Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 68


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Radith bangun dari tidurnya dan melihat ke arah Lira yang nasih tertidur. Dia mengecup kepala Lira dan pergi dari kamarnya, dia ingin melihat keqdaan Zia dan Sean seperti biasa. Sean sudah terbiasa dengan kehadiran Zia, begitu pula sebaliknya sehingga Radith tidak perlu khawatir, selagi dia adil, mereka tidak akan pernah saling membenci.


Radith masuk ke kamar Zia dan kembali mendapati bekas pukulan di sana. Radith merasa ngeri karna anak sekecil ini harus mengalami hal itu, namun dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada Zia. Dia berencana akan memasang cctv, namun begitu sampai di kantor, dia tidak bisa mengingat niatnya karna banyaknya urusan yang harus dia tangani.


Lelaki itu mengambil telponnya dan setelah tersambung, dia pun berkata "Kirimkan Andre ke tempatku, aku membutuhkan dia untuk melakukan sesuatu, sampai ke sini sebelum pukul sepuluh, jika terlambat, katakan padanya jangan pernah muncul sekalian di depan wajahku, jika aku menemukannya, dia akan membayarnya dengan nyawanya."


Sebenarnya Radith hanya bergurau, tidak mungkin dia membunuh orang kepercayaannya hanya karna terlambat. Namun dia juga melakukan itu agar orang yang bekerja dengannya bisa menghargai waktu. Disiplin dan bisa diandalkan. Radith tidak mau orang yang tidak kompeten menjadi kepercayaannya karna itu sama saja dia memberikan tali untuk bunuh diri pada orang orang itu.


Tak butuh waktu lama, Andre sudah sampai di rumah Radith dan masuk ke ruang tamu. Andre adalah satu satunya orang yang bisa masuk ke rumahnya tanpa diminta atau tanpa dalam keadaan bahaya. Dia bisa masuk dan keluar sesuka hati karna pangkatnya sudah tinggi di keluarga ini. Radith juga tahu Andre tidak akan berulah di sini, jadi dia membiarkan saja.


"Aku melihat Zia memiliki banyak luka, tapi aku bahkan tidak bisa mengawasi mereka. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar bisa tahu siapa yang melakukannya?" Tanya Radith yang membuat Andre terdiam. Dia melikat ke tangab Zia yang kecil, tampak lemah, apalagi dengan luka itu, membuat dia seperti anak yang sangat menderita.


"Buat dia terbuka dengan Sean dan biarkan dia menceritakan sendiri apa yang dia alami. Di rumah ini ada banyak orang, tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan melakukannya, tapi, jika ada orang yang memiliki motif, menurutmu siapa?" Tanya Andre yang dipikir oleh Radith, benar juga, orang itu harus memiliki motif yang jelas jika sampai melukai anak kecil yang tidak salah apa apa.


"Masih terlalu dini buat sampai ke sana, gini aja, kamu udah biasa menangani masalah seperti ini, aku ingin kamu yang menanganinya. Siapa pun yang melakukannya, aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri," ujar Radith yang diangguki oleh Andre. Mereka hanya mengobrol kecil setelah itu, membahas pekerjaan yang tidak ada habisnya. Andre memegang banyak peran penting di perusahaan sehingga dia dekat dengan Radith.


"Ya udah, saya cuma mau minta tolong yang tadi itu, jangan sampai ada yang tahu, karna itu akan membuat heboh. Sementara ini cuma aku yang tahu, dan mungkin Ibunya karna waktu itu aku gak sengaja bilang, tapi gak tahu lah, aku serahkan ke kamu saja," ujar Radith yang tidak bisa berpikir lagi. Andre menurut saja, toh sudah biasa dia melakukan banyak pekerjaan Radith, bukan suatu hal yang sulit.


"Ah, ada tamu, silakan ikut makan bareng anak anak, hari ini saya memasak nasi goreng, kalau mau ikut sarapan silakan aja," ujar Grace yang muncul entah dari mana. Andre menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap ke arah Radith, meminta penjelasan pada lelaki itu untuk semua yang dia lihat ini. Dia tahu Radith memiliki masalah dengan wanita ini, namun dia belum tahu jika Grace sudah tinggal di rumah ini.


"Dia ada kerjaan lain dan udah mau pulang. Kamu ke ruang makan dulu aja, nanti aku samanLira nyusul," ujar Radith yang diangguki oleh Grace dan wanita itu langsung pergi dari sana. Andre makin terkejut karna ternyata ada Lira yang tahu tentang hubungan dan keberadaan wanita ini, tapi bahkan Radith tampak santai saja dengan duri di hubungan mereka.


"Aku gak ada pilihan lain, aku harus tetap tanggung jawab sama dia, jadi ya aku gak mau aja dia terlantar sama anaknya. Jadi kamu gak usah mikir yang macam macam, karna bukan seperti itu, oke? Tenang aja, aku masih sama Lira dan Lira baik baik aja kok sama keberadaan dia," ujar Radith yang tidak membuat Andre puas, dia merasa tidak cocok dengan wanita bernama Grace ini.

__ADS_1


"Jangan menaruh duri di hubungan kalian, aku ngerasa ada yang salah dari si cewek itu, tapi aku gak yakin apa. Jadi lebih baik kamu selidiki siapa dia dan apa hubungannya sama Zia, kamu udah pastikan Zia anak kandung kamu, tapi kamu belum pastikan kalau Grace itu ibu kandung Zia. Iya kan?" Tanya Andre yang membuat Radith sadar akan hal itu.


"Kamu benar, aku terlalu fokus sama Zia adalah anak aku, sampai aku lupa ngecek siapa ibu kandung Zia. Aku bakal ngecek itu nanti, yang penting Ketemu dulu siapa yang udah lakukan ini ke Zia," ujar Radith yang diangguki oleh Andre. Karna masih ada urusan lain, Andre pergi dari rumah Radith, dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tak kalah banyak dari milik Radith.


"Kamu apain anak aku?!" Radith menengok kaget saat Grace berteriak. Dia langsung berlari menghampiri sumber suara. Ternyata di ruang makan ada Grace yang menangis, Zia yang sudsh tergeletak dan sebuah papan di bawah Lira. Radith langsung membelalakkan mata dan menghampiri Zia. Dia memastikan anaknya masih bernapas dan meminta orang orangnya membawa Zia ke rumah sakit.


"Ada apa ini?" Tanya Radith bingung. Grace tidak menengok, dia menatap ke arah Lira dengan tangan yang terkepal, Sementara Lira menggeleng gelengkan kepalanya pelan dan menatap bersalah ke arah Radith. Lelaki itu masih tidak mengerti dan mengulangi pertanyaannya agar salah satu dari mereka menjawab.


Akhirnya Grace yang memberikan jawaban pada Radith. Wanita itu berkata, "Aku gak tahu apa yang Lira lakukan ke Zia, dia bawa papan dan tiba tiba aja mukul Zia sampai pingsan. Aku tahu dia benci aku, aku tahu juga dia gak mau ada Zia di sini, tapi apa cara ini dibenarkan? Aku tahu dia bipolar atau mungkin ada gangguan kejiwaan lain, tapi gak masuk akal sampai dia begitu ke Zia."


"Aku, aku gak ngapa ngapain Dith, aku, aku gak tahu, aku gak tahu apa yang aku lakukan, aku cuma ke sini, dan, habis itu, Dith, aku gak ngapa ngapain," ujar Lira linglung. Radith hanya bisa melongo mendengar pembelaan Lira yang bahkan tidak jelas. Radith jadi semakin curiga Lira yang melakukannya, walau dalam hatinya juga masih yakin jika Lira tidak mungkin melakukan hal itu.


"Dia gak sadar apa yang dia lakukan, karna aku tahu dia jiwanya lagi terguncang, tapi aku juga gak terima kalau anakku disiksa begitu. Setelah kamu kasih tahu ada lebam di tangan dan kaki Zia, aku setiap saat awasin dia, tapi aku kan gak bisa terus terusan ngikutin Zia, aku harus mengerjakaan pekerjaan rumah tangga juga, jadi aku gak tahu siapa yang melakukannya ke Zia."


"Grace, Grace, wait, kita tunggu sampai Lira sadar dulu dari linglungnya, oke? Gak papa ya? Kamu mending ke rumah sakit buat lihat kondisi Zia, setelah ini aku ke sana, oke?" Tanya Radith yang dianggki oleh Grace. Wanita itu langsung berjalan keluar dan meminta supir mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui anaknya, sementara Radith sibuk dengan Lira yang masih gemetar hebat.


"Sayang, ayo kita ke kamar ya, kamu tenangin diri kamu dulu," ujar Radith lembut. Lira mengangguk dan menggandeng tangan Radith, mereka masuk ke kamar dan Radith tidak melepas tangannya dari Lira karna bahkan istrinya sudah mengalami keringat dingin, Radith tidak bisa membiarkan Lira panik dan malah membuat kondisi semalin buruk.


"Bukan aku, aku gak tahu apa apa. Aku datang dan Zia udah tergeletak di sana dan udah ada papannya juga. Aku mau tolong dia, tapi ternyata dia pingsan dan saat aku mau tolong, Grace udah teriak, aku gak tahu sama sekali," ujar Lira yang membuat Radith menghela napasnya. Dia tahu Lira memiliki alasan yang cukup kuat dan motifnya sudah bisa diprediksi, namun jika itu tidak benar, kasihan sekali jiwa Lira harus terguncang sekali lagi.


"Ya, aku tahu bukan kamu. Kamu gak akan pernah tega melakukan itu. Mungkin ada orang lain yang gak suka sama kamu, jadi kamu yang mereka hujat itu jadi kesenangan tersendiri. Aku bakal cari tahu siapa dan langsung pecat dari rumah ini, kamu jangan kenapa napa ya, jaga diri yang baik pokoknya," ujar Radith yang teringat kondisi Lira tak stabil.


Walau Grace akan terus mengotot apa yang dilakukan oleh Lira sangat salah. Mungkin wanita itu juga meminta hukuman untuk Lira, namun Radith tidak akan pernah menghukumnya karna masalah ini. Bukan dia tak percaya Grace atau Lira, dia memilih untuk tidak percaya keduanya. Dia akan mencari tahu sendiri dan barulah menyimpulkan apa yang akan dia lakukan setelah ini.

__ADS_1


"Ra, untuk sementara, maaf sekali, aku gak bisa percaya sama kamu dulu, karna itu gak akan adil untuk Grace dan Zia. Tapi aku juga gak serta merta nyalahin kamu sayang, aku bakal cari bukti dan aku tahu, aku yakin bukan kamu yang ada di bukti itu. Jika pun kamu, itu bukan orang bersalah," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Aku gak melakukan suatu hal yang harus bikin aku panik atau takut. Tapi aku harap kamu benar benar cari tahu kebenarannya, bukan apa yang kamu lihat, tapi apa yang akan kamu lihat. Aku gak akan larang kamu, aku malah berharap kamu bisa temukan apa yang kamu mau," ujar Lira lirih karna kecewa.


Radith kembali keluar dari kamarnya dan kembali ke dapur. Dia bingung dimana orang ini mendapatkan ember? Di belakang rumah. Tapi Grace tidak tak tahu apa yang ada di sana. Mungkinkah ini sungguh perbuatan Lira? Apa mungkin Lira melakukan ini secara tidak sadar? Tapi hati kecil Radith berkata ini bukan salah Lira, terakhir dia tidak ikuti kata hatinya, dia berakhir dengan kehilangan semua hal yang dia miliki.


"Kalau itu Lira, dia punya motif yaitu benci sama Grace, dia gak mau ada Zia yang menyaingi Sean, tapi dia bahkan punya segalanya sekarang, kenapa sampai harus cemburu seperti itu? Tapi kalau Grace, apa motifnya? Kenapa dia melakukan hal keji pada anak kandungnya sendiri? Gue gak nangkap sama sekali sih sini."


Radith kembali memangil Andre namun kali ini dia yang akan menemui Andre ke kantor. Sesampainya di sana, Radith langsung menceritakan semua hal yang terjadi tanpa kurang atau lebih. Sementara Andre menyimak dan memikirkan solusi untuk semua. Lelaki itu ikut mengangguk anggukkan kepalanya, tahu ke arah mana Radith akan bicara dan meminta kontribusinya.


"Kamu percaya gak kalau aku bilang yang lakuin ini Grace? Dia sengaja lakuin itu untuk memfitnah Lira dengan memanfaatkan kondisi Mentalnya. Dia pasti tahu kan kalau Mental Lira memang tidak begitu stabil, jadi dia bisa melakukan sesuatu dan menuduh Lira, karna dia yang paling masuk akal jika ingin melukai Zia."


"Kenapa kamu bisa mikir itu Grace? Kan ada banyak kemungkinan dan banyak kejadian, kenapa kamu bisa sebut nama dia?" Tanya Radith penasaran. Dia tahu Andre sangat bijak dan pintar, namun biasanya dia masih bisa mengerti, sekarang malah Radith tidak bisa menebak apa yang sebenarnya Andre pikirkan saat ini.


"Bukan karna aku gak suka sama dia ya, aku emang gak suka sama dia, tapi ya aku akan coba objektif ya, bayangin aja, kamu udah bilang kalau ada luka aneh di tubuh Zia, gimana respon dia? Apa dia panik? Kalau dari cerita kamu, dia lebih ke takut dibanding panik."


"Terus barusan, kalau dia beneran seorang Ibu, dia gak akan biarkan Zia tergeletak di sana dia pasti langsung tolong Zia dan bawa Zia ke rumah sakit. Tapi ini kan enggak, dia bahkan harus kamu suruh kan baru pergi? Dia lebih sibuk sama Lira sampai tidak ingat anaknya terluka. Menurutmu mungkin? Karna menurutku enggak."


"Jadi, kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia lakukan itu ke Zia dan malah nuduh Lira. Bahkan kalau dia berhenti, Radith tidak akan mengungkitnya, namun Kini Semua terlambat, dia harus segera menyelesaikannya.


"Jawabannya sederhana, dia bukan ibu kandung Zia. Dan itu yang harus kamu cari tahu, secepatnya, kalau kamu gak mau Lira jadi kambing hitam dan malah rumah tangga kalian beneran hancur," ujar Andre santai namun juga serius.


"Ya, aku harus melakukannya segera," desis Radith dengan pikiran yang penuh.

__ADS_1


__ADS_2