Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 101


__ADS_3

(Sebelum Radith bertemu dengan Ibu pemilik Villa bersama dengan pihak polisi)


5 hari berlalu, Radith dan keluarganya merasa puas dalam bermain, mereka akan pulang besok untuk melanjutkan aktivitas mereka seeprti biasa. Ada hal yang aneh, Ibu pemilik Villa tidak datang selama 3 hari ini, membuat Radith dan Lira sebenarnya sangat khawatir. Mereka tentu takut sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ibu itu, terlebih mimpi yang dikatakan Sean cukup menyeramkan.


Radith juga teringat apa yang dikatakan orang orang baik tempo hari, mereka mengatakan Ibu pemilik Villa adalah orang yang jahat, namun karna mereka sudah disumpah tidak menyangkutkan masalah mereka dengan orang luar, mereka terpaksa bungkam dan hanya bisa berharap Radith akan baik baik saja.


Meskipun begitu, Radith bukan orang yang bodoh, dia memanggil beberapa pengawal lain dan meminta mereka untuk mencari tahu siapa Ibu pemilik Villa dan kenapa orang orang menganggapnya jahat, lalu apa hubungannya dengan mimpi Sean yang sangat aneh itu. Radith masih harus menunggu untuk berjaga jaga, namun jika sampai mereka pulang tidak terjadi sesuatu, dia akan melupakannya dan menganggap semua itu bukan urusannya.


Sean, Radith, Zia, Lira serta susters sudah mulai merapikan barang barang mereka dan bersiap untuk tidur agar besok pagi mereka bisa pergi tepat waktu, tidak terlambat pesawat dan sampai ke pulau dewata dengan aman dan selamat. Namun berbeda dengan Radith dan Lira, mereka terjaga dan mengobrol dengan pengawal yang ada di teras.


"Apa kau mendapat petunjuk entah apa itu? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi. Sean tidak pernah memimpikan orang yang tidak dekat sebelumnya, jadi aku takut, hal itu ada hubungannya dengan keluargaku, kalian harus mendapat kabar dari mereka yang mencari dan mengikuti ibu itu, kalian mengerti kan?" Tanya Radith yang langsung diangguki oleh mereka.


"Kalau begitu, kalian berjaga yang betul, kalau mau kopi, di villa ini ada kopi, kalian ambil aja. Kalau butuh cemilan juga ambil dan habiskan, gak masalah. Agau mau saya keluarkan sekarang? Kalau nanti kalian gak makan, tinggal kasih jam berikutnya aja," ujar Radith yang diangguki lagi oleh mereka.


"Dasar kalian, bisa bisanya kalian memintaku untuk melakukan semua itu? Kalian tidak mau mengambil sendiri dan malah menyuruhku melakukannya, jika bukan aku atasan kalian, kalian pasti sudah dipecat," ujar Radith yang membuat Pengawal itu tersenyum kaku karna tak enak. Namun Radith masih bersikap biasa saja dengan hal itu.


"Ya udah, nih ya buat kalian, dimakan, ini juga kalau mau minum. Apa mau saya ambilkan sendiri?" Tanya Radith yang menyindir sekaligus menggoda mereka. Mereka langsung menggelengkan kepalanya cepat, lalu mengambil gelas yang dibawa oleh Radith.


"Kami akan membuat sendiri pak, terima kasih banyak sudah membawakan dan memberi semua ini," ujar salah satu pengawal yang diangguki oleh yang lain. Radith mengiyakan dan langsung mengajak Lira untuk masuk ke kamarnya agar mereka juga bisa beristirahat, namun baru saja hendak memejamkan mata, pintu kamar mereka diketuk. Membuat Lira dan Radith buru buru membukakan pintu, takut sesuatu yang salah sudsh terjadi.


"Pak, sepertinya kepulangan bapak harus ditunda karna kami menemukan ibu pemilik villa, kalau masalah gak bisa pulang, saya akan bayar loh dan kena charge juga kalau misal barangnya gak sesuai. Kalian tenang saja," ujar Radith yang langsung membuat Mereka menggelengkan kepala.


"Tidak, tidak ada hubungannya dengan penghasilan, mereka tidak ingin mencampur pautkan urusan orang lain. Apalagi dia sudah memesan tiket pesawat yang tentu saja tidak bisa dia batalkan sesukanya. Ah, bisa saja, tapi jika kurang dari 24 jam, uangnya tidak bisa dikembalikan. Jadi menurut Radith akan snagat rugi dan menyita waktu.


"Maaf pak, tapi ini sangat penting. Karna laporan yang diberikan oleh orang itu pada orang di kantor polisian. Dia mengaku bahwa anda sudah merampas hartanya dan memaksa anda untuk mengembalikan semua kerugian menurutnya. Kami sudah mengikuti orang itu dan menemukan fakta yang menarik, anda pasti menyukainya."


Radith membaca portofolio yang disiapkan oleh pengawalnya, lalu memutuskan untuk Sean, Lira, Zia dan beberapa pengawal ikut pulang ke Bali sementara dia dan dia pengawal lain ikut tinggal di sini untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, namun dia tak bisa membahayakan jika Sean dan Zia ikut terseret dalam masalah ini dia juga tidak berniat akan mengajak anak anaknya untuk ikut dalam hal ini.

__ADS_1


Apalagi Lira yang sudah hamil besar, dia tidak akan membiarkan istrinya terluka, dia merasa masalah ini cukup sepele, mungkin ibu pemilik Villa tidak menyadari bagaimana hebatnya Radith dan malah menjebak lelaki itu dalam permainannya yang busuk.


"Ah, ini maksud mimpi Sean. Dia mimpi ibu itu lagi diikat, sepertinya dia memvideo itu, dan dia meminta orang lain untuk menyebarkannya. Dia sengaja melakukan itu agar seolah dia sedang disekap oleh saya, dan saya memeras uangnya. Dia kira saya orang kaya yang takut atau malas berurusan dengan hukum, jadi saya akan mengalah dan memberi dia uang."


"Dugaan kami juga seperti itu. Mungkin besok pak Radith akan didatangi oleh orang orang, jadi lebih baik Nyonya dan tuan muda sudah pergi dulu dari pulau ini sebelum mereka datang. Saya takut kepulangan mereka harus ditunda jika mereka sampai sebelum rombongan kita pergi dari sini," ujar pengawalnya yang disetujui oleh Radith.


"Tidak perlu mandi, mereka bisa mandi saat nanti sampai di pulau Bali, yang penting kalian bantu saya untuk memasukkan semua barang mereka ke dalam mobil, jadi mereka besok hanya perlu berangkat, jangan katakan apapun pada istri saya soal hal ini, saya takut bayi di tubuhnya akan terganggu.


"Saya merasa kita, kami bisa menyelesaikan masalah ini pak, kami bahkan bisa menyelesaikannya dalam satu hari jika memang harus selesai dalam 1 hari. Kami sudah mengikuti Ibu Villa dan mendapatkan banyak sekali waktu kosong yang orang itu miliki, namun dia tetap mendapat banyak uang dan ternyata dia sengaja melakukan penipuan terhadap setiap pengunjung di villa itu.


"Sialan, kalau gue tahu sebenarnya dia maunya apa. Dan gimana, gue bakal pergi lebih awal. Seandainya orang orang baik itu mau kasih tahu gue. Ah, oke lah, mungkin udah waktunya ibu ini berhenti dan Radith lah orang yang dikirim untuk menghentikannya.


""Ya udah lah Dith, udah lama kita gak main polisi polisian, sekarang kita mau nangkap maling beneran. Gak papa, hidup lo kan udah biasa jauh banget dari sistem ronda, atau kumpul kerja bakti, pasti cuma masalah, masalah dan masalah, dia harus menghadapinya dan tentu saja dia harus terbiasa akan hal itu.


(.................)


"Dimana anak dan istrimu?! Apa kau sudah mengirim dia pergi ke luar negeri atau luar pulau? Kau tahu, aku berteman dekat dengan gerakan saparatis, mereka bisa membantaimu dengan mudah, jangan kau pikir kau punya kuasa di kota asalmu, kau jadi santai saja menghadapiku." Ibu itu tertawa seperti orang gila.


"Wow, apakah anda memiliki fetish yang unik? Anda mengikat saya dan menelanjangi saya? Apakah anda tahu yang anda lakukan ini termasuk pelecehan seksual? Ah, ataukah anda sebenarnya menikmatinya juga? Baiklah, bagaimana kalau kita bermain?" Tanya Radith yang sengaja bertindak seperti itu karna Ibu itu sangat gila sampai membiarkannya telanjang hanya agar tak ada pengawal yang bisa menemukannya. Radith harus akui, Ibu ini sangat pintar dan cekatan.


"Jangan terlalu banyak bicara. Kau tidak akan bisa bicara lagi jika aku muak padamu dan aku sudah bosan. Kau bikang fetishku? Ini fetishku!" Geram orang itu yang langsung memeras keras adik kecil Radith, membuat lelaki itu kesakitan luar biasa. Dia tidak berani main main lagi dengan Ibu itu, dia harus keluar dari sini dengan selamat agar anak anaknya bisa tumbuh dewasa dengan terjamin.


"Jika kau masih mau bermain denganku, akan kulayani sampai malam, atau mungkin kau mau aku mengulitimu dulu? Aku tidak akan membunuhmu jika dari awal kau tidak merepotkanku. Namun sekarang, aku juga tidak akan membunuhmu jika kau memberiku uang 3 millyard rupiah," ujar Ibu itu yang membuat Radith mendongak, apakah ibu itu bergurau?


"Berapapun jumlah yang kau minta, aku tidak akan bisa memberi, karna bahkan aku tidak mekakai pakaianku, bagaimana aku bisa meminta orang untuk membawakan uang untukmu? Aku juga tidak tahu ada di mana dan aku juga bahkan tak mengerti kenapa kau sangat keji meminta orang yang memberimu rejeki dengan memerasnya."


"Bukankah itu sudah menjadi umum seperti sudah perputarannya? Orang kaya akan tetap kaya jika dia mati, dia sakit, atau tidak diculik. Aku tidak akan membuatmu mati jika kau bersikap baik saat diculik. Aku tidak mau mengotori tangan atau hidupku dengan darah orang yang sudah membantuku mendapatkan uang yang banyak."

__ADS_1


"Yah, kau tidak perlu memanggil mereka. Kau hanya perlu memberikan tanda tanganmu di atas surat perjanjian bermaterai ini, jadi kau akan menyerahkan 3 millyard padaku, yang bsiaxaku ambil kapanpun aku mau. Saat kau sudah menanda tangainya, aku akan melepaskanmu dalam keadaan utuh dan hidup. Jika kau main main denganku, aku akan merontoki anggota badanmu dan membiarkan kau mati dengan sendirinya."


"Baiklah, apapun yang ingin kau lakukan, berapa uang yang kau minta, aku akan mencarikannya. Berikan pulpen itu padaku," ujar Radith pasrah, dia masih belum memikirkan apa yang akan dia lakukan, namun sesaat kemudian dia mendaoat cara, dia akan melakukan cara itu saat dia sudah bisa lolos dari semua ini.


"Bagus, kamu kira saya bodoh dan membiarkan kamu pergi dari sini dengan seperti ini? Aku tidak akan bodoh! Sini jarimu!" Itu itu menusuk jarum ke tangan Radith dan memencet darahnya. Dia ingin ada cap darah di kertas itu agar buktinya makin kuat. Dia tidak akan membiarkan Radith lolos begitu saja.


Ibu itu tampak senang dengan sikap Radith yang membuatnya mudah. Dia langsung menutup kepala Radith dengan kain, lalu orangnya masuk dan mengangkat Radith. Lelaki itu juga langsung memasukkan Radith dalam mobil dalam keadaan tak pantas seperti itu, lalu entah berapa lama, mereka langsung membuang Radith ke tepi hutan tanpa siapapun. Mereka hanya membuka penutup kepala Radith.


"Sial, gue dibuang ke hutan antah berantah tanpa apa apa. Gue harus bisa segera keluar dari sini, atau gue akan terjebak di sini selamanya, belum lagi hewan buasnya," ujar Radith yang sedikit ketakutan.


Lelaki itu tidak mempedulikan lagi hawa dingin yang menusuk kulitnya. Dia hanya menggosok gosokkan tangannya ke ranting yang tajam, akhirnya dia bisa melepas ikatan tangan yang memuakkan itu, dia juga langsung membuka ikatan kakinya.


"Semoga mereka bisa pintar dan nyari di satelit keberadaan gue. Ei tubuh gue kan udah ada chip yang bisa mereka cari," keluh lelaki itu yang menjadi daun untuk menutupi area privatnya. Lelaki itu memilih untuk berjalan pelan dari sana, menunggu pengawalnya lewat, atau paling tidak orang lewat untuk membantunya pergi dari sini.


Setelah 2 jam luntang luntung di jalanan, Radith melihat cahaya mobil ke arahnya dan ternyata itu adalah anak buah Radith. Lelaki iti selamat kali ini, dia masuk ke mobil itu dan langsung memakai baju yang seadanya. Asalkan tubuhnya tertutup dengan kain, itu sudah cukup.


"Oh sial, aku sudah menandatangani dan bahkan memberikan cap darah untuk perempuan gila itu. Apa kalian punya saran apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi itu semua?" Tanya Radith yang membuat mereka terdiam. Mereka langsung memberikan usul yang sangat bagus.


"Tuan buat saja pernyataan apapun yang tuan tanda tangani tidaklah sah, kapanpun tangannya, tanpa ada cap dari perusahaan. Selama ini jika tuan mengeluarkan uang untuk perusahaan, pasti memakai cap, jadi orang itu tidak akan bisa mencairkan dana meski sudah ada cap darah juga," ujar pengawal itu yang membuat Radith terkagum.


"Bagus, sangat bagus, kau memang bisa diandalkan, baiklah, kita pergi ke hotel lain, dan berikan aku laptop ya, aku akan membuat pers segera, dan aku akan menghubungi polisi untuk berpamitan dulu karna aku harus pergi dari pulau ini, orang itu sangat gila, aku sangat takut bertemu dengannya."


'Takut tuan?" Tanya Pengawal itu yang diangguki oleh Radith. Dia tak malu mengakui bahwa dirinya sangat takut dengan pengawal itu.


"Ya, aku sangat takut, dia orang yang berbahaya. Kau lihat sendiri bagaimana dia menculikku dan bahkan tak ada yang tahu, tak ada yang menolongku tepat waktu kan? Karna aku tahu untuk menghubungkan dari satelit ke tubuhku, alatnya ada di Jakarta, pasti perlu waktu untuk berpikir dan bertindak sejauh itu."


"Yang penting kami lega tuan selamat, maafkan kami, karna keterlambatan kami sudah membuat banyak hal menjadi buruk. Maafkan kami," ujar orang itu yang diangguki oleh Radith.

__ADS_1


__ADS_2