
Lira menatap Radith yang sudah berhasil masuk karna dia mematikan fitur pengenal wajah. Radith diam karna takut dia menyinggung Lira. Lelaki itu duduk di sebelah Lira yang sama sekali tidak mau menatap ke arahnya. Radith merasa sedih dan bingung melihat Lira yang tidak mau berbicara dengannya. Dia menempel pada Lira dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, itu tuh gak kayak yang kamu bayangin. Maaf ya, aku salah gak bilang langsung tadi malam karna menurutku gak penting juga kan, maaf dong kalau itu bikin kamu marah," ujar Radith yang tidak dijawab oleh Lira. Radith menengok dan langsung terkejut karna Lira sudah memejamkan matanya.
"Lha, dari tadi gue panik, takut, ternyata tuan putrinya malah tidur begini," ujar Radith dengan lemas. Dia terkekeh dan memeluk Lira dengan hangat, akhirnya hatinya merasa lega karna kemungkinan Lira nanti sudah menjadi baik dan melupakan semua, meski masih pagi, dia tidak berniat untuk membangunkannya, dia senang karna Lira tidak marah marah lagi.
Setelah memastikan Lira tidur nyenyak, dia keluar dari kamar dan memastikan kondisi dapurnya sudah dalam kondisi baik, dia juga ingin melihat anak anaknya sarapan. Radith melihat Sean yang sudah duduk di hadapan makanannya dan si sebelahnya ada Zia, mereka makan dengan tenang dan lahap, membuat Radith tersenyum bahagia melihat mereka.
"Papa, Papa mau ikut sarapan bersama kami? Dimana Mami? Mami tidak ikut sarapan? Sean mau bertemu Mami," ujar Sean yang merasa Rindu pada Lira karna biasanya setiap hari mereka bertemu, bermain dan belajar bersama. Apalagi orang yang mengajar Lira sudah diusir oleh Lira karna ada masalah.
"Mama lagi istirahat sayang, nanti siang ya kita main sama Mama. Sekarang Sean makan dulu, enak gak masakan Tante Grace?" Tanya Radith pada Sean, Sean menganggukkan kepalanya dan kembali memasukkan makanan di mulutnya, Radith beralih pada Zia yang masih malu malu, dia bahkan langsung berhenti makan saat Radith datang.
"Zia, kamu jangan takut sama Om, Makan aja yang lahap. Ah ya, mulai sekarang kamu panggil saya Papa aja ya, karna sekarang kamu dan Sean sudah menjadi saudara, jadi kalian sama sama anak papa, kamu bisa panggil Papa ke Saya," ujar Radith yang membuat Zia mendongakkan kepalanya, merasa asing dengan sosok itu.
"Papa? Papa seperti teman teman Zia yang lain?" Tanya gadis kecil itu dengan mata yang berbinar. Entah mengapa Radith jadi terharu mendengar itu, dia merasa bersalah juga karna membuat Zia merasa asing dengan sosok ayah yang sebenarnya sangat penting perannya dalam perkembangan anak.
"Iya, papa yang seperti itu, papa yang seperti teman teman Zia. Zia mau kan?" Tanya Radith dengan lembut, Zia menganggukkan kepalanya senang, dia akhirnya bisa pamer pada teman temannya karna selama ini mereka meledeknya tidak punya papa, sekarang dia sudah punya Papa seperti mereka yang lain.
"Berarti kita sudah menjadi saudara, kita bisa bermain bersama terus, kita udah bukan teman lagi, wah, akhirnya Sean punya saudara seperti kak Ravi dan Rashi. Sean yang jadi kakaknya ya, kamu jadi adeknya saja. Oke? Aku harus menjadi kakak agar bisa melindungimu," ujar Sean yang membuat Radith merasa bangga. Dia tidak menyangka Sean malah akan senang dan menerima Zia dengan sukarela.
"Betul, kalian sudah menjadi saudara jadi kalian harus saling menyayangi dan melindungi. Sean harus menjadi kakak yang baik untuk Zia, dan Zia juga menjadi adik yang baik untik Sean, kalian akan menjadi saudara yang hebat jika bersama," ujar Radith yang diangguki oleh Sean. Anak itu merasa bahagia karna Radith memberinya saudara yang sepantaran.
Pikiran anak anak yang polos itu membuat Radith tersenyum. Mereka tidak menyimpan kebencian sama sekali pada Radith dan kesalahan Radith, meski dia memiliki dosa besar terhadap mereka semua, namun akhirnya mereka malah bisa saling menerima daj bersikap baik satu sama lain, orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak anaknya akur begitu?
Radith yang tidak minat untuk sarapan memilih pergi ke ruang TV, dia ingin menyegarkan otaknya dengan menonton apapun itu yang bisa ditonton. Grace yang melihat Radith pergi pun menyusul dan membiarkan Sean Zia makan sendiri, dia ingin berbicara pada Radith karna mereka sudah tidak canggung lagi, dia juga ingin hubungan keluarga ini tidak dingin dan bisa hidup normal seperti keluarga lainnya.
"Lira gak keluar kamar ya? Apa dia masih marah? Aku merasa bersalah, seharusnya aku tidak pergi ke supermarket tadi malam, maaf sudah membuat kalian bertengkar," ujar Grace yang merasa tak enak, namun Radith tidak merasa itu salah Grace karna dia tahu kondisi Lira. Tempo hari istrinya biasa saja saat Grace dan Zia harus pindah ke rumah ini, namun sekarang Liea mengamuk hanya karna mereka pergi ke supermarket bersama.
__ADS_1
"Maaf ya udah bikin kaget, aku sih berharapnya gak ada lagi kejadian kayak gini, walau aku gak bisa jamin juga sih, berharap aja. Aku harap kamu bisa maklum dan gak nyalahin Lira ya, karna dia sampai seperti ini karna aku juga, aku gak bisa membuat dia menanggung beban sendirian," ujar Radith tanpa beban. Grace menganggukkan kepalanya pelan mendengar itu, dia menatap ke arah Radith dan membuat Radith sadar, menaikkan alisnya sebagai isyarat sedang bertanya.
"Ah, maaf, aku melamun, aku terkesima karna kau sangat mencintai Lira. Lira adalah wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta sebesar itu," ujsr Grace yang dijawab gelengan kepala oleh Radith, lelaki itu tidak merasa Lira beruntung memilikinya, dia yang beruntung karna memiliki Lira, jika tidak ada Lira, hidupnya masih dalam dunia yang gelap dan mungkin dia tak bisa kembali lagi.
"Saya yang beruntung dapat Liora. Dia snagat baik, setia dan bekerja keras. Tapi saya malah awalnya hanya menjadikan dia pelampiasan, saya mengejar orang yang sangat saya cinta bertahun tahun, namun saya tidak melihat ada Liora yang selalu ada untuk saya, akhirnya saya menyadari semua, tapi dia sudah pergi, jadi saya sibuk mengejar dia."
"Saya yang beruntung karna bisa menemukan dan kembali bersama dia, jika tidak, saya mungkin tidak bisa hidup lagi, sebesar itu cinta saya pada Liora. Saya tidak bisa hidup tanpa dia. Itu sebabnya saya sangat takut saat tahu tentang Zia, saya takut Liora kecewa berkali kali, tapi puji Tuhan, Liora malah bisa menerima dengan rela."
"Hal itu pasti membuat kamu lebih cinta sama Lira ya? Karna dia bahkan gak ninggalin kamu saat ada di titik gelap itu, itu sangat susah sih. Maaf aku terlalu egois dan memaksa kamu untuk bertanggung jawab pada Zia, aku tidak punya pilihan lain karna Zia memang membutuhkan ayahnya," ujar Grace yang diangguki oleh Radith, dia juga memahami hal itu, dan tidak bisa menyalahkan Grace karna bersikap demikian.
"Ah sorry, malah jadi formal ya dari tadi. Oke, aku gak formal ya biar enak ngomongnya. Ehem, gini, aku ngerti sih kamu kenapa ngelakuin itu, walau menurutku cara kamu di awal sangat sangat salah. Kamu hampir aja membunuh anakku, padahal kalau kamu bilang, aku gak akan lari gitu aja," ujar Radith yang membuat Grace mengangguk samar dan menundukkan kepalanya.
"Ya, aku gak tahu saat itu aku mikir apa. Aku marah, aku kayak kesal aja kamu gak ingat sama sekali sama kejadian itu. Saat kamu berlibur, kamu bahkan masih bisa senyum bahagia tanpa beban, dan saat aku tahu kamu akan menikah, aku jauh lebih marah dari sebelumnya. Padahal ... ah gak usah bahas ke sana, bikin aku jadi trauma lagi heheh," ujar Grace memotong ucapannya.
Radith tahu ke arah mana Grace bicara, dia juga tidak mau membuka luka lama sehingga memilih mengakhiri percakapan itu. Radith tidak mengenal wanita ini, jadi dia tidak tahu harus menanyakan apa. Mereka saling diam untuk waktu yang cukup lama sampai Radith mengingat hal yang terjadi pada Zia tadi pagi, bekas lebam yang banyak itu.
"Ah ya, aku mau tanya, Zia itu agak pecicilan atau ceroboh gitu gak sih anaknya? Suka lari lari atau lompat lompat atau apa gitu?" Tanya Radith yang membuat Grace agak kaget, namun dia segera menggelengkan kepalanya karna dia ingin Zia terlihat baik di hadapan Radith. Tidak mungkin Grace menjelek jelekkan Zia di depan Radith kan?
"Aku ngelihat ada luka lebam gitu di kakinya, ya mungkin aja kan dia lari larian gitu terus kakinya kebentur meja atau kursi, tapi kalau ternyata enggak, ya kan harus aku periksain ke dokter juga, takutnya ada apa apa sama Zia," ujar Radith yang membuat Grace tampak terkejut. Radith tidak menengok, dia memindah channel di televisi untuk mencari tontonan luar negeri karna lebih berbobot dan lucu menurutnya.
"Benarkah ada bekas lukanya? Karna Zia tidak pernah aneh aneh, aku tidak tahu jika dia punya luka seperti itu di kakinya, astaga, aku jadi merasa bersalah pada anak itu, seharusnya aku lebih memperhatikannya. Coba nanti aku tanya Zia, apa sebelum ke sini dia jatuh atau bagaimana," ujar Grace yang diangguki oleh Radith. Obrolan mereka kembali berakhir setelah itu.
Satu jam berlalu, Grace sudah sibuk dengan Zia yang mulai belajar sedangkan Sean sibuk dengan gadgetnya, belajar hal lain yang tidak bisa diajarkan oleh Radith dan Lira. Radith merasa khawatir dengan kondisi Lira. Dia berdiri dari posisinya dan mematikan televisi lalu pergi ke kamar untuk menemui istrinya.
"Sayang, kamu udah bangun? Wih, udah mandi juga. Kamu gimana keadaannya?" Tanya Radith yang membuat Lira terdiam, Lira menatap ke arah Radith dengan mata yang berkaca kaca lalu mulai sedikit terisak. Radith dengan sigap menutup pintu dan menghampiri Lira, mengusap kepala wanita itu dan memeluknya untuk menenangkannya.
"Kenapa? Ada yang sakit? Atau ada yang buat kamu kesal lagi? Kenapa? Jangan nangis," ujar Radith yang membuat Lira tidak jadi menangis. Lira melepaskan pelukan Radith lalu menatap suaminya dengan wajah bersalah. Dia merasa bodoh dan kekanakan karna melakukan hal tadi. Setelah bangun tidur, dia baru menyadari apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
"Aku gak seharusnya marah kayak gitu, kan kamu juga pergi karna aku yang minta dan aku yakin kalian gak ngapa ngapain, tapi aku gak tahu kenapa aku bisa semarah dan sekesal itu, aku gak sadar melakukan semuanya, tapi setelah bangun tidur baru aku ngeh apa yang udah aku lakuin dan aku menyesal banget Dith," ujar Lira yang dijawab senyum oleh Radith.
"Gak perlu merasa bersalah, kamu gak salah apa apa kok. Emang aku yang salah gak pamit ke kamu lagi kalau aku perginya sama Grace, aku juga gak bilang ke kamu pas udah sampai di kamar. Aku senang kalau kamu udah gak marah lagi, aku takut dan sedih banget sih. Aku sayang sama.kamu," ujar Radith lembut dan mencium puncak kepala Lira dengan hangat.
Mereka keluar dari kamar untuk menemui Sean karna Lira melewatkan acara makan pagi bersama. Sean yang melihat Lira kesulitan berjalan langsung berlari dari kasurnya dan menghampiri Lira. Membantu Lira berjalan dan duduk di kasurnya. Sean memang selalu bertindak seperti lelaki dewasa di hadapan Mamanya yang sedang kesulitan.
"Mami kenapa jalannya aneh? Mami sakit ya?" Tanya Sean khawatir.
"Iya, kaki mami sakit, pinggang mami sakit, seluruh badan mami sakit karna Papamu tuh, papamu yang udah bikin badan mami sakit semua," adu Lira yang membuat Radith melotot namun hanya bergurau. Dia duduk di sebelah Sean di sisi lainnya dan melakukan pembelaannya, namun tentu Sean lebih percaya pada Mamanya dibanding Radith.
"Ah, Apa papa merasa bersalah pada Mami? Jika ya, ayo papa, kita lakukan hukuman untuk Papa karna udah bikin mami kesakitan begitu," ujar Sean yang membuat Radith mengerutkan keningnya.
Sean menggeret Radith untuk keluar kamar dan menuju dapur dan mengambil baskom besar lalu meminta Radith mengisinya dengan air. Mereka kembali ke ruang TV dengan Radith yang masih membawa baskom air itu. Sean menyalakan televisi dan mencari channel kartun lalu menatap ke arah Radith.
"Kalau dulu Sean nakal, Mami akan hukum Sean seperti ini. Jadi Papa angkat baskom ini dan duduk begini, lalu papa angkat itu sampai nanti kartun ini iklan dan tayang lagi, biasanya Mami begitu, nah karna ini Papa sudah membuat Mami kesakitan, jadi Hukumannya sama saja seperti Sean," ujar Sean yang membuat Radith tertawa.
"Baiklah, papa akan lakukan karna Papa udah membuat Mama kamu kesakitan," ujar Radith melakukan persis yang Sean katakan. Sean tersenyum puas karna merasa sudah membela maminya dengan baik seperti anak lelaki dewasa.
Lira tidak tahu apa yang Sean lakukan, dia menyusul kedua lelaki itu ke ruang TV dan melihat Radith sedang mengangkat baskom isi air dengan duduk berlutut, dia langsung melotot dan berjalan cepat ke arah Radith.
"Kamu ngapain?" Tanya Lira panik. Radith tertawa dan menunjuk ke arah Sean.
"Tuhhh, dihukum sama pangeran kecil karna udah bikin maminya gak bisa jalan, hahahaha," ujar Radith yang tidak bisa menahan tawanya karna ini pertama kalinya dia dihukum oleh anak kecil.
"Dia akan menjadi penerusku yang hebat, dia tegas dan gak pandang bulu dalam menghukum orang, aku suka karakter dia dan aku gak mau merusak karakter itu dengan membedakan kalau aku adalah ayahnya," ujar Radith memberi pengertian karna takut Lira marah pada Sean.
"Hmmm kalau gituuu..." Lira tidak melanjutkan kata katanya dan berjalan ke dapur lalu entah apa yang dia lakukan, dia kembali dengan membawa tambahan air dan menuangnya ke baskom yang Radith bawa.
__ADS_1
"Baskomnya harus penuh, biar hukumannya gak setengah setengah," ujar Lira sambil tertawa ngakak.
Mereka tidak tahu, ada seorang lain yang memperhatikan semua itu dengan tatapan yang sukit diartikan.