Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 131


__ADS_3

Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136


Terima kasih banyakkk atas pengertiannya


--------------------------000000----------------------


A bersama dengan yang lain langsung mengintai rumah yang tampak kosong itu, dia tidak tahu apa yang ada di dalam sana, namun dia menunggu, jika orang yang menjadi bos itu datang, dia akan menyekap mereka dan mengambil identitas mereka, yah, yang bisa dilakukan saat ini adalah menunggu, karna dia sendiri tidak tahu bagaimana sistem mereka untuk mengetahui satu sama lain.


Sementara itu Radith yang menunggu dari tempat yang jauh tidak bisa fokus, dia memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk membujuk Lira jika tuan Wilkinson tidak berhasil, karna dia tahu Lira tidak mudah terpengaruh apalagi jika masalah keselamatan anak anak mereka. Radith sangat memaklumi Lira marah sampai sebegitunya, namun dia juga harus melakukan semua ini demi membalas budinya, dia juga merasa tertekan.


"Eum, coba gue telpon aja kalik ya, please Lira, jawab telpon aku ya, please, aku mohon jawab telpon aku ya," ujar Radith yang mencari nomor Lira dan langsung menghubungkan panggilan pada wanita itu. Dia menunggu dengan tak tenang, bahkan sampai menggigit jarinya karna merasa khawatir. Radith melihat ke kiri dan kanan, lalu ke ponselnya lagi, Lira masih tidak mau menjawab panggilannya, tentu saja hal itu membuatnya bersedih.


"Duh, kamu masih marah ya sama aku? Kenapa sih kamu marah sama aku? Aku gak pernah sengaja loh Ra, astaga, kenapa kamu marah dampai seperti ini?" Tanya Radith pada dirinya sendiri. Dia mencoba beberapa kali, namun Lira masih tidak mau menerima panggilannya. Untung saja pengawal Lira rutin memberi tahu kondisi anak dan istrinya, sehingga dia cukup tenang meski belum merasa puas karna dia belum mendengar sendiri suara atau melihat wajah mereka secara langsung.


"Kondisi Lira baik dan dia bisa menerima kau yang bekerja untukku, aku sudah bilang padamu, aku akan mengatasi itu, asalkan kau bisa selesaikan semua tugasmu dengan baik, aku tidak mau tahu kau harus berhasil membunuh orang itu, aku sudah memiliki cara dan itu sudah berhasil, kini tugasmu untuk fokus karna aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau sampai gagal, apa kau mengerti akan hal itu?" Tanya tuan Wilkinson yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu sedikit merasa lega setelah mendapat kabar tersebut.


"Semua berjalan dengan baik, namun saya masih memantau apakah aman ada di sana dan bagaimana mereka memperlakukan atasan mereka, karna jika ada kesalahan, anak buahku lah yang akan mati, dan aku tidak bisa membiarkan mereka mati," ujar Radith yang diangguki oleh tuan Wilkinson, dia juga merasa Tidak perlu terburu buru karna Danesya pun tidak tahu akan hal ini, jadi mereka masih memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan ini.


"Ya, aku memberimu banyak waktu dan kau boleh gunakan lebih banyak waktu, karna kau sendiri yang akan semakin lama bertemu dengan istrimu bukan? Dan yah, semakin kau lama, semakin akan mudah gagal pula dirimu, jadi kau yang visa memutuskan apakah kau akan gagal atau berhasil, aku tidak akan membuatmu terburu buru."


"Ah, ancaman yang anda katakan sangat mengena di hati saya, terima kasih banyak sudah memberikan ancaman seperti itu pada saya, saya sangat menghargainya. Saya akan melakukan semua dengan tepat, bukan hanya cepat, jadi saya akan memperhitungkan semua dengan matang baru saya bertindak. Sekali lagi, nyawa anak buah saya menjadi taruhannya, jadi saya tidak bisa bertindak gegabah," ujar Radith yang diangguki oleh tuan Wilkinson.


"Baiklah, karna kau sudah berhasil sejauh ini, aku punya sedikit hadiah untukmu, kau, lihat ke arah proyektor yang ada di sana," ujar tuan Wilkinson yang tentu saja membuat Radith menengok, dia tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh tuan Wilkinson, sampai layar menyala dan sebuah panggilan ada di layar itu, tak selang berapa lama, panggilan itu di angkat, membuat Radith menatap dengan tatapan sedih, namun juga terharu.

__ADS_1


"Selamat malam suamiku, kamu apa kabar? Amu masih baik baik aja kan?" Tanya Lira yang tentu membuat Radith mematung, dia tak menyangka Lira akan menjawab panggilan tuan Wilkinson sedangkan wanita itu tidak menjawab panggilan darinya. Namun dia tak begitu peduli, sudah melihat wajah Lira saja membuatnya menjadi sangat bahagia dan tentu saja semakin bersemangat untuk menyelesaikan misi gila yang direncanakan tuan Wilkinson.


"Maaf, maafkan aku, maaf aku udah ingkar janji ke kamu, aku gak bisa untuk gak melakukan ini karna aku udah janji ke tuan Wilkinson, aku harus menepati janji yang aku buat Ra, jadi maafkan aku, aku gak akan janji lagi ke kamu, tapi aku akan berusaha untuk selalu ada buat kamu Ra setelah ini, membentuk keluarga bahagia kita Ra. Kamu percaya kan sama aku? Kamu, kamu mau kan percaya sama aku?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira.


"Dith, kalau bukan karna Luna yang datang ke aku, kasih aku pencerahan dan banyak lagi, mungkin aku gak akan pernah mau maafkan kamu Dith, Aku berterima kasih sama Luna dan Om Wilkinson karna sudah membuka pikiran aku sehingga kita masih selamat, kita masih bisa bersatu seperti ini, aku gak tahu lagi kalau gak ada mereka bakal jadi gimana, aku juga gak ngerti kenapa aku bisa relate sama apa yang Luna katakan."


"Luna, apa dia yang bujuk kamu? Aku harus bilang makasih sendiri ke dia Ra kalau gitu, makasih udah mau jaga istri aku yang paling aku cinta, makasih udah kasih pengertian kalau kamu itu istri aku yang oaling berharga, aku gak tahu lagi harus ngomong apa, yang jelas aku bahagia punya kamu dalam hidupku Ra, jangan pernah pergi, aku mohon sama kamu," ujar Radith yang membuat Lira terharu, wanita itu sampai harus menyeka air matanya berkali kali karna hal itu.


"Dia cerita banyak hal, termasuk apa yang kamu lakukan buat dia selama kalian sekolah. Dari cerita dia aku jadi ngerti kenapa kamu nekat, kenapa kamu terkesan gak peduli sama aku dan kenapa kamu sampai mau kerja sama Tuan Wilkinson, aku mengerti semua Dith, sekarang kamu bisa kerja dengan tenang, aku bakal tunggu kamu pulang Dith, aku akan tunggu kamu bareng sama Baby L, Zia dan Sean. Jaga diri ya," ujar Lira lembut.


"Ya, kamu juga jaga diri ya, tunggu aku pulang ke rumah dan kita bakal sama sama lagi, aku bakal jaga diri kamu baik baik karna aku tahu kamu juga baik baik aja dan menunggu aku pulang, terima kasih banyak sayang, kamu udah kasih aku energi dan semangat, aku akan lakukan yang terbaik dan pulang dengan cepat," ujar Radith yang langsung membuat tuan Wilkinson mematikan panggilan itu sepihak.


"Waktu habis, jika kau ingin bisa dengan mudah menelpon atau bahkan memeluknya, kau harus bisa menyelesaikan semua dengan baik dan cepat, kau tahu apa yang aku inginkan dan kau inginkan hal itu juga, jadi aku tidak akan memaksa, sama sekali tidak. Semoga kau berhasil tuan Radith," ujar Tuan Wilkinson yang langsung keluar dari sana.


"Yak, semoga lo berhasil Radith," lirih Radith pada dirinya sendiri.


Rania Duduk di dalam kamarnya sambil melamun, dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi hari ini. Baik itu tentang kelas olimpiade atau tentang Adlan yang membelanya di depan guru itu. Dia tak bisa berhenti memikirkan semua. Padahal dia juga merasa tidak perlu terlalu memikirkannya, namun entah kenapa semua itu mengganjal di hatinya.


"Ah,gue selalu memikirkan sesuatu yang gak perlu dan malah bikin semua tambah ribet. Males banget ah, Kalau gue gak bisa berhenti mikirin hal yang gak perlu. Gak tahu ah gak tahu, gue gak mau ribet," ujar Rania yang langsung memejamkan matanya. Namun saat dia sedang memejamkan mata, tiba tiba saja ponselnya berbunyi, dia melihat ke ponsel itu dan langsung mengangkatnya.


"Rania! Rania tolong gue,gue ada di depan, gila ya pengawal lo banyak banget. Gue dikira maling, gue gak boleh masuk padahal udah ada di sini dari tadi dan sudah bilang kalau gue kenal Lo, keluar dong, tolongin gue," ujar suara itu yang membuat Rania langsung bangun dari kasur dan berlari dari kamarnya menuju ke gerbang.


"Anak gila emang, ngapain juga Lo malam malam ada di rumah gue sih? Lo gila ya? Kalau Lo dikira maling Lo bisa aja hilang tahu gak, gila ya Lo," ujar Rania tak menyangka. Dia berlari secepat yang dia bisa dan langsung pergi ke arah penjaga depan. Dia melihat seorang pria muda tampak sibuk berdebat dengan pengawal yang ada di rumahnya.

__ADS_1


"Adlan, Lo ngapain sih bikin keributan begini di rumah orang? Lo gila ya?" Tanya Rania yang membuat lelaki itu berhenti berdebat dan menyengir ke arahnya. Rania memicingkan mata dan tak mengerti arti senyuman itu. Dia hanya terdiam sampai Adlan mengatakan kenapa lelaki itu sampai datang ke tempatnya.


"Gue tahu Lo lagi banyak pikiran, dan Lo gak bisa tidur, jadi gue ke sini buat menghibur dan tentu saja bikin Lo bisa tidur nyenyak. Tapi nih pengawal bahkan gak bolehin gue masuk, padahal gue mau kasih kejutan, terpaksa deh gue telpon Lo, jadi ya, gak kejutan lagi tapi gak papa, gue masih bisa hibur Lo, ayo ijinkan gue masuk dulu, ini dingin banget di sini," ujar Adlan yang membuat Rania meringis tak menyangka, Adlan memang selalu nekat dan melakukan apa yang dia anggqp benar.


"Terus kalau lo udah di dalam, lo mau apa?" Tanya Rania yang bingung juga. Adlan langsung menggandeng tangan Rania dan pergi ke dalam rumahnya. Dia mengajak Rania pergi ke dalam lift menuju rooftop. Rania diam saja digeret oleh Adlan seperti itu, namun saat di dalam lift, dia merasa aneh.


"Dlan, ini kan rumah gue, kok malah lo yang nuntun gue sih? Lo emang tahu di rooftop ada apaan? Lo emang emang mau ngapain bawa gue ke sana?" Tanya Rania heran. Adlan tertawa dan tidak menjawab, dia seperti tahu apa yang akan dia lakukan.


Adlan membawa Rania keluar dari dalam lift dan membuka pintu rooftop. Rania melihat pemandangan dari dalam rumah kaca itu. Dia merasa itu pemandangan yang indah, namun saat Adlan mematikan lampu dan entah menyalakan saklar apa, pemandangan berubah jadi galaksi yang sangat indah. Rania bahkan tak tahu ada tempat seperti ini di rumahnya.


"Lo kok tahu ada tempat ini di rumah gue? Gue aja gak tahu loh ada tempat beginian, hebat banget lo," ujar Rania yang terkagum dengan Adlan dan keindahan rooftop ini. Adlan menjentikkan jarinya, merqsa bangga dia jauh lebih tahu daripada Rania, dia terkikik dan memperlihatkan ponselnya.


"Gue kan penggemar setia novel Hopeless, jadi gue tahu seluk beluk rumah ini termasuk rooftop ini, di sini kan bokap sama nyokap lo sering berdua, jadi ya wajar banget lah kalau gue tahu," ujar Adlan bangga, namun membuat Rania mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan pernyataan itu, namun tak mau mengambil pusing dan hanya mengedikkan bahunya.


"Kalau di sini sebenarnya kita bisa lakuin apapun dan gak akan ada yang tahu, karna ini benar benar private room, tapi karna gue sayang sama lo, gue gak akan macam macam atau melakukan sesuatu yang buruk ke lo, gue memilih buat jagain dan selalu ada buat lo kayak sekarang ini. Gue harap lo bisa selalu lihat itu dalam diri gue."


"Gue gak ngerti kenapa lo mau sama gue Dlan, sedangkan gue malah takut sama lo, gue takut jatuh cinta sama lo, jadi malah gue pengen minta ke lo jangan pernah selalu ada buat gue, jangan lasih apapun dan jangan pedulikan gue, gue gak mau buat suka sama lo Dlan," ujar Rania yang sontak membuat Adlan terkejut.


"Maksudnya apa? Kenapa lo ngomong gitu? Lo kan tahu kalau gue gak qkan bikin lo kecewa, apalagi selingkuh. Gue bahkan rela glow up setinggi tingginya biar lo bisa lihat gue, gue gak peduli kalau lo mandang fisik. Kalau lo suka cowok ganteng, gue bakal jadi cowok ganteng biar disuka sama lo," ujar Adlan dengan sungguh sungguh.


"Ya, gue tahu Lo akan lakukan itu, tapi masalahnya bukan hanya di sana Dlan, lo tahu, ada tembok besar yang gak bisa kita robohkan. Lo tahu kalau tembok besar itu bikin gue dan lo gak pernah bisa bersatu, apalagi lo anak yang taat, keluarga gue juga taat, gak akan ada yang bisa pindah," ujar Rania yang masih tak dimengerti oleh lelaki itu, namun seketika lelaki itu sadar kemana arah Rania, dia langsung terdiam.


"Gue, gue masih belum mikir sampai ke sana. Tapi, yang gue tahu, gue sayang banget sama lo Ran, dan gue gak tahu gimana caranya bikin lo yakin kalau gue beneran sayang sama lo. Kalaupun suatu hari nanti Tuhan ijinkan kita buat bersama, pasti ada kok caranya," ujar Adlan dengan yakin.

__ADS_1


"Ada? Lo mau pindah? Atau lo akan paksa gue pindah? Atau lo ngajak plural? Terus gimana nasib anaknya? Pertumbuhan iman anaknya? Gue tahu lo gak mikir ke sana karna lo masih pengen pacaran dan senang senang aja, tapi terus gimana? Apa lanjutannya?" Tanya Rania yang tidak bisa dijawab oleh Adlan.


"Gue, gue gak tahu Ran, gue gak bisa jawabnya. Tapi kalau boleh gue tanya, lo juga suka kah sama gue? Lo masih anggap gue lebih dari teman kan? Lo nyaman kan sama gue?" Tanya Adlan yang membuat Rania terdiam. Adlan meminta Rania untuk jujur, dan gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.


__ADS_2