
Radith dan Sean serta Zia berjalan jalan di sekitar menara effiel. Jauh dari ekspetasinya, ternyata di sana sangatlah sesak, Ramai dan sama sekali bukan menjadi tempat yang romantis. Lebih baik bermain di taman atau pantai yang ada di Indonesia, karna jauh lebih tenang dan memiliki suasana liburan yang sebenarnya. Radith merasa jengah hanya dengan melihat kerumunan.
Setelah Zia dan Sean puas bermain, mereka segera menghampiri Radith dan meminta untuk berfoto bersama. Anna dan Beta bertugas sebagai tukang foto, jika mereka sudah selesai, giliran Anna dan Beta yang difoto, siqpapun yang tak mengenal mereka pasti menganggap mereka adalah saudara, Radith juga tidak membeda bedakan atau mengganggap mereka orang asing.
"Ah, kalian memang hebat dalam mengambil foto, sepertinya kalian akan lama berada di keluarga ini karna aku tidak akan mengijinkan kalian keluar dengan mudah jika tahu kalian punya bakat ini," ujar Radith setelah melihat hasil foto mereka. Mereka hanya tertawa malu dipuji seperti itu. Mereka memilih untuk tidak merespon apapun karna tidak mau salah bicara atau bagaimana.
"Sean juga tidak akan membiarkan mbak Anna pergi, Sean sudah sayang dengan mbak Anna. Sean gak mau pokoknya. Sean mau mba Anna tetap di sini sama Sean," ujar anak itu yang membuat Radith terkekeh, Sean memang bisa diandalkan untuk masalah seperti itu. Mba Anna sendiri hanya merasa terharu, melihat sean sungguh menganggapnya sebagai kakak.
"Kalau sayang sama mbak Annanya, Sean harusnya makin hormat sama Mba Anna, tidak menyusahkan mba Anna dan baik sama Mba Anna. Kalau sean gak baik sama mba Anna, nanti Sean ditinggal pergi sama Mba Anna. Sean gak mau kan ditinggal pergi?" Tanya Radith yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Sean.
"Kalau Sean nakal, mba Anna jewer Sean aja ya, nanti sean gak nakal lagi, tapi mba Anna gak boleh pergi, gak boleh tinggalin Sean," ujar Sean yang tentu membuat Radith merasa heran. Dia tidak pernah mengajari Sean berkata seperti itu, darimana dia belajar?
"Mba Anna? Saya tidak pernah menjewer Sean, saya juga gak pernah mengeluarkan kata kata itu, apa mba Anna tahu darimana dia belajar kata kata itu? Seharusnya sampai sekarang dia gak tahu, karna saat bersama Lira dia berbahasa Inggris, dan dia baru berbahasa Indonesia setelah bersama saya," Tanya Radith dengan pelan, namun penuh penekanan.
"Maaf pak, saya juga tidak tahu, sesuai dengan saran Bu Lira, saya tidak pernah menggunakan kekerasan sama sekali atau mengajari Sean dengan kata kata itu. Yang paling jauh saya katakan hanya 'nanti dimarahin papanya Sean', selebihnya tidak ada pak," ujar Mba Anna dengan takut. Dia tidak ingin disalahkan karna Sean belajar bahasa baru.
"Sean, kamu belajar darimana? Siapa yang kasih tahu kamu kata jewer? Memang Sean tahu artinya apa?" Tanya Radith dengan lembut. Sean menganggukkan kepalanya. Dia tampak santai dan langsung menarik telinganya sendiri namun pelan, dia melakukan itu sebagai contoh jika seseorang dijewer. Sontak saja hal itu mengejutkan Radith sekali lagi.
"Sean pernah dijewer sama guru Sean Pa, karna waktu itu Sean bermain pesawat pesawat dengan teman teman, tapi Sean naik ke atas meja, jadi Sean dijewer seperti ini oleh bu guru," ujar Sean dengan polosnya. Radith sampai melongo mendengar hal itu, dia saja tidak pernah kasar pada Sean, tentu saja dia terkejut ada orang yang kasar pada anaknya.
"Menurut mba Anna, apa perilaku Ibu guru itu pantas? Apa menurut mba Anna guru itu harus saya tegur?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh mba Anna. Hal itu membuat Radith makin bingung, padahal jelas sekali perilaku guru itu salah, kenapa Anna malah mendukungnya?
"Karna Bapak sudah percaya dan menitipkan Sean di sekolah itu, jadi bapak harus ikut dengan aturan yang guru itu buat. Apalagi jika guru itu hanya memberi peringatan pada Sean yang melanggar aturan atau tata krama, saya rasa wajar jika dihukum pak, asalkan tidak terlalu keras atau menimbulkan bekas, dan Sean juga tidak keberatan," ujar Mbak Anna dengan santai dan lugas. Radith merenungkan jawaban itu dengan seksama.
"Apa berarti aku harus diam saja dan membiarkannya? Bagaimana bisa aku diam saja saat tahu anakku disakiti oleh orang lain?" Tanya Radith yang memhuat Mba Anna mengangguk, menurutnya perilaku itu tidak salah, karna guru itu tidak menghukum sean tanpa alasan. Jika berurusan dengan tata krama, memang sudah sewajarnya ditegaskan, karna watak jauh lebih penting dari nilai.
"Jika bapak tidak bisa terima dengan tata tertib dan aturan yang ada, bapak hanya perlu memindahkan Sean ke sekolah privat, dimana bapak boleh membuat aturan sendiri. Tapi karna itu adalah sekolah umum, bapak yang harus ikut aturan sekolah itu. Selagi itu tidak melukai mental dan fisik Sean, itu baik baik saja pak," ujar Anna dengan percaya diri. Radith menatap ke arah Sean dengan tatapan kasihan.
"Sean, boleh papa minta tolong ditunjukkan dan dicontohkan kemarin Bu guru bagaimana ke Sean? Menjewer Seannya seperti apa? Kalau keras Sean juga keras ya, papa mau tau," ujar Radith yang sudah berjongkok dan Sean mengangguk. Dia memegang telinga Radith dan menariknya persis seperti yang dilakukan oleh guru itu. Dan itu sama sekali tidak kasar, bahkan lebih mirip sentuhan dan pijatan.
"Kata ibu guru, itu tadi hukuman karna Sean sudah naik ke atas meja. Dan Ibu guru itu bilang 'Sean tidak boleh melakukan itu, karna meja itu untuk menulis, bukan untuk diinjak. Sebagai ganti karna Sean sudah salah, Bu Lisa akan memberi Sean hukuman. Sini kamu, Bu Lisa akan jewer kamu' lalu dia menjewer Sean persis seperti itu pa," ujar Sean dengan santai.
Radith mengangguk puas dan senang, lalu berterima kasih pada Anna yang sudah menyadarkannya. Semua perkataan Anna itu benar, guru tidak akan menyakiti muridnya dengan sengaja. Jika ada, orang itu tidak akan pantas dipanggil dengan sebutan guru.
"Untung ada kamu yang bantu saya mikir, kalau tidak, saya akan pecat guru itu. Ah, Maksudnya akan minta guru itu dipecat karna keterlaluan, ternyata benar. Sama sekali tidak sakit dan malah seperti pijatan, aku mengerti sekarang," ujar Radith dengan tenang. Anna mengangguk senang karna bisa membantu.
__ADS_1
"Setelah ini, kita pergi ke Museum untuk Zia, lalu setelah itu kita pergi ke pangkalan luar angkasa agar Sean bisa melihat langsung dan belajar juga, oke?" Tanya Radith yang diangguki oleh mereka. Mereka langsung mengandeng tangan Radith kiri dan kanan lalu pergi ke tempat yang dikatakan oleh Radith.
Setelah sampai di Museum, Zia melihat banyak hal yang menarik. Dia bisa melihat baju baju yang unik, bahkan di antanya hanya bisa dipajang tanpa bisa dipakai sama sekali saking berharga dan langkanya barang itu. Mereka tidak boleh memotret di sana, jadi Zia hanya merekam semua yang dia lihat dengan matanya. Dia tampak senang dan puas bisa berkesempatan untuk melihat itu semua, dia merasa sangat bahagia.
“Lihat, itu baju yang sngat unik, dia membuatnya dari kulit kerang juga, dan kamu lihat deh, dia gak akan copot walau dipakai, tapi karna dia sangat unik, dia hanya dipajang di sini, cantik sekali bukan?” tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Mereka kembali berkeliling untuk melihat banyak hal unik yang ada di sana, meski ini bukan tempat yang ditujukan untuk Sean, anak itu juga merasa kagum dan senang dibawa ke tempat ini karna memang tempatnya yang bagus.
“Coba besok kalau Zia sudah selesai fokus menggambar baju, Zia coba juga untuk melukis dan menggambar hal lain seperti kartun ini, jadi selain menjadi desainer, mungkin saja kan Zia ada bakat untuk mnjadi komikus atau yang lain, pasti akan sangat keren kalau Zia punya banyak bakat seperti itu. nah, tapi, papa gak mau memaksa Zia untuk melakukannya. Selagi Zia bisa melakukannya dengan baik apa yang Zia suka, papa pasti juga bahagia,” ujar Radith yang diangguki oleh Zia.
“Untuk saat ini, boleh kan Pa kalau Zia Cuma fokus dengan menggambar baju? Karna Zia sangat menyukai baju baju yang indah. Zia mau punya baju baju yang indah itu,” ujar Zia yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu cukup senang karna Zia benar benar memiliki sesuatu yang dai inginkan. Sean melihat busana busana lelaki yang ada di sana, dia sepertinya ingin membeli baju yang seperti itu, meski itu bukan untuk anak anak, dia ingin memilikinya, namun semua keinginan itu hanya dia pendam sendiri.
“Apa Zia sudah tahu apa yang Zia inginkan? Jika Zia sudah tahu apa yang ingin Zia lakukan dan inginkan, kita keluar dan Zia bisa menggambar di perjalanan sambil kita pergi ke tempat yang diinginkan oleh Sean. Bagaimana? Apakah Zia mau melakukannya?” tanya Radith yang langsung diangguki oleh Zia. Mereka berjalan ke arah tempat foto dan mulai berpose di sana. Mba Anna dan mba Beta membantu mereka untuk mengambil foto dan Radith meminta bantuan orang lain saat mereka ingin berfoto berlima.
“Jika bertemu dengan orang tak dikenal, mungkin aku akan dikira sebagai orang aneh yang memiliki 2 istri dan anak dari masing masing istriku, namun pernikahanku bahagia dan istriku semua akur, haha, untung saja ini bukan di Indonesia, jika di Indonesia, mungkin wajahku sudah masuk ke akun instagram gosip yang terkenal dengan handphone jadul yang suka menciduk hal hal menarik dari nitizen atau artis.”
“Papa, jika mami tahu papa berpikiran atau mengatakan hal itu, pasti mami akan marah dan akan menghukum papa seperti waktu itu, iya kan? Hmm, Sean akan mengatakan pada Mami setelah sampai di rumah nanti, hahaha,” ujar Sean yang membuat Radith terkejut dan geli, sekarang anaknya sudah berani mengadu pada Lira, padahal niatnya dia hanya ingin bergurau saja, namun anaknya yang cerdas ini malah menganggapnya sungguh sungguh akan melakukan itu, tentu saja dia merasa geli mendengarnya.
“Ya sudah ya sudah, papa tidak akan begitu lagi ya, jadi kamu jangan adukan ke mami, nanti papa yang dimarahin sama Mami, nanti kasihan sama mba Anna dan mba Beta, nanti dia gak boleh kerja lagi loh, nanti Sean sama Zia siapa yang bantuin hayo? Jangan ya nak. Yok udah sekarang kita ke tempat yang Sean suka, wisata luar angkasa yang ada di negara ini,” ujar Radith yang langsung diangguki oleh Sean. Mereka pergi dari sana menuju tempat yang dimaksud oleh Radith.
Rupanya Radith membawa mereka ke Space City yang ada di kota Toulouse, Prancis. Meski mmerlukan waktu yang cukup lama, Sean tampak sangat menikmati perjalanan dan mereka sampai di sana pada pukul 14 waktu setempat. Waktu tutup tempat ini adalah pukul 17 waktu setempat, jadi mereka hanya memiliki waktu 3 jam untuk bermain. Sean lansgung merasa terpukau dengan apa yang ada di dalam sana. Radith berjalan di belakang mereka sementara mba Anna dan mba Beta menggandeng Zia dan Sean agar mereka tidak hilang.
Sean melihat banyak sekali benda luar angkasa yang menarik baginya. Dia tidak pernah melihat benda benda itu sebelumnya, jadi bisa melihatnya secara langsung tentu saja membuatnya merasa sangat terpukau. Dia melihat batu batuan luar angkasa, replika bulan dan bahkan planetarium yang sangat mengagumkan. Sean mengambil banayk foto di sana dan senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya. Zia juga tak kalah senangnya, dia melihat banyak wahana edukasi yang sangat menarik dan bagus itu.
“Papa, besok Sean akan naik itu kan pa? Besok Sean akan naik roket untuk pergi ke luar angkasa, benar kan Pa? iya kan pa?” tanya Sean dengan penuh semangat. Radith mengangguk dan membenarkan apa yang Sean katakan. Bukan hal mustahil bagi Sean melakukan hal itu selagi dia memang berniat dan mau berusaha untuk melakukannya, dia pasti bisa melakukannya.
“Kalau Sean belajar yang rajin, Sean fokus pada impian Sean, pasti Sean bisa jadi astronot yang mengagumkan, pergi ke bulan dan bawa pulang alien buat bertemu dengan mami dan papa, iya kan?” tanya Radith yang membuat Sean mengerutkan keningnya, Sean langsung emmbantah dan mengatakan di luar angkasa tidak terdapat alien dan tentu saja mereka pergi ke luar angkasa untuk mempelajari sesuatu, bukan untuk menangkap Alien saja.
“Ya sudah ya sudah, apapun itu, terserah pada Sean saja mau bagaimana, papa dan mami akan selalu mendukung Sean. Kalau nanti Sean sudah besar dan cita cita Sean tidak berubah, Papa akan kirim Sean ke negara ini untuk belajar lebih spesifik tentang luar angkasa, Sean kan sudah pandai bahasa Inggris, jadi Sean sudah punya nilai tambah jika memang ingin bersekolah di luar negeri.
“Sebelum pulang dan tempat ditutup, ayo kita nonton film di bioskop itu, sepertinya akan bagus. Ayo mba Anna, mba Beta, Zia, papa, kita nonton film di sana, itu ada pemutaran terakhir, setelah itu baru kita pulang karna Sean sudah sangat puas bermain dan melihat sekeliling,” ujar Sean yang diangguki oleh Radith, dia memang akan menuruti apapun yang Sean inginkan di tempat ini, seperti tadi dia melakukan hal yang sama pada Zia.
Mereka menonton film yang ada di sana sebelum akhirnya mereka pergi dari sana dan meninggalkan tempat itu untuk mencari makan. Radith sudah lelah, namun dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya mengingat mereka sudah sangat jarang pergi berlibur (bahkan jika diingat, mereka tidak pernah pergi ke tempat selain pantai sebelumnya).
“Apakah kalian senang hari ini? Apakah kalian puas hari ini?” tanya Radith saat mereka sudah sampai di salah satu restoran untuk makan malam. Sean dan Zia mengangguk bersamaan, mereka tampak puas dengan apa yang mereka lalui hari ini dan tentu saja mereka sangat berterima kasih pada Radith yang sudah membuat semua ini terjadi dan menjadi nyata.
“Besok kalau ada waktu lagi, kita pergi ke negara lain yang juga ada tempat serupa, atau mau ke tempat lain juga boleh biar kalian banyak belajar. Papa mau kalian mencapai apa yang kalian inginkan, jadi kalian harus capai itu ya,” ujar Radith yang diangguki oleh Sean dan Zia.
__ADS_1
"Apa Andre masih tidak bisa dihubungi? Coba cari tahu kemana dia dan kenapa dia tidak bisa dihubungi. Cari semua pengikutnya dan tahan semua pengikutnya!" Perintah Radith dengan kesal. Dia ingin segera sampai ke Indonesia. Dia bahkan merasa tak tenang meski pesawat ini privat, dia merasa tak aman dan bisa saja orang yang menganggunya ada juga di pesawat ini. Dia bisa saja merancang perangkap untuk membunuhnya.
"Kami sudah dapatkan lokasi terakhir liontin nyonya Lira. Itu ada di halaman rumah, sepertinya liontin itu dilepas dan tinggal di sana. Apa yang harus kami lakukan?" Tanya pengawal itu yang membuat Radith makin bingung. Tidak ada yang tahu jika di liontin itu terdapat GPs yang terhubung pada Lira.
"Andre, cepat cari dia sampai dapat, lacak semua lokasinya dan jangan biarkan dia pergi. Cepat! Hanya dia yang tahu liontin Lira memiliki gps, jika sampai liontin itu jatuh dengan sengaja, berarti Andre orangnya," ujar Radith dengan wajah yang serius karna marah. Dia tidak akan memaafkan Andre jika lelaki itu terlibat.
"Tuan, lokasi tuan Andre tidak bisa ditemukan karna chip yang ada di tubuhnya sudah dilepas beberapa tahun lalu, jadi kita tidak bisa melacaknya. Tuan Radith juga tidak bisa melacak pengikutnya karna hanya tuan Andre yang bisa melacak mereka, tuan Radith berikan akses penuh pada Tuan Andre untuk mengurus semua anak buahnya."
Jawaban itu membuat Radith makin marah. Dia tidak menyangka orang yang sangat dia percaya justru menjadi ancaman baginya. Dia tidak menyangka Andre akan terlibat dalam masalah ini, meski sisi lain dari dirinya masih berharap dugaan itu salah, dia ingin mempercayai jika andre tidak mungkin mengkhianati dirinya.
"Saya akan meminta pilot untuk memper epat dan segera memberi intruksi pada bandara di Indonesia agar pesawat ini bisa landing di sana. Saya akan atasi semua," ujar pengawal H yang membuat Radith memicingkan mata. Kenapa orang itu mengambil keputusan sendiri tanpa menunggu intruksi darinya? Radith tidak pernah mengijinkan hal seperti itu terjadi.
"Tangkap H, amankan dia, aku harus memastikan dia bukab orang jahat, aku akan membuat dia menyesal jika memang dia terlibat, aku akan lempar dia ke laut," ujar Radith dengan tenang namun menyeramkan. B yang diberi perintah langsung menyergap H, kelas mereka berbeda jauh, H tidak bisa menandingi B dalam segi apapun. H berhasil ditaklukkan dan dibuat berlutut di hadapan Radith.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan? Aku tidak punya banyak waktu, jadi lekas katakan atau aku akan mengambil semua waktumu saat ini juga," ujar Radith yang membuat H ketakutan, namun dia mencoba untuk berpura pura bingung, dia meronta dan meminta ampunan Radith, lalu memberikan klaim jika dia tidak tahu apapun dan tidak bisa mengatakan apapun.
"Aku sudah memberimu pilihan namun kau malah memilih untuk mati. Baiklah, aku akan mengabulkannya. J mungkin senang, setelah ini dia akan naik kelas menggantikanmu," ujar Radith yang memberi tanda pada A dan B untuk melempar H ke laut, Radith sungguh akan melakukan itu karna dia merasa marah dan frustasi pada H.
"Tuan Hobert! Tuan Hobert memintaku untuk melakukan semua ini. Dia memintaku untuk membujuk Nyonya Lira tinggal dan menjalanlan rencananya. Aku menyuntikkan sedikit racun yang tidak mematikan ke tubuh Nathan, jadi dia bisa sakit dan nyonya Lira tidak jadi ikut. Tuan, aku menyesal. Tuan, saya, saya menyesal, ampuni nyawa saya karna saya sangat terpaksa melakukannya!" Teriak orang itu saat sudah ada di dekat pintu pesawat.
"Satu menit, beri alasan kenapa kau terpaksa," ujar Radith yang masih mencoba untuk tenang, meskipun dalam hatinya sudah sangat marah pada orang ini. Dari ratusan orang yang bekerja untuk Radith. A sampai J adalah orang yang paling dia percaya, tentu saja setelah Andre. Mereka adalah orang khusus yang ahli dalam berbagai bidang sehingga bisa sangat membantunya. Jadi dia tidak menyangka ornag yang sangat dia percaya melakukan ini padanya.
"Mereka menemukan keluargaku. Mereka menculikku beberapa hari lalu dan memperlihatkan keluargaku. Mereka akan membunuh keluargaku satu persatu di hadapanku jika aku tidak melakukannya. Dia berkata tidak akan membunuh kalian, jadi aku menyanggupinya. Namun, rencananya tiba tiba berubah, aku, aku harus melakukannya," ujar H yang membuat Radith menyipitkan matanya yang sudah sipit itu.
"Apa kau menemui pilot hendak membunuhnya dan membuat kita semua mati di sini? Apa kau sadar apa yang kau lakukan? Atau kau terlalu bodoh sampai mau melakukannya?" Tanya Radith yang membuat H menangis. Radith bahkan sampai tak menyangka H akan menangis sederas itu.
"Maafkan aku, maaf, ah tidak, saya, maafkan saya, saya baru menyadari hal itu saat sudah di sini, saya baru menyadari bahwa saya juga akan mati jika pesawat ini jatuh, seperti ada orang berbisik di telinga saya untuk melakukannya. Maafkan saya," ujar H yang menbuat Radith menghela napas panjang.
Dia meminta A dan B mendudukkan H di kakinya lagi. Dia menatap H dengan sangat kesal, namun jika alasannya adalah keluarga, Radith jadi cukup mengerti, dia juga akan melakukan segalanya demi keluarganya, meskipun harus membunuh keluarga orang lain. Walau Radith juga menyayangkan orang ini sangat bodoh Dan naif, padahal dia seharusnya orang yang cerdas dan tanggap.
"Hobert, apakah dia sainganku dalam memperebutkan proyek penting ini?" Tanya Radith pada H, karna dia bahkan tidak mengingat nama rivalnya, dia hanya fokus untuk mendapatkan proyek ini. Dan ternyata bukan, H menggelengkan kepalanya dan yakin itu bukan rivalnya. H juga tidak tahu siapa Hobert sebenarnya.
"Saya bahkan tidak tahu siapa Hobert dan saya juga tidak tahu apakah itu nama asli atau samaran karna semua orang menyebutkan nama itu. Saya benar benar tidak tahu apapun. Saya hanya diletakkan di satu ruangan putih dan mereka mengatakan hal hal aneh, lalu ada dorongan dalam diri saya untuk mengikuti apa yang mereka inginkan," ujar orang itu yang membuat Radith menatap anak buahnya yang lain.
"Sepertinya dia didoktrin atau diberi suatu obat oleh Hobert ini sehingga otaknya tercuci dan dia menuruti semua yang dikatakannya. Untung saja dia tidak bertindak terlalu jauh, jadi pikirannya masih bisa kembali. Apa yang akan anda lakukan pada H? Kami akan langsung melemparnya keluar jika anda memberi perintah," ujar A yang sudah geram dengan orang ini.
__ADS_1
"Pastikan anak dan bayiku selamat, aku akan mengampuni nyawamu. Tapi jika mereka tidak selamat, aku akan pastikan, kau akan mengalami kematian yang paling menyakitkan, bahkan kau melihat aku yang jauh lebih sadis dari Hobert, dan jangan lupakan keluargamu, mereka akan mati di depanmu sebelum kau mati, dan aku tak akan mengijinkan kau mati sampai aku merasa siksaan yang kau dapat itu setara."
"Kau tidak mau melihatku melakukan itu kan? Lakukan tugasmu dengan benar kali ini, aku tidak mau ada pengkhianatan lagi, kau tahu, jika Hobert bahkan 200 Hobert pun bukan sainganku, dan kau, bahkan mereka tak akan menolongmu jika aku membunuhmu, jadi jangan macam macam," ujar Radith dengan nada dingin.