
Di sebuah rumah di pulau Dewata, Lira mengurus ketiga anaknya tanpa kenal lelah. Dia tidak tahu keberadaan suaminya, namun dia tetap harus bertindak seperti baisa agar anak anaknya tidak merasa ada hal yang aneh sudah terjadi, sehingga dia kembali harus berbohong pada anak-anak ini. Setelah kedua anaknya berangkat sekolah, dia mengamati anaknya yang paling kecil.
“Sejak di dalam perut mama, kamu tidak pernah merasa bahagia yang cukup. Bahkan setelah kau lahir, kau harus mengalami banyak hal buruk. Maafkan mami karena harus membuat kalian terutama kau mengalami hal ini, mami akan menebusnya jika mami mampu. Mami ingin memberikanmu keluarga yang utuh dan normal, namun mami belum bisa melakukannya.”
Nathan sangat mirip dengan Radith, wajahnya tampan dan bersih. Lira sangat beruntung karena anak-anaknya terlahir dengan paras yang rupawan, yah, setidaknya di dunia ini, mereka bisa mendapat sedikit kemudahan dengan paras yang menawan. Ah, bukankah itu tidak boleh dikatakan olehnya? Meski sudah menjadi rahasia umum.
Lira kembali mengecek ponselnya. Dia menunggu kabar dari Radith, dia bahkan tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau tidak. Dia tidak mau menanyakannya pada tuan Wilkinson karena takut pria itu meminta budi jauh lebih besar dari yang seharusnya. Dia tidak bisa membiarkan Radith terperangkap selamanya dalam bayangan tuan Wilkinson.
“Dith, dimanapun kamu berada, aku harap kamu dalam keadaan hidup dan sehat. Kenapa kamu gak kirim kabar? Biasanya A atau Andre mengirim kabar, namun kini mereka bahkan seolah menghilang dan tidak memberitahuku apapun,” ujar Lira dengan khawatir. Dia menghela napas panjang untuk mengontrol emosinya, dia tidak ingin menangis, dia harus kuat agar ketiga anaknya juga kuat.
Cukup lama dia sibuk dengan urusan rumah, seseorang menekan bel pintu rumahnya dan saat dia membuka, rupanya Lunetta datang ke rumahnya, membawa anak perempuan mereka, apa yang dilakukan wanita itu di pulau ini? Bukankah ini belum waktunya untuk liburan? Kenapa dia membawa anaknya?
“Aku cukup khawatir dengan keadaanmu, jadi aku pergi ke pulau ini untuk melihat sendiri, apakah kau baik baik saja? Bagaimana dengan ketiga anakmu? Apakah mereka baik-baik saja?” tanya Luna yang diangguki canggung oleh Lira. Entah kenapa hubungan mereka menjadi sedikit canggung karena masalah ini, Lira tidak bisa bersikap biasa saja dan ramah kepada Luna.
“Gue, ah maaf, gue pakai lo gue aja ya biar akrab. Gue mau minta maaf karena bokap udah bikin Radith pergi gak tahu kemana dan gak tahu buat apa. Tapi lo harus percaya kalau Radith itu cowok kuat, dia gak akan mati cepat dan dia bakal kembali dengan selamat,” ujar Luna dengan yakin, membuat Lira menoleh dan penasaran.
“Lo kenal banget kan ya sama Radith? Kenapa lo bisa yakin Radith masih hidup, dalam keadaan baik dan akan kembali dalam keadaan baik?” tanya Lira yang sebenarnya ingin memancing reaksi dari wanita yang dia tahu, mereka saling mencintai pada masanya, dia ingin tahu bagaimana Radith di mata Luna untuk saat ini.
“Karena dulu, kapanpun gue ada dalam masalah, dia selalu ada, dia selalu tolong gue dan dia gak pernah terluka parah. Dia itu kayak punya banyak nyawa, dia selalu selamat dalam masalah apapun, kalau gak ada dia, mungkin gue yang udah mati,” ujar Luna sambil tersenyum dan mengawang, membayangkan apa yang Radith lakukan untuknya.
Mulai dari Radith yang membelanya dari Roy, Radith yang selalu menghiburnya saat sedih meski wajahnya selalu datar dan dingin. Radith yang menolongnya saat Darel tidak ada, bahkan Radith yang rela masuk ke jurang tidak peduli dengan keselamatannya hanya untuk menolong Luna yang bahkan saat itu adalah kekasih Darrel.
“Terus kenapa dulu kalian gak bersama aja? Kenapa lo malah milih Darrel?” tanya Lira yang membuat Luna tersadar dan menengok cepat. Wanita itu tampak kaget istri Radith malah menanyakan hal seperti itu padanya. Dia malah takut jadi menyinggung Lira untuk saat ini.
__ADS_1
“gak papa, gue gak akan baper atau marah kalaupun lo ngomong tentang hal itu kok, gue cuma mau tahu aja, kalau kalian sebegitu saling sukanya, kenapa lo malah milih Darrel jadi suami lo dibanding Radith yang sebaik itu? Bahkan Radith yang minta gue jadi pengawal lo pas di Korea Lun,” ujar Lira yang tentu saja membuat Luna menengok kaget.
“Radith yang minta lo? Jadi itu bukan kebetulan gue ketemu sama lo? Semua sudah direncanakan sama Radith?” tanya Luna yang diangguki oleh Lira. Dia ingin mendengar dari sisi Luna pertanyaan yang sampai saat ini dia ingin tahu jawabannya. Kenapa mereka tidak bersama? Kenapa Luna harus menikah dengan orang yang tidak dia cinta? Dan membuat dia menjadi “korban” Radith.
“Karena gue gak tahu Radith suka sama gue. Radith selalu bertindak seenaknya sendiri Ra. Kalau dia lagi baik, dia ngelihat gue, dia perhatiin gue, tapi kalau dia lagi jahat dan dinginnya kumat, dia bahkan gak mau lihat gue, gak mau peduli. Kak Darrel gak gitu, dia tulus sama gue,” ujar Luna yang tentu saja membuat Lira kaget.
“Jadi maksud lo, lo gak sama Radith karena dia gak full perhatian sama lo? Dan Darrel yang full perhatian sama lo? Walau Radith sudah bertaruh nyawa Lun? Lo gak tahu seberapa besar dia suka sama lo saat itu?” tanya Lira yang gemas dengan wanita di hadapannya ini. Dia tahu Luna bodoh, namun dia tidak tahu Luna sebegitu egoisnya dalam hal ini.
“Radith suka sama gue? Bukannya dia cuma merasa kasihan dan terpaksa karena bang Jordan minta tolong dia? Bukannya dia melakukan itu biar dapat perhatian dari bokap?” tanya Luna yang makin membuat Lira kaget. Hampir saja dia menampar Luna yang mulutnya sangat jahat, apakah Radith hanya bernilai seperti itu di hadapan wanita ini? Lira sampai tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
“lo? Lo kok jahat banget ya Lun? Lo tahu, Radith mengalami 5 tahun yang sangat buruk karena lo memutuskan buat nikah sama Darrel, di saat dia berusaha buat melindungi lo dari banyak bahaya. Maaf gue harus bilang lo jahat, tapi asli, lo egois, lo cuma mikirin apa yang lo lihat dan gak mau tahu apa yang gak terlihat,” ujar Lira yang kembali membuat Luna mengerjapkan matanya.
“ada banyak hal Ra, dan gak mudah juga buat gue untuk akhirnya memilih kak Darrel jadi suami gue. Dan gue menganggap semua itu takdir. Memang Tuhan menakdirkan gue buat hidup sama kak Darrel, takdir yang membuat lo ketemu sama Radith, dan akhirnya lo bisa menikah sama dia, punya dua anak dan 1 anak sambung,” ujar Luna mencoba tersenyum dengan canggung.
“Yah, takdir gue ketemu sama Radith karena gue butuh uang buat sekolah adik gue. Takdir Radith harus patah hati parah sama lo jadi dia mabuk dan memperkosa gue sampai gue hamil, terus dia depresi selama bertahun- tahun sedangkan gue harus berjuang buat membesarkan anak gue. Takdir suami gue harus mempertaruhkan hidupnya berkali-kali buat mengabdi ke keluarga lo,” ujar Lira yang tidak tahan lagi mengungkapkan uneg-unegnya.
“gue harus berterima kasih juga ke lo kok. Kalau lo berulah, Radith gak bakal ketemu sama gue. Kalau lo gak menikah sama Darrel, Radith gak akan depresi dan memperkosa gue tanpa sengaja, gue gak menyesali itu karena gue jadi punya Sean, dia anak yang cerdas, dan gue bergantung ke dia, gue bersyukur punya dia,” ujar Lira yang diangguki oleh Luna. Dia masih merasa tidak enak dengan Lira.
“Tapi kalau gue boleh minta tolong, tolong minta bokap lo, untuk gak menarik keluarga kecil gue ke masalah keluarga kalian. Gue tahu suami gue hutang budi karena saat itu gue diculik dan mereka butuh bantuan buat nyelametin gue, tapi kalau ditarik garis, semua itu juga karena bokap lo kan? Dia yang buat Radith masuk ke dunia gelap penuh mafia itu,” lirih Lira tak bertenaga.
“Gue udah coba Ra, kalau lo mau tahu, gue udah coba semua cara buat bikin bokap dan bang Jordan berhenti dari dunia itu. Gue gak mau kehilangan orang-orang yang gue sayang. Tapi bokap mikir itu satu-satunya cara, dia harus ajak Radith untuk misi ini, bokap bilang cuma Radith yang bisa menyelesaikannya. Gue bisa apa? Gue gak ada kekuatan buat menghentikan bokap,” ujar Luna membela dirinya.
“Ya, bokap lo melempar Radith buat membereskan bandit bandit itu, karena dia gak mau menantu dan anak lelakinya terluka. Lo tanya suami lo, dia pernah gak terjun langsung ke misi ini? Pasti gak pernah Lun, karena kalian menganggap Radith tikus yang melakukan pekerjaan kotor, dia yang harus menanggung semua resiko sendiri,” ujar Lira yang kembali membuat Luna terdiam.
__ADS_1
“Gue cuma bisa minta maaf untuk semua yang udah terjadi Ra, buat gue yang membuat hidup Radith, Hidup lo dan hidup kalian semua berantakan, gue minta maaf sudah melakukan semua itu. Untuk yang belum terjadi, gue akan berusaha, gue akan berusaha minta ke keluarga gue buat stop bawa-bawa Radith dalam setiap hal. Gue harap lo percaya sama gue Ra, gue gak diam saja lihat orang sekitar gue terluka.”
“semoga yang lo bilang itu benar ya Lun, semoga lo benar-benar berusaha buat menyelesaikan masalah ini. Berhenti membuat keluarga kecil gue terseret untuk masalah ini. Bukan cuma kalian yang ingin hidup nyaman dan bahagia dengan keluarga yang utuh, gue mohon ya Lun,” ujar Lira yang sudah melunak. Luna mengangguk dan memeluk Lira, memberikan kekuatan pada wanita itu sekaligus menyampaikan jika dia benar-benar menyesal.
“Maaf gue udah kasar sama lo, ngomong hal yang gak seharusnya gue ungkap di saat gue tahu itu di luar kemampuan lo juga buat mengalami dan melakukan semua hal itu. Lagian kalau lo gak gitu, gue gak nikah sama Radith, punya 3 anak yang lucu, pintar, gue bersyukur untuk hal itu,” ujar Lira yang diangguki oleh Luna, dia dapat mengerti dan mungkin akan melakukan hal yang sama jika dia mengalami hal yang Lira alami.
“Ah, iya, gue harus jemput anak-anak dulu Lun, lo gak papa kan nunggu di sini sama anak lo? Siapa nama dia? Maaf gue lupa namanya,” tanya Lira yang langsung membuat Luna tertawa sambil mengangguk.
“namanya Rania. Dia satu-satunya yang cewek, jadi gak bisa gue tinggal. Dia juga ada sakit, jadi ya, gue lebih protektif sama dia,” ujar Luna sambil tersenyum ke arah putrinya yang masih sibuk dengan baby El. Luna mempersilakan Lira untuk pergi menjemput Sean dan Zia sementara dia akan membantu menjaga Baby El yang sudah mulai tertidur, kasihan jika harus terguncang di mobil.
Setengah jam kemudian, Lira pulang bersama dengan Sean dan Zia. Mereka melihat ada Rania yang asing bagi Zia, meski Sean pernah bertemu pun, Sean tidak merasa akrab dengan gadis kecil itu jadi dia masih malu-malu dengan Rania.
“Rania masih ingat dengan Sean? Dia datang ke ulang tahun kalian waktu itu. Kalau yang satunya ini Zia, dia adiknya Sean, kalian belum pernah bertemu, jadi kalian bisa berkenalan dulu,” ujar Luna yang diangguki oleh Luna. Anak-anak itu mulai berkenalan dan sedikit akrab, apalagi Zia yang ramah, dia bisa mencairkan suasana dengan bermain bersama Rania dan Sean.
“Apa kalian suka berenang? Rania suka berenang, apa kalian mau berenang bersama Rania?” tanya gadis kecil itu yang membuat Zia dan Sean berpandangan, lalu menggelengkan kepalanya. Melihat hal itu Lira tertarik untuk bergabung, apalagi tidak ada lagi yang bisa dia bicarakan dengan Luna. Dia mendekati Rania dan mengelus kepala gadis kecil itu.
“Rania pandai berenang? Wah, Rania hebat dong sudah pandai berenang, mau ajari Sean dan Zia berenang gak?” tanya Lira yang diangguki oleh Rania. Lira menatap ke arah Sean dan Zia, menanyakan apakah mereka mau berenang dan mereka mengangguk. Lira pun meminta mereka semua bersiap untuk pergi ke kolam renang di dekat sana.
“Sebenarnya rumah ini ada kolam renang, tapi sudah lama tidak digunakan, jadi takut bahaya. Walau dibersihkan terus, masih gak tahu kalau licin atau bagaimana, jadi mending ke kolam renang saja,” ujar Lira saat sudah ada di dalam mobil. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana.
“Waw, kolam renang, Sean selalu pergi ke pantai, namun Sean jarang pergi ke sini,” ujar Sean dengan semangat.
“Kalian belum pandai berenang dan bermain air, kalian pakai pelampung ini ya, Rania mau memakai juga?” tanya Lira sambil memakaikan pelampung tangan ke tangan Sean dan Zia. Rania menggelengkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
“Tidak tante, terima kasih,” ujar Rania dengan senyum manisnya.
Mereka mulai bermain di tempat itu sementara Lira dan Luna duduk menjaga barang mereka sambil mengawasi dari tempat itu. Baik Lira maupun Luna berharap ini adalah awal baru dari hubungan normal yang mereka miliki dan seterusnya akan seperti ini.