Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 106


__ADS_3

Radith pulang ke rumahnya dengan lelah. Lira sudah tahu cerita darinya dan dia memilih untuk tetap diam sampai Radith yang mengajaknya bicara karna dia takut Radith sebenarnya sudah lelah namun tetap memaksakan diri untuk bicara, dia ingin memberi Radith ruang untuk sendiri dan beristirahat tanpa memikirkan apapun. Lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci kaki dan tangannya.


“Sayang, kamu masak gak atau ada makanan gak? Aku dari kemarin belum makan, laper banget,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Lira pergi ke dapur dan mengambil makanan untuk Radith karna Zia sudah makan sebelum mereka berangkat ke Bandara untuk menuju ke Bali. Radith makan dengan tenang dan lahap, seolah tidak makan selama beberapa hari.


“Mbak Beta, minta tolong itu Zia diurusin dulu ya, diminta mandi sama kalau dia mau makan lagi, saya ngurus papanya dulu,” ujar Lira yang tentu saja diangguki oleh mba Beta. Dia langsung pergi ke kamar Zia dan mengurus Zia. Lira sudah sempat melihat Zia, namun tentu saja fokus utamanya pada suami yang sangat lelah ini.


“eh udah, aku aja yang balikin piringnya, aku cuci sekalian,” ujar Lira saat Radith hendak berdiri. Namun lelaki itu menggeleng, mengambil piring di tangan Lira dan meletakkannya di meja, lalu memeluk istrinya itu dengan erat, sangat erat sampi Lira sendiri bingung kenapa radith seperti itu.


“Aku ketakutan, aku capek, aku kangen kamu, padahal kita baru aja pulang liburan, kenapa kayaknya ada aja gitu loh masalahnya,” ujar Radith yang membuat Lira memeluknya juga. Dia tahu lelaki itu pasti mengalami beban yang luar biasa berat. Apalagi sebenarnya Radith tak punya tanggung jawab untuk itu semua, namun dia merasa itu adalah untuknya karna Gilang mendatanginya.


“Tuhan pasti tahu kamu anak baik, kamu orang baik dan apa yang kamu berikan untuk Gilang, itu semua akan berbalik ke kamu, jadi ya kita percaya saja semua akan baik pada waktunya. Kalau sampai sekarang kira belum bahagia, ya berarti memang belum waktunya saja,” ujar Lira yang mencoba Bijak. Radith pun menganggukkan kepalanya dengan hal itu.


“Aku tuh sebenarnya gak pamrih apapun, ya kayak aku mau mau aja Ra, tapi ternyata pas udah selesai semua nih baru kerasa kalau badanku udah remuk dari dalam. Aku capek banget secara fisik dan mentalnya. Aku mau berhenti gitu loh sejenak, tapi ya ada aja masalahnya yang bikin aku makin muak dan tambah capek,” ujar Radith yang sudah melepaskan pelukannya dan memejamkan matanya.


“Kamu mau aku panggilkan tukang pijat aja kah? Kalau emang kamu mau, aku panggilkan sekarang, daripada kamu terlalu lelah begini, akunya jadi gak tega sama kamu, gimana? Kalau masalah kerjaan kasih ke asisten kamu aja lah, sama ke sekretaris kamu kan juga butuh istirahat, aku gak mau jadi janda setelah jadi Ibu tanpa ayah selama 5 tahun, aku mau kamu sehat terus sama aku,” ujar Lira yang membuat Radith terkekeh. dia sadar akan kekhawatiran Lira itu nyata.


“Mau deh, tapi yang laki laki ya, aku geli kalau nanti dipijitnya sama perempuan,” pinta Radith yang diangguki oleh Lira. Dia langsung memanggil tukang pijat itu untuk segera datang ke rumahnya dan tentu saja perlu waktu untuk tukang pijat itu sampai ke rumahnya.


“Ra, nunggu tukang pijatnya, kenapa kamu gak kasih pijat yang lain Ra? Gimana? Kayaknya lebih enak pijatnya kamu deh daripada pijatnya tuh tukang pijat,” ujar Radith yang membuat wanita itu meliriknya dengan galak. Lelaki itu tertawa dan mencubit pipi Lira dengan gemas, mana berani dia melakukan itu pada istrinya.


“Eh, aku tuh tiba tiba kepikiran, aku sebenarnya udah kepikir lama tapi lupa lupa terus, menurut kamu Dith, cita cita Sean sama Zia apa? Kita gak pernah nanyain ke mereka kan? Kita Cuma masukkan mereka ke sekolah bagus, udah, gitu aja, gak ada ke depannya mereka mau ngapain,” ujar Lira yang membuat Radith terdiam. Benar juga, dia terlalu banyak sibuk mengurus urusan luar, namun dalam keluarga sendiri kurang perhatian.


“Habis aku pijat, kita ngobrol aja sama mereka berdua, aku merasa kita udah jauh banget sama mereka, walau mereka ada di dekat kita, tapi tetap aja yang ngurus semua Mbak mbaknya mereka kan,” ujar Radith yang langsung diangguki oleh Lira karna dia juga setuju, dia merasa Lira dan Radith memikirkan yang jauh, namun mereka lupa menengok ke yang dekat.


“Kamu amndi dulu aja sana, ada air hangat juga di sana kan. Daripada kamu pijat baunya gak karu karuan begini, keringat dimana mana, belum lagi para daki, gak malu sama tukang pijatnya?” tanya Lira yang sebenarnya mengejek, namun radith tampak kesal dan langsung berdiri. Dia menatap Lira dengan tatapan malas yang dibuat buat, membuat Lira makin gemas dengan suaminya yang persis seperti anak TK itu.

__ADS_1


“Oke, kalau nanti aku jadi wangi dan tukang pijitnya suka sama aku, kamu jangan marah atau ngamuk loh, awas aja kalau kamu ngamuk, aku gak akan dengarkan pokoknya. Gak akan mau peduli, apalagi kalau tukang pijitnya seksi,” ujar Radith yang membuat Lira tertawa. Hal itu tentu saja membuat Radith bingung, apakah istrinya tak masalah jika dia bersama dengan orang lain?


“Haha haha haha haha, ya udah terserah kam aja mau sama siapa juga gak papa, iklas lahir lahir deh aku, eh lahir batin malah, terserah kamu aja, kalau orangnya seksi atau GANTENG. Kan aku panggilnya yang cowok, gimana sih!” seru Lira yang tak bisa menahan geli. Radith baru sadar akan hal itu, padahal dia yang meminta Lira untuk membawa yang lelaki saja.


“Nyebelin banget loh kamu yang, gak tahu ah, mau mandi aku,” ujar Radith kepalang malu dan lansgung pergi dari sana. Lira tertawa sampai memegang perutnya yang besar itu, dia takut anaknya terdorong dan malah keluar sekarang. Setelah tawanya mereda, dia segera pergi ke kamar Radith untuk menyiapkan baju suaminya itu.


Radith sudah terbiasa dilayani oleh Lira untuk urusan makan dan baju, terutama baju, dia akan merasa bingung untuk memilih jika bukan Lira yang mengepak perhari atau Lira yang menyiapkannya di lemari. Kemarin pun Radith membeli baju baru karna Lira hanya menyiapkan baju untuk satu dua hari, namun ternyata dia ada di sana lebih dari itu, jadi dia membeli baju lagi untuk beberapa harinya.


Lira sudah menyiapkan kaos dan celana santai serta ****** ***** milik Radith, lalu dia merebahkan dirinya dan memainkan ponsel karna punggungnya mulai pegal. Radith sudah selesai mandi dan langsung melepas handuknya begitu saja, dia memakai baju dan celana yang disiapkan Lira, lalu pergi dari sana untuk membuat kopi dan menyiapkan handuk untuk dia pakai saat pijat nanti


Setelah tukang pihat itu datang. Lira yang gantian keluar dari dalam kamar dan membiarkan suaminya. Lira pergi ke kamar Sean dan meminta Zia untuk juga masuk ke dalam sana. Dia ingin bermain dengan anak anaknya karna sudah lama dia tidak melakukan ini. Lira duduk di sofa yang ada di sana dan melihat Sean dan Zia sedang bermain menjadi guru dan murid.


"Loh, Sean yang jadi pak Guru? Mami kira Zia yang jadi Bu Guru, memang Sean mau jadi Guru?" Tanya Lira dengan penasaran, jika Sean memang ingin menjadi guru, dia akan mengupayakan untuk membuat cita cita anak itu tercapai, dia akan memberi fasilitas penuh untuk semua yang dibutuhkan oleh Sean.


"Tidak, Sean mau jadi Astronot, seperti ini, Sean harus pintar jika mau jadi astronot," ujar Sean dengan yakin. Lira langsung menatap kaget, ternyata anaknya sudah membuka banyak hal tentang astronot dari aplikasi kutub. Lira senang jika Sean memang memiliki cita cita secara spesifik di usianya yang masih muda.


"Iya Mi, Tapi Sean belum tahu, kalau besok ada cita cita yang lebih bagus dan Sean suka, ya Sean bakal ganti cita cita, boleh kah Mi?" Tanya Sean yang diangguki oleh Lira. Yang menjalani adalah anaknya itu, jadi dia akan mendukung sepenuhnya apapun yang menjadi keputusan Sean.


"Iya nak, buat anak anak mami, apapun yang kalian cita citakan, mami akan dukung kalian sepenuhnya, asalkan dalam sekolah juga, kalian tetap bertanggung jawab sayang, yang penting bagi mami adalah kalian bisa bahagia, selalu bahagia dan hidup sehat, itu udah cukup buat mami dan papa," ujar Lira yang diangguki oleh Sean.


"Kalau Zia, cita cita Zia apa nak?" Tanya Lira yang membuat Zia terdiam. Anak itu seperti malu dan Ragu saat hendak mengatakannya pada Lira. Tentu saja hal itu membuat Lira jadi bingung. Apakah gadis ini masih belum memiliki cita cita? Jika memang belum tentu Lira akan memakluminya.


“Zia mau jadi pembuat baju Mi, tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang dibanggakan, karn Zia tidak pintar matematika atau bahasa Inggris seperti Sean, jadi Zia malu mau ngomong sama Mami,” ujar Zia yang membuat Lira terdiam lagi.


“Wow, Zia mau jadi Designer? Yang membuat gambar baju yang mau Zia buat? Memang Zia suka gambar? Coba Mami lihat kalau memang Zia suka buat gambar,” pinta Lira dengan penuh penasaran karna dia tidak punya bakat menggambar, namun Zia malah memilikinya, tentu saja dia akan sangat bangga dan senang jika Zia memang memiliki bakat itu dalam dirinya.

__ADS_1


“Sebentar, Zia ambil dulu di dalam kamr Zia,” ujar Zia yang diangguki oleh Lira. Dia menunggu dengan tak sabar, sampai akhirnya Zia kembali dan membawa satu buku tulis dan memberikannya pada Lira. Lira membuka buku itu dan langsung menatap kagum. Memang gambarnya tak seindah itu, yah, untuk seukuran anak kelas 1 SD ini sudah sangat luar biasa.


“Zia kok tidak pernah bilang ke Mami kala uZia gambarnya cantiks ekali? Zia gak mau kasih tahu mami kalau mami tidak bertanya?” tanya Lira yang membuat Zia tersipu. Dia melihat semua gambar itu dan lanngsung mendapat ide yang bagus untuk hal ini. Dia berdiri dengan susah payah dan pergi dari kamarnya dengan Zia. Sean juga mengikuti Mami dan saudaranya untuk pergi entah kemana.


Rupanya Lira masuk ke dalam kamarnya lagi, dan meminta Zia dan Sean menunggu di depan. Dia segera mengambil ponselnya dan kembali keluar setelah menanyakan kabar Radith dan tukang pijat itu. wanita itu segera pergi lagi dan emngajak Zia dan Sean untuk duduk di sofa depan. Dia segera menghubungi teman yang ada di ponselnya, dia langsung menghubungkannya dengan panggilan video.


“Heyyy Jen, lama banget kita gak ketemu, lo apa kabar? Gue terakhir dengar lo pergi ke Belanda, udah pulang ke Indonesia kah?” tanya Lira berbasa basi, mereka mengobrol sebentar sampai akhirnya Lira menyampaikan niatnya untuk Zia. Dia menunjukkan gambar yang Zia punya. Dia membuat temannya itu tak menyangka jika anak kelas 1 SD lah yang membuat semua baju mengangumkan itu. Lira juag setuju dengan pendapat Jenny temannya itu.


“Nah, lo kan desainer nih Jen, gue mau ngerepotin lo, gue mau minta tolong sama lo nih buat bantuin anak Gue, siapa tahu lo bisa kenal orang yang bisa bikin baju kayak yang dia desain ini, bisa gak ya kira kira?” tanya Lira yang tentu saja membuat temannya ikut senang dan semangat mendengarnya.


“Bisa banget, gue bakal bantu buat bajunya, Ini gue lagi ada Gala premier di Sulawesi, dari sini gue bakal pergi ke Bali deh buat ketemu sama Lo dan anak lo ini. Terus kita rencanakan lagi mau gimana konsep bajunya,” ujar teman Lira yang membuat Lira semangat.


“Itu anak lo yang perempuan ya yang bikin? Kamu ya nak yang bikin? Nama kamu siapa nak? Gambar kamu indah sekali,” ujar Jenny yang membuat Zia tertawa plan dan canggung.


“Zialin Putri Galeno tante, itu gambar Zia tante, terima kasih jika bagus,” ujar Zia sopan. Teman Lira kembali terkesan dengan sikap sopan dan dewasa yang dimiliki oleh Zia.


“Kalau yang laki laki siapa namanya?” tanya Jenny yang membuat Sean melambaikan tangannya sopan.


“Sean Hinsen Putra Galeno tante,” jawab Sean yang membuat Jenny tersenyum.


“Kalau Sean cita citanya apa?” tanya Jenny.


“Sean ingin jadi Astronot tante,” ujar Sean yang membuat Jenny berdecak kagum lagi dan lagi.


“Anak anak lo keren banget ya, kok bisa gitu loh mereka kepikiran semua itu, padahal kan masih kecil, anak gue kalau ditanya juga jawabnya pengen jadi guru, itu juga karna disuruh gurunya, hahaha,” ujar jenny yang membuat Lira juga terkejut.

__ADS_1


“Guru kan juga cita cita yang bagus tuh, kenapa malah gitu lo? Ngarang aja,” sahut Lira yang membuat Jenny kembali tertawa.


“Hah, ya udah lah, intinya besok gue ke sana dulu, kita bahas bareng bareng,” ujar Jenny ayng diangguki oleh Lira. Mereka mengobrol tentang banyak hal lain, sampai akhirnya panggilan tertutup dan Lira merasa lega karna bisa memberikan yang terbaik untuk anak anaknya.


__ADS_2