Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 89


__ADS_3

Radith sudah membereskan barang barangnya, bersiap untuk berangkat ke Bali bersama anak dan istrinya. Mereka sudah membereskan semua yang perlu di bereskan dan pergi ke Bandara menaiki mobil. Radith meminta Alex mengantar mereka ke Bandara agar tidak perlu memakai taksi. Radith mengucapkan perpisahan pada adik ipadnya itu, diikuti oleh anak anaknya dan terakhir oleh Lira.


"Main, ke Bali. Jangan di Jakarta mulu. Ajakin pacar kamu buat ketemu mbak di Bali, jangan diumpetin, kamu lupa ya kalau suami mbak itu bisa tahu apa yang kamu lakukan? Punya pacar kok diumpetin dari mbak," ujar Lira yang tiba tiba membahas hal itu, padahal Radith sendiri sudah memintanya untuk diam, karna dia tahu Alex tak akan nyaman jika tahu Radith mengawasinya selama ini.


"Bang, jangan gitu sih bang, Alex kan juga lunya privasi, kalau emang niatnya buat jagain, gak usah, Alex cuma pekerja biasa, gak ada istimewanya, gak akan ada yang mau culik atau ambil keuntungan bang, gak usah ikut ikutin Alex sih, apalagi lapor ke mbak Lira," ujar Alex yang membuat Radith melirik ke arah Lira, tidak seharusnya Lira melakuman hal itu hanya untuk menggoda Alex.


"Abang cuma mau pastikan kondisi kamu, jadi abang tetap harus kirim orang buat jagain kamu, dan mereka emang lapor ke abang. Nah, cuma sekali tuh karna menurut abang lucu, abang ceritalah ke Lira kalau kamu punya pacar, hee, dia malah ngeledekin kamu begini, besok abang gak cerita cerita lagi deh, beneran," ujar Radith yang membuat Alex tak puas, namun dia tahu, memang sudah resiko hidup di keluarga Radith, gerak geriknya akan diawasi setiap saat.


"Kamu kan juga gak akan tahu kalau lagi di ikuti nih, jadi kamu tenang aja, abang juga gak akan bikin tuh orang orang kelihatan, dan abang ganti, mereka akan laporan kalau ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, jadi privasi kamu terjaga," ujar Radith yang mencoba menenangkan Alex. Lelaki itu mengangguk meski tak tampak setuju dengan usul Radith, namun itu lebih baik dibanding Radith mengetahui apa yang dia lakukan.


"Ah, satu pesan abang, jangan lakukan kesalahan kayak yang abang lakukan. Walaupun akhirnya baik dan bahagia, tetap langkah yang lanjang dan buruk itu efeknya luar biasa. Kamu jangan tiru, kalau kamu suka sama orang, seriusin, jangan disakitin, jangan dimainin. Kalau bisa mah nikahin langsung aja, nanti abang yang bantu nyari sponsor deh. Jangan kayak mbak mu nih, harus jauh dulu dari abang sampai 5 tahun, baru bisa ketemu dan balikan," ujar Radith yang tentu disetujui oleh Lira.


"Walau kamu gak tahu sebagian besar ceritanya, pokoknya jangan sampai kamu salah langkah dalam melakukan apapun, pikir matang matang biar kamu gak perlu repot memperbaiki keadaan yang udah kamu rusak. Walau kata orang guru terbaik adalah pengalaman yang kamu alami, bagi mbak, yang lebih baik dari itu adalah pengalaman orang lain."


"Kamu gak perlu merasakan hancur untuk bangkit, kamu hanya perlu melihat orang lain yang hancur sebagai contoh untuk kamu bisa bertahan di posisi kamu sekarang. Atau bahkan lebih baik lagi, jadi jangan sampai kamu bercita cita untuk jatuh demi bisa bangkit. Oke? Cuma itu aja peaan mbak, mbak harap kamu gak salah paham sama mbak walau tahu tentang pacar kamu itu."


"Mbak gak akan pernah ikut campur. Kamu udah gede, bukan adik kecil mbak lagi. Tapi kita kan cuma berdua nih sebagai keluarga kandung, ya mbak masih punya tanggung jawab untuk memastikan kondisi kamu. Tapi kalau urusan cinta, ya terserah kamu, oamu udah dewasa harusnya sih kamu tahu apa yang kamu lakukan, dampak apa yang bisa diberikan. Kamu pasti udah bisa mikir sampai ke sana."


"Iya mbak, Iya bang, Alex ngerti kok. Kalau Alex ada masalah atau butuh bantuan, Alex akan bilang ke kalian, sekarang kalian masuk aja tuh, kasihan anak anak gak ngerti obrolan ini malah harus mendengar juga. Alex antar sampai sini aja ya, Alex mau langsung pulang juga," ujar Alex yang diangguki oleh mereka.


Akhirnya Radith dan Lira masuk ke cek tiket dan bagian boarding, karna pesawat mereka sudah ada tinggal menunggu waktu untuk landing. Radith dan Lira serta Sean masuk ke Bagian ekonomi pesawat ini. Yah, karna jaraknya dekat dan mungkin hanya memakan waktu satu jam, Radith tak mau repot repot atau boros dengan membeli tiket first class. Toh rasanya akan sama saja karna singkatnya perjalanan, dia mendudukkan Sean dan Zia, memasangkan mereka sabuk pengaman lalu duduk di tempatnya dan melakukan hal yang sama.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di pulau Dewata yang indah dan mereka rindukan. Radith turun dari pesawat dan berjalan ke arah tempat parkir. Dia langsung disambut oleh beberapa pengawal yang langsung membawakan barang mereka, lalu meminta mereka masuk ke dalam mobil dan mereka pergi dari sana. Wajah mereka tampak tak biasa, membuat Radith jadi tak nyaman, dia merasa ada sesuatu yang salah dengan mereka.

__ADS_1


"Kalian kenapa? Kenapa wajah kalian tampak pucat dan tidak tenang? Apa sudah terjadi sesuatu selama aku pergi dari Bali?" Tanya Radith dengan wajah serius. Mereka seperti tersedak, membuat Radith yakin mereka sedang gugup dan menyembunyikan sesuatu darinya. Dia tak suka mengulang pertanyaan dan mereka tahu itu, mereka saling pandang seolah meminta agar rekan mereka yang memberi penjelasan.


"Kalian suit, yang menang beritahu saya," ujar Radith memutuskan. Karna dia tahu mereka hanya akan saling pandang sampai dia turun di depan rumahnya jika dia tak segera memberi keputusan itu. Mereka melakukan seperti yang Radith minta. Lelaki itu langsung menunggu siapa yang menang dan orang itu akan bercerita pada Radith. Lelaki itu bingung apa yang sudah terjadi sampai mereka setakut itu untuk mengatakannya pada Radith dan Lira.


"Eum, rumah pak Radith kemasukan maling. Salah kami karna kamu pikir pak Radith pergi, jadi kami sedikit santai karna pak Radith sudah aman dengan pengawal khusus. Tapi ternyata maling berhasil masuk pak waktu bapak, ibu dan tuan muda pergi mencari nona muda pak," ujar pengawal itu yang membuat Radith menghela napas.


Baginya, benda benda itu tak jauh lebih berharga dari orang orangnya, jadi selagi mereka selamat, harta di rumahnya tidak akan dia begitu pedulikan, karna dia juga tidak suka pemborosan dalam hal benda atau uang di rumah, Lira sendiri pun bukan orang yang suka mengoleksi barang mewah, dia lebih suka membaca buku elektronik atau mengoleksi gantungan kunci yang lucu baru baru ini.


"Tapi pak, yang aneh, tidak ada barang yang berpindah dari tempatnya. Saya tidak tahu dengan kamar kalian karna dikunci, tapi yang jelas rumah tetap rapi, hanya pot di teras bergeser, itu yang membuat kami sadar rumah sudah dirampok, tapi sisanya tidak ada yang aneh pak, bu, jadi kami takut itu bukan rampok biasa."


"Sayang, coba kamu telpon Andre dan pastikan kalau cewek itu sudah benar benar mati. Karna kalau dia mati, seharusnya teror sudah berhenti, tapi kalau ini ada teror lagi, ya apa ada kemungkinan tuh cewek masih hidup? Kalau memang sudah mati, kita bisa anggap itu cuma rampok iseng aja," ujar Radith yang dilakukan oleh Lira.


Lira nenelpon Andre dan mengatakan beberapa basa basi sebelum membahas tentang rumah Radith yang dirampok dan ingin memastikan jika wanita itu mati. Andre pun memastikan jika wanita itu sudah mati, bahkan dia punya video gadis itu masuk ke dalam peti dan peti dimasukkan ke dalam tanah. Lira dan Radith pun menganggap itu perbuatan Rampok.


"Gak usah terlalu dipikirin sayang, kalau ada apa apa, aku yang maju paling depan buat jaga kita semua. Aku gak akan biarin kamu, Zia dan Sean hidup menderita lebih lama. Aku juga udah capek mainan kayak gini, main mafia mafia an, gak seru," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Dia melihat ke arah belakang dan mendapati Zia dan Sean sedang bermain.


"Seketika aku lupa kalau di belakang ada anak anak, untung mereka gak dengar dan gak dong apa yang kita omongin. Aku gak bisa bayangin gimana kecewanya Zia kalau tahu hal ini, ya udah lah ya, gak usah diceritain lagi," ujar Lira yang sejenak lupa lagi jika Zia ada di sana dan hampir saja dia menyebutkan nama Greselyn di sana.


"Udah, yang penting kita sampai di rumah, istirahat, terus belajar. Zia, nanti kalau kamu butuh bu guru yang bisa bantu menjelaskan, kamu bilang ke Papa ya, nanti papa carikan guru yang baik buat kamu. Sean juga begitu ya, kalau ada kesulitan, tanya aja ke Papa atau Mami, oke?" Tanya Radith yang diangguki oleh keduanya. Mereka sudah sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar mereka.


"Aaaaaa!!!" Teriak Zia yang sangat nyaring. Membuat Radith, Lira, Sean bahkan pengawal langsung berlari ke arahnya. Setelah Radith membuka pintu yang setengah tertutup, dia langsung menarik tangan Zia dan Sean untuk menjauh dari sana. Dia meminta Lira untuk menenangkan kedua anak mereka di kamar Radith.


Baru saja membuka pintu, Lira bisa melihat hal yang serupa dari kamar Zia. Dia langsung mengajak Zia dan Radith duduk di ruang tamu. Dia mencari pengawal dan meminta mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun bahkan pengawal tak tahu dan ikut bingung dengan apa yang terjadi. Radith dan Lira makin panik, mereka berpandangan satu sama lain dan menatap ke arah anak anak mereka.

__ADS_1


"Ada anjing mati di kamar Zia dan kamar aku, kemungkinan semua kamar ada isi yang sama. Kalau memang dia sendirian, dia gak mungkin membunuh anjing hidup dan masuk ke kamar kita buat taruh itu sebagai teror. Berarti dia sudah bawa anjing yang mati dan membawa ke kamarnya Zia, tapi kalau bawa sebanyak itu, masak pengawal gak ada yang tahu?" Tanya Radith heran dengan sorot mata Lira


Entah sudah berapa lama, Radith memang sering melakukan itu, saat dia buntu, butuh masukan atau butuh ide, dia hanya melihat ke arah Lira terutana bagian mata, dia akan mendapatkan ide yang cukup bagus untuk dilakukan, namun kali ini bahkan sorot itu tak cukup untuk menaikkan pikirannya.


"Dah lah, gini aja, saya lagi capek banget, Lira juga. Tolong panggil orang atau kalian sendiri sebagai tanda penyesalan. Kalian bersihkan kamar kamar itu sampai benar benar bersih ya, saya dan anak anak mau tidur di luar aja hari ini, agak seram kalau harus di rumah," ujar Radith yang diangguki oleh mereka.


"Kenapa tuan dan Nyonya malah mau makan di luar? Di dalam saja, kalian akan jauh lebih aman kalau ada di dalam rumah dengan banyak pengawal yang melindungi. Jika tuan tidur di luar, bukankah kesempatan mereka melakukan hal yang jahat makin besar? Saya rasa itu bukan ide yang baik," ujar pengawal itu yang membuat Radith menyipitkan matanya.


"Namamu siapa?" Tanya Radith dengan wajah bingung. Orang itu tak menjawab, hanya diam menatap ke adah Radith. Radith menganggukkan kepalanya dengan respon itu, jika orang itu memberitahukan namanya pada Radith, itu berarti mereka mata mata karna tidak tahu kode etik di sini, mereka tidak boleh menyebutkan nama mereka di depan Radith.


Selain Andre dan beberapa orang lain, mereka semua tidak boleh menyebutkan namanya di depan Radith, mereka hanya perlu mengatakan hal hal yang diminta okeh Radith yang tentu saja berkaitan dengan pekerjaan dan nama bukanlah jenis pekerjaan yang harus mereka sampaikan di depan Radith.


"Jika saya sudah membuat keputusan dan tidak meminta saran kamu, jangan menyela dan mengatakan saran yang tidak perlu. Aku tidak melihatmu sebelumnya, seperti seseorang yang asing, apa kau orang baru atau kau dibawa oleh seseorang dari pengawal?" Tanya Radith yang membuat orang itu terdiam dan berlutut untuk mohon pengampunan Radith.


"Sudah, saya tidak ada waktu, jadi lakukan tugasmu sesuai perintah dan jangan banyak pertanyaan, atau kau akan dicurigai sebagai mata mata atau rencana pembunuhan terhadapku, jadi yah, lebih baik tidak.


"Aku gak nyangka baru pulang kita udah di sini dan Sean Zia harus sekolah besok. Apa harus beli seragam baru lagi? Kok sayang banget sih uangnya," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, dia juga tak tahu siapa lagi yang akan mengambil kebahagiaan mereka saat ini.


"Aku akan coba cari tahu, karna dia bisa membawa barang sebanyak ini ke rumah ini, tanpa ketahuan pengawal. Dia pasti bukan orang sembarangan," ujar Rsdith yang diangguki oleh Lira.


"Semoga ya, aku udah capek sama semua, aku pengen kita hidup seperti keluarga biasa, kayaknya susah banget," lirih Lira yang diangguki oleh Radith.


"Maaf dan sabar ya, aku akan usaha," ujar Radith yang mencium bibir Lira singkat untuk mengakhiri percakapan ini

__ADS_1


__ADS_2