Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 99


__ADS_3

Radith dan Lira berpandangan selama mereka berada di jalan. Mereka kira orang orang itu sekelompok penjahat, namun ternyata mereka malah sangat baik, bahkan disaat mereka tak saling mendengar. Meski ada suatu hal yang membuat Radith merasa janggal. Kenapa mereka bilang Ibu yang menyewakan villa adalah orang yang jahat? Sepertinya mereka harus menanyakan hal itu nanti.


"Terima kasih banyak sudah mau menolong kami dan bahkan sekarang mengantarkan kami agar bisa selamat dari hutan itu, jika tidak ada kalian, mungkin kami akan kehabisan bahan bakar, atau bahkan malah berhenti d tengah kalian dan tentu saja itu sangat luar biasa, terima kasih banyak," ujar Radith yang tentu saja diangguki okeh orang orang itu, mereka sama sekali tak keberatan dengan apa yang mereka lakukan.


"Manusia ini kan hidup berdampingan kak, perlu untuk saling menolong mereka yang membutuhkan. Saya senang bsia membantu kakak tampan dan kakak cantik," ujar orang itu pada Radith dan Lira yang membuatnya tersenyum.


"Ya sudah, kalian tutup saya pintunya agar ada ACnya, sayang juga aki kalau gak AX," ujar Orang itu yang diangguki oleh Radith.


"Wajahnya garang garang, tapi hati dan ngomongnya lembut juga. Aku merasa bersalah karna udah salah paham dan anggap mereka jahat loh Dith, ternyata mereka super baik sama kita," ujar Lira yang disetujui oleh Radith. Belum genap satu hari dia berada di sini, dia sudah mendaoat pelajaran yang sangat berharga mengenai cara menilai orang lain.


"Yang, aku ngelihat daerah sini masih belum begitu pemekaran, tapi potensinya besar, kalau misal aku buka cabang restoran di sini gimana ya? Nanti joinan sama Darrel, dia kan spesialis makanan begini dari dulu, menurut kamu gimana?" Tanya Radith setelah beberapa saat terdiam. Lira tampak berpikir dan menurutnya itu bukan ide yang bagus.


"Kalau mau, kita nyarinya yang dekat sama spot wisata, buka kedai kecil gitu aja udah laris kalau di dekat temoat wisata mah, tapi kalau di tengah hutan jayak begini, gak deh, mending nanti tunggu daerahnya agak rame dulu," sahut Lira yang disetujui juga oleh Radith. Dia berencana ingin melihat spot wisata dulu, jika memungkinkan, dia akan membuka restoran atau kedai di sini. Tentu saja di kelola oleh penduduk asli dengan sistem upah untuk mempersempit tingkat pengangguran meski hanya sedikit.


"Tapi kalau emang mau nyari di tempat wisata, di sini kebanyakan udah pantai dan adw kedai gitu gak sih Dith? Kalau misal mau buka juga, apa gak nanti ribut jadi asingan? Atau malah nanti mengusik keestetikan pulau ini?" Tanya Lira yang baru memikirkan akal hal itu. Radith tak bisa menjawabnya, karna dia juga tahu akan hal itu, namun jika terus didiamkan, pulau yang indah ini hanya menjadi harta karun yang tersembunyi.


"Selama ini orang cuma tahu Bali, orang luar negeri bahkan banyak yang gak tahu Indonesia loh, tahunya Bali. Sedangkan di Indonesia, gak cuma Bali yang Indah. Banyak juga kan pulau pulau lain, tempat wisata alam lain yang cantik, termasuk daerah Lombok dan Papua ini. Aku pingin semua orang mancanegarq tahu, how wonderful Indonesia."


"Cita cita kamu mulia sekali ya sayangku, yah semoga nanti kita ada kesempatan buat keliling Indonesia dan cari tempat tempat yang enak buat healing. Kamu kan punya kenalan tuh sama orang luar juga, kenapa kamu gak diskusi sama mereka masalah ini? Siapa tahu nih malah kamu bisa buka cabang di seluruh Indonesia, wih, jadi orang kaya," ujar Lira sambil terkekeh. Radith tertawa melihat Lira yang begitu bahagia.


"Senang sekali ya kamu menista suami sendiri. Padahal loh siami kamu udah kaya jauh sebelum nikah sama kamu, kamu aja melamar di perusahaan aku, suamimu, jauh sebelum aku melamar kamu," ujar Radith yang mencoba untuk sombong di depan istrinya, meski dia tahu tak akan menang menghadapi istrinya itu karna dia punya lidah yang licin dan bisa menyerang Radith tepat di Intinya.


"Ya berarti aku lebih hebat dong. Bos dari perusahaan Galeno loh, bisa suka sama cewek biasa kayak aku, ya berarti pesonaku luar biasa sempurna sejagat raya hore hore lah," celetuk Lira asal, bahkan Radith sampai mengerutkan keningnya saat melihat Lira melakukan hal itu. Namun dia terkekeh setelah melihat Liea begitu bahagia bisa menaklukkan seorang bos besar yang masih muda.

__ADS_1


"Iya, kamu yang paling hebat, bikin aku merasa gak bisa apa apa kalau tanpa kamu. Hebat banget lah jimat sama peletnya. Jangan lupa diperbarui, biar nanti tetap lengket sama kamu," ujar Radith yang membuat Lira mendengus karna dia tahu itu merupakan ejekan. Lira langsung memutar bola matanya dan mereka tak bicara lagi setelah itu karna sudah hampir sampai.


"Kalau mereka semua orang baik Dith, kenapa pengawal kamu semuanya pergi ya? Kenapa gak ada sama sekali yang ikutin kita? Biasanya dia kan tuh walau satu mobil juga. Aku jadi takut tahu gak sih," ujar Lira yang tentu membuat Radith yang tadinya tenang menjadi overthinking.


Dia tak bisa membiarkan anak buahnya terluka di tempat ini. Hanya dia yang boleh memutuskan orang itu boleh terluka, selain dirinya, tidak ada yang boleh untuk menyakiti semua orangnya, apalagi jika tanpa seijinnya. Radith penasaran sekali ada apa dengan mereka semua?


"Jojo sama Antony mana? Seharusnya kan mereka ikuti saya naik mobil, kenapa malah gak ada sama sekali pas saya berhenti? Apa kalian mau saya dan istri serta anak saya terluka dengan kinerja kalian yang seperti itu? Bisa bisanya dia kembali dari sqna tanpa menunggu kami?" Tanya Radith yang membuat mereka terdiam. Mereka saling pandang satu sama lain, membuat Radith risih sendiri dan meminta mereka berhenti melakukan hal itu.


"Pak Radith, tapi Antony dan Jojo sedang tidur, saya periksa badannya sedikit panas, jadi saya gantikan tugas dia untuk berjaga. Dan daritadi hanya satu mobil pak yang keluar, cuma mobil pak Radith saja, saya kira kalian tidak pergi jauh dan tak meminta pengawal untuk ikut."


"Loh, tapi tadi ada kok mereka, ada satu mobil tadi yang ngikutin kami dari sini kok, saya lihat sendiri, jadi Radith gak ngaco, kalian yakin Antony dan Jojo ada di sini? Terus siapa yang gak di sini? Siapa tadi yang ikut kami?" Tanya Lira yang kembali menbuat mereka bingung.


"Kami juga tidak tahu, sama sekali tidak tahu karna mobilnya pun ada di sini, tidak berpindah sama sekali. Tadi saya tanya ke Ibu dan Bapak perlu pengawal tidak? Kalian sama sekali tidak jawab, jadi ya saya pikir banyak urusan pribadi, kan tidak boleh saya ikut campur."


"Oh ya, kalian lihat bapak bapak yang barusan ada di dekat mobil gak? Ada 5 atau 6 orang, saya lupa. Orang asli sini sepertinya. Tapi mereka sangat baik dan menemani kami pulang loh," tanya Radith sekaligus memberi tahu apa yang dia alami malam ini.


"Pak, satu satunya benda yang masuk dari pagar itu adalah mobil bapak, dan manusianya oun hanya bapak dan Ibu, jadi saya rasa kok tidak mungkin kalian berdua diantar," ujar pengawal itu dengan aneh.


"Eh?" Tanya Lira dan Radith bingung. Memang apa yang dimaksud oleh pengawal itu?


Baru saja Radith melihat ke arah kiri dan kanan, orang orang itu muncul dan langsung berdiri di belakang Radith, membuat lelaki itu bernapas lega karna yang mereka lihat bukanlah hantu atau semacamnya. Radith langsung menyambut orang orang itu dan meminta mereka untuk masuk.


"Maafkan saya pak, saya tidak punya banayk makanan untu menjamu bapak bapak sekalian. Saya hanya bisa memberi sedikit ini, saya ingin pesan, tapi sepertinya di daerah sini masih belum banyak ya pak untuk aplikasi online yang bisa beli makanan atau minuman?" Tanya Radith heran.

__ADS_1


"Wah ya tentu saja sulit kakak, di sini tidak ada itu aplikasi aplikasi online, di sini kamu ya kalau mau makan, ya buat sendiri, ambil sendiri ke kebun, sungai atau laut. Tidak ada yang menyediakan langsung kakak, jadi jika kakak mau makan, ini kami bawakan karna kakak tamu di tempat ini, jadi ya kamu menyambut kakak," ujar orang itu yang tentu membuat Radith merasa terharu, dia mempersilakan orang orang itu untuk duduk dan Lira menyiapkan ikan untuk dibakar, sementara Radith menemani mereka mengobrol.


"Kakak ini ingin ada di pulau ini sampai kapan ya kak?" Tanya salah seorang orang itu yang penasaran. Radith mengatakan saja jika dia akan satu minggu di sini, lalu akan pulang ke Bali untuk kembali bekerja. Mereka tampaknya kagum dengan Radith yang memiliki kulit sangat putih bersih karna lelaki itu memang keturunan tionghoa, mereka mengagumi sikap ramah Radith yang tidak rasis pada orang berkulit hitam seperti mereka.


"Saya kagum dengan kakak tidak takut dengan kami, anggap kami preman atau bahkan mengira kamu akan berbuat jahat pada kakak, biasanya orang itu langsung meneriali kami maling, atau biasanya juga orang itu tidak mau dekat dekat dengan kami, alasannya kami ini menyeramkan, padahal kami tidak melakukan apa apa, kami menyentuh pun tidak, saya sampai heran kenapa orang itu berkata seperti itu," ujar orang eang itu yang membuat Radith terkekeh canggung.


"Jika saya boleh jujur, sebenarnya saya sempat merasa takut juga kakak, saya tidak mengira mobil saya itu akan berhenti begitu lama sampai kalian menegur saya. Saya kita kalian ini preman yang mau memalak atau merampok saya, namun saya tetap harus berpikir positif dan membuka kaca pelan pelan, barulah saya tahu kalian semua ini orang orang yang sangat baik, jika saya tidak membuka pintu, saya tidak akan pernah tahu baiknya kalian pada saya."


"Kami senang juga kakak berpikir seperti itu. Kami ingin mempererat tali persaudaraan kita ini kakak, dan yah siapa tahu kakak mau kembali lagi ke pulau yang indah ini, kami akan dengan senang hati menjadi pemandu untuk kakak untuk berkelliling tanpa ragu, jadi kakak tenang saja ya," ujar orang itu yang membuat Radith tersenyum. Dia mengiyakan saja apa yang orang itu katakan. Dia memang ingin membuka cabang di pulau ini, namun tak tahu apakah nanti akan berfokus pada raja ampat atau daerah lain.


"Jika saya tidak salah dengar, kalian mengatakan tentang Ibu pemilik villa yang bikan orang baik, mohon maaf jika menyinggung atau tidak berkenan, tapi maksudnya apa ya? Kenapa kalian berbicara seperti itu? Saya ingin tahu juga ceritanya agar saya bisa melindungi diri dari beliau ini," tanya Radith yang tentu membuat mereka saling pandang dengan tatapan tak enak.


"Maaf kakak, kami tidak bisa memberi tahu tentang hal itu, tapi kakak harus tetap berhati hati ya, kami berdoa semoga Tuhan selalu menjaga kakak dan istri kakak yang baik itu. Kami akan melihat kakak lagi besok ya, kalau kakak mau, kakak bisa ikut kami untuk mencari ikan dwn merasakan jadi penduduk asli tanpa kamera yang menyorot ini," ujar orang itu yang diangguki oleh Ravi. Lelaki itu tahu kenapa orang itu takut, mungkin mereka pernah membuat perjanjian atau diancam oleh orang itu.


"Hei kau, aku ingin meminta tolong padamu. Cari mobil yang isi bahan bakarnya masih banyak, kalian cari ke daerah kota untuk mendapatkan makanan berat, makanan ringan dan sebagainya, lalu jangan lupa juga beli bahan bakar dalam derigen untuk mobilku, jika besok kita pullang, itu akan sangat berbahaya, saya tidak mau sampai harus berhenti di jalanan hanya untuk masalah ini."


"Baik tuan, kami akan lakukan, lami pergi segera, kalian ber 6 ada di sini ya, biarkan dua orang di dalam beristirahat, kau, ikut aku untuk belanja," ujar pemimpin pengawal yang diiyakan oleh mereka. Radith melanjutkan mengobrol dengan mereka tentang banyak hal. Jujur saja, Radith awalnya cukup rasis dan merasa takut dengan orang kulit hitam, namun setelah melihat mereka, pandangan Radith langsung berubah seketika.


Setiap orang, apapun agama, kepercayaan, warna kulit, Ras, semua pasti memiliki orang orang yang baik di dalamnya, namun di setiap kelompok itu juga, pasti ada si pembuat onar yang bahkan sampai memhuat grub itu menjadi terkenal buruknya.


"Ah, ini ikan bakarnya sudah siap untuk dibakar, sudah dibumnui seadanya, saya harap bapal bapak ini masih menyukainya hidangan yang ala kadarnya ini ya," ujar Lira yang tentu disambut elakan dari mereka. Sudah dijamu dengan ramah saja sangat berterima kasih meski yang dia berikan bahannya juga mereka sendiri.


"Ah ya, saya harus masuk dulu, kalian lanjut mengobrol dulu ya, mohon maaf tidak ikut menemani," ujar Lira dengan sopan. Mereka tentu mengerti mengingat Lira yang masih hamil, jadi mereka sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Lira masuk ke dalam rumah dengan hati hati, membiarkan Radith yang juga sedikit kesusahan membantu mereka dalam membakar ikan ikan itu.

__ADS_1


__ADS_2