Bossy Bos

Bossy Bos
bab 50


__ADS_3

"Ra, gimana ajakan aku yang kita nikah? Aku udah pengen nyiapin semua. Dalam nama Tuhan, aku udah bisa nyiapin apa yang diperlukan Sean, udah nabung juga aku khusus buat pendidikan dia, aku rasa gak baik kalau kita terlalu lama kumpul sapi begini," ujar Radith yang sebenarnya tak yakin Lira akan mau, tapi dia akan terus mencoba.


"Kamu tahu kan kalau aku masih ada diagnosis Bipolar? Kamu memang mau punya istri yang Bipolar? Kamu gak takut kalau jadinya kayak artis siapa tuh yang bipolar sampai cerai sama suaminya? Aku gak mau kayak gitu," ujar Lira yang tak membuat Radith menyerah, jika dia akan menyerah dengan satu tolakan, dia tidak akan membawa Lira dan Sean ke rumah ini.


"Aku gak masalah, aku udah belajar dan bakal terus belajar. Mungkin ada saat dimana kita bakal bertengkar hebat, tapi asal kita bisa komitmen untuk gak mengucap kata pisah, kita pasti bisa lewatin semua. Lagipula penyakit Bipolar bukan penyakit yang gak bisa sembuh atau penyakit yang menular, kenapa kita harus takut sama dia?" Tanya Radith yang membuat Lira terdiam.


"Kamu benar, ini memang gak menular, dan pasti bisa sembuh. Tapi bagaimana kalau setelah kita menikah, semua tekanan itu bikin aku tambah stres dan malah jadi gak sembuh sembuh? Sekarang aja aku ngerasa tertekan banget loh kamu tanya soal nikah mulu di depanku, terus kalau nanti ke depannya makin stres gimana?" Tanya Lira yang kini membuat Radith diam dalam sesaat.


"Ya, aku sebenarnya gak ada masalah kalau kamu memang menolak, tapi kalau alasan kamu karna hal itu, aku akan terus memperjuangkan kamu, karna aku akan berusaha semaksimal mungkin buat gak bikin kamu stres, aku bakal bantu kamu buat sembuh, aku pengen kita kayak keluarga lain yang saling melindungi, saling menjaga dan saling menopang, apa kamu gak mau keluarga yang kayak gitu?" Tanya Radith yang membuat Lira gundah. Wanita itu merasa perkataan Radith benar adanya.


"Oke, kalau memang begitu, semoga aja ini memang yang terbaik buat kita, walau entah kenapa perasaan aku gak enak kalau kita hsrus buru buru menikah begini, aku ngerasa ada yang mengganjal aja, apalagi kondisi aku lagi begini," ujar Lira yang sedikit khawatir. Radith menenangkan wanita itu dengan mengelus kepalanya, meyakinkan Lira bahwa semua akan baik baik saja.


"Kamu mungkin cuma khawatir aja, dan kita gak buru buru, kita butuh 5 tahun untuk sampai di titik ini, dan aku mau kita menyelesaikan masa lajang kita, dengan kamu, aku dan Sean yang jadi keluarga bahagia, kamu mau kan percaya sama aku dan bersama aku kita raih semua itu? Karna jika hanya satu kaki melangkah, pasti akan terasa berat, kita butuh dua kaki yang bergerak berirama untuk menghasilkan langkah yang nyaman dan cerah."


"Ya, kalau memang kamu yang disiapkan Tuhan buat aku, aku gak akan membantah apapun, tapi semoga aja semua feelingku seperti apa yang kamu katakan, semua mungkin karna kita terlalu rumit dan banyak yang udah terjadi, aku cuma takut aja. Melihat kamu kayak gini menambah keyakinan aku juga kalau kita memang bisa lakukan ini sama sama, sekarang kita fokus saja ya sama persiapan pernikahan sampai final."


Mereka tersenyum satu sama lain, Lira menyender di pundak Radith dan lelaki itu merangkulnya. Lira memainkan ponselnya dengan sibuk, sementara Radith melihat apa yang wanita itu mainkan sampai setegang dan sesuka itu, namun lelaki itu tidak tahu apa manfaat dari game yang mereka gunakan. Radith tidak mau ambil pusing dan memilih untuk memainkan ponselnya juga.


Sean yang baru bangun dari tidur siang ikut menidurkan dirinya di antara Lira dan Radith. Mereka seperti keluarga kecil pada umumnya saat ini, padahal moment seperti ini cukup langka bisa didapatkan oleh keluarga Ini, karna kesibukan Radith yang tidak masuk akal. Lelaki itu hanya fokus pada ponselnya, namun tangannya mengelus kepala Sean yang masih mengantuk, membiarkan anak itu untuk tidur lebih lama.


"Nak, kalau kamu tidur siangnya kelamaan, kamu nanti gak bisa tidur malam loh, terus besok kamu gak bisa bangun pagi buat sekolah, ayo bangun, main sama Papa, kamu mau main Apa, nanti pasti papa carikan, atau papa belikan, atau kita bisa main sama sama," ujar Radith yang membuat Sean membuka matanya dengan lebar. Dia menatap ke arah Radith dan Lira bergantian, lalu fokus pada Radith yang tentu membuat Radith bingung.


"Kenapa Uncle Ayah bilang Papa? Apa Uncle ayah udah menikah sama mama? Kenapa Sean tidak diundang di pernikahan kalian? Kalian tidak sayang Sean ya?" Tanya Sean dengan wajah sedih yang menggemaskan. Radith tertawa mendengar ocehan itu, dia sudah terbiasa dengan sebutan uncle ayah, jadi dia membiarkan saja dan memberikan waktu tak terbatas bagi Sean untuk terbiasa memanggilnya Papa, dia tidak mau memaksa Sean.


"Mulai sekarang, Uncle Ayah adalah Papa kamu, sebentar lagi Mama kamu akan menikah dengan Papa, karna Mama kamu sudah cinta sama Papa, dan mau menjadi istri Papa, kamu akan menjadi anak Papa dan kita akan hidup bahagia, kamu mau kan hidup bahagia bersama Papa?" Tanya Radith yang membuat Sean terdiam. Diamnya anak itu membuat Radith merasa tidak enak, dia merasa sudah membebani Sean.

__ADS_1


"Eum, asal Mami bahagia, Sean akan bahagia. Tapi uncle - ayah jangan sampai membuat Mami sakit, nanti kalau sudah besar nanti Sean bisa pukul papa kalau nanti mami bisa kasih racun untuk Uncle-ayah," ujar Sean yang sejujurnya membuat suasana di sana menjadi lebih berwarna. Radith tertawa dan mengangguk, berjanji pada Sean mereka akan hidup bahagia di Indonesia.


Yah, sebenarnya Lira dan Radith ingin tinggal di Singapura yang wilayahnya lega dan disiplin. Tidak banyak asap dan bahkan parkir di sana ada tiket resminya, Lira ingin hidup bahagia dan terbib, jadi dia ingin tinggal di daerah yang tenang dan tidak rawan dengan pencurian atau hal hal yang merugikan mereka. Namun sepertinya akan sulit karna Radith yang sudah memiliki posisi di sini, dia tidak bisa pergi seenak hatinya.


"Papa janji, kita akan menjadi keluarga yang bahagia, apapun caranya. Yang penting Mama kamu, Kamu dan Papa, kita bisa hidup aman dan damai. Ah ya, kalau kamu pikir Bali kayak udah gak seru gitu, kita pergi ke lombok aja, sepertinya itu juga bagus, kita kan mau cari suasana baru, ya ke sana aja," ujar Radith yang diangguki singkat oleh Lira karna wanita itu sibuk sekali dengan ponselnya hanya dia biarkan saja.


"Hmmm, ternyata di duakan dengan hal yang tidak nyata itu gak enak juga ya," ujar Radith pelan karna tidak mau mengganggu Lira. Dia memilih untuk bermain dengan Sean dan mengeluarlan kotak mainan anak itu agar mereka bisa main bersama.


*


*


*


"Bro, Gue minta tolong bantu Lira sampai sembuh ya, gue cuma bisa berharap dan percaya sama Lo aja, makasih udah mau bantuin Gue, Gue udah hutang budi banget sama Lo jadinya, sekali lagi makasih ya," ujar Radith yang diangguki oleh Hafiz. Tentu saja lelaki itu tidak keberatan karna Radith adalah temannya, dan lagi, dia dibayar untuk menyembuhkan Lira, jadi tidak ada ruginya kan? Malah ini pekerjaannya.


"Gue senang kalau Lo bisa percaya sama Gue, Gue juga bakal kasih yang terbaik buat Istri Lo ini. Tapi Lo juga ounya peran penting Bro, karna apa yang terjadi sama dia itu juga ada kaitannya sama Lo. Dan apa yang membuat dia sembuh, ya berdasarkan apa yang Lo buat juga, jadi ya Lo harus bantu gue juga," ujar Hafiz yang diangguki oleh Radith.


Lelaki itu mendapat panggilan telpon dan langsung mengangkatnya, lalu meninggalkan Hafiz agar lelaki itu bisa fokus pada Lira. Wajah Radith langsung serius saat mendapatkan panggilan itu. Dia tampak gelisah dan sedikit frustasi, dia menjawab dengan lirih karna takut ada yang mendekat atau mendengar apa yang dia katakan. Radith tampak bingung setelah panggilan itu berakhir.


"Mati gue, gue harus gimana ini? Kalau gak gue ambil, kemungkinan bangkrut Gue akan semakin besar. Tapi kalau gue ambil, astaga, nanti anak bini gue gimana coba?" Tanya Radith pada dirinya sendiri karna dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dia masih memiliki banyak masalah, dia tidak bisa membahayakan Lira dan Sean, namun dia juga tidak bisa melepaskan kesempatan ini.


"Oke Dith, Lo harus bisa bilang ke Lira. Ini demi masa depan keluarga Lo juga. Semoga aja Lira bisa paham dan kasih ijin. Astaga, belum bilang aja udah rasanya takut duluan," ujar Radith yang lesu karna membayangkan wajah marah Lira. Dia tidak bisa menerima kemarahan wanita itu karna apa yang Radith lakukan, suasana hatinya, berdasarkan apa yang Lira berikan.


Setelah selesai terapi pada hari ini, Radith sering terdiam dan tentu membuat Lira menjadi curiga. Lelaki itu terlalu diam untuk seorang yang biasanya mengajak Lira mengobrol banyak hal. Lira langsung menyikut lengan Radith, memberi kode lelaki itu untuk bicara, namun nyatanya lelaki itu masih tidak mau bicara apapun.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Ada masalah ya selama tadi aku terapi? Apa ada yang terjadi? Cerita sama aku, dan jangan bohong, kamu tahu pasti kalau kamu gak bisa bohong dari aku," ujar Lira yang membuat Radith makin terdiam. Dia segera meminggirkan mobilnya dan menatap ke arah Lira, menyusun kalimat untuk memberi tahu Lira agar wanita itu tidak kaget.


"Sayang, aku mau bilang. Kalau papanya bang Jordan ngajakin aku buat bisnis, tapi ini bisnis abu abu gitu, lumayan banget yang ditawarinnya, tapi ya berarti aku gak bisa pulang ke rumah sampai bisnis ini selesai. Kalau menurut kamu, aku harus gimana? Aku bener bener bingung, aku gak mau mengerjakan sesuatu kalau gak dapat ijin dari kamu."


"Bukannya kamu udah mutusin buat selesai dalam bidang begini? Perusahaan emang lagi buruk kah sampai kamu begini? Lagi butuh banyak uang ya? Aku perlu kerja?" Tanya Lira yang langsung pada intinya, membuat Radith seoerti tertembak dalam batinnya. Dia menghela napasnya panjang, tidak bisa menyembunyikan masalah ini lagi.


"Ya, sebenarnya ada sedikit masalah keuangan, aku sebenernya yakin masalah ini bisa selesai, aku udah ngumpetin ini dari pegawai lain, biar yang tim inti yang mikir, karna omset perusahaan utamanya menurun, jadi semua terpengaruh. Nah, dengan aku ikut Om Wilkinson ini, aku bisa dapat modal lagi yang lebih besar, bahkan aku bisa bikin perusahaan baru."


"Lah, terus yang bisnis properti sama cewek yang teman kamu itu? Gak jadi? Kamu tuh kenapa gak mau cerita sama aku sih? Aku kan bisa bantu kamu, paling gak bantu mikir," ujar Lira yang mulai tersulut. Radith menghela napas dan menatap Lira dengan wajah sedihnya, menatap Lira dengan mata yang dimelas melaskan.


"Maaf, aku gak mau kamu dan Sean ikut pusing mikir masalah kerjaan. Aku mau masalah kerjaan dan masalah keluarga itu jadi dua hal yang berbeda," ujar Radith yang kini membuat Lira menjadi ikut merasa bersalah. Dia kira Radith sudah hidup dengan nyaman dan enak makanya lelaki itu berani meminta Lira untuk tidak bekerja, namun ternyata lelaki itu memiliki beban yang besar juga.


"Kalau memang itu satu satunya cara, gak papa, kamu ambil aja. Aku sama Sean di rumah kita yang di Bali, kamu nanti kamu kemana, asal kamu kabarin aku aja. Aku gak mau jadi janda sebelum menikah, kan gak lucu," ujar Lira yang membuat Radith terkekeh sebentar. Lelaki itu menganggukkan kepalanya dengan lega karna Lira sudah memberikan ijin untuk melakukannya.


"Emang yang kali ini kamu disuruh apa? Serius ya, masalah kalian tuh kayak gak ada habisnya loh. Eum, kak Darrel juga ikut gak?" Tanya Lira dengan penasaran, karna Luna sudah memiliki anak bahkan memiliki 3 anak, jika Darrel ikut, bukankah anak Anak Luna akan berada dalam bahaya?


"Ya, dia ikut, semua ikut karna memang ini cukup penting. Lina bakal dijaga sama penjaganya tuan Wilkinson. Kamu sama Sean juga. Tapi kalian gak bisa ketemu, karna itu bakal menimbulkan kecurigaan dan malah bahaya buat kalian, Luna juga bakal dipindah ke Lombok, kamu kan di Bali, jadi gak ada yang di Jakarta," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Kapan kalian membicarakan ini? Kok udah sampai sematang itu? Sampai tahu Luna bakal tinggal dimana juga?" Tanya Lira yang kembali curiga.


"Sudah lama tapi lewat chat dan telpon. Awalnya aku nolak karna aku udah janji sama kamu. Tapi tadi aku ditelpon langsung sama Om Wilkinson, jadi aku ngerasa gak enak karna aku hutang budi banyak banget ke dia. Jadi ya gitu deh," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Ya udah, aku percaya sama kamu, aku sama Sean bakal tunggu kamu. Sekalian aku bisa pemulihan dan bisa sembuh, baru kita bisa ngomongin pernikahan," ujar Lira yang tersenyum manis.


"Makasih ya, makasih kamu udah bantu aku buat mutusin apa yang harus aku lakukan. Aku sayang sama kamu," ujar Radith sambil mengecup kepala Lira dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2