
Radith menekan bel rumah Alex dan Lira membukakan pintu. Bukan sambutan hangat yang Radith dapatkan, dia malah mendapat tatapan tajam dari Lira. Lelaki itu tertunduk, namun sesaat kemudian mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Lira dengan cengiran di bibirnya, cengiran canggung yang berharap Lira tidak marah padanya. Dia melebarkan kedua tangannya, meminta Lira untuk berhambur ke pelukannya.
"Gak mau aku peluk peluk kamu, udah bekasnya orang lagi. Kalau ada perlu mending buruan ngomong, kalau gak ada ya udah, aku masuk dulu, kamu pulang aja," ujar Lira yang membuat Radith cemberut. Dia meminta belas kasihan Lira melalui tatapannya. Dia tahu cara ini tak pernah gagal, buktinya Lira langsung menghela napas panjang dan membukakan pintu dengan lebar, membiarkan Radith masuk ke dalam rumah itu.
"Aku tuh mau cerita, jadi sebenarnya tadi malam itu..." ujar Radith yang langsung terhenti karna Lira pergi dari sana. Dia kembali memanyunkan bibirnya, rasanya tidak enak sekali menghadapi sikap dingin istrinya. Apakah itu yang dirasakan orang orang di sekitarnya saat dia bersikap dingin dan menyebalkan? Ah, Radith akan bersikap lebih ramah setelah ini, rupanya tak enak didiamkan dan diketusi oleh orang lain.
"Aku buat minum, kayaknya kamu bakal cerita panjang, kamu juga dari luar, cuci tangan cuci kaki dulu, jangan lupa pakai hand sanitizer juga. Kalau udah baru kita ngomong lagi," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu pergi ke kamar mandi dan melakukan semua yang Lira minta. Dia kembali ke Hadapan Lira dan menunjukkan kedua tangannya yang bersih, persis seperti anak kecil yang dimarahi ibunya. Lira mengangguk, barulah Radith duduk kembali.
"Gini, beberapa waktu lalu, aku benar benar butuh informasi soal Grace, dan ya, aku dapat informasi kalau sebenarnya dia itu kembar, dan aku yakin Zia bukan anak Grace yang sekarang, dan Grace itu bukan Grace, aduh, gimana ya ceritanya, aku bingung," ujar Radith menutupi wajahnya debgan frustasi. Lira langsung mengambil tangan Radith dan menggenggamnya, memberikan tatapan hangat pada lelaki itu. Hanya itu, dan Radith sudah kembali tenang, dia kembali bercerita dengan runtut dari awal sampai akhir.
"Jadi, kamu udah sampai tahap tahu keberadaan Gracia yang asli? Dia ada di sana?" Tanya Lira yang dijawab gelengan kepala oleh Radith. Dia tidak tahu dimana Gracia yang asli, namun karna itu petunjuk satu satunya, dia akan mencoba untuk pergi ke sana dan memastikan seauatu. Dia tidak bisa hanya berdiam diri dan menyaksikan anak istrinya hidup menderita karnanya.
"Hmm, ya udah, aku percaya sama kamu. Aku tahu kamu gak pernah mau kecewain aku. Kalau emang ada yang bisa aku bantu, aku bakal bantu, tapi kayaknya kamu sih udah bisa semua sendiri ya, jadi ya aku tinggal tunggu aja di sini," ujar Lira yang dijawab gelengan kepala oleh Radith. Lira mengerutkan keningnya dan kenunggu Radith untuk berbicara maksud dari gelengan kepala itu.
"Aku butuh bantuan kamu. Sementara Sean di sini sama Alex dan aku bakal panggil pengawal aku yang khusus, nanti dia di sini buat jaga Sean dan Alex. Kamu ikut aku ke tempat itu, kan ada di Jakarta juga, jadi gak susah buat sampai ke sana, dan mungkin kamu harus ikut aku sampai kasus ini selesai, aku butuh kamu soalnya," ujar Radith dengan wajah serius. Lira sampai ikut tegang mendengar penjelasan itu, memang apa yang bisa dilakukan Lira?
"Aku butuh kamu ada di sisi aku, temenin aku kemana pun biar aku konsen, aku selalu good mood dan aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan aku dengan baik. Kalau gak ada kamu, pikiran aku selalu terbang melayang gak tahu kemana, aku butuh kamu buat aku tetap fokus. Aku bukan kasih kamu penawaran atau pilihan, jadi kamu harus melakukannya," ujar Radith yang dijawab putaran bola mata oleh Lira. Dia tahu Radith memang suka memerintah, tapi tak menyangka separah ini.
"Oke, aku bakal ikut kamu selagi Sean aman, aku gak masalah. Kalau gitu kamu mau ke sananya kapan? Aku bakal siap siap dulu," ujar Lira yang membuat Radith melihat ke arah jam tangan mahal berkilau miliknya. Dia baru membeli jam ini untuk mengalihkan pikirannya yang penuh, dia ingin menghamburkan sedikit uang untuk berfoya foya, meski hanya satu barang saja.
__ADS_1
"Eum, lima belas menit lagi orang orang aku datang sih, kamu gak usah bawa baju apa apa, nanti bisa beli atau gimana, bawa dompet, ponsel atau yang penting aja, sisanya nanti aku yang mikir," ujar Radith yang menenangkan Lira karna Lira tampak kaget saat Radith mengatakan satu jam. Mana bisa perempuan bersiap hanya dalam waktu satu jam untuk perjalanan yang panjang? Radith memang selalu bertingkah gila dan seenaknya, bahkan Lira yang sudah tahu sikap ini masih sering kesal karnanya.
Satu jam kemudian, orang orang yang Radith minta sudah datang. Sebagian dari mereka tinggal, sebagian lagi mengikuti Radith dan Lira untuk keamanan mereka. Mereka harus berpura pura seperti orang penting agar bisa melihat berkas pribadi orang orang di gedung itu. Dia harus menemukan bukti bahwa Gracia pernah ada di tempat ini, atau bahkan masih ada sampai saat ini.
Banyak orang yang langsung melihat ke arah Radith, Lira dan pengawalnya. Sebagian melihat dengan bingung, sebagian lagi dengan tatapan kosong. Radith langsung menemui pengelola untuk mengarakan maksud kedatangannya. Dia ingin mengetahui Infomasi segera mengenai Gracia, itu satu satunya cara untuk mendepak Greselyn dari rumah dan kehidupannya. Radith sudah muak dengan orang itu, apalagi saat dia tahu kebohongannya, dia makin membenci wanita itu.
"Permisi, saya ingin bertanya, apakah ada ornag bernama Gracia pernah dirawat di sini, mungkin sekitar lima atau enam tahun lalu? Kami membutuhkan datanya segera untuk penyelidikan internal kami, jadi mungkin bapak bisa membantu, karna kami dengar dia pernah dirawat di sini, jadi saya ingin memastikannya," ujar Radith dengan sopan namun penuh wibawa, membuat petugas merasa terintimidasi dan menuruti apa yang dikatakan oleh Radith, dia langsung membuka data pasien yang ada di sana.
"Gracia Elora, apakah seperti wajah orang yang kalian cari?" Tanya petugas itu yang membuat Radith mendongak, melihat ke layar laptop petugas itu dan langsung mengangguk, keberuntungan apa yang ada di pihaknya sampai dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah dan cepat, dia kira butuh waktu berbulan bulan, namun nyatanya tidak.
"Ya, dia yang kami cari. Apakah anda bisa memberikan datanya untuk kami? Kami akan memberikan dokumen yang anda minta untuk persyaratan itu, kami juga akan, ehem, pelicin, berapapun yang anda minta, karna kami membutuhkan datanya," ujar Radith yang membuat petugas itu tersenyum. Dia mengambil kertas, menuliskan beberapa angka dan huruf lalu memberikannya pada Radith. Radith tersenyum miring melihat orang yang aji mumpung ini, namun karna dia dalam kondisi hati yang baik, dia akan membiarkan saja diperas oleh orang ini.
"50 juta, ke rekening itu. Sudah, ini bukti tranfernya jika kau memang membutuhkannya," ujar Radith menunjukkan layar ponselnya yang diangguki oleh orang itu. Yah, dia cukup percaya pada Radith, memang apa lagi yang bisa dia katakan? Dia juga tidak rugi jika memang Radith menipunya, namun sepertinya Radith memang tak menipu, jadi dia percaya saja. Dia mencetak data diri Gracia lengkap dengan tanggal masuk dan tanggal keluar dari sana serta apa yang terjadi selama Gracia ada di sini.
"Kita nyari hotel duku yuk, aku mau meneliti dan jyari kebenaran info ini, sekalian istirahat dan makan di hotel aja," ujar Radith saat mereka sudah ada di parkiran. Lira tentu tidak setuju, mereka masih ada di kota yang sama, dan rumah Alex tidak sebegitu jauhnya, tapi kenapa Radith ingin sekali memboroskan uang dengan menyewa hotel untuk mereka berdua? Radith sungguh gila.
"Ya kamu yakin mau di rumah Alex? Kalau suara teriakan kamu kedengaran sama dia gimana? Kalau di hotel kan bodo amat pihsk hotelnya orang kita udah bayar. Kecuali kalau kita pulang ke rumah yang ada di Bali, baru kita bisa lakukan di rumah karna kamar aku kan kedap suara. Gimana? Kamu masih mau di tempat Alex atau kita ke hotel? Aku jamin sih, kamu gak bisa jalan besok pagi," ujar Radith santai dan tanpa beban sama sekali.
"Maksud kamu apa weh ngomong gitu? Aku gak bisa jalan? Astaga bisa bisanya masih kepikiran hal itu di saat yang kayak gini. Kamu fokus dulu loh selesaikan ini, malah mau yang lain lain, kalau kamu udah selesaikan ini, pasti bakal mudah ke depannya, kamu tinggal usir Greselyn aja, udah, gak usah aneh aneh, aku gak mau. Dan kalau aku nolak tapi kamu maksa, aku bisa laporin kamu atas kasus pemerkosaan," ujar Lira mengancam Radith. Lelaki itu menghela napasnya dan menurut, dia tidak bisa membantah Lira bahkan jika dia ingin.
__ADS_1
"Ya udah, kita pulang ke rumah Alex, aku bakal baca di sana. Tapi kita beli makan dulu aja. Biar kamu gak usah repot masak, tinggal makan aja, nanti Alex yang cuciin piring kita," ujar Radith yang dijawab kekehan oleh Lira. Bagaimana bisa dia biarkan Alex mencuci piring di saat Lira sendiri menumpang di rumahnya? Lira harus tahu diri dan membantu pekerjaan Alex meski sedikit.
Mereka pergi dari sana dan kembali ke rumah Alex. Radith membeli berbagai macam makanan untuk mengisi perut mereka. Dia juga membelikan banyak untuk Sean dan orang orangnya. Ah, memberi makan orang sebanyak ini ternyata harus merogoh kocek cukup dalam. Namun karna Radith sedang bahagia, dia tidak merasa sayang pada uangnya, padahal biasanya tidak tak segan menyuruh pengawalnya membeli makan sendiri saat mereka pergi bersama.
Saat berada di rumah Alex, Radith makan sambil membuka semua berkas yang sudah dicetak, termasuk foto foto Gracia selama berada di sana. Radith merasa kasihan melihat wanita itu, wanita itu tampak kacau, dengan perut yang dari waktu ke waktu semakin membesar. Itu pasti Zia. Entah kenapa Radith menjadi sedih dan merasa bersalah pada Gracia.
"Aku sedih ngelihat dan ngebayangin Gracia. Tapi tanggung jawab kamu ke dia, bukan ke Greselyn dan Greselyn bukan Gracia, mereka orang yang berbeda, dengan sikap dan tujuan yang berbeda. Aku bakal tetap rawat Zia seperti aku rawat Sean, tapi aku gak bisa cewek ular itu masuk ke keluarga kita Dith. Bukan masalah cemburu, tapi aku sadar dia bahaya kalau didiemin," ujar Lira yang disetujui oleh Radith.
"Bagaimana bisa ada orang yang odgj hamil sampai melahirkan begini? Walau jiwanya terganggu, dia tetap menyayangi bayi di perutnya. Aku udah melakukan dosa yang besar Ra, aku hancurkan hidup dia dalam sekejap, membuat dia masuk ke rumah sakit jiwa, dan bahkan melahirkan anak di sana. Aku pendosa Ra, aku gak pantas dimaafkan."
Tangan Radith bergetar hebat, Lira berusaha menenangkannya dengan memeluk Radith erat. Dia tidak mau Radith terlalu memikirkan hal yang sudah lampau. Meski jika jadi Gracia, Lira akan merasa gila juga. Seseorang yang tidak kau kenal memperkosa dengan brutal? Mental orang mana yang akan baik baik saja setelah semua itu?
"Kalau menurut cctv dan orang orang yang lihat. Gracia keluar dari kamar keadaannya udah berdarah darah Ra, dan dia bahkan gak bisa jalan, dia dibantu sama pengawal aku dan dikasih kompensasi yang besar. Perawatan di rumah sakit sampai lukanya sembuh, tapi aku sadar, luka di hatinya tidak bisa sembuh, tidak akan pernah bisa, aku, aku..."
"Sshtt, semua udah lewat, kamu emang salah, tapi gak ada gunanya kamu kayak gini, yang paling penting itu tindakan kamu untuk menebus semua. Udah, Gracia juga udah gak ada. Dia meninggal pas melahirkan Zia karna pendarahan hebat. Kita nanti datang aja ke makam dia untuk minta maaf, sekalian doakan dia semoga dia tenang di alam sana. Tapi udah, sampai di situ aja, kamu jangan ikutan depresi karna ini."
"Ada aku, ada Sean, ada Zia yang butuh kamu. Butuh kamu untuk bangkit dan melindungi kami. Aku juga perempuan dan aku pernah merasakan sakit yang teramat, tapi sebagai Ibu, aku akan tetap menatap ke depan demi anak aku, aku yakin Gracia juga begitu, dia ingin kita menatap ke depan dan menjaga Zia dengan penuh cinta. Kamu harus kuat, tegar walau itu susah."
"Makasih Ra, makasih kamu gak nyalahin aku padahal kamu juga pernah merasakan hal serupa. Makasih udah kasih kesempatan buat aku nebus semua. Aku bakal meluruskan semua, aku bakal meletakkan semua pada tempatnya. Aku janji, ini terakhir kalinya kamu, Sean san Zia menderita, aku janji akan hal itu Ra," ujar Radith yang sudah lemas.
__ADS_1
"Ya, kamu gak sendiri, ada aku, aku akan selaku ada di pihak kamu, dukung kamu. Kasih pundak aku kalau kamu lagi capek, kamu gak sendiri di dunia ini Dith, jangan pernah merasa sendiri di dunia ini. Aku sayang kamu," ujar Lira sambil memeluk Radith dengan hangat.
Radith menangis di pelukan Lira. Dia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah di hatinya. Dia ingin meminta ampun dari Gracia, namun semua sudah terlambat, wanita itu sudah pergi, tidak ada cara bagi Radith memohon ampun secara langsung. Dia hanya bisa meratap dan berdoa, di atas sana, Gracia akan memaafkannya dan mengijinkan dia merawat Zia dengan sepenuh hati.