan kesan buruk pada Sean?
"Mami setiap hari menangis karna Papa tidak memperlakukan mami dengan baik, Papa sering memaksa mami entah untuk apa dan mami sedih, sean tidak mau mami sedih, jadi Sean tidak mau mami menikah, sean tidak mau memiliki papa baru karna nanti mama akan sedih lagi," ujar Sean dengan jujur. Radith tidak menyangka anak berumur belum genap 6 tahun bisa mengatakan hal itu, bahkan dia tidak pernah memikirkan atau bertanya pada Lira tentang masalah ini.
__ADS_1
"Dia minta apa ke kamu sampai kamu sedih? Bukannya kamu merasa dia lelaki yang baik banget sama kamu? Kamu bohong kah sama aku selama ini?" Tanya Radith yang tidak mau Lira dimanfaatkan oleh lelaki lain atau bahkan diperlakukan buruk, dia akan membalas siapapun yang berani melakukan itu.
"Sean, main sama Uncle Alex dulu boleh? Mami mau bicara sama Uncle ayah, Sean tidak boleh tahu masalah ini, nanti mami kasih tahu saja rahasia ini saat kita berdua. Oke?" Sean langsung mengangguk saat Lira memintanya, dia masuk ke dalam rumah dan mencari Alex untuk diajak bermain, lebih tepatnya memaksa, karna mamanya memintanya untuk bermain.
"Uncle! Ayo main bersama Sean, mami bilang Sean harus main sama Uncle, kalau Uncle gak mau, nanti Sean teriak, biar Uncle dimarahin sama Mami, mau Uncle dimarahin? Mami galak loh." Radith terkekeh mendengar Sean yang mengomel dalam bahasa Inggris itu pada Alex. Mereka seperti berdebat, namun akhirnya Alex mengalah dan mau bermain dengan Sean.
"Iya, aku tahu kamu nungguin, ini loh aku bakal cerita. Dia memang baik sama aku Dith, baik banget malah, aku gak bohong. Sekarang cowok mana yang mau nampung Ibu muda lagi hamil kayak aku? Secara gratis loh, gak akan ada kan? Tapi dia mau, kurang baik apa coba?" Tanya Lira pada Radith.
"Tapi Sean bilang kamu sering nangis. Itu kenapa? Dia apain kamu? Gak mungkin kamu sering nangis kalau dia bahagiakan kamu sampai sebegitunya. Cerita sama aku sekarang," ujar Radith yang galak, Lira memutar bola matanya, Radith kembali menjadi tukang perintah yang angkuh dan galak, memang karakter itu sulit untuk diubah ternyata.
"Dia kan lelaki normal Radith, dia juga lunya ***** lelaki kan? Nah tapi dia gak pernah melecehkan aku, dia sering tanya baik baik apa aku mau melakukan itu sama dia, tapi aku gak ada rasa sama dia, dan aku masih ada trauma karna kejadian waktu itu, jadi aku selalu tolak, tapi setelah itu dia gak maksa kok, aku nangis karna merasa bersalah, aku selalu jadi beban di hidupnya, bahkan gak bisa kasih yang dia mau."
"Kamu mengambil keputusan yang tepat. Kalau aku jadi kamu, aku juga akan lakukan hal yang sama. Aku senang kamu gak tergoda sama dia, gak lelah iman atau bahkan kalah sama rasa gak enak itu. Aku bersyukur masih dikasih kesempatan buat berkumpul lagi sama kamu tanpa kamu pernah jadi bagian dari lelaki itu," ujar Radith yang sebenarnya tak enak di telinga Lira.
"Aku nunggu kamu Dith, aku nunggu kamu siap dan datang jemput aku, lagipula, setiap aku lihat Sean, aku cuma bisa ingat kamu, jadi aku akan dihantui rasa bersalah karna gak pernah cinta sama dia dan selalu cinta sama kamu, jadi aku memutuskan buat nolak dia, bahkan dia gak usir aku setelah itu loh, baik banget kan dia?" Tanya Lira tentang pendapat Radith mengenai lelaki itu.
Radith akui, lelaki itu baik, dia mau menampung istri dan anaknya di saat dia sendiri sedang kacau dan dalam masa yang paling kelam. Ah, dia sedikit menyesal sudah memperlakukan pria itu dengan buruk, jika dia tahu cerita ini, dia paling tidak bisa mengucapkan terima kasih dengan tulus, meski semua terlambat sekarang, dia juga tidak akan pergi ke Australia hanya untik berterima kasih pada lelaki itu.
"Aku paham, aku akan kasih kamu waktu untuk berpikri tentang ajakan aku, aku juga bakal yakinkan Sean masalah ini. Dia sebentar lagi umur 6 dan gak lama lagi 7, dia perlu berkas yang lengkap untuk sekolah, dia butuh akta kelahiran, identitas kewarganegaraan, jadi jangan terlalu lama berpikir yah, aku tinggu," ujar Radith yang langsung berdiri, meninggalkan Lira yang berpikir.
"Ah iya, aku hampir lupa. Aku pernah baca kalau usia anak pertama sama anak kedua jangan terlalu jauh biar mereka bisa punya kemistri yang kuat. Jadi jangan lama lama, takut nanti Sean tambah besar dan tambah jauh sama adiknya," bisik Radith di telinga Lira sebelum masuk ke dalam rumah untuk ikut bermain bersama anak dan adik iparnya.
Lira yang digoda langsung memegang pipinya yang panas. Dia sudah punya anak, bukan lagi gadis remaja yang labil, namun tetap saja dia merasa berdebar dan salah tingkah jika Radith menggodanya. Dia terus memikirkan Radith sampai pikirannya berhenti di satu titik.
__ADS_1
Saat dimana Lira baru keluar untuk membawa minum dan melihat adik kecil, ah bukan adik besar sebenarnya, yang sedang bangun dan semangat di pagi hari. Tiba tiba saja pikirannya melayang dan dia merapatkan duduknya karna merasa geli di bagian sana. Dia tidak mau terpengaruh dan berusaha menghilangkan pikiran itu.
"Astaga Lira, sadar, kalau dia tahu Lo mikir begini, dia makin menjadi jadi, otaknya udah ke arah sana mulu. Ayo Lira, sadar, huffft, apa bentar lagi gue datang bulan ya? Kok pikirannya kemana mana mulu," ujar Lira yang langsung masuk ke dalam rumah dan mencari Sean untuk bermain, dia ingin mengalihkan pikirannya ke hal hal yang kebih positif dan berguna.
"Ah, Sean kok main sama Uncle, main sama Ayah gak ajak Mami? Kalian main apa?" Tanya Lira yang ikut duduk di sebelah Sean. Anaknya itu langsung memberikan potongan puzzle ke Lira. Dia memang suka memainkan puzzle atau lego, karna hanya itu yang dia punya saat berada di Australia. Mamanya tidak suka memberikan dia mainan yang tidak berguna untuk otak dan motoriknya.
"Uncle Ayah gak bisa main Puzzle Mi, Uncle Ayah payah, kalah sama Sean yang bisa menyelesaikan ini satu hari," ujar Sean saat menunjukkan Puzzle yang berisi 500 potongan kecil yang harus disusun. Tentu saja Sean bisa menyelesaikannya, dia kan sering bermain, sedangkan Radith, melihat potongan yang bentuknya sama saja sudah merasa frustasi.
"Kalau Ayah bisa menyelesaikan ini, Sean gak boleh panggil Ayah dengan sebutan Uncle Ayah, kamu cuma boleh panggil ayah dengan sebutan Ayah, Papa atau Papi, oke? Kalau kita deal, Ayah akan selesaikan ini dalam sehari sama seperti Sean," ujar Radith yang tak mau kalah dari anak kecil ini.
Sean tampak berpikir, lalu dia mengangguk saja karna sudah tahu Radith tidak akan berhasil. Hari sudah mulai petang, tak mungkin uncle ayah ini bisa berhasil menyelesaikan puzzle, ah mungkin saja, jika dia tidak tidur, tapi apakah uncle ayah tidak mau tidur?
"Oke, biarkan ayah menyelesaikan puzzlenya, Sean, Mama sama Uncle Alex makan dulu aja yok, itu tadi Uncle masak mie katanya. Kamu masak mie buat berapa porsi dek? Kamu masakin mbak sama anak mbak juga kan?" Tanya Lira yang membuat Alex menggaruk leher bagian belakangnya.
"Ah, Alex juga buat 3 porsi mbak, buat Alex, Mbak Lira sama Mas Radith, Sean gak dihitung. Kan anak kecil gak boleh kebanyakan makan Mie Instan Mbak," ujar Alex yang mengeles, padahal dia yang lupa jika Sean juga butuh makan di sini.
"Ya udah, ini makan dulu aja, mas Radith gak bakal makan, dia bakal menyelesaikan puzzle itu. Udah, makan dulu aja. Ayo nak, kita makan," ajak Lira pada Sean. Mereka berjalan ke arah meja makan dan mulai makan sambil mengobrol, Lira menatap ke arah Radith yang masih sibuk, merasa kasihan, tapi lelaki itu tidak bisa diandalkan sama sekali. Dia pasti gagal.
"Mbak mau masak Mie lagi dulu, kasihan itu mas Radith kalau gak makan. Mbak suapin aja dia sambil nyelesaiin itu. Sean, sean bantu ayah juga ya, kasihan nanti uncle ayahnya nangis kalau gak dibantu," ujar Lira yang sebenarnya tidak disetujui Sean, namun anak itu tetap melakukan sesuai perintah yang Lira berikan.
Sementara Lira pergi ke dapur untuk mencuci mangkok sekaligus merebus lagi mie instan agar Radith bisa makan karna lelaki itu belum makan sedari tadi, Lira juga yakin Radith belum makan sejak turun dari bandara. Tentu saja dia khawatir.
"Ah, jadi begini rasanya punya suami," ucap Lira senang sambil tersenyum
__ADS_1