
Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136
Terima kasih banyakkk atas pengertiannya
--------------------------000000----------------------
Radith duduk di sebuah ruangan bersama 10 orang yang sudah dia pilih sebagai timnya. Dia menyusun rencana bagaimana untuk menjebak Roy, namun dia tidak bisa turun langsung karna pasti akan menimbulkan kekacauan. Dia tidak bisa menampakkan dirinya, karna jika mereka tertangkap oleh polisi sungguhan saat sedang bertransaksi, dia akan dalam masalah yang besar.
“Kau, kau berpura puralah melakukan transaksi, namun aku yakin tidak mungkin Roy akan melakukan transaksi langsung. Namun paling tidak kita bisa mengikuti anak buah itu agar mendapatkan informasi dimana Roy berada. Apa kalian yakin bisa melakukannya? Jika kalian gagal meyakinkan mereka, aku akan membuat kalian membayar dengan nyawa kalian.”
“Kami mengerti, kami akan melakukannya, tuan tenang saja, kami tidak akan gagal atau mengecewakan, kami akan seperti pembeli narkoba sungguhan,” ujar salah satu orang yang ada di sana. Tentu saja hal itu membuat Radith mengerutkan keningnya, mencoba untuk mencari kejujuran di sana, dia segera menunjuk orang itu dan memasang wajah curiga.
“Darimana kau tahu yang kau lakukan tidak akan gagal? Bagaiamna kau bisa yakin meniru seorang pemakai narkoba? Apa kau pernah membeli narkoba sebelumnya? Aku tahu tuan Wilkinson akan membunuhmu sendiri jika kau melakukannya, jadi darimana kau bisa tahu akan hal itu?” tanya Radith yang membuat orang itu berdehem sebagai jawaban.
“Maaf, karna sudah ketahuan, saya akan jujur. Saya memang pernah bertransaksi narkoba, namun itu sudah dalam waktu yang lama dan saya tidak melakukannya lagi. Tuan Wilkinson tidak tahu itu, jadi saya mohon jangan memberi tahu dia, karna saya akan sungguh dibunuh jika beliau mengetahuinya,” ujar orang itu dengan panik.
“Kau bodoh, kau baru saja emmbuat pengakuan pada tuan Wilkinson sendiri. Apa kau lupa setiap apa yang kita lakukan di sini sudah terpantau? Lagipula, aku bukanlah tuanmu, kau tidak boleh mengatakan hal apapun itu yang berkaitan dengan rahasiamu padaku. Kau sangat tidak kompeten dalam hal itu, namun karna kau memiliki pengalaman bertransaksi narkoba, aku akan membujuk tuan Wilkinson untuk mengampuni nyawamu nanti.”
“Sekarang kalian semua sudah tahu tugas masing masing kan? Aku tidak akan turun sekarang, namun aku akan mengawasi kalian, jadi kalian tidak bisa melakukan hal yang menyeleweng. Aku akan mengawasi kalian. Pastikan kalian bisa mengetahui dimana mereka berada dan markas besar mereka,” ujar Radith yang diangguki oleh mereka, namun A yang sedari tadi ada di sebelah Radith tampak tak nyaman dengan rencana ini, karna Radith sama sekali tidak mengirim pengawalnya untuk ikut bersama mereka.
“Bagaimana tuan Radith yakin jika markas itu adalah markas besar mereka? Saya justru yakin mereka hanyalah boneka yang dimanfaatkan oleh Roy untuk mengacaukan tuan. Jadi saya memiliki saran, bagaimana jika B atau saya ikut dengan mereka? Saya akan mengawasi sendiri dan memastikan apakah itu pusat atau tidak,” ujar A yang tentu membuat kegaduhan di antara mereka sendiri.
“Apa kau pikir hanya kau yang mampu melakukannya? Apa kau pikir aku tak mampu melakukannya? Jangan sombong! Kau bukanlah apa apa tanpa tuan Radith, namun kami, kami bekerja di bawah tuan Wilkinson yang bahkan jauh lebih tinggi dari tuanmu,” ujar orang itu yang membuat Radith mengangkat alisnya. Dia tahu orang itu hanya membela diri, namun rasanya kurang pas jika orang itu malah menyeret namanya untuk hal ini.
“Untuk seorang yang bahkan tak bisa menyimpan rahasia padaku yang orang asing, kau cukup sombong rupanya. Baiklah, aku akan menuruti apa yang kau katakan, mari lihat apakah kau hanya bermulut besar, atau kau sungguh mampu melakukannya. A, tahan dirimu, aku memiliki tugas yang juga besar, kau akan kesulitan melakukannya, jadi aku ingin kau menyimpan sedikit tenagamu untuk hal itu, tenang saja, kau tidak akan bisa berisirahat dengan tenang.”
“baik tuan, saya akan menunggu sampai saya mendapat tugas, semoga saja orang orang ini bisa melakukan tugas mereka dengan baik, jadi tugas saya akan jauh lebih mudah nantinya,” ujar A yang dijawab gelengan kepala oleh Radith. Lelaki itu menatap satu persatu orang yang ada di sana, lalu tersenyum aneh, membuat orang orang di sana merasa merinding.
“A, jika mereka berhasil, tugasmu akan jauh lebih berat, aku bisa pastikan hal itu, namun jika mereka gagal, aku hanya akan memintamu membereskan tugas mereka dan tentu saja tugasmu jauh lebih mudah. Jadi kau harus berharap mereka gagal agar pekerjaanmu menjadi mudah, dan tentu saja tuan Wilkinson akan menghabisi mereka setelah itu,” ujar Radith santai yang membuat mereka saling pandang dengan takut.
__ADS_1
“Baiklah, jika tidak ada yang perlu kalian tanyakan, kalian bisa pergi sekarang, jangan membuang waktu karna aku tidak ingin istriku benar benar pergi dari hidupku,” ujar Radith dengan wajah serius. Mereka sampai terkejut dengan alasan Radith, namun karna tak ada yang perlu mereka sampaikan, mereka akhirnya membubarkan diri dan tinggallah Radith bersama dengan anak buahnya di sana.
“Kau harus bisa mengendalikan dirimu. Aku hanya akan meminta kalian melakukan tugas yang penting, untuk masalah sepele seperti itu, jangan kalian ikut campur. Dan yah, tentu saja tugas kalian jauh lebih mudah jika mereka berhasil, aku sengaja mengatakannya agar mereka berhasil, karna aku tahu, mereka ingin menyulitkan kalian. Peringatan untukmu A, kendalikan dirimu.”
“Maafkan saya, karna saya merasa mereka tidak kompeten dan sangat beresiko mengirim mereka. Jika mereka ketahuan, akan semakin sulit bagi kita untuk bisa menembus Roy, apalagi benar yang tuan katakan, waktu kita tak banyak dan nyonya besar bisa pergi kapan saja,” ujar A yang membuat Radith terkekeh.
“mereka emmang terlihat bodoh, namun mereka tak sepenuhnya bodoh. Tuan Wilkinson tak akan mengirim orang yang tidak berkompeten untuk membantu kita, dia pasti sudah memikirkannya dengan matang. Jadi kau tidak perlu sebegitu khawatirnya. Lebih baik kalian mendekat dan kita akan bahas apa yang akan kita lakukan jika mereka berhasil, karna aku tak yakin mereka akan gagal.”
“Tuan, setelah kita tahu markasnya, saya akan berpura pura jadi salah satu petinggi yang datang ke sana, jadi kita bisa tahu ada dimana saja cabang mereka dan siapa yang memerintah mereka, namun itu tidak mudah, karna pasti mereka tidak akan mudah untuk tertipu,” ujar A yang dijawab gelengan kepala oleh Radith.
“Tidak, mereka hanyalah bawahan yang rendah, mereka tidak mengenal siapa atasan mereka, jadi kau tenang saja, mereka tak akan mengenalimu. Baiklah, kita akan pakai ide itu dan aku akan sedikit merenovasi idenya, lakukan tugasmu dengan baik meski kau tak bisa promosi karna pangkatmu paling tinggi, hahaha.”
“Saya akan lakukan yang terbaik tuan.”
****************
“Menurut lo, soalnya bakal gampang gak sih? Gue agak pesimis karna ini. Tapi setelah kita menang tadi, gue lumayan naik nih percaya dirinya. Menurut lo gimana Shi?” tanya Adlan yang membuat Rashi menengok. Dia hanya mengedikkan bahu, tidak mau berkomentar banyak dan memilih untuk fokus dengan apa yang mereka akan kerjakan dibanding memikirkan hal yang tak pasti.
“Fokus dan berani ambil resiko. Gak usah mikir yang aneh-aneh,” ujar Rashi yang membuar Adlan sedikit tenang. Dia ingin memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk mereka. Mereka memilih untuk membaca ulang kisi kisi soal yang akan dikuiskan.
“Eh, lo tadi keren banget loh berani bertaruh 500 gitu, kalau gue sih gak bakal berani ya,” ujar Adlan yang membuat Alena terkekeh. Rashi juga menatap ke arah Alena, dia tidak menyangka Alena bisa seberani itu bahkan tanpa bertanya pendapat Adlan dan Rashi. Benar kata Adlan, jika itu dia, dia tidak akan melakukannya.
“Karna kita posisi kalah dan kalau ini soal susah atau gampang, kita tetap kalah kan? Ya udah, kalau udah gak ada yang ditaktukan, ya bet banyak aja, eh ternyata soalnya gampang, walau pas gue nunggu soal rasanya deg deg an banget sih,” ujar Alena yang membuat Adlan semakin kagum, dia tidak pernah mau mengambil resiko dan hidup dalam zona nyaman, namun Alena bisa mengambil keputusan itu di situasi seperti ini.
“Gue salut sih sama lo, yah semoga keberuntungan kita dan keberanian lo ini bisa bawa kita jadi juara. Karna percuma juga jika menang ini, dapat 9 juta tapi kita gak menang,” ujar Adlan yang membuat mereka sama sama mengangguk. Akhirnya tim A masuk ke ruangan itu dan memandang mereka dengan sinis, Rashi tak memberikan tatapan emosi apapun, hanya memandang mereka tanpa ekspresi.
“Selamat untuk 9 juta kalian. Tapi mungkin keberuntungan kalian di tahun ini sudah diambil satu, jadi tidak ada keberuntungan lagi. Hati – hati ya,” ujar orang itu yang membuat Rashi tersenyum, namun jelas itu bukan senyum yang ramah atau ingin mengajak mereka berteman. Sebaliknya, Rashi berdiri dari tempatnya dan menatap orang yang ternyata lebih pendek darinya.
“Terima kasih, selamat berjuang,” ujar Rashi yang langsung pergi ke podium karna orang-orang termasuk pembawa acara sudah masuk ke ruangan mereka. Suasana bertambah tegang karna ini adalah sesi terakhir dan penentuan. Rashi berusaha untuk fokus, namun isi kepalanya tak bisa fokus saat ini, membuatnya jadi frustasi dan memaki dirinya sendiri.
__ADS_1
“Tenang, kalem,” ujar Alena yang tahu Rashi sedang gelisah. Rashi menghembuskan napasnya sebagai jawaban, dia mengangguk dan mencoba untuk tenang, sampai akhirnya pembawa acara berdiri di samping podium dan mereka akan segera memulai acara. Pembawa acara memulai dengan menyapa seperti biasanya. Dia memeriahkan suasana dan sorakan yang ada di sana semakin meriah.
“Oke, untuk babak final kali ini, ini akan menentukan siapa yang akan mewakili Indonesia untuk lomba cerdas cermat tingkat asia tenggara. Pemenangnya juga akan mendapat tunjangan beasiswa serta hadiah lain, jadi kalian harus berjuang untuk memperebutkan posisi satu untuk kali ini. Tim b, jangan bersenang diri dulu karna sudah menang di babak sebelumnya dan mendapatkan hadiah total 9 juta rupiah, karna perjuangan kalian yang sesungguhnya baru akan dimulai.”
“untuk Tim A janganberkecil hati, karna kita akan mereset semua point menjadi 0, jadi peluang kalian menang sama besarnya dalam hal ini. Kalian akan berusaha untuk merebut posisi satu itu. semangat untuk kalian semua,” ujar pembawa acara itu sebelum membacakan peraturan ‘permainan’ kali ini.
“Peraturannya mudah dan sudah ada di babak babak sebelumnya. Kalian akan berebut untuk menjawab soal, dan jika kalian bisa menjawab dengan benar, kalian akan mendapat point, namun jika salah, soal akan dilempar ke tim lawan, dan tim lawan memiliki waktu 20 detik untuk menjawab, jika lebih, soal akan hangus dan kita menjawab soal yang lain.”
“Tidak ada pengurangan point, kalian hanya perlu bergerak lebih cepat dari tim lain, apakah ada pertanyaan?” tanya orang itu yang dijawab gelengan kepala oleh Rashi, Alena dan Adlan. Soal kali ini akan lebih sulit dan mungkin menggunakan banyak rumus karna memang tujuannya untuk mencari perwakilan, jadi mereka harus menjawab soal yang mungkin akan keluar di ajang itu.
Persaingan berlangsung sengit, point mereka saling menyusul dan mengejar. Sampai akhirnya Rashi merasa tertekan dan tidak menjawab meski itu adalah soal yang dia bidangi. Hal itu membuat Alena memegang tangan Rashi dan memandang lelaki itu lekat, namun Rashi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, kepalanya sudah sakit dan buntu.
“Kita berjuang sampai akhir, lo bisa,” ujar Alena yang membuat Rashi menghela napas panjang. Dia merasa bersalah karna membuat point timnya tertinggal, namun dia juga tidak bisa menolong karna kepalanya sudah sangat sakit. Dia tak bisa menahannya lagi.
Rashi bahkan sudah tidak bisa mendengar apa yang pembawa acara itu sampaikan. Alena juga jadi tidak fokus karna melihat Rashi yang sebentar lagi tumbang, namun mereka tak bisa pergi dari sana. Akhirnya di pertanyaan terakhir, Tim A menekan Bel dan memberikan jawaban dengan yakin. Alena berharap jawaban mereka salah jadi Tim B masih bisa merebut point.
“JAWABANNYA BENAR!!!!!! SELAMAT UNTUK TIM A! KALIAN BERHASIL MEMENANGKAN LOMBA CERDAS CERMAT DAN AKAN MEWAKILI INDONESIA UNTUK MAJU KE TINGKAT ASIA TENGGARA”
Saat pengumuman itu disampaikan, Rashi merasa kepalanya sangat sakit, dia juga bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Alena langsung kaget saat melihatnya dan meminta waktu untuk membawa Rashi pergi dari sana. Namun saat berjalan sedikit, Rashi langsung tumbang, untung saja ada Radith yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan terbentur lantai.
Ravi langsung berlari dari kursi penonton ke arah Rashi, meminta pengawalnya dan pengawal Rashi membawa anak itu ke UKS untuk di tangani. Darrel dan Luna juga ikut panik melihat Rashi yang tak sadarkan diri. Darrel langsung memutuskan membawanya ke rumah sakit dibanding UKS yang tidak banyak perlengkapannya.
Di rumah sakit, Alena menunggu dengan khawatir, mereka sudah tidak memikirkan masalah lomba lagi, yah, mereka juga sudah kalah, jadi tidak perlu pusing memikirkannya. Mereka hanya fokus pada kesehatan Rashi, ingin memastikan bahwa lelaki itu baik baik saja.
"Tenang aja, Rashi itu kuat kok. Dia gak tumbang dengan mudah, jadi lo tenang aja, dia akan baik baik aja," ujar Ravi yang merasa kasihan melihat Alena khawatir. Mereka menunggu dokter memeriksa keadaan Rashi, lalu tak lama berselang, dokter keluar dengan suster yang membawanya untuk masuk ke ruang inap yang sudah dipesan oleh Darrel, agar anak itu bisa beristirahat dengan baik.
"Kondisinya baik baik saja dan cukup stabil. Namun kami harus memeriksa bagian otak, dan itu bisa dilakukan jika pasien alam kondisi sadar, karna takut jika ternyata ada sesuatu di otaknya sampai membuatnya seperti ini. Jadi kita harus memastikannya."
"Apakah kondisinya akan seburuk itu dok? Karna tidak biasanya Rashi sampai mimisan dan pingsan walau sedang stres. Saya snagat khawatir dengan keadaan anak saya dokter," ujar Luna yang mencoba tenang, namun dia sudah menggigil dan hampir menangis saat mengatakan hal itu.
__ADS_1