Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 21


__ADS_3

Radith berjalan dengan pincang dan kepala serta tangan yang masih terdapat perban serta plester. Lelaki itu engaja berangkat cukup pagi agar tidak ada pegawai yang memperhatikan. Dia juga berencana menyerahkan semua meeting pada wakil CEO karna kondisinya, hingga dia hanya perlu bekerja di belakang layar dan berdiam di ruangannya sepanjang hari.


Radith masuk ke ruangannya dengan susah payah dan langsung menidurkan dirinya di sofa. Dia bisa saja tinggal di apartemen untuk sementara waktu, tapi dia merasa bosan dan malah memikirkan banyak hal jika sendirian. Dia juga tidak bisa tinggal lebih lama di negara itu karna dia hanya akan merasa sakit hati melihat Luna yang begitu peduli pada tunangannya.


"Padahal Gue juga nyaris mati karna nyelametin Luna. Tapi bahkan dia gak khawatir sama Gue sama sekali? Sakit Jiwa Gue lama – lama kalau gini terus. Gak tahu lagi Gue, Gue capek, Gue mau lupain dia, kenapa susah banget buat lupain dia?" tanya Radith sambil melihat langit – langit ruangan itu.


"Seandainya dulu Gue lebih jujur sama perasaan Gue. Gue lebih berani bilang ke Blenda tentang Luna, apa semua bakal jadi kayak gini ya? Gue nyakitin dia satu minggu, dia bales karmanya bertahun – tahun," ujar Radith yang langsung memejamkan mata, tak ingin terus memikirkan masalah ini dan nantinya akan jadi emosi sendiri.


Waktu kerja kantor berjalan. Radith langsung duduk di mejanya dan memberikan tugas ke PC yang ada dipakai oleh pegawai – pegawainya. Mereka mungkin kaget karna belakangan ini mereka hanya mengerjakan tugas umum dan lebih banyak menganggur karna hanya Radith yang bisa memberi mereka tugas lewat PC.


Radith mengirim pesan khusus di PC Lira dan meminta gadis itu untuk datang. Tak lama kemudian Lira masuk ke ruangan Radith dengan napas yang terengah. Gadis itu langsung berjalan ke arah meja Radith dan menatap Radith dari seberang meja itu dengan tatapan yang khawatir. Dia menyusuri wajah Radith yang masih lebam dan memerah dimana – mana.


"Bagaimana bisa kayak gini sih pak? Bapak bertengkar ala – ala novel laga?" tanya Lira yang membuat Radith tersenyum tipis. Dia bahkan tak memikirkan adegan novel laga sebelumnya. Namun kini dia menyadari aksinya menyelamatkan Luna memang mirip genre Fantasy laga, hanya saja di sini dia hanya pemeran pembantu yang mendapat sakit, namun tidak dengan cintanya.


"Saya besok balik lagi ke Afrika, saya harus urus masalah pak Indra juga. Mungkin lusa atau tiga hari lagi saya baru balik ke Indonesia. Nanti kamu aja yang jemput saya ke bandara, sekalian bilang ke Luna masalah saya yang suruh kamu, biar semua selesai."


"Jadi maksud bapak tugas saya sudah selesai? Saya jadi udah bisa lunasin semua hutang saya pak? Saya bisa mengundurkan diri dari sini dong?" tanya Lira yang membuat mata Radith memicing, padahal bola matanya sudah sipit, sehingga tatapan itu terlihat sangat sinis. Luna bahkan sampai meneguk salivanya saat melihat wajah itu.


"Kamu pikir hutang kamu ke saya Cuma ratusa ribu? Saya memerlukan banyak biaya untuk membangun sekolah itu, membeli apartemen atas nama kamu, dan bahkan membiayai pendidikan adik kamu jika dia memang mau sampai ke S3. Hutangmu sangat banyak, bahkan mungkin kamu harus bekerja di sini seumur hidup."


"Bapak terlalu kejam. Perjanjiannya kan saya boleh minta gaji kalau tugas saya selesai. Saya gak minta uang cash kok pak, saya Cuma minta hutang saya Lunas, dan untuk masalah apartemen, saya dan adik saya akan segera pergi dari apartemen itu dan mencari kontrakan yang sederhana dengan uang kami sendiri."


"Apa kamu sudah merasa kamu itu kaya raya sampai kamu gak mau ambil bantuan saya? Kamu sombong sekali, kenapa kamu harus bekerja kalau kamu udah bisa sombong seperti ini?" tanya Radith yang membuat Lira kembali emosi. Gadis itu sangat mengkhawatirkan Radith beberapa hari ini, namun saat bertemu lelaki itu malah membuat dirinya kesal.


"Saya memang tidak punya uang yang berlebih pak, tapi saya unya harga diri. Saya akan lakukan apapun agar bisa membayar hutang saya. Jadi bapak bisa tolong sebutkan jumlah yang jelas. Saya akan membayarnya segera," ujar Lira dengan wajah yang datar. Gadis itu merasa terluka dengan Radith yang terkesan sangat merendahkannya.


"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya mohon pamit pak, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," ujar Lira yang langsung pergi dari sana tanpa mendengar jawaban Radith. Sementara Radith langsung kaget dan tak menyangka respon Lira seperti itu, padahal dia hany ingin bercanda dan mencairkan suasana.

__ADS_1


"Baperan banget sih jadi anak. Pasti mau kena penyakit bulanan tuh, astaga, cewek," ujar Radith menggelengkan kepalanya pelan. Dia tak sadar apa yang dia katakan sudah keterlaluan. Radith terlalu lelah untuk memikirkan hal itu, apalagi dia harus kembali ke Afrika untuk menyelesaikan masalah pak Indra yang dari lama sudah mereka cari kebenarannya.


*


*


*


Tiga hari kemudian. Kondisi Radith makin sehat dan dia sudah tidak perlu memakai plester di kepalanya. Kini Radith, Luna dan Darrel sudah pulang dari Afrika dan sesuai dengan permintaan Radith, Lira datang menjemput mereka. Luna tentu kaget dengan kehadiran Lira menjemput mereka sekaligus terharu karna Lira masih peduli padanya.


"Lira? Lo datang? Demi apa Gue gak nyangka banget. Lo datang ke sini mau jemput Gue kan?" tanya Luna yang membuat Lira kaget, namun gadis itu segera menganggukan kepalanya dan melirik ke arah Radith. Radith menganggukkan kepalanya dan Lira langsung menggandeng Luna dan bertanya banyak hal pada Lira.


"Lo gak kenapa – napa kan? Lo masih utuh kan? Masih cantik kan? Otaknya nyisa gak?" tanya Lira sambil memutar mutar badan Luna, gadis itu terkekeh dan mengangguk, serta memeluk Lira sebagai ungkapan syukur masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu. Lira sendiri dengan senang hati memblas pelukan itu.


"Lun? Dia siapa? Dia teman kamu yang di Korea itu?" Lira langsung melepaskan pelukannya dan menatap ke arah pria yang ada di belakang Luna. Lira langsung jika lelaki itu adalah Darrel, tentu saja Lira langsung khawatir menatap Radith yang ternyata sedari tadi masih menatapnya. Lelaki itu menatap ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dia itu pacarnya Radith loh Lun. Dia yang kasih kabar ke aku sama Radith kalau kamu diculik sama orang. Gak nyangka banget kan akhirnya Radith punya pacar? Aku kira dia udah berbubah seleranya," ujar Darrel yang membuat Luna menjadi kaget dan menatap ke arah Lira, meminta penjelasan pada gadis itu.


"Nanti aja jelasin atau ceritanya. Sekarang kita petgi dulu dari sini. Gue udah kangen banget sama Lo, padahal Gue baru beberpaa hari kenal sama Lo. Gue lega Lo baik – baik aja. Ayo sekarang kita balik dulu," ujar Lira yang diangguki oleh mereka semua. Lira memutuskan untuk pergi ke rumah Luna, sementara Radith kembali ke perusahaannya.


"Oke Luna, Gue bakal ngaku semua hal tentang Gue ketemu sama Lo atau jadi teman Lo selama ini. Lo gak boleh benci sama Gue karna Gue gak pernah ada niat jahat sama Lo," ujar Lira yang membuat Luna terdiam, namun Luna menunggu Lira untuk menjelaskan semua pada dirinya.


Lira menceritakan smeua pada Luna tanpa di tutup tutupi. Lira menceritakan awal mula dia berhutang pada Radith dan malah berakhir dengan lira yang dipaksa menjadi teman Luna. Luna menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang Lira katakan, sejauh ini dia masih bisa menerima alasan Lira.


"Tapi Gue gak pernah menyesal atau mau ambil keuntungan dari Lo. Apalagi Gue tahu Lo orang baik, Gue senang bisa jadi teman Lo, jalan – jalan dan tinggal sama Lo selama ini, jangan benci sama Gue ya Lun?" Luna tersenyum dan mengangguk. Dia tak memiliki rencana untuk membenci Lira, dia malah mau berterima kasih karna Lira mau jadi temannya.


"Gue harap setelah ini Lo masih mau jadi teman Gue, tapi di masa depan, gak ada embel – embel karna Lo kerja sama Radith, atau karna Lo terpaksa melakukannya. Untuk masalah hutang, Lo gak usah terlalu pikirin. Gue kenal sama Radith, dia bukan orang yang perhitungan masalah begitu," ujar Luna dengan santai.

__ADS_1


"Iya, Gue juga udah berencana mau keluar dari perusahaan. Gue gak mau ikut campur lagi sama masalah kalian. Tadinya hidup Gue damai walau gue pas – pasan bahkan cenderung miskin, tapi Gue sadar itu lebih baik dibanding Gue ngerasa frustasi karna masalah orang kaya seperti kalian."


"Gue harap Lo pikirin lagi masalah itu. Gue harap Lo gak memutuskan untuk keluar karna Gue mau minta bantuan Lo tentang Radith. Gue harap Lo mau bantu Gue kali ini, tapi Gue gak maksa," ujar Luna yang kini malah membuat Lira cemas karna wajah Luna terlihat sangat serius.


"Gue mau minta tolong sama Lo ada di sebelah Radith ya? Lo ada di masa sulit dia dan Lo bisa buat dia berhenti suka sama Gue. Karna bagaimanapun, Gue tetap bakal nikah sama kak Darrel, Gue udah terlalu cinta sama kak Darrel dan gue sadar itu kemarin saat kak Darrel nyaris mati karna Gue."


"Bukannya Lo suka sama Radith? Bukannya Lo selama ini masih berharap cintanya Radith? Dan bukannya Radith lebih sering nyaris mati karna Lo? Lo gak bisa buka hati buat dia?" tanya Lira yang merasa kasihan pada Radith. Radith sudah berkorban sangat banyak, tidak adil jika dia tak mendapatkan apa – apa.


"Gue sadar kalau selama ini Gue Cuma kagum sama dia, dan gue anggap perasaan itu sebagai cinta. Kemarin mereka berdua ada buat tolong Gue, tapi entah kenapa di saat kayak gitu Gue malah yakin kalau sekarang Gue udah benar – benar jatuh cintanya sama kak Darrel."


"Di saat yang sama Gue tahu kalau Radith sayang sama Gue. Tapi semua terlambat, seandainya dia ngomong ini lebih cepat, seandainya dia gak nunggu dan pura – pura gak suka sama Gue, seandaianya dia mengakui perasannnya sebelum Gue benar – benar cinta sama kak Darrel, ceritanya gak bakal kayak gini."


"Mungkin emang semua udah takdirnya. Dia gak ditakdirkan buat Gue. Gue mohon sama Lo buat gantiin Gue jagain dia. Tapi Gue gak minta Lo maksain diri buat suka sama Dia, Lo Cuma perlu ada di sisi dia kalau dia lagi depresi atau frusatasi. Jangan tinggalin dia saat Gue ninggalin dia."


"Gue gak janji ya Lun, tapi bakal Gue pikirin," ujar Lira yang diangguki oleh Luna.


Lira sedikit lega mendengar hal itu. paling tidak dia tahu Luna tak akan berakhir dengan Radith dan perasaannya tak perlu terluka. Namun dia juga bimbang, apakah menjadi keputusan yang bijak dia tetap bersama dengan Radith?


*


*


*


*


Jangan lupa Like dan komen kalau kalian mau novel ini lanjut

__ADS_1


__ADS_2