Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 61


__ADS_3

Radith pergi ke rumah wanita itu dan melihat ada sebuah foto anak kecil di sana. Dia makin merasa tidak karuan, dia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian yang orang itu sebutkan, tapi jika memang itu perbuatannya, apa yang harus Radith lakukan? Bahkan baru sehari dia menikahi Lira secara resmi, apakah dia harus langsung melukai istrinya?


"Ah, kau datang tuan, aku kira kau tidak akan datang. Apa kau mau masuk? Atau kau hanya akan membawa anakku untuk tes DNA? Apa yang akan kau lakukan untuk meyakinkan dirimu, lakukan saja, aku tidak berada dalam posisi yang salah, jadi aku tidak takut apa apa," ujar wanita itu yang membuat Radith makin terdiam, jika parasit mendekatinya, mereka akan mengontrol Radith melakukan apa yang mereka minta.


Namun kini berbeda, wanita ini benar benar membiarkan Radith mencari tahu kebenarannya sendiri, sehingga tidak ada indikasi dia akan dijebak atau bukti akan dipalsukan. Wanita ini sangat tenang, namun juga lugas, sehingga Radith tidak bisa membantah atau sekadar berpikiran buruk padanya, Radith makin frustasi saat otaknya berpikir semua ini mungkin saja benar dan nyata.


"Apa aku bisa bertemu dengan anak itu dulu? Baru aku berpikir apa yang akan aku lakukan?" Tanya Radith pelan, dia sudah terlalu lemas untuk bisa berucap dengan keras, wanita itu langsung mempersilakan Radith untuk masuk, dia masuk ke salah satu kamar yang ada di sana dan keluar dengan seorang anak perempuan berusia 5-6 tahun, Radith bisa melihat anak itu mungkin seumuran dengan Sean, atau mungkin lebih muda sedikit.


"Kau lihat, betapa beruntungnya anak laki lakimu bisa hidup dalam kemewahan dan serba ada sementara anak perempuanmu hidup dalam kesulitan di rumah yang sangat sederhana ini. Jika kau memang seorang pria dan ayah uang baik, seharusnya kau bisa terketuk dan bertobat setelah mengetahui kondisi anak perempuanmu," ujar wanita itu yang tidak begitu digubris oleh Radith, lelaki itu hanya fokus pada anak permpuan kecil yang manis.


"Hai gadis cantik, bagaimana kabarmu? Apa kau dalam keadaan yang baik?" Tanya Radith dengan ramah dan riang. Anak itu tampak takut dan langsung bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Anak itu tampak tidak mau mendekati orang asing. Radith merasa janggal di hatinya melihat anak itu menjauhinya, seolah ada sisi dalam hatinya yang kecewa, padahal ini pertama kalinya dia bertemu dengan anak perempuan ini.


"Nama kamu siapa cantik?" Tanya Radith dengan lembut. Anak itu menatap ke arah ibunya, dan wanita itu mengangguk, membuat anak itu kembali menatap Radith dan membuka mulutnya walau belum mengatakan apa apa, sepertinya dia masih ragu untuk menberitahu Radith.


"Zia, Agatha Zia Cramilla," ujar anak itu dengan suara khas anak kecil. Radith langsung merasa hangat saat anak itu mau membuka mulut dan bersuara di hadapannya. Dia langsung mengulurkan tangannya dan memeluk anak kecil itu dengan hangat, dan anehnya, anak kecil itu tidak menolak sama sekali, justru membalas pelukan Radith.


"Zia, ikut om sebentar mau? Zia bantu Om buat cari tahu sesuatu, Nanti kalau ada bukti apapun itu, Zia bakal dapat apapun yang Zia mau. Om bakal kasih banyak hadiah kalau Zia mau bantu Om dan Mama," ujar Radith yang membuat Zia kembali takut, dan memegang tangan mamanya, namun Mamanya memberi pengertian kepada Zia agar tidak takut pada Radith.


"Zia, om ini orang baik, om ini teman mama yang sangat baik nak, Zia gak papa kalau mau ikut sama Om, nanti dibelikan hadiah juga sama Omnya, tapi kalau Zia gak mau juga gak papa sayang, mama tidak akan memaksa," ujar wanita itu yang membuat Zia kembali menatap ke arah Radith sambil mengulurkan tangannya.


"Terima kasih Zia, terima kasih sudah mau bantu Om, kita berangkat sekarang, setelah itu kita main yah, om akan belikan apapun yang Zia minta. Zia mau apa? Mau mainan? Baju princess? Atau apa?" Tanya Radith antusias sambil berjongkok agar tingginya dan Zia sama.


"Zia mau beli makanan untuk oma saja, kasihan Oma belum makan," ujar anak itu dengan polos. Radith merasa anak ini anaak yang baik dan meski Radith membenci cara orang itu membobol rumahnya dan membuat Sean dalam bahaya, dia tidak bisa mengelak bahwa wanita itu merupakan ibu yang baik bagi Zia.

__ADS_1


"Ya sudah, kita pergi dulu ya, nanti kita omongin lagi di jalan. Bilang dada dulu sama mama, Kiss bye juga," pinta Radith yang langsung dilakukan oleh anak itu. Radith menghela napasnya saat melihat anak itu, namun dia masih ingin mendapat jawaban yang pasti, dan jujur saja, dalam hatinya dia berharap anak ini bukan anaknya, dia tetap akan mendapat beasiswa, dia akan berkuliah karna Radith langsung menyayanginya saat oertama kali bertemu.


"Kenapa kita ke rumah sakit? Apa Zia melakukan kesalahan? Apa Zia membuat Om marah? Maafkan Zia, ampuni Zia, jangan bawa Zia ke rumah sakit, Zia gak mau masuk, Zia benci rumah sakit," ujar anak itu saat melihat dan sadar mereka ada di rumah sakit dan sedang parkir. Radith tentu heran dan terkejut, apakah anak ini memiliki trauma di rumah sakit?


Radith akan bertanya tentang hal itu lagi nanti, sekarang dia lebih ingin fokus dengan tes DNA yang akan dia lakukan. Dia akan berkonsultasi dengan dokter pribadinya untuk hal ini dan meminta hal ini di rahasiakan, apapun hasilnya, dia tidak bisa memhuat publik tahu tentang masalah ini, dia harus bisa membungkam semua berita yang akan dan mungkin sudah tersebar.


"Kita akan memulai tes dengan dua sample dan nanti akan ada hasil, jika keduanya menunjukkan keidentikan, maka anak ini benar benar menjadi anakmu. Tapi jika salah satu negatif, kita bisa melakukannya lagi untuk memastikan dan tahu mana yang kebih akurat, apa anda yakin akan melakukannya?" Tanya dokter pada Radith yang tampak gelisah, namun pria itu tetao menganggukkan kepalanya.


"Ya dokter, silakan lakukan sesuai prosedur, saya tidak akan menganggu atau apapun itu, yang jelas tolong pastikan hasilnya akurat, itu saja," ujar Radith yang diangguki oleh dokter itu. Dokter itu membawa sample rambut Radith dan anak kecil perempuan itu serta darah mereka, Radith menunggu dengan cemas, dia lupa di sana ada anak kecil yang terus memperhatikannya dengan takut.


"Maafkan Om udah ajak kamu ke sini, kamu kalau gak mau ada di sini, Om bisa antar kamu buat pulang, tapi nanti kalau kamu pulang, Om gak jadi belikan kamu es krim dan makanannya dalam mobil seperti yang Om sebutkan dltadi, heol, sayang sekali," ujar Radith yang mencoba untuk mencairkan suasana tegang di sana.


Radith harus menunggu dia jam untuk hasilnya. Dia meminta dokter menjaga kerahasiaan dan benar benar bertindsk jujur, dia juga meninggalkan banyak pengawal di rumah sakit agar tidak ada yang bisa berbuat curang mengenai hasil tes DNA ini, dia membawa Zia untuk pergi dari rumah sakit dan melaksanakan janjinya, membelikan apapun yang Zia mau.


"Zia, kamu pernah bertemu Papamu?" Tanya Radith saat mereka sudah ada di dalam mobil, Zia mengerutkan keningnya bingung, seolah apa yang Radith tanyakan adalah kata yang baru dia dengar, padahal kalimat itu sudah umum di Indonesia ini, kenapa anak itu seperti bingung dengan apa yang Radith katakan?


"Mama Zia namanya Grace? Yang tadi sama Zia ya?" Tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Anak itu tampak ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi, sebaliknya, dia malah jadi menunduk diam dan memalingkan wajahnya dari Radith, membuat pria itu merasa aneh, namun tidak berpikir lebih tentang hal ini.


Mereka sampai di sebuah pusat perbelajaan yang ada di kota itu, di sana terdapat banyak barang, makanan, dan bahkan tempat bermain untuk anak anak, Radith merasa tempat ini sangat cocok untuk anak kecil seperti Zia. Walau yang di lihat oleh Radith saat ini adalah Zia yang seperti bingung melihat Mall, bagaimana anak ini hidup biasanya? Itu yang membuat Radith bertanya tanya saat ini.


"Apa Zia tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?" Tanya Radith yang sudah menggandeng anak kecil itu. Anak itu hanya memiliki tinggi sebatas pinggang Radith, berbeda dengan Sean yang cukup tinggi karna dia mewarisi Gen papa Mamanya yang juga tinggi semampai serta mempesona semua mata yang memandang ke arah mereka.


"Tidak, Zia tidak pernah. Tempat ini besar sekali, dan banyak hal di sini. Apa di sini ada yang berjualan es krim? Zia ingin es krim," ujar Zia yang diangguki okeh Radith. Lelaki itu membawa Zia menuju kedai Es krim yang cukup terkenal karna juga menjual ayam dan beberapa menu lain yang cukup terkenal di Indonesia.

__ADS_1


"Tolong berikan es krim coklat untuk saya dan es krim Stobery untuk anak ini," ujar Radith setelah mengantre sebentar. Mereka menunggu pesanan sambil duduk di dekat patung badut yang sebenarnya menyeramkan, namun Zia malah seperti penasaran dan memegang pegang patung itu. Radith merasa gemas dengan tingkah gadis kecil ini, berbeda dari anak yang Radith temui.


Mereka memakan es krim itu dengan tawa Radith yang mengembang karna anak ini memakan dengan nikmat, bahkan anak ini berkata dia tidak pernah memakan es krim seperti ini sebelumnya. Dia hanya bisa membeli es krim dengan harga 3-5 ribu saja karna Mamanya hanya punya uang sejumlah itu untuk dia pergi membeli jajan.


"Ya sudah, kamu bisa memakan banyak Es krim berapapun yang kamu mau, tapiii jangan sampai kamu jadi pilek, Om gak mau kalau nanti kamu keluar ingus, hiii," ujar Radith berpura pura jijik, namun anak itu paham maksud Radith dan hanya tertawa karna Radith terlalu ekspresif saat berbicara tentang hal jijik ini.


"Kamu mau membeli yang lain, apa kamu mau tas? Atau sepatu? Atau mau maju baru?" Tanya Radith yang diangguki oleh gadis kecil itu. Gadis kecil itu memang ingin semua benda yang ada di sini, namun dia juga tidak berani meminta pada Radith, jadi dia hanya akan menerima apapun yang Radith berikan untuknya.


"Tapi, Zia tidak sekolah. Mama bilang Zia tidak bisa sekolah karna memang mahal, jadi Zia tidak perlu tas atau sepatu, bolehkah diganti dengan baju untuk Mama dan Oma?" Tanya Zia antusias. Radith menganggukkan kepalanya dengan semangat mendengar permintaan itu, dia tidak menyangka Zia memiliki jiwa sosial yang tinggi.


"Zia beli tas dan sepatunya saja ya, nanti Om yang akan bawa Zia untuk sekolah, oke? Zia akan belajar yang rajin dan buat Om bangga sudah membuat keputusan ini, kamu mungkin gak ngerti apa yang Om bicarakan, tapi yah, semua kamu sukses dan bahagia ya Zia," ujar Radith sambil mengelus kepala Zia pelan.


Setelah puas berbelanja, Radith membawa Zia kembali ke rumah sakit, anak itu langsung menggenggam tangan Radith dengan erat saat tahu mereka masuk lagi ke dalam rumah sakit. Radith tak banyak bicara, dia langsung menggendong anak itu untuk membuat anak itu merasa aman, sementara Zia langsung menyender di pundak Radith.


"Hasilnya sudah keluar, mari kita buka dan lihat sama sama ya Pak," ujar dokter itu yang mengajak Radith untuk ke ruangannya dan mereka membukanya bersama, jadi tidak ada yang bisa mengganggu atau mengubah isi dari hasil tes itu. Radith juga meninggalkan Zia bersama salah pengawalnya agar aman.


"Berdasarkan hasil tes DNA, ada sekitar 98 persen kemiripan DNA, yang artinya anak itu benar anak bapak, anak kandung bapak," ujar dokter yang menbuat Radith bagai tersambar petir. Dia tidak menyangka jika anak itu akan menjadi anaknya. Jika dia memang bukan anaknya, Radith memang sudah berencana untuk melakukan hal ini, menyekolahkan anak ini sampai sarjana atau bahkan lebih tinggi dari itu.


"Apa tidak ada kesalahan dok? Apakah tes ini benar benar akurat?" Tanya Radith memastikan sekali lagi, dan dokter itu mengangguk yakin karna memang alat dan metode yang dia gunakan sudah sangat canggih dan peka jika ada kesalahan, meski begitu, mereka tetap harus mengawasinya sendiri.


"Bukankah itu bagus? Anda mendambakan anak perempuan juga kan? Apakah anda ragu ini anak anda karna Nyonya... ah maaf, itu di luar kapasitas saya, jadi saya tidak akan melanjutkan. Itu saja yang bisa saya katakan," ujar dokter dengan gugup.


"Ya, seharusnya saya bahagia jika dia memabg anak saya, anak kandung saya terima kaish dokter, saya hanya syok dengan hal ini," ujar Radith yang membuat dokter itu tertawa.

__ADS_1


"Tenang saja, dia anak yang terlihat baik, dan dia perempuan, walau kau harus memberi perhatian eksrtra, kau juga akan tahu apa bakat anak itu yang sebenarnya," ujar dokter itu memberikan semangat pada Radith.


"Terima kasih dokter, terima kasih banyak," ujar Radith lemas setelah tahu dan memastikan fakta ini.


__ADS_2